Halloween party ideas 2015


Gambar. Kekeliruan Media viva.co.id


Penulis : Gideon M. Adii

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Frond Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) unjuk rasa pada tanggal 20/03 lalu, di depan kantor Freeport, Kuningan Jakarta Selatan. Ada sekelompok Massa aksi menggunakan busana adat Papua.
Gambar. Koteka

Yang biasanya koteka di Pakai oleh Pria, tetapi salah satu media menyatakan bahwa “Heboh Wanita Pakai Koteka Ikut Demo Freeport Di Jakarta” yaitu, viva.co.id, yang diliput oleh Siti Ruqoyah, dan Peace Simbolon, 20/03 lalu.

baca: (http://m.viva.co.id/berita/metro/896048-heboh-wanita-pakai-koteka-ikut-demo-freeport-di-jakarta).
 
Berita Ini merupakan suatu berita Hoax...
Mengapa..? karena, kalau secara etika pemakaian, Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian", berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Tak sebagaimana anggapan umum, ukuran dan bentuk koteka tak berkaitan dengan status pemakainya. Ukuran biasanya berkaitan dengan aktivitas pengguna, hendak bekerja atau upacara. Banyak suku-suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka yang pendek digunakan saat bekerja, dan yang panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat.
Gambar. Rok Rumbai.


Namun, setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Orang Yali, misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom biasanya memakai dua labu.

Sedangkan untuk wanita adalah Rok Rumbai, yang terbuat dari daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.



Sumber :
https://ripkalamkudus.wordpress.com/pakaian-adat-papua/
http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/08/pakaian-adat-papua-dan-penjelasannya.html
http://m.viva.co.id/berita/metro/896048-heboh-wanita-pakai-koteka-ikut-demo-freeport-di-jakarta



 
Gambar. Pegawai PT. Freeport Indonesia


Mee Ati Aten, dalam bahasa Amungkal adalah, “Hargai Kami Sebagai Manusia, Sebagaimana Manusia Lain”. Dan Doa I.S Kijne pada tanggal 25 Oktober 1925, setibahnya di Papua ia mengatakan bahwa :Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri”. Penduduk adat pemilik gunung yang dieksploitasi PT Freeport menilai keberadaan Freeport selama 50 tahun di negerinya telah merusak aset leluhur mereka.


Odizeus Beanal, B.Sc, putra daerah dari Amungme mengatakan, pihaknya tidak ribut soal siapa pemilik saham, namun kehancuran lingkungan dan tatanan simbol budaya yang rusak harus dipulihkan demi sebuah martabat yang adil. 

Odizeus yang juga Ketua Lembaga Adat Suku Amungme (LEMASA) melanjutkan, martabat Amungme yang sudah dihancurkan selama operasi tambang tidak bisa dijawab dengan harga dana satu persen.  

“Ini soal harga diri kami, perasaan sosial akan filosofi adat budaya leluhur Amungme harus dikembalikan. Jangan lubangi Mama kami,” sambung Odizeus dengan kesal. 
Gambar. Tampak Pusat Operasi PT. Freeport Indonesi
Sementara itu aktivis pertambangan rakyat di Papua, Jhon Gobai yang juga Sekretaris II Dewan Adat Papua, mengingatkan bahwa negara dan para pemangku kepentingan bisnis agar melibatkan hak masyarakat adat dalam mengambil kebijakan.  

Gobai juga sependapat dengan Odizeus soal saham. Lanjutnya, tidak penting bicara soal kepemilikan saham. Martabat adat tidak bisa diukur melalui saham. Kami ingin langkah pemerintah dalam menyelesaikan masalah Freeport untuk ke depannya harus benar benar melibatkan pemilik tanah. Gobai ingin agar prinsip FPIC harus jadi pedoman dalam pembicaraan apapun soal hak-hak tanah adat.  

Neles Kum, pemuda asli Amungme juga menghendaki agar penyelesaian masalah Freeport tidak mengkambinghitamkan masyarakat adat. Sebab, selama 50 tahun Freeport menambang, banyak saudaranya yang mendapat dampak buruk secara langsung.  

Sebagaimana sikap yang mereka sampaikan, bahwa LEMASA sebagai lembaga representatif suku Amungme, mendesak dilakukan perundingan yang melibatkan masyarakat adat setempat.  
Aktivis Papua, Arkilaus Baho mengatakan Freeport harus mengalah sebagai bentuk dukungan terhadap UU Minerba dan PP Nomer 1 / 2017 yang sudah tercantum di dalamnya tinggal diimplementasikan, salah satunya dengan mewujudkan perusahaan-perusahaan pertambangan yang sudah beroperasi selama ini (berdasarkan ijin dari pemerintah pusat), untuk berunding dengan masyarakat adat setempat secara langsung dan mencari formulasi baru kemitraan, antara Imperialisme.

“Supaya ruang berunding bebas dan tidak ada unsur paksaan, terutama soal implementasi regulasi IUPK yang dijalankan oleh pemerintah terkait Freeport, maka segala upaya kekisruhan yang saat ini dilakukan oleh pihak tertentu yang masih menyuarakan kepentingan Freeport, harus dihentikan agar ada suasana damai untuk duduk bicara,” demikian ditambahkan Arki.
Masyarakat adat pemilik gunung yang dieksploitasi PT Freeport menilai keberadaan Freeport selama 50 tahun telah merusak aset leluhur.

Editor : Gideon M. Adii

Sumber:
1. https://mail.google.com/mail/u/0/#inbox/15ae8c619e70079d
2. http://requisitoire-magazine.com/2017/03/20/mee-ate-aten-kami-bukan-mau-mengemis-saham/

Photo Revolusi Mental Papua
"AMP Komite Kota Bali Call For Internasional
Tutup PT. Freeport Dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri
Bagi Bangsa West Papua Sebagai Solusi Demokrasi"

sa dan ko tidak akan berubah sampai kitong pu nasib tercapai
oleh Natalis Bukega
Denpasar Bali - Berbagai bidang di kuasi oleh para kaum imprealisme dan kolonialisme serta militerisme di West Papua, mulai dari pola kehidupan rakyat bangsa West Papua hingga tingkat para kaum perampok alam di bumi cendrawasih. Pola penguasan mulai dari perampasan dan pengurasan alam secara ilegal tanpa konpromi atau sosialisasi sebagai keterlibatan  rakyat West Papua. Permulaan ini di mulai dari, sejarah yang telah di klaim oleh bangsa Indonesia dan Internasional terutama untuk kepentingan investasi bagi para investor demi pengurasan, pengisapan, perampokan, penganiayaan, pemerkosaan, yang di lakukan tanpa sama sekali memperdulukan nasib masyarakat asli papua sebagai pemilik mutlak hak atas tanah West Papua.

Kontensasi Rakyat West Papua untuk harapan dan tindaklanjutan adalah tuntutan meminta dan menghentikan berbagai tindakan ketidak jelasan yang di lakukan oleh para penguasa yang menguasai rakyat kecil dalam ruang gerak mereka tanpa aturan dan undang-undang yang masih belum di benarkan secara benar terutama dari pemerintah yang di katakan  sebagai regional maupun internasional dan di mana tanpa melibatkan pengakuan dari rakyat.

Pada dasar awal mula ketidak jujuran oleh Indonesia dan Amerika , adanya hubungan gelap antara Amerika dan Indonesia untuk memproduksi Tambang PT.Freeport ilegal, tersebut demi invetasi dan investor bagi kepentingan negara melainkan bukan rakyat dan demi mengklaim nama bangsa West Papua yang di katakan bangsa, karena pada saat 1 Desember 1961 West Papua telah Proklamasikan menjadi negara di Holandia (Jayapura). Namun, karena ada kepentingan di pulau West Papua , Indonesia dan Amerika saling kerja sama . sehingga kini, menghasilkan ketidakhormatan bagi Rakyat West Papua. Di ketahui bahwa Indonesia telah menggadai Pulau West Papua dari seluruh tanah West Papua, secara nyata dapat di ketahu bahwa banyak subperusahan yang masih beroperasi secara ilegal dengan berkedok perusahan luar.

Akibat hadirnya PT. Freeport merupakan salah satu masalah yang sangat serius, dan tidak mampu untuk indonesia selesaikan secara adil di Tanah West Papua, di keranakan janji-janji yang telah di undang-undangkan merupakan secara Internasional demi kepentingan negara-negara adikusa. Maka, dengan kepentingan yang telah di tentukan secara internasional perlu Amerika dan Indonesia memutuskan tindakan untuk menutup PT. Freeport dan memberikan penenruan nasib sendiri bagi bangsa West sebagai solusi demokrasi dan sesuai Ideologi dan sejarah West Papua yang tercatat. Proses ini merupakan pandangan dari membenarkan sejarah bangsa West Papua demi kemanusiaan dan  generasi kaum Melanesia West Papua berikutnya.

Tuntutan aksi ini berlangsung di depan Kantor Konsulat Jendral Amerika, Jalan Hayam Wuruk Renon, Denpasar Bali, senin (20/03/2017), Oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali dengan berjumlah kurang lebih 50 orang yang menghadiri dan mengaspirasikan atau menuntut pemerintah Indonesia maupun Konsulat Amerika di Bali, sebagai mengambil tindakan untuk menindak lanjutinya di Internasional maupun Nasional.  Ada pun tuntutan :

1. Usir dan tutup Freeport.

2. Audit kekayaan dan kembalikan Freeport dan serta berikan pesangon untuk buruh.

3. Audit cadangan tambang dan kerusakan lingkungan.

4. Tarik TNI/Polri organik dan non organik dari tanah Papua.

5. Berikan hak menentukan nasib sendiri solusi demokratik bagi bangsa West Papua.

6. Usut, tangkap, adili dan penjarakan pelanggaran HAM selama keberadaan Freeport di Papua

7. Biarkan rakyat dan bangsa West Papua menentukan masa depan pertambangan Freeport di tanah   West Papua.

8. Freeport wajib merehabilitasi lingkungan akibat ekspotasi tambang.

Tuntutan ini telah di lakukan oleh beberapa kota Study yang ada di Indonesia antara lain Jogja, Bandung, Ternate, Sula, Tobelo, Tarakan, Palu, Jakarta, Bogor, Bali, Jayapura dan lainnya merupakan pereratan keadilan dan  kebenaran merajut kemenangan sesuai harapan rakyat, mahasiswa,  menjadi pondasi tuntutan untuk bangsa West Papua mendapatkan kebebasan.
Tutup Freeport = Tutup Freeport
Satu Komando = Satu Tujuan
Kami minta Apa Kawan2 ? = Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua


Salam Revolusi!

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Gambar. Saat Memulai Aksi


Penulis: Gideon Mathias Adii

Aksi kali ini dengan tema“Tutup Freeport dan berikan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Bangsa West Papua”. Karena, sejak Freeport pertama masuk dan dilakukan Kontrak Karya  tepat 07 April 1967an hingga dekade ini. Justru berdampak buruk terhadap kerusakan lingkungan  dan mengancam, merampas Tanah Tanah Milik rakyat Bangsa West Papua di bumi Amungsa Timika West Papua  akibat menurunya populasi Manusia West Papua  dan kematiannya Terus meningkat. Masa aksi kali ini berbusanakan pakaian adat Papua, Pria (Koteka) dan Wanita (Cawak),
Gambar. Masa Aksi sedang bergerak menujuh Plaza Freeport

Gambar. Depan Plaza Freeport
Dengan adanya pembodohan, pembiadaban dan penindasan nasional selama pertambagan Emas dan Batu bara PT.Freeport Beroperasi di bumi Amungsa Timika West Papua, yang berdampak buruk terhadap semua sektor sosial masyarakat terutama mengakibatkan terhadap pemusnahan etnis bangsa West Papua menjadi persolan hangat yang menghantui secara berbabar.

Pada hari ini (20/03/17) kami AMP KK Jakarta dan FRI-WP melakukan aksi protes terhadap PT.Freeport yang dengan titik kumpul di Sekretariat AMP Tebet dan kemudian bergeser ke Setia Budi Building Kuningan Jakarta selatan tepatnya jam 01:48 WIB, dan kami langsung mulai berorasi politik sambil berjalan menuju Geduang Plaza Freeport 89, kami berorasi disana selama 2 jam lebih. Kami hanya melakukan orasi politik dan ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Sam.

Massa aksi yang kumpul untuk menyuarahkan Penutupan Freeport adalah 73 orang yang tergabung dalam AMP, Gempar, dan FRI-for WP. Dalam aksi kali ini kami tidak dapat penghadangan oleh Pihak Polri.
Maka dari pada itu, kami nyatakan sikap jalan terbaik untuk mengatasi kisruh persoalan Freeport vs Pemerintah indonesia, menurut kami antara lain:
1.      Usir dan tutup Freeport
2.      Audit kekayaan dan kembalikan Freeport dan serta berikan pesangon untuk buruh.
3.      Audit cadangan tambang dan kerusakan lingkungan
4.      Tarik TNI/Polri organik dan non organik dari tanah Papua
5.      Berikan hak menentukan nasib sendiri solusi demokratik bagi bangsa West Papua.
6.      Usut, tangkap, adili dan penjarahkan pelanggarang HAM selama keberadaan Freeport di Papua
 
Biarkan rakyat dan bangsa West Papua menentukan masa depan pertambangan Freeport di tanah West Papua.
8.      Freeport wajib merehabilitasi lingkungan akibat eksplotasi tambang.

Pada saat aksi berjalan penghadangan dilakukan oleh Militer Indonesia yang tergabung dalam TNI/POLRI di depan Gedung Freeport Pada pukul 01:48 WIB. Kawan-kawan tidak ada yang ditangkap.








Pada aksi Fron Rakyat Indonesia untuk West Papua [FRI-West Papua] dan Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] di beberapa kota di Indonesia maupun di West Papua di Jayapura dalam tutup Freeport dan tuntut hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat, AMP Komite Kota Semarang-Salatiga melakukan aksi demo di kota Semarang.

Aksi dimulai pukul 9:20 dari Patung Kuda Universitas Diponegoro Peleburan, dipimpin oleh Janu Adii masa aksi bergerak  menuju rute aksi sesuai dengan surat pemberitahuan di Polrestabes Semarang dari jalan Pahlawan, Bundaran Simpang Lima dan kembali ke Patung Kuda Undip namun di saat baru masa aksi bergerak dihadang oleh pihak kepolisian Polrestabes Semarang pada pukul 9 : 35 masa aksi AMP menanyakan alasan penghadangan namun pihak kepolisian bersikeras dan menyuruh masa aksi untuk kembali ke titik kumpul terjadi adu mulut dan sekitar 10 menit kemudiaan pihak belasan Aparat melakukan pemukulan kepada masa aksi, sehingga sempat terjadi keos dan pihak kepolisian mendorong beberapa masa masuk ke dalam mobil Sabhara memaksa masa aksi untuk naik ke dalam truk tetapi ditolak. Kepolisian melakukan pemukulan kepada salah satu kawan bernama Yuli Gobai di kepala sehingga kepalanya berdara. Dan masa aksi kembali ke titik kumpul aksi sambil menyampaikan orasi-orasi dan yel-yel Imperialisme hancurkan! Kolonialisme lawan! Militerisme hapuskan!.

Pemukulan dilakukan oleh kepolisian  Polretabes Semarang
Setelah kembali ke titik kumpul dilakukan orasi-orasi secara bergantian menuntut Freeport ditutup dan berikan hak penentuan nasib sendiri  sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua. Dalam setiap orasi masa aksi menyampaikan Freeport adalah awal penajajahan dan pemusnahan rakyat bangsa Papua. Dalam perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda yang menghasilkan New York Agreement ( 15 Agustus 1962), rakyat dan bangsa West Papua tidak dilibatkan. Padahal, bangsa West Papua sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada 1 Desember 1961. 

Rakyat dan Bangsa West Papua sudah terlalu lama dirampok. Mengangkat isu “Nasionalisasi Freeport” sama dengan membiarkan perampokan terjadi  terus menerus terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

Sesampai di titik kumpul awal, Koorlap Iche You membacakan pernyataan sikap, jalan terbaik untuk mengatasi kisruh persoalan Freeport vs Pemerintah Indonesia menurut kami, antara lain:


1.       Usir dan Tutup Freeport
2.      Audit kekayaan dan kembalikan Freeport dan serta berikan pesagon untuk buruh
3.      Audit cadangan tambang dan kerusakan lingkungan
4.      Tarik TNI/Polri Organik dan Non organik dari tanah papua
5.      Berikan hak menentukan nasib sendiri solusi demokratik bagi bangsa west papua
6.      Usut, tangkap,adili dan penjarakan pelanggaran HAM selama keberadaan Freeport di Papua
7. Biarkan rakyat dan bangsa West Papua menentukan masa depan pertambangan Freeport di Tanah West papua

8.      Freeport wajib merehabilitasi lingkungan akibat ekspotasi tambang

Jam 11:10 bubar



(Ney Sobolim)



Massa aksi saat bergantian orasi di tugu Kujang Bogor. Gambar: Dai Lani
Sejarah kehadiran Freeport—yang tanpa sepengetahuan orang Asli Papua sebagai emilik saham (tanah)—dan kehadiran Indonesia di tanah Papua adalah ilegal dan awal dari Penindasan, Pembunuhan dan Pengisapan, di bumi cenderawasi  Papua. 

Apa lagi dengan kusruh Freeport dan Pemerintah Indonesia yang berpolemik tanpa pertimbangkan kebeadaan Rakyat West Papua; dan juga PTFI telah memberikan dampak buruk kepada Rakyat Papua: Kerusakan Lingkunagan, Pelanggaran HAM, Kemiskinan, Pemobodohan. Sehingga Rakyat West Papua telah sadari atas sejarah bahwa Freeport juga adalah dampak dari aneksasi Papua dalam bingkai NKRI. 

Artinya, sejak Indonesia mengklaim (1962) dan awal masuk Freport (1967) sampai saat ini pemerintah tidak menghiraukan aspirasi rakyat papua yang lahir dari keberadaan sosial—juga sebagai bentuk dari penjajahan. Maka Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bogor menyatakan sikap, dan berada di garis perlawanan bersama masyarakat akar rumput, dalam bentuk aksi long march.

Berikut Kronologi aksi:

Awal orasi titik kumpul di mall lippo plaza depan pintu 3 kebun Raya Bogor pada pukul 06:39 pagi sudah di tunggu oleh aparat Militer :

Waktu
Keterangan
06:39
10 Orang Lantas, 3 Mobil Lantas Dan 4 Motor di titik kumpul Aksi (Baca: TKA)
07:13
5 Provos Dan 1 Tentara datang ke TKA
07:17
1 Motor Lantas Dan 4 Orang Polisi datang ke TKA
07:20
Kolonel Kodim, 1 Mobil Kodim, 6 Intel Polisi Dan Tentara datang ke TKA
07:22
1 Motor Lantas datang ke TKA
07:29
1 Orang Masa datang ke TKA
07:32
4 Intel Polisi Dan 1 Tentara datang ke TKA
07:45
5 Tentara Dan 3 Provos datang ke TKA
07:51
Koloniel Meninggalkan Lokasi Titik Kumpul
07:59
1 Mobil Lantas Meninggalkan Titik Kumpul
08:00
Mobil Padwal Meninggalkan Lokasi
08:10
Masa Baru Berkumpul 10 0rang
08:22
Dua Orang LBH ( Lembaga Bantuan Hukum )
08:49
3 Motor Polisi Dan 1 Mobil Mengawal Masa
09:05
Bergerak Dari Depan Titik Kumpul Ke Titik Kujang Kota Bogor
09:05
30 Masa Bergerak Ke Tugu Kujang
09:12
10 Polisi, 4 Inteligen, LBH Bogor: bertambah 1 jadi 3 Dan 2 Tentara
09:56
Sampai Di Tugu Kujang Titik Orasi
09:56
30 Polisi, 5 Tentara , 10 Motor Dan 4 Mobil Polisi
10:09
Penambahan massa aksi 3 Orang
10:57
Penambahan massa aksi 2 Orang
11:18
Pembacaan Stekmen
Aksi berjalan lancar dan aman tanpa di provokasi. Kemudian, pada pukul 11:18 waktu Bogor, Kordinator umum aksi, Bob Lani, telah mengakiri dengan membacakan statement aksi (Baca pernyataan, Klik disini!).


Kronolog: Katara Pallo
Diberdayakan oleh Blogger.