Halloween party ideas 2015

Photo oleh Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali,
usai Nonto Film bersama
"AMP KK BALI: Diskusi dan Nonton Film Dokumenter Sejarah Perjuangan Rakyat Papua (PDP)"
kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagimana harus kita melawan. Oleh Nelson Murib

Denpassar- Pada tanggal, 05 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, menyelenggarakan diskusi dan nonton film dokumenter mengenai "Sejarah Perjuangan Rakyat Papua: Presidium Dewan Papua (PDP). Tempat di Asrama Puncak Bali, dengan peserta sekitar 31 orang, mulai kegaiatan dari pukul 19:00 hingga selesai WITA. Pematik oleh Nelson Murib (Biro Pendidikan Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali).

Hasil Diskusi:

Pertemuan pemutaran film dokumenter di mulai dari pukul 19:00 sampai selesai WITA. dengan pembukaan oleh Pematik Nelson Murib. Video dokumenter tersebut berdurasi 56 Menit.  Setelah film dokumenter berakhir, memulai pada tahapan menyikapi isi dari video dokumter tersebut. dan di arahkan oleh Nelson Murib serta meminta kepada peserta untuk menyikapi video dokumneter Presidum Dewan Papua (PDP) tersebut bahwa pertama apa yang kita dapat dari video dokumneter PDP? dan juga boleh bertanya tentang perjalanan Sejarah bangsa Papua Barat?  dan Juga, bisa di tambahkan mengenai film dokumenter tersebut juga. Dengan itu, Pertanyaan-pertanyaan ini saya berikan secara formal untuk kawan-kawan menyikapai sesuai apa yang kawan-kawan lihat secara forum.

Pertama oleh Nelson Murib sebagai kata pengantar bahwa " kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagiaman harus kita melawan".

Dan yang kedua oleh Gilo mengatakan bahwa "saya tertarik dengan video dokumenter tersebut karena ada pertanyaan besar bahwa "MENGAPA PAPUA INGIN MERDEKA? dengan itu, apakah kita bangsa Papua sudah menjadi bagian dari Indonesia atau tidak. maka secara garis perjuangan, kita bisa renungkan lagi dari sejarah-sejarah yang kita nonton bersama itu. dan Apakah kita ini memang benar-benar untuk memperjuangkan dan memanusiakan rakyat Papua  atau tidak, karena apa yang kita perjuangkan adalah hal kemerdekaan". 

  Dokumenter video tersebut menerangkan bahwa adanya kepentingan ekonomi,  politik dan kekuasaan.  bahkan Papua itu tidak sama sekali bagian dari Indonesia. Dengan catatan itu juga, kemerdekaan Indonesia mempunyai batasan wilayah dari Sabang Hingga Ambo tidak termasuk dengan Papua. serta ada juga, yang menggatakan dalam film dokumenter  Papua itu, Papua masih primitif,  Papua Masih latarbelakang, Papua Masih Bodoh, maka perlu kita sikapi bahwa mengapa Papua Ingin Merdeka atas pertanyaan-pertanayaan di atas? dan perlu di sikapi juga kenapa bangsa Indonesia bisa katakan seperti demikian.  dan Kenapa sekarang bangsa Papua masih berjuang terus atas dasar-dasar sejarah yang telah kita tonton, itu yang pembelajaran untuk kita yang  generasi-generasi sekarang.

Bangsa Papua masuk dalam Indonesia itu? atas kepakasaan oleh Indonesai, Amarika dan Belanda untuk kepentingan ekonomi, politik, kekauasaan. Maka kita perlu pertanyakan dengan Indonesia sejarah kita sudah final atau sudah sah? itu yang pelajaran untuk kita semua generasi Papua yang sekarang. bahkan, kita tidak akan berjuang hanya sekedar namun, atas dasar sejarah bangsa Papua.  Dan meurut saya Indonesia memasukan Papua itu secara Aneksasi sehingga kita membutuhkan untuk merenungkan kembali dan apa yang harus kita buat untuk pembebasan nasional Papua Barat?. Seperi dalam film dokumenter bahwa  ada puisi yang mengutip, Biar Rohnya Theys pergi,tetapi perjuangannya itu tetap mendasari ke kita punya generasi.  Apakah  jika  kebutuhan sekarang kita perjuangakan hanya tentang ekonomi, politik, kesejahteraan dalam bingkai Indonesia maka secara spontan tidak akan pernah bisa kita merebut perjuangan kebebasan nasional Papua Barat untuk mencapai kemerdekaan sejatinya. 

  Dari itu juga, situasi Indonesia semakin buruk karena Indonesia sekarang cenderung mementingkan Pemodal, di mana setiap Pulau-pulau yang ada di Indonesia telah di gadaikan kepada para Inverstor dan para saham bahkan di tingakat IMF, yang kini terlihat jelas adanya, hotel-hotel, pabrik-pabrik, perusahan-perusahan, reklamasi dan lain-lain. sehigga terjadinya keterpinggiran terhadap rakyat, itu pun terasa terhadap rakyat Papua sendiri pada era ini.

 Dan dari kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan merupakan ideologi Indonesia yang sangat mempengaruhi pada perjuanagn sejati orang Papua merebut kemerdekaan. Serta Kepintaran Indonesia dalam membunuh nasionalisme orang Papua melalui Nasionalisme Indonesia sendiri seperti adanya Bela Negara, Pancasila, Merah Putih, dan lain-lainnya. dengan itu, perlu memepertahankan perjuangan sejati bangsa Papua Barat kembali pada pernyataan dokumenter video tersebut "Megapa Papua Ingin Merdeka?. Biar nasionalisme Papua Barat tetap tumbuh dan hidup dalam rakyat Papua dan pada genersai sekarang.  Ada dua pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama, Pertama apa kah bangsa Papua dengan Indonesia itu telah sah atau tidak sah? kedua perjuagan Papua jangan atas dasar sakit hati, kepentingan atau pun cara atau model-model tertentu dalam perjuangan Papua untuk merdeka? karena itu akan mendatangkan malah petaka dalam perjuangan rakyat Papua Barat." 

Ketiga Oleh Hanewa bahwa" Kemerdekaan kita telah merdeka sejak 1 Desember 1961, dan sekarang adalah kita perlu merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua melalui genersai kita. Keberadaan rakyat Papua untuk masa kini ada di bawa penekanan Indonesia sehingga mengerakan perjuangan membutuhkan kekauatan bersama". 

Keempat oleh Ika bahwa "sejarah perjuangan bangsa Papua barat telah buktikan bahwa kemerdekaan bangsa Papua Barat itu ada, yang mana para leluhur bangsa Papua Barat telah mencatat sehingga untuk emosional perjuangan menjadi kekuatan bersama pada generasi ini untuk mempertahankan garis perjuangan bangsa Papua Barat. Dan serta, kita bangsa Papua barat terus jaga persatuan nasional dalam memperjuangkan hak politik bangsa Papua Barat hingga merebut kemerdekaan sejati dari genersai ke generasi melalui semagat sampai membara".  dan moral pemerintahan Indonesia di tanah Papua tidak berlaku sama sekali sesuai akar persoalan tanah Papua Barat; apa lagi rakyat Papua yang masih memepertahanakn ideologi Indonesia di tanah Papua  yang ahirnya tidak bisa banggakan dalam nasionalisme bangsa Papua Barat malah menambahkan penindasan dalam berbagai Intimidasi yang berlebihan pada pemusnahan etnis bangsa Papua barat".
   
 Kelima oleh Abet Bahwa " Setiap sejarah yang telah di dokumenterkan, dokumnetasikan merupakan kewajiban kita untuk mencatat karean itu bagian dari kewajiban bagi mahaisiswa dan rakyat bangsa Papua Barat  sebagai landasan dasar. dan sebelum kemerdekaan bangsa Papua Barat, gejolak pergerakan kemerdekaan bangsa Papua itu telah ada. Indonesia mengklaim tanah bangsa Papua Barat atau perebutan tanah bangsa Papua barat pada tahun 1949 untuk kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan atas tanah West Papua. hasil klaim itu bagi saya tidak adil karena katika mereka klaim suatu negara itu membutuhkan proses dan kontitusi PBB itu sendiri. tetapi Indonesia, Belanda, Amerika Serikat klaim sewenang-wenang mereka tanpa melibatkan orang Papua sendiri untuk membicarakan masalah klaim tersendiri. Untuk itu lebih tepatnya, genersai kita perlu memahami tentang sejarah di mana bangsa Eropa, Belanda, amerika, Indonesai atas Tanah Bangsa Papua barat mulai dari tahun 1500-an, 1900-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga tahun 2000-an merupakan tugas bagi kita generasi penerus meluruskan sejarah bangsa Papua Barat dalam persatauan nasionalisme Papua barat".

Ke enam oleh Enis bahwa " Sejarah merupakan bagian dari generasi kita; tidak ada selain dari genersai kita dan perlu  akan mempelajari sejarah bangsa Papua sendiri, bahkan waktunya untuk kita mempelajari sejarah bangsa Papua itu sendiri dari setiap Individu. Melihat secara kedalam, perlu membicarakan sejarah bangsa Papua dan membuat sejarah bagian dari kehidupan sebagai pedoman di Papua dalam membagun persatuan ideologi rayat Papua Barat. dalam posisi dari bergerlya di hutan hingga pada tahapan sipil kota. Karena dasar perjuangan sekarang ada pada tahapan genersai kita bagian dari meluruskan sejarah bangsa Papua Barat. melalui dokumenter video sendiri rakyat bangsa Papua telah membangkitkan nasionalisme bangsa Papua Barat melalui kawan-kawan Theys tahun 1990-an- 2000 hingga pada tahapan Mako Tabuni 2008 yang memiliki kharismatis perjuangan menghidupkan kembali perjuangan sejati. Dasar dari Mahasiswa dan Rakyat Papua adalah ada pertanyaan apa yang perlu dilakukan? apa yang perlu di tuntaskan? agar perjuangan menjadi terarah dan tersampaikan secara luas".

Ketuju oleh Yesaya bahwa " Indonesia, Amerika, belanda memaksa rakyat Papua masuk ke dalam Indonesia pada tahaun 1963 melalui UNTEA yang tidak demokratsi tanpa keterlibatan rakyat West Papua. sehingga antara tahun 1965, 1966 rakyat transmigran menguasai tanah Papua Barat tanpa atas dasar hukum rakyat Papua Barat. Ketika Rakyat Transmigran Indonesia atas Papua; rakyat Papua di jadikan terbelakang, menjadi objek atas tanah sendiri (orang kedua atas tanah sendiri),  pemberian gula-gula manis dari jakarta ( seperti pemekaran-pemekaran provinsi, kabupaten-kabupaten, kota-kota dll), OTSUS dan program-program yang membunuh nasionalisme rakyat Papua bahkan perjuangan pembebasan. Kehadiran itulah, tercipta gula-gula manis di atas tanah bangsa Papua Barat dalam rakyat Papua itu sendiri".

Kedelapan oleh Ardy bahwa "Rakyat Papua membutuhkan kesadaran yang akanya sejarahnya sendiri terlepas dari hegemoni, egois dan fakum atas perjuangan pembasan nasional melainkan memperjuangkan serta merebut kembali perjuangan secara universal untuk rakyat bangsa Papua barat. dengan itu, menyimak sejarah bagian dari kekuatan adalah bagian dari dasar perjungan dan pelaku utama atas dasar sejarah kita". Kesembilan oleh Wolker bahwa "Sejarah Rakyat Bangsa Papua Barat kita telah mengetahui, Rakyat Indonesia telah mengetahui, dan Rakyat Internasional telah mengetahui. maka perlu di pertanyakan sekarang yang menghambat perjuangan itu siapa? sebenarnya kita rakyat Papua tidak perlu  medapatkan penderitaan, penyiksaan dan berbagai intimidasi. tetapi kita rakyat Papua sendiri yang memperpanjangkan penderitaan, penyiksaan, dan berbagai intimidasi terlalu panjang. Padahal kita telah berjuang dari lama sekali, sampai sekarang ini. Kalo di lihat secara mendalam tingkatan pemerintahan di tanah Papua sampai rakyat itu sangat di sayangkan. Meskipun pemerintah sudah mengeriti tetapi permasalahan terjadi pada tingkatan masyarakat. seperti pememimpin sekarang selama dalam jabatan akan menikmati dengan jabatannya dan tidak ada suara kebenaran untuk rakyat Papua; malah ketika jabatannya berhenti dalam pemerintahan, para pejabat ini akan mencari sensasi bicara masalah Papua, sehingga memperlambat perjuangan adalah orang Papua yang ada dalam pemerintahan ini". 

Kesembilan Oleh Jeeno bahwa " dari pondasi sejarah kita membutuhkan persatuan nasional untuk menguatkan pondasi perjuangan pembebasan nasional dan memang perjuangan tidak dapat di lakukan sendiri-sendiri, perjuangan itu bukan satu suku dua suku atau satu orang dua orang yang ingin merdeka tetapi untuk seluruh tanah Papua dari sorong hingga Samarai. Jika memang Papua Ingin Merdeka harus dari Sorong sampai Samarai angkat suara untuk merdeka. dan melihat dari latar belakang perjuangan-perjuangan yang sudah ada".

Kemudian sejarah menjadikan sebagai alat evalusai bagi kita dengan tahapan perjuangan itu sendiri untuk masa kini dan masa yang akan datang. Ketika rakyat Bersatu dan suarakan apa yang rakyat inginkan maka disistulah kemenangan akan mutlak didapatkan karena persatuan nasional punya kekuatan yang sangat kuat. sehingga kemerdekaan itu akan datang di tanggan rakyat Papua. Melihat kedalam, dahulu Indonesia dapat dapat di jajah oleh bangsa luar seperti jepang, Belanda yang 350 tahun jajah indonesia; cara jajah jepang, Belanda itulah Indonesia juga membuktikan jajah atas rakyat dan tanah bangsa Papua. catatan untuk itu adalah meskipun Indonesia menjajah Papua dengan caranya mereka;Rakyat Papua harus terus mempunyai rasa persatuan dalam nasionalisme Papua tetap hidup dari genari ke generasi mencapai hak kemerdekaan".

Kesepuluh Oleh Darson bahwa " Setiap ego dalam perjuangan Papua merupakan hambatan dalam perjuangan Papua Barat yang di lahirkan oleh pemimpin-pemimpin tertentu. Dengan itu, bagi generasi kita tetap konsisten untuk memperjuangkan pembebasan nasional dalam persatuan  dan dasar-dasar sejarah yang ada, fakta-fakta yang ada, kita memperjuangak secara bersama".

Kesebelas oleh Natalis bahwa " perjuangan bangsa Papua saat era ini sangat berbeda dengan perjuangan masa silam. perjuangan masa silam, saat PDP (Presidium Dewan Papua) dapat menyatukan berbagai wadah organ di Papua mulai dari dewan adat, ketua wialayah, LSM, YLBH, ELEMA dan lain-lainnya kecuai saat itu TPN-PB tidak di libatkan; tetapi perjuangan masa kini, genersai kita berhadapan dengan berbagai klas atau wadah, klas anak-anak aibon, klas mama-mama Papua, Klas Tani, Klas Buruh, Klas Nelayan, Klas Kaum Miskin Kota, Klas AMBER (Pendatang di Papua), Klas Pmemerintah dan tambah lagi dengan berbagai wadah organ yang waktu silam itu; sehingga kita membuthkan persatuan nasional untuk merebut klas-klas itu dan memperjuangkan perjuangan sejati atas tanah bangsa Papua Barat sendiri menuju pembebsan bersama".
"
Kesimpulan

Dari setiap Gagasan yang di bahas, rakyat Bangsa Papua Barat membutuhkan persatuan nasional untuk merebut perjuangan sejati bangsa Papua Barat atas filosofi dasar sejarah Papua dan Perlu mempelajari dan mempraktekan sebagai merebut hak kemerdekaan atas bangsa Papua Barat. Dari itulah, bangsa Papua akan tetap memepertahankan harga diri, martabat,  kebangsaan. Perjuangan dasar bangsa Papua adalah ada pada genersai era-modern ini; untuk merebut pembebasan nasional dalam revolusi bangsa Papua Barat .

Jabat Erat!!
Salam Pembebasan nasional Papua Barat


Penulis Adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahaiswa Papua Komite Kota Bali

Photo oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta, Ketika Usai
 Nonto dokumenter Film
AMP KK Jakarta: Dokumenter Film Sejarah Perjuangan Rakyat West Papua di LBH Jakarta
Modertor: Helena Kobogau**

Jakarta- Pada hari Kamis, 31 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta. Menyelenggarakan Diskusi  dan Pemutaran Film dokumenter mengenai Sejarah Perjuangan Rakyat Papua Barat : Presidium Dewan Papua (PDP).  Mulai Pemutaran Dokumenter Film dari Pukul 17:30-20:00 WIB. dengan anggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta  dan partisipan sekitar 30-an Orang. Lokasi tempat di LBH Jakarta, dengan Pematik: Mukael Kudiai dan Moderator: Helena Kobogau.

Ini kronologis singkatnya:

Sejak sore sekitar pukul 16:30 waktu setempat, sebelum kegiatan dimulai puluhan aparat kepolisian lengkap dengan atribut keamanan.  Telah menjaga di depan pintu masuk kantor LBH Jakarta sebelum kegiatan pemutaran film dokumenter di mulai. Dan aparat kepolisian melakukan persiagaan di depan kantor LBH Jakarat. Setelah satu Jam kemudian tepat Pukul 17:50 WIB aparat meninggalkan kawasan kantor LBH.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa papua Komite Kota Jakarta,
saat Aparat Militer Kepolisian di Depan Kantor LBH Jakarta


Pemutaran Film dan Diskusi dimulai tepat pukul 17:60 setelah parah militer aparat keoplisian meninggalkan tempat LBH Jakarta. Setelah Aparat Kepolisian meninggalkan tempat ada pun, Intel Kepolisian mengikuti diskusi sebanyak Tiga (3) Orang Intel Kepolisaian dan satu (1) orang intel dari satuan Militer Kopasus yang juga masuk dan ikut diskusi Tersebut.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta,
 selama pemutaran Film Berlanjut di LBH Jakarta

Sekitar sejam nonton bersama dan selesai Nonton tepat Pukul 19:00 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh  Mikael Kudiai hingga pukul 20:00 WIB selesai sesuai waktu yang telah di tentuan.

Berikut hasil diskusinya:

Beberapa argument atau pendapat menarik muncul di dalam hasil diskusi seperti, proses instruksi tidak tegas saat dimana pengalihan kekuasaan militer Hindia-Belanda dalam proses melakukan dekolonisasi di Papua yang di samapaikan oleh Kawan (Roy). Dan juga, sangat keliru ketika Papua dijadikan bagian dari Indonesia, dan dalam hal ini yang saya amati dalam film yang kita nonton memberikan gambaran bahwa kepentingan ekonomi dan politik sajahlah sehingga Indonesia mengklaim Papua Barat sebagai bagian wilayah dari Indonesia. Kemudian Oleh Kawan (Gideon) mengapa kami masih berjuang dan orang tua kami telah mendahului kami sampai kami disini hanya kami ingin DIAKUI SEBAGAI SEBUAH NEGARA YANG BERDAULAT DAN MERDEKA  Ungkapnya.

Lanjutdari kawan (Roy) perjanjian antara Indonesia dan Belanda tidak memasukkan Papua karena administrasi dari Holandia, yang harus diamati adalah kesimpulan bahwa Indonesia hanya dari Sabang sampai Amboina saja dan tidak termasuk Papua namun yang perlu dilihat adalah mengapa Soekarno berubah pikirannya lagi inginkan klaim Papua. dan di tegaskan lagi Juga,  sisi lain perlu untuk dilihat lagi, apakah perna negara lain juga melakukan Pepera atau tidak?

Persoalan Papua sangat kompleks, oleh sebab itu Belanda harus buka diri karena sebagai wilayah jajahannya, maka Belanda harus berterus terang saat proses persiapan menuju sebuah negara sampai terbentuknya negara Papua itu sendiri 01 Desember 1961.

Belajar juga dari perjuangan Presidium Dewan Papua (PDP) tahun 2000 terutama soal persatuan yang pernah dibangun sangatlah penting. Terutama soal persatuan nasional yang mengakar hingga ke seluruh rakyat Papua.

Perjalanan perjuangan PDP yang diketuai oleh Theys Eluai menjadi pelajaran penting juga buat kebutuhan mendesak gerakan kita saat ini, terutama situasi internal Papua hari ini dalam mendorong bersama agenda perjuangan pembebasan nasional Papua.

Disksusi dan Nonton Film dokumnter berjalan dengan lancar dan catatan sejarah  merupakan bagian dari untuk memeperjuangan pembebsanan nasional bagi rakyat Papua Barat dalam melihat prekpektif Papua menuju pada kembalinya kemerdekaan bangsa Papua Barat.

Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta





Photo oleh AMP KK Bali saat Membacakan Pernyataan sikap ,1 Mei 2018
"AMP KK Bali: 55 Tahun Indonesia Aneksasi Bangsa West Papua"
Kita Tidak membutuhkan Pembangunan tetapi kita membutuhkan Penentuan Nasib Sendiri 
                                                                           oleh Kamrada Ika

Denpasar Bali, Pada hari selasa, 01 Mei 2018 Aliansi Mahaiswa Papua Komite Kota Bali melakukan aksi demo damai di Depan Kantor Konsulat Amerika Serikat, mulai dari pukul 10:00 WITA hingga 13:40 WITA dengan massa aksi sebanyak 57 Mahasiswa.  Melalui itu, tuntutan umum " Menolak Aneksasi Indones atas West Papua “HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI SOLUSI DEMOKRATIS  BAGI RAKYAT PAPUA BARAT”  dan  seluruh Aliansi Mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali, mengikuti dan melakukan aksi demo damai, dan ada juga melakukan diskusi bebas menyikapi tentang 1 Mei yang tepatan Pada hari ini. 

Persiapan Massa Aksi 

Pada tanggal 30 April 2018, Aliansi Mahasiswa Komite Kota Bali,  melakukan diskusi bebas dan mengagas mengenai 1 Mei 1963 atas Aneksasi terhadap bangsa West Papua serta melihat kembali sajarah bangsa West Papua yang di manipulasi oleh Belanda, Indonesia, dan Amerika Serikat Melalui PBB yang tidak kontraversial atas tanggung jawab hukum Internasional, prinsip-prinsip demokratis terlebih khusus pada hak dasar rakyat West Papua dalam sebuah Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang di manipulasi sejak 1969 setelah bangsa Papua di Aneksasi 1 Mei 1963 Tanpa Keterlibatan Rakyat Papua Barat bahkan Aneksasi itu pun, tahun 2018 masih berlaku secara ilegal keberadaan Indonesia Atas Papua Barat.  Setelah Diskusi mengenai 1 Mei, dilanjutkan dengan persiapan aksi pada 1 Mei 2018 besoknya. 

Kronologis Aksi 1 Mei 2018

Massa aksi berkumpul di titik kumpul Parkiran Tiimur Renon dari Pukul 9:30 WITA hingga 10:00 WITA. dan pada pukul 10:00 WITA Dilanjutkan dengan melakukan long March dari titik kumpul Parkiran Timur Renon hingga ke titik aksi Konsulat Amerika Serikat. Selama perjalanan menuju ke titik aksi Konsulat ada pun yel-yel, orasi, lagu yang di akomodir oleh Kordinator Lapangan (Korlap) Kamrad Ika dan Kamrad Jois

Selama perjalanan massa aksi berjalan dengan aman serta hingga pada titik aksi. Namun, sebelum sesampai di titik Aksi pihak keamanan kepolisian memalanggi jalur jalan Hayam Wuruk,  hingga ke titik aksi depan Kantor Konsulat Amerika Serikat. Saat itu pun, Negosiator Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, Kamrad Gilo menegosiasi tentang pemalangan jalan yang di lakukan oleh pihak keamanan kepolisian selama 5 Meter dari depan Kantor Konsulat Amerika Serikat. Meskipun Negosiator Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali  telah negosiasi sesuai surat masukan Empat Hari yang lalu ke kantor polisi sebelum aksi, di mana sesuai suarat masuk titik tujuan aksi di depan Kantor Konsulat Amerika Serikat. Tetapi, pihak Kepolisian tidak memberikan tempat titik aksi di depan Kantor Konsulat Amerika Serikat karena menurut kepolisian bahwa Konsulat adalah alat Vital Negara. Itulah terjadi perdebatan antara Negosiator Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali dan dengan pihak keamanan kepolisian. 

Selama menjelangnya aksi demo damai, Orasi dan yel-yel terus di sampaikan oleh Kordinator lapangan (KorLap) Kamrada Ika dan Kamrada Jois. Kemudian dari Kordinator Lapangan (KorLap) membuka ruang untuk massa aksi menyampaikan hak aspirasi bebas atau orasi secara terbuka. Ada pun beberapa massa aksi sampaikan hak pendapat masing-masing, Pertama oleh Kamrad Marten, bahwa "kita ada di sini karena bukan untuk makan minum tetapi kita ada di sini adalah karena sejarah bangsa Papua Barat. Maka, Bapak Polisi atau pihak keamana harus tahu bahwa 1 Mei 1963 adalah hari Aneksasi bagi bangsa Papua di mana rakyat Papua Barat di paksa secara paksa masuk ke bingkai Kolonial ini" tegasnya saat orasi. Kedua oleh Kamrad Jenno bahwa "Pihak Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat melalui PBB telah manipulasi sejarah bangsa Papua Barat mulai dari 19 Desember 1961 (TRIKORA), 15 Agustus 1962 (NEW YORK AGREEMENT)  hingga pada 1 Mei 1986 adalah telah manipulasi sejarah bangsa Papua Barat yang saat itu tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat satu pun. Maka saat ini, 1 Mei 1963-2018 sudah 55 Tahun adalah hari Aneksasi bagi bangsa Papua Barat yang awal di mana berbagai kekerasan terjadi di Atas Tanah Papua Barat dan serta Indonesia adalah Negara Ilegal atas West Papua" Tegasnya. Ketiga oleh Kamrad Minius bahwa "Sejarah Kami sungguh di manipulasi dan 1 Mei inilah bangsa Papua Barat di aneksasi dari tahun 1963 hingga 2018 sehingga Indonesia atas papua barat adalah Negara Ilegal. Maka, Indonesia dan bapak-bapak polisi harus tahu bahwa perlu memahami kembali Undang-Undang dasar Kalian dan Pancasila Kalian, sejarah kalian bair kalian tahun bahwa Rakyat bangsa Papua Barat berjuang karena sejarah” Tegasnya. Ke empat oleh Kamrad Darson bahwa "Negara ini tidak mempunyai dasar hukum bahkan bapak-bapak polisi pun tidak tahu mematuhi dasar hukumnya sendiri. karena apa, kita bukan aksinya di sini tetapi di depan Kantor Konsulat Amerika Serikat tetapi  pihak kepolisian membatasi kita. Benar bahwa 1 Mei 1963 adalah hari aneksasi bagi bangsa Papua Barat bahkan sekarang yang di lakukan oleh pihak kepolisian merupakan pembungkaman hak kami. maka kawan-kawan hanya satu kata lawan dan lawan” tegasnya. Dan kemudian ruang untuk orasi aspirasi di lanjutkan juga oleh beberapa massa aksi.

Setelah beberapa massa aksi menyampaikan hak aspirasi, ada pun penekanan oleh pihak kepolisian yang di tegaskan oleh salah satu pihak kepolisian Bahwa  "sudah cukup sampai disini dan kami pihak kepolisian berikan waktu sampai pukul 12:00 WITA" Ungkapnya. Dengan ketegangan itu, massa aksi memulai menyayikan yel-yel, dan Waita (Teriakan) yang di pimpin oleh Kamrda Ika dan Kamrada Jois, Sambil berlawanan dengan pihak Kepolisian yang sedang menyiapkan Water Canon

Karena begitu, respresif yang ingin di timbulkan oleh pihak keamanan kepolisian. Dengan tegas juga Negosiator Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali telah menegosiasikan dan mempertanyakan kanapa pihak kepolisian hanya memberikan waktu pukul 12:15 WITA tetapi tidak ada respon dari pihak keamanan kepolisian Sehingga ingin timbulnya represif. di celah-celah itulah, Kordinator Lapangan Kamrada Ika dan Kamrada Jois mengambil posisi untuk membacakan Pernyataan sikap. Ada Pun pernyataan sikap yang di bacakan Bahwa

Bertepatan dengan 55 Tahun yang menjadi  hari Aneksasi West Papua Oleh Indonesia, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Bali, menuntut dan mendesak negara Republik Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera: Pertama Berikan Kebebasan dalam Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Rakyat West Papua. Kedua, Menuntup dan menghentikan aktifitas eksploitasi semua perusahaan MNC milik negara-negara Imperialis; Freeport, BP, LNG Tangguh, Medco, Corindo dan lain-lain dari seluruh Tanah Papua. Ketiga, Menarik Militer Indonesia (TNI-Polri) Organik dan Non Organik dari seluruh Tanah Papua untuk menghentikan segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan oleh negara Indonesia terhadap rakyat Papua. Keempat, Jamin Kebebasan Jurnalis dan Pers di Papua. Kelima, Buka seluas-luasnya Ruang Akses Bagi Rakyat Papua. Keenam, Menolak Aneksasi ke dalam Indonesia dan Kembalikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua

Setelah Membacakan pernyataan sikap kemudian massa aksi kembali pada titik kumpul Parkiran Timur Renon sambil menyayikan yel-yel, orasi, Waita (Tarian) hingga di Parkiran Timur Renon. Selanjutnya Massa aksi kembali pada aktivitas masing-masing.

Salam Pembebasan Nasional Bagi Bangsa Papua Barat

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Ilustrasi - AMP

May Day atau 01 Mei adalah hari bersejarah bagi buruh Internasional dan rakyat West Papua. Sejarah dimana diwarnai dengan tumpahan darah-darah berjuta buruh dan rakyat West Papua. Merayakan 01 Mei di tahun 2018 ini adalah bukan sebuah kemerdekaan atau merayakan anugrah sejarah atas kemenangan buruh, juga rakyat West Papua, tetapi kesengsaran yang berkepanjangan—yang berkomitmen pada perlawanan selama sekian tahun untuk menciptakan kondisi buruh dan rakyat Papua yang lebih baik dan bermartabat.

Perjuangan kaum buruh Indonesia hari ini yang percaya terhadap keyakinan untuk Indonesia lebih baik, serta perjuangan rakyat West Papua untuk menentukan nasibnya sendiri secara demokratis, adalah kekuatan kita yang saling terkonsolidasikan (walau kita adalah yang sedikit tapi demokratis) untuk melawan siapa musuh kita bersama. Siapa musuh kita hari ini? Siapa penguasa hari ini? Siapa pemegang kebijakan dan eksekutor di West Papua, di pabrik-pabrik, pedesaan? Jawabannya ada di realita sejarah dan hari ini.

Kapitalisme-Imperialisme membawa umat manusia, bangsa Indonesia (yang tertindas) juga rakyat West Papua ke dalam kesengsaraan.

Kebijakan Rezim negara serta tindakan Aparatus reaksionernya telah membuat rakyat terasing dan sengsara. Peniadaan hak-hak buruh: upah murah, jaminan sosial dan keselamatan kerja tak diprioritaskan kepada buruh, serta jam kerja yang tinggi yang menguras jam aktivitas sosial, dan lain-lainnya.

Begitu pula rakyat West Papua, sejak 01 Mei 1963 secara tanpa sepengetahuan orang West Papua, atas kesepakatan sepihak Belanda, Indonesia dan Amerika Serikat di New York (1962) Papua dianeksasi kedalam Indonesia. Tindakan memaksakan orang Papua pun diberlakukan secara tak manusiawi. 12 rangkaina operasi milter sejak tahun 1962 hingga tahun 2004, tercatat telah menelan 100 ribu nyawa manusia West Papua—hingga kini populasi orang West Papua tinggal 1,98% saja.
Berbicara soal 01 Mei adalah hari Aneksasi Rayat West Papua mengenal ABRI (sekarang TNI--militer) sebagai wajah Indonesia. Wajah indonesia mencerminkan pembunuh, pemerkosa, perampok, penjaga pertambangan, sawit, perusahan minyak, gas, musuh rakyat West Papua dan sebagainya. Setiap regulasi pemerintah Indonesia, bahkan kedatangan Presiden Indonesia ke Papua, orang Papua tetap berada di posisi rakyat terjajah.

Kebijakan penanaman modal asing di Indonesia pada tahun 1967 serta pendudukan perusahaan raksasa milik AS, PT. Freeport Indonesia di Papua pada 2 tahun sebelum Pepera (1969), merupakan orientasi yang sungguh jauh dari nasionalisme Indonesia. Perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dibangun atas dasar anti terhadap Imperialisme dan Kolonialisme Belanda, serta Fasisme Jepang, justru jauh dari kata merdeka landasan nasionalisme tersebut. Setelah kemerdekaan, semangat perjuangan tersebut tak ada nilainya ketika watak penjajah masih tersisah didalam otak kaum brengsek itu. Dan mempraktekannya yang salah.

Nasionalisme NKRI hanya menjadi kedok bagi pemodal, petinggi militer serta rezim untuk mempertahankan sistim yang menindas tetap terus ada. Pancasilah hanya menjadi ayat hafalan kaum borjuis, rakyat merasahkan kemiskinan, ketidak adilan dan sebagainya. Nasionalisme menjadi tak bernilai dan tak bermanfaat ketika Indonesia menganeksasi West Papua hanya untuk merungguh pada kekayaan alam West Papua demi kapital dan terus menjajah rakyat West Papua.

Sehingga kontradiksi pokok kita hari ini, buruh dan rakyat West Papua adalah Kapitalisme-Imperialisme, Militerisme, serta rezim negara RI (bagi Buruh dan Rakyat Indonesia) dan Kolonialisme (bagi Rakyat West Papua).

Itu lah mengapa 01 Mei menjadi hari perlawanan Buruh dan rakyat Indonesia yang melawan dan rakyat West Papua (bersatu) untuk Indonesia lebih baik dan Rakyat West Papua dapat menentukan nasibnya sendiri.

Medan Juang, 28 April 2018

Jhon Gobai
Ketua Umum AMP

Photo oleh AMP KK Bali, saat usai Aksi demo Damai
di Parkiran Timur Renon, Kamis 19 April 2018
"AMP KK BALI AKSI DEMO : Militer Indonesia di Atas Tanah West Papua dan Kekerasanya"
Militer Indonesia di Tanah West Papua adalah Pembunuh, Pemerkosa, Perampasan  Kekayaan ALam West Papua. oleh Kamrad Berto

Denpasar-Bali, Pada hari Kamis, 19 April 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, melakukan aksi demo damai di Bundaran Renon Jalan Hayam Wuruk, mulai dari pukul10:00 pagi hingga selesai pukul 13:30 WITA dengan massa aksi 31 orang. Melalui itu, tuntutan tema umum: Imperialisme, Kolonialisme, dan Militerisme Adalah Akar Penindasan di Atas Tanah West Papua, Khususnya di Dogiyai. Dan menyikapi secara bersama berbagai persoalan di West Papua atas kejamnya militer Indonesia terhadap rakyat West Papua dalam pembungkaman Pembebasan Nasional dan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi bangsa West Papua.  Aksi demontrasi di lakukan secara serentak di enam (6) kota, Bogor, Bali, Jakarta, Semarang, Malang dan Yogyakarta.

Kronologis Persiapan aksi
AMP KK BALI, saat pemaparan materi untuk aksi kamis 19 April 2018
dan saat uasi diskusi

Hari Rabu, 18 April 2018 Aliansi Mahasiswa Komite Kota Bali melakukan pemaparan materi dan diskusi bebas serta memutar cuplikan video-video kekerasan kolonial militer Indonesia atas rakyat West Papua. Dalam wacana pemaparan materi berkonteks pada Kemerdekaan bangsa Papua Barat 1 Desember 1961, Operasi-opersasi kolonial militer Indonesia di Tanah West Papua dari tahun 1960-an hingga 2018, serta mengagas tentang penembakan yang di lakukan di Dogiyai. Yang berkonteks pada operasi-operasi kolonial militer di seluruh Tanah West Papua. Rangkuman, yang menjadi catatan penting ketika diskusi berlanjut adalah Tarik TNI PORLI dari seluruh Tanah Bangsa Papua dan merebut pembebasan Nasional dalam penentuan nasib sendiri bangsa bangsa Papua secara demokratis.

Aksi Demo Damai 19 April 2018

Massa aksi berkumpul di titik kumpul pada pukul 09:00 Pagi WITA di Parkiran Timur Renon dan Pada pukul 10:00 WITA massa aksi melakukan Long March dari titik kumpul Parkiran Timur renon ke titik aksi demo, Bundaran Renon Jalan Hayam Wuruk; selama perjalan menuju Bundaran Renon, ada pun yel-yel, orasi, lagu-lagu yang di organisir oleh Kordinator Lapangan Kamrad Berto serta Kamrad Enis.

Ketika tiba di titik aksi, massa aksi berbaris dan memeperlihatkan Spanduk tutuntan Umum AMP mengarah ke jalan raya "Hak Menentukan Nasib Sendiri Solusi Demokratis Bagi Rakyat Bangsa Papua Barat". Saat aksi demo berlangsung Kamrad Berto mengatakan bahwa "Militer Indonesia di Tanah Papua adalah pembunuh rakyat bangsa Papua, Pemerkosa Rakyat bangsa Papua, perampasan sumber daya alam bangsa Papua", dan di tegaskan lagi oleh Kamrad Enis bahwa "Bangsa Papua Barat bukan Merah Putih tetapi bangsa Papua adalah bintang fajar karena itulah bangsa Papua Barat adalah bangsa yang telah merdeka sejak 1 Desember 1961 dengan itu, menolak militer Indonesia sebagai kedok pembunuh Rakyat Bangsa Papua Barat".

Serta beberapa massa aksi mengutarakan menyampaikan aspirasi terutama oleh Kamrad Monda bahwa "Kita ada disni karena untuk menyampaikan Hak-Hak rakyat bangsa Papua dan Tuntut untuk penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis karena selain dari itu tidak ada jalan; pasti yang akan ada adalah tindakan kekersan militer Indonesia atas rakyat West Papua, seperti yang terjadi di seluruh West Papua militer adalah aktor utama penyeb kekerasan West Papua bahkan terjadi di dogiyai kemarin militer Indonesia menembak dua orang pemunah tanpa sebab akibat, maka menolak negara Indonesia atas West Papua dan kembalikan hak kemerdekaan West Papua", orasi kedua oleh Kamrad Minius bahwa" Negara Ini negara yang tidak mempunyai hukum dan aturan, apalagi negara mengunakan militer beribu-ribu dan krim keseluruh pelosok tanah Papua dengan melakukan kekersan-kekerasan tertentu, terutama alat negara yang sebenarnya tidak boleh melawan rakyat malah mengunakan alat negara militer mampu menembak, menyikasa rakyat West Papua secara semaunya", Ketiga oleh Kamrada Brigida bahwa "Kami di bunuh eperti hewan buruan dan se- enak mereka mereka membunuh dengan senjata mereka, tanpa melihat sebab akibat yang kuat; sehingga rakyat West Papua merasa terancam mulai dari West Papua di Aneksasi kedalam Indonesia dengan kekuatan militer, maka kawan-kawan mari kita lawan dan lawan".

Kemudian di lanjutkan dengan  orasi-orasi  aspirasi di sampaikan oleh kawan-kawan hingga pada pukul 13:15 WITA waktu setempat. setelah disampaiakan orasi aspirasi di lanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Korlap kamrad Berto dan Kamrad Enis, kemudian setelah membacakan pernyataan sikap, massa aksi di arah kembali ke titik kumpul yang di kawali oleh Polisi dan Keamanan AMP KK BALI Kamrad Ino hingga tiba di titik kumpul Parkiran Timur Renon dengan aman dan damai. Dan dari titik Kumpul melakukan Photo bersama serta massa aksi berpulang ke aktivitas masing-masing.

Catatan:

Kita Bersatu merebut perjuangan sejati dalam pembebasan nasional untuk bangsa Papua barat serta memupuk nasionalisme rakyat bangsa Papua barat dari sejarah menuju suatu pembebasan yang penentuan ansib sendiri bagi bangsa Papua Barat. Maju dan Lawan adalah kekuatan dalam membuka lembaran sejarah untuk Mati dan Hidup demi Tanah Air bangsa Papua Barat.

Jabat Erat.

Salam Pembebasan Nasional West Papua


Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Saat kawan Heni Lani (alm) membakar semangat masa aksi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) pada 01 Desember 2014 di Jakarta - Foto: AMP
Sebuah Prosa

Aku Dedikasikan Tulisan Ini Untuk Kamerad Henny Lanny -- Tenanglah Kau di Alam Sana Sayang!

I

Aku Bahagia Saat Berjabat Tangan Dengan Hidup!

Hati Kau Tersakiti

Sudah kau belajar mengorbankan hati yang bersinar itu
Namun, ada yang menutupinya dengan gelapan, mematikan lakon jejak langkah kau
Pancaran Sinaran hati mu memberi kasisayang sesama manusia
Kau mala tersakiti akibat di cegah

II

Hidup kau memberi jernihan air penolong kehausan
Pengetahuan kau berikan untuk saling berbaik hati: juga turut membahagiakan
Mala kau di sakiti,  hati kau, dan semua yang sudah kau susah--payah membangunnya dengan penuh menyayat jiwa-ragawi, karena martabat manusia bahagia

Sendu, hati kau sudah tersakiti--padahal kau punya karya yang begitu suci dari luapan kata hati yang tulus
Sedang ada yang coba membakarnya dengan api kedengkian dan kemurkaan

III

Jemari kau mencetak banyak karya di tempat kau bersuka cita mengabdi
Mengorbankan segala ketulusan, yang diselimuti pengorbanan; bahkan beban orang tua, (patuah-patuah pejuang Bangsa West-Papua yang takzim sembari mengukir jalan kemerdekaan), dan sudahi kau berikan ditempat mana kau memilih (pengetahuan yang berbakti sembari rengsa)

Sekarang sekujur tubuh kau, tersungkur dipojokan kamar sempit
Dan gilarannya banyak juga hati teman-teman kau ikut tersiksa
Mengalir kesedihan tak terhingga membuncah terpingkal-pingkal

Dedaunan kering sekali di tiup angin kencang berhamburan di jalanan kesunyian
Remuk hidup kau, dan teman-teman kau, berdiri tegak diatas panji kemanusiaan--sebab hati dan pikiran yang mulia

IV

Sekarang tinggal kenangan: banyak catatan kau limpahkan di laci tempat kau mengabdi
Karena itu kau dan teman-teman kau butuh Kasisayang dari sebagian kami
Dari keluhuran hati yang bergumam meniti berat perkasa ibu demokrasi
Agar kau--teman-teman kau, dan kami juga tak harus di sakiti hatinya

Kau, aku, dan semua yang berjabat dengan hidup
Berkehendak berbenah tanpa sejumput pun diam kepasifan
Menguncur kejujuran dalam hidup yang tak ada kebahagiaan sepenuhnya
Lakoni lah, sebab dari ilmu pengetahuan yang kita miliki: tak harus membuat hidup menjadi remuk, sendu, tapi bergelembung--membahagiakan aku, kau, dan semua bintang-gemintang di ujung jalan mengerubung membebaskan.!

Ditulis oleh Rudhy Pravda, Jakarta, 17 April 2018

Catatan:
Buat kau, aku, dan semua bintang-gemintang Bangsa West-Papua: dalam berjuang berdesakan membebaskan, takzim perlawanan mu, hingga menjadi bara api Bangsa West-Papua, dan kau [Lanny] telah berjuang--melawan dengan gagah-berani segala penindasan, pembunuhan, pemenjaraan, perampokan, pengrusakan, pemusnahan, pemerkosaan, secara sistematis dan terstruktur penuh hikmat kesungguhan, tugas mulya, ulet, penuh dedikasi, berani, tangguh menjalankan kedisplinan hendak MERDEKA Bangsa Mu. Di hadapan kolonialisme, imperialisme, militerisme, kau hadir sebagai manusia yang memilih di antara minoritas tersisa  "MERDEKA" hingga pergi dengan penuh harapan dan pula bahagia.


Ilustrasi Photo oleh Bima Waine saat aksi 07 April 2018 di Semarang
"FRI-WP dan AMP SEMARANG-SALAHTIGA dan SOLO: Kronologis Aksi Demo
Freeport 56 Tahun Ilegal di Tanah Papua"
Pada hari Sabtu, 7 April 2018 Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] melaksanakan aksi demo serentak di  beberapa kota, bertepatan dengan dilakukannya Kontrak Karya I PT. Freeport pada tahun 1967 antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan asal Amerika tersebut. Di Semarang Aliansi Mahasiswa Semarang-Salatiga dan Solo menggelar aksi demo bersama. dengan thema umum; Tutup PT.Freeport dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa Papua Barat.  Berikut kronologis selengkapnya:

Kronologi

Aksi demo gabungan AMP Semarang-Salatiga dan Solo dimulai pada Pukul 09:00 WIB dari depan Patung Kuda Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang. Saat massa aksi hendak memulai aksi, di titik aksi sudah didatangi oleh Aparat Kepolisian (Brimob) dengan persenjataan lengkap, massa aksi dibawah pimpinan Sagintak Wasiangge, Merry Nawipa dan Bima Waine langsung menyampaikan orasi-orasi politik.

Selanjutnya massa aksi bergerak menuju Seputaran Simpang Lima. Dalam menyampaikan orasi-orasi politik setiap masa mahasiswa intinya megutuk penandatangan kontrak karya Pertama PT. Freeport secara sepihak atara pemerintah Indonesia dan Freeport McMoran pada tahun 1967 yang mengorbankan hak politik dan masa depan bangsa Papua tersebut. Dan mendesak pemerintah Indonesia dan dunia internasional untuk memberikan hak kebebasan kepada rakyat bangsa Papua Barat agar menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis sesuai prinsip-prinsip hukum Internasional.

Selain itu, mengutuk tindakan brutal Aparat Indonesia terhadap masyarakat Sipil di Area Tambang PT. Freeport, dimana beberapa hari yang lalu terjadi penyerangan terhadap dengan sasaran TPNPB namun masyarakat sipil dikorbankan.

Sekitar Pukul 11 : 20 massa aksi kembali ke titik kumpul (Patung Kuda Undip), kemudian dilanjutkan dengan penyampaian orasi-orasi politik. Dalam penghujung aksi, tiba-tiba dari arah Universitas Diponegoro Pleburan massa aksi tandingan datang sambil menyampaikan orasi-orasi dan lagu-lagu nasional Indonesia.

Massa aksi tandingan tersebut, langsung dihadang pihak kepolisian yang sudah lebih duluh berjaga-jaga di sekitar lokasi. Selanjutnya, pada pukul 11 : 50 dibacakan pernyataan sikap oleh koordinator lapangan aksi dan massa aksi kembali ke tempat persiapan dan selanjutya bubar.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat
Powered by Blogger.