Halloween party ideas 2015

AMP Komite Kota Jakarta dan Sektor Tangerang usai diskusi, 06 July  2018"AMP KK Jakarta dan Sektor Tangerang : Diskusi  20 Tragedi Tahun Biak Berdarah"
Jakarta-  Pada hari jumat, 06 July 2018, pukul:09 00 WIB s/d Selesai,  Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta dan Sektor Tangerang  telah melakukan diskusi bersama mengenai " 20 Tahun Tragedi Biak Berdarah: Kekerasan kolonial dan militer Indonesia di Atas Tanah Papua Barat" di Asrama Mamteng Tangerang. Massa diskusi yang hadir sebanyak 25  orang, dengan Pematik dari AMP Jakarta dan Notulensi dari AMP sektor tangerang.

Kronologis diskusi:

Diskusi di mulai tepat, pukul 10:00 WIB. Pematik mengarahkan diskusi dengan mengawali serta menguraikan situasi saat Biak berdarah dengan memberikan beberapa ringkasan sejarah untuk sebagai pemahaman bersama.

Dan selama pematik menceritakan sejarah Papua mauapun Biak berdarah, ada beberapa pertanyaan Refleksi yang dilahirkan yaitu, Kenapa rakyat Papua Bersatu untuk melawan kolonial Indonesia disaat itu? Apakah engkau mau belajar sejarah? Apakah kita masih aman dalam bingkai NKRI ini? melalui pertanyaan inilah, catatan bagi kita besama untuk mengagas bersama.

Ada sebuah kisah yang di Paparkan oleh Pematik dan menceritakan sebuah kisah Hidup dari seorang mama saat itu, Yoti Mama Tineke:

Kisah Mama Papua saat Biak Berdarah

"20 tahun lalu, Mama Tineke Rumkabu berlari menyusuri jalan setapak kecil yang mengarah ke menara air di Biak sambil membawa makanan dan kopi ketika peluru-peluru terbang ke segala arah. Sebuah helikopter terbang di atasnya--sambil juga memuntahkan peluru.  Mama Tineke tersungkur setelah terkena pukulan di bagian belakang kepalanya. Kepalanya disiram kopi. Di aspal, tubuhnya diseret, kaki, perut, lalu kakinya lagi, ditendang oleh tentara. Mama Tineke berdoa pada tuhannya. Tentara itu meneriakinya, "Berdoalah! Panggil tuhanmu supaya dia menolongmu di hari-hari terakhirmu ini!" Tapi tentara lain datang sebelum tuhan. Ia memukul Mama Tineke dengan popor senapan. Menyeretnya, tapi kemudian bilang: larilah, agama kita sama jadi larilah!
Mama Tineke lari ke sebuah rumah, masuk ke sebuah ruangan dan bersembunyi di sana. Tapi di tempat itu masih kurang aman. Seorang kawannya, juga perempuan, berkata bahwa ada tangki tinja di rumah ini. Kemudian selama kira-kira empat jam, mereka berdiri di dalam tangki itu. Empat jam menunggu tuhan yang belum kunjung datang. Mereka tak tahan, kemudian keluar dan kembali tertangkap. Mata Mama Tineke ditutup kain hitam, kemudian dilempar ke dalam sebuah truk yang di dalamnya berisi banyak orang lain; laki-laki, perempuan, orang tua, juga anak-anak. "Tuhan, tolong kami. Tuhan tolong kami."

Mama Tineke dibawa ke suatu tempat, yang kemudian ia tahu bahwa tempat itu adalah sebuah kantor militer, dan di sana ia bersama yang lain disiksa habis-habisan. Mama Tineke ditelanjangi. Lengannya diiris-iris dengan bayonet dan disundut rokok. "Kita tak mau diperkosa, kita tak mau diperkosa!" Mama Tineke mendengar teriakan itu dari mulut temannya. Seorang tentara kemudian memaksa membuka lebar kaki perempuan itu, menyalakan sebuah lilin dan memasukkan lilin itu ke dalam vagina perempuan malang itu. Hal yang sama juga dialami oleh Mama Tineke.
Di ruangan yang berkali lipat lebih mengerikan dari tangki tinja itulah Mama Tineke Rumkabu mendengar teriakan perlawanan terakhir Martha Dimara: Lebih baik kau bunuh saya daripada kau perkosa saya! Ujung tajam bayonet menusuk dada perempuan itu. Kemudian dipisahkan oleh tentara kepala dari tubuhnya. Payudaranya, diiris. Seorang perempuan kecil diperkosa hingga mati. Vagina dan klitoris perempuan-perempuan malang itu diiris. Mereka diperkosa berulang kali. Darah bercecer di mana-mana. Delapan perempuan mati di ruangan itu. Empat lainnya hidup dan lari, yang salah satunya adalah Tineke Rumkabu. Ia lari ke hutan selama dua bulan sebelum akhirnya tertangkap lagi dan dijebloskan ke penjara".

Setelah di certakan, sebuh kisah yang di alami oleh mama Tinike di lanjutkan dengan ruang diskusi tepat  pada pukul 10:30 WIB, sehingga mearik pertanyaan untuk setiap mahasiswa yang hadir saat diskusi berperan aktif dalam diskusi tersebut untuk memberikan pendapat dan tanggapan.

Ada pun, tanggapan yang di berikan oleh “Yunus mencetitakan, melalui apa yang saya dengarkan dari orang tua pada Tahun 1998-1999 penjagaan ketat yang dilakukan oleh militer terhadap perusahan asing di Biak, bukan hanya Biak tetapi didaerah lain seperti Serui, Waropen dll. Lanjut, ia pun mengatakan bahwa saat itu tuntutan utama yang dilakukan oleh masyarakat dibiak adalah menolak perusahaan ikan yang sudah berhasil ditutup dan juga mereka menolak adanya perusahaan asing lainnya yang datang dan mau merusak alam Papua. Saat itu mereka berpikir untuk generasi penerusnya agar tetap tercatat dalam benak dan hati anak-anaknya.  dan Yang paling sedih sekali adalah ketika saya membaca 20 tahun tragedi biak berdarah, dimana pada saat itu mama-mama kita disiksa, diperkosa, dianiaya, dan dibunuh. Bagimana degan generasi kita yang masih biasa dengar cacatan sejarah, bagimana dengan perasaan kita saat ini? Yang jelas pasti kita akan merasa sakit hati dan semangat emosional perlawanan itu akan timbul dalam diri kita".

Dan selanjutnya juga oleh“Che Gide, mengatakan pada tahun 1998 Biak berdarah itu di Indonesia sendiri zaman bangkitnya era reformasi dan di Papua sendiri adalah zaman bangkitnya perlawanan dan pertumpahan darah yang besar-besaran.  Daerah Operasi Militer (DOM) 1977 di tanah Papua serta pada waktu itu, Rakyat Biak lebih mengerti pada saat suharto mau jatuh. dan Rakyat Biak dianggap berbahaya pada saat itu, Suharto mempunyai kekuasaan jatuh pada saat itu rasanya bebas pada saat itu. dan pada kasus Wamena benderah Bintang Kejora berkibar beberapa hari karena suasananya bebas. Dilihat dari Motivasi Pak Filip Karma biar Biak merdeka dulu baru daerah lain merdeka karena pembacaan Filep Karma. Setelah itu Timur leste juga memamfaat kan sisuasi ini untuk merdeka, termasuk aceh dan daerah lain. Pada saat itu mempersiapkan para politikus untuk merdeka, namun pemerintah datang membubarkan bahkan ada yang dibunuh hingga ada yang melarikan diri dihutan. Lebih sadis lagi 32 nyawa telah tewas setelah tragedi Biak berdarah itu. Perjuangan itu sudah ada pada zaman Arnol AP, Kritis moniter terjadi pada zaman era reformasi, gerakan” itu sudah ada Tahun 1970an pada saat itu rambut kribo di anggap OPM dan ditangkap sehingga situasi saat itu masyarakat Biak dan sekitarnya hidup dalam tekanan dan ancaman militerisme, dan Biak berdarah cerita itu dari orang tua nenek moyang kita itu sudah pernah ada, jadi bagi kita Kawan-Kawan kita jangan melewatka diskusi seperti ini, ini sangat penting supaya kita tau bawah duluh orang tua kita mengalami seperti ini" Ujarnya

Ada seorang kawan lanjut dan mengatakan bahwa Wamena saat ini masih dingap daerah rawan oleh TNI/ POLRI, Sehingga, masyarakat susah bergerak untuk melakukan aktivitas terlebih hari-hari agenda nasional seperti Biak berdarah. Di Papua kita susah belajar sejarah, tempat belajar sejarah disini, dalam arti diluar papua; Kenapa kita masih ada dalam bingkai NKRI padahal kita sudah deklarasikan kemerdekaan West Papua? Ujarnya.  Ada sebuah pertanyaan yang timbul dari seorang kawan ia mengatakan mengapa Papua sudah merdeka tapi sampai sekarang kita masih ada dalam Indonesia?
"Indonesia tidak ingin Papua untuk merdeka karena Papua mempunyai kekayaan alam memlimpah, Indonesia tidak mau Kehilangan kekayaan alam itu sendiri, negara sampai saat masih kuras kekayaan alam ini. Hal inilah yang membuat Indonesia tidak bisa lepaskan Papua dari Indonesia.  Dalam hati kecil orang Papua, terus ada hati dan cinta akan Papua merdeka itu, ada namun kenyataan mereka ditawarkan hal-hal menis oleh pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua dengan tujuan orang Papua lupa akan rasa ingin merdeka lagi pula mereka mematikan pola pikir orang Papua untuk melemahkan api perlawanan itu dari kehidupan orang Papua. Buktinya Persiden jokowi sudah 7 kali kujungan ke Papua untuk menutup orang papua yang ingin lepas dari NKRI. Cara yang digunakan oleh NKRI adalah peresiden bawah diri kemasyarakat dan TNI/POLRI main dibelakang dan memusnahkan orang Papua. Dilihat dari sejarah 1961 setelah Deklarasi Papua. Demi kepintingan imprealisme,kapitalisme terbesar termasuk Kontrak karya Pt. Freeport dan perusahaan lainnya. Maka terjadilah DOM (daerah operasi militer)  dipapua. Waktu itu, Papua Barat sejak 1 desember 1961 sudah merdeka namun dibatalkan oleh Sukarno dengan  kirim trikomando rakyat yang bersisi tiga tuntutan: Bubarkan negara buatan boneka, Kibarkan merah putih di seluruh tanah papua, Sosialisasi di seluruh tanah papua".

Dan ungkap Yunus juga, Kenapa Indonesia merelakan Timur leste mereka, namun kenapa tidak mau melepaskan Papua Barat? Karena Indonesia punya perhitungan bawah Timur leste hanya minyak sedangkan Papua punya kekayaan alam melimpah yaitu, minyak ada disorong,emas ada di timika dll. Konflik pilkada adalah taktik-nya pemerintah agar masyarakat saling membunuh. Kunjungan persiden ke Papua tujuan hanya untuk survei tempat untuk membagun modal untuk kepentingan negara. Setelah hari proklamasi hingga saat ini TNI polri bermain lewat politik untuk menghabiskan OAP dari tanahnya sendiri. Saat ini yg terjadi orang tua kita di Papua  Barat adalah menceritakan mengenai politik kolonial  dibandingkan situasi yang terjadi di Papua.  Maka, hal yang terpenting Harus ada sosialisasi diPapua. dan perlu ketahui bahwa, Kawan-Kawan kita OAP banyak yang tidak memahami tentang sejarah Papua, karena terlalu keenakan dengan jaman globalisasi saat ini. Dan kita menuju pada konteks biak berdarah, Setelah kejadian biak berdarah, wamena berdarah itu sudah ada gerakan perlawanan namun kesini-kesini sudah tidak ada lagi untuk mengambil tindakan tersebut, Tetapi yang perlu kita lihat, wadah atau organisai  itupun ada namun mereka lebih bahas yang lain dibanding sejarah Papua pada hal kita sedang dijajah oleh Indonesia, semuanya karena kita sudah merasa aman dengan sisuasi yang ada saat ini. Politik ini membuat kita lupa akan sejarah perjuangan rakyat Papua.

dan  selanjutnya oleh Ali, mengatakan "Menyangkut sejarah 1977 orang Papua banyak yang korban. Dahulu di bokondini itu ada markas OPM, menurut cerita orang tuanya  banyak yang korban yang sampai sekarang dan tidak pernah dihitung kejadian Sebelum Biak berdarah.  dan jugaTiom berdarah ada 4 orang yang pernah bapa saya antar, dan sampai saat ini tempat itu militer sudah mendirikan pos penjagaan, banyak marga Tabuni yang melarikan diri ke daerah-daerah terdekat sejak tahun 1977. Sampai ada yang lari ke Vanuatu. Di akibatkan kerana Trauma,dahulu yang saya dengar tentara datang mereka larikan diri, namun sekarang ini cara pola permainan militer sekarang lebih halus. Untuk melawan ini apa yang harus kita lakukan? ada bebarap hal yang dapat saya sampaikanYang pertama kita harus benar-benar memahami sejarah. dan Kita harus belajar banyak hal tentang sisuasi internal dan external. dan seperti itu pun, Kasus Biak berdarah kita kembali melihat Kawan-Kawan kita dari Biak, orang-orang tua tidak mau menceritakan kepada anak cucu dangan alasan orang tua tidak mau trauma ini tadak mau terjadi lagi terhadap anak-nya. Hal-hal yang harus kita lakukan sosialisasi terhadap kasus-kasus yang terjadi  seluruh tanah Papua yang memberikan jalan kelauar bagi rakyat Papua. Kongres Papua ke-2 di Jayapura dari Sorong sampai Samarai sudah ada di Jayapura, bayangkan pada saat itu belum ada trasportasi yang ada saat ini. Mau belajar sejarah, berjuang untuk tanah itu kembali ada ditangan kita masing-masing. Tekanan dari orang tua terhadap anak, jangan ikut demo masalah Papua merdeka, karena degan pengalaman orang tua yang sudah mengalami trauma".

di tambahkan juga oleh Che Gide bahwa "Yang harus kita buat sebagai kaum yang berintelektual Kita bergerak berdasarkan sejarah, Belajar mengenai pendidikan ekonomi politik, Kita selalu update sisuasi internal dan external seperti Isu gizi buruk ini dibuat oleh pemerintah sengaja , Strategi NKRI saat ini adalah melalui ekonomi, politik, kesehatan. Kasus-kasus biak berdarah, wamena berdarah dan sebagainya sehingga orang Papua wajib belajar soal ini, Yang kedua sosialisasi ke setiap daerah yang sudah korban kekerasan  oleh militer Indonesia". dan Rakyat Papua beribu-ribu jiwa yang telah korban namun Indonesia tidak pernah tayangkan dilayar kaca TV Indonesia itu kenapa? ini untuk tugas kita belajar untuk memahami sejarah, oleh karena itu belajarlah sebanyak mungkin yang bisa kita belajar untuk melawan sistem yang sedang menindas rakyat Papua. Bacalah sebanyak mungkin karena buku adalah tiket untuk keliling dunia".

Diskusi berakhir tepat pada pukul 12:20 WIB, sebelum diskusi di tutup ada beberapa poin penting yang di sampaikan untuk mendorong perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat Bersama, terutama di tegaskan untuk Lebih Banyak Belajar dan memperdalam Sejarah Papua, Banyak membaca buku, Banyak diskusi, Sosialisasi tentang pentingnya sejarah bangsa Papua kepada orang tua, keluarga dan siapa saja yang kita jumpai, Membuat catatan sejarah dalam bentuk audio visual (video dokumenter) . itulah beberapa point inti yang menjadi rekomendasi untuk kita lakukan bersama dalam melawan lupa tragedi Biak Berdarah maupun perjuangan pembebasaan kebangsaan. Dengan itu, melawan lupa maka kita melawan musuh utama kita yaitu, KOLONIALISME, IMPERIALISME, MILITERISME sampai kepada “HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI BAGI BANGSA WEST PAPUA “

PAPUA MERDEKA

Pewarta, Helena
Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta 

Katika Ormas, Militer, Intel Kepng Asrama Papua di surabaya saat diskusi 20 Tahun Tragedi Biak Berdarah
"Siaran Pers: LBH Surabaya Kasus Kriminalisasi Terhadap AMP Surabaya dan Malang"
LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) SURABAYA – JAWA TIMUR

No : 132/SK/LBH/VII/2018

Pada hari Jumat, 06 Juli 2018 Aliansi Mahasiswa Papua mengadakan diskusi Mingguan di Asrama Mahasiswa Papua yang terletak di Jalan Kalasan No. 10 Tambaksari, Surabaya. Pada sekitar jam 20.30 WIB, Camat Tambaksari bersama ratusan anggota Kepolisian, TNI dan Satpol PP kota Surabaya mendatangi Asrama Mahasiwa Papua dengan dalih melaksanakan operasi Yustisi. Namun ketika perwakilan Mahasiswa Papua dan dua orang mahasiswa peserta diskusi serta salah satu Pengacara Publik LBH Surabaya menanyakan Surat Perintah/Surat Tugas, Camat Tambaksari tidak bisa menunjukkan surat tersebut. Dua orang peserta diskusi, Isabella dan Anindya berusaha untuk berdialog dengan damai dengan pihak camat namun di tengah dialog tersebut, salah seorang polisi meneriaki Anindya dengan kata-kata kasar kemudian situasi mulai memanas. Isabella dan pengacara publik LBH Surabaya diseret oleh aparat kepolisian, sedangkan Anindya juga dilecehkan oleh oknum aparat kepolisian, dadanya dipegang dan kemudian diseret beramai-ramai. Camat Tambaksari Bersama ratusan anggota Kepolian, TNI dan Satpol PP kota Surabaya meninggalkan lokasi Asrama Mahasiswa Papua sekitar jam 23.00 WIB.

Alasan Camat Tambaksari mengatakan bahwa operasi tersebut merupakan Operasi Yustisi merupakan hal yang tidak rasional. Karena jika memang Camat Tambaksari sedang melaksanakan Operasi Yustisi, seharusnya camat bisa menunjukkan Surat Perintah/Surat Tugas. Selain itu, jika memang melaksanakan Operasi Yustisi kenapa harus melibatkan anggota Kepolisan dan TNI, bahkan polisi bersenjata laras Panjang.

Tindakan represif aparat Kepolisian terhadap mahasiswa Papua, tidak hanya sekali terjadi. Pada 1 Juli 2018, diskusi yang dilaksanakan oleh Mahasiwa Papua di Asrama Mahasiswa Papua dibubarkan paksa oleh aparat Kepolisian dan di Malang diskusi Mahasiswa Papua dibubarkan secara paksa sehingga mengakibatkan beberapa Mahasiswa papua terluka. Menurut keterangan Mahasiswa Papua di Surabaya, mereka sering mendapatkan larangan untuk melaksanakan aksi-aksi demonstrasi.
LBH Surabaya sebagai lembaga yang concern untuk mendorong pemajuan, pemenuhan dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia mengecam keras tindakan-tindakan kekerasan terhadap Mahasiswa Papua. Apalagi kekerasan tersebut justru dilakukan oleh aparat negara (state apparatus), lebih-lebih dilakukan oleh aparat keamanan yang sejatinya harus memberikan perlindungan dan keamanan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 28 E ayat (3) dan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 24 ayat (1) memberikan jaminan atas kebebasan berserikat, berkumpul dan berserikat. Sehingga tindakan kekerasan secara fisik dan psikis yang dilakukan aparat negara kepada Mahasiswa Papua, merupakan pelanggaran HAM.

Selain itu, tindakan pelecehan Seksual yang diduga dilakukan oleh salah satu oknum aparat Kepolisian merupakan pelanggaran serius terhadap pasal 289 KUHP, “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, dihukum karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana selama-selamanya sembilan tahun.”

Berdasarkan hal tersebut di atas, LBH Surabaya menyerukan agar:

1. Presiden Republik Indonesia memerintahkan Kepolisian dan TNI untuk menghentikan tindakan represif terhadap masyarakat khususnya Mahasiswa Papua;

2. Kapolda Jatim untuk mengusut tuntas kasus kekerasan yang dilakukan oleh anggotanya terhadap Mahasiswa Papua di Jawa Timur;

3. Kapolda Jatim untuk menindak tegas anggota Kepolisian yang melakukan pelecehan seksual Kepada Mahasiswi peserta diskusi di asrama mahasiswa Papua (Surabaya) pada tanggal 6 Juli 2018;

4. Pemerintah kota Surabaya tidak bertindak diskriminatif terhadap Mahasiswa Papua yang berada di Kota Surabaya;

5. Pemerintah dan aparat penegak hukum menegakkan jaminan kebebasan berkumpul,berserikat,berekspresi, dan menyampaikan pendapat yang merupakan hak setiap Manusia tanpa terkecuali.

Surabaya, 06 Juli 2018
Moh. Soleh - LBH Surabaya
Cp:082330332610
Hendrik - Aliansi Mahasiswa Papua;
Cp:081344093962
Anindya - Front Mahasiswa Nasional
Cp:O87855942829
GMKI Surabaya

Photo oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali
"AMP KK Bali:  47 Tahun Hari Proklamasi Bangsa West Papua, Terusan Sejarah Kemerdekaan 1 Desember 1961"
Denpasar Bali - Pada hari Minggu, 01 July 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, Melakukan diskusi bersama mengenai " Momentum Proklamasi Kemerdekaan 47 Tahun West Papua Sebagai Hak Dasar Bangsa Papua Barat dari 1 July 1971-2018".  Tepat pada pukul 13:00 WITA hingga Selesai. dengan massa diskusi sebanyak 40-an massa yang menghadiri diskusi bersama di Asrama Koteka. dan yang dipimpin selama perjalanan  diskusi oleh Sances Tabuni.

Kronologis Diskusi:

Diskusi yang di Pimpin oleh Sances Tabuni, terutama ada-nya presentasi materi dan menonton cuplikan Video mengenai mulai dari sejarah perjuangan rakyat Papua yang mana sebuah bangsa Papua berdiri dari 12 Organisasi kemerdekaan Papua, dan bangsa asing atas tanah Papua Barat serta Indonesia atas Papua Barat. Ikut serta dengan Perjanjian-perjanjian  ilegal yang hanya sepihak saja, tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat. Dan di mana sekarang Indonesia Memberikan gula-gula  manis (Otonomisasi) atas rakyat Papua Baratuntuk memadamkan isu perjuangan West Papua. Konteks, inilah yang di persoalkan ketika diskusi berjalan.

Sebelum diskusi berjalan dan usai presentasi,  Kawan Sance Tabuni menambahkan juga bahwa "hari proklamsi bangsa Papua Barat sangat penting untuk kita tetap memperingati dan itu bagian untuk terus kita perjuangkan secara bersama memepertahankan kedaulatan kebangsaan Papua Barat". dan Kemudian, mengarahkan kepada massa yang hadir bahwa bagi siapa yang ingin menambahkan silahkan menambahkan, menanyakan, memprotes hasi persentasi saat ini? di pernyakan secara umum.  adapun yang tambahkan Pertama oleh Kawan Gilo mengatakan bahwa "Papua itu telah merdeka sejak 1 Desember 1961 secara de fakto dan de Jure, bahwa merupakan sejarah catatan perjuangan bagi rakyat Papua Barat dan setiap  0 1 July merupakan  hari sejarah proklamsi bangsa Papua Barat terusan dari 1 Desember 1969. Dan itu, sama seperti bangsa kolonial Indonesia kemerdekaan sejak 17 Agustus sebagai hari proklamasinya. Dan perlu kita antisipasi juga,  Ideologi kolonial Indonesia semakin kuat di Tanah Papua Barat hingga kita rakyat Papua sendiri melupakan hari Proklamasi kita sendiri, karena hegemoni Indonesia lebih dari itu. Yang penting kita gagas adalah persoalan kebangsaan yang telah proklamsi sejak 01 July 1971 agar sejarah perjuangan bangsa Papua Barat tetap terus mempertahankan dari genersai ke generasi penerus hingga merebut kemerdekaan total. Dan Tabahan juga, Bahwa Negara Belanda telah masukan Papua Barat bagian dari kerajaan nya sejak 1910, kemudian Negara Belanda bersama Para pejuang kemerdekaan Papua Barat telah membentuk negara, maka status kenegaraan Papua Barat,  negara  Belanda  harus mengakui di PBB, Indonesia, Rakyat Papua Barat, dan Di dunia bahwa Papua barat  adalah bangsa yang telah merdeka sejak 1 Desember 1961 secara konstitusional.  Jika memang belanda tidak mengakui seperti itu, kita sebagai rakyat Papua Barat tetap memperjuangkan kemerdekaan itu di tanggan kita secara total. Dan untuk hari momentum proklamasi 01 July 1971 merupakan hari yang sangat kewaspadaan ketika proklamasinya, karena Intervensi militer di seluruh tanah West Papua melalui operasi-opersai militer yang sangat kuat pada zaman era suharto sebelum Pepera 1969  dan hingga tahun 1970 sampai hari Proklamasi bangsa Papua Barat 1 July tersebut".

Kedua oleh, salah satu Anggota AMP; mengatakan juga bahwa kita punya sejarah kemerdekaan bangsa Papua Barat sejak 1 Desember 1961 telah merdeka bahkan hari proklamsi 01 july 2018 kita masih memperingati-nya, Tetapi mengapa Otonomisasi di Papua itu terbentuk sampai saat? ini memang pertanyaan sangat dalam untuk seluruh rakyat Papua Barat menjawab dan menanggapi secara serius. Di sini, mengenai pertanyaan tersebut ada beberapa kawa-kawan menjawabnya kemudian perlu di tambahkan oleh para pembaca yang setia, tanggapan pertama oleh Yesaya Gobai bahwa "otonomi khusus tidak terlepas dari sejarah pergerakan perjuangan rakyat bangsa Papua Barat. yang mana otonomi khusus merupakan gula-gula manis yang di berikan kepada rakyat Papua untuk tidak lagi memperjuangkan kemerdekaan sejati-nya untuk bangsa Papua Barat. Akibat dari otonomi khusu adalah Pemekaran provinsi, kabupaten, kecamatan, desa semakin meningkat serta berbagi produk yang di tawarkan kepada rakyat Papua bahkan khusus untuk mahasiswa yang akan bisa-nya melupakan jati dirinya sebagai rakyat Papua Barat sendiri." kedua oleh Abet Gobai " otonomi khusus di samakan  dengan negara federal yang mana suatu daerah yang mendapatkan otonomi khusus di atur oleh daerahnya sendiri, tidak di atur ataupun di kontrol oleh negara. dan otonomi khusus yang hadir di tanah Papua Barat karena sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat yang sejak 1 Desember 1961, dan juga menyangkut dengan otonomi di tanah Papua Barat tidak sangat demokratis bahkan berbeda jauh dengan daerah lain yang mendapatkan otonomi khusus seperti di Aceh. Melainkan, jika di tanah Papua Barat sungguh sangat mendapatkan penindasan kekerasan dan kontrol khusus oleh negara Indonesia bahkan atauran yang dimainkan dalam otonomi khusus secara terstruktur tidak sesuai dengan kemauan rakyat Papua Barat. untuk menyikapi itu, kita membutuhkan persatuannya kita menuju pada pemebasan dan merebut kemerdekaan sejati".

Ketiga oleh Ardhy Murib Bahwa Apakah presentasi yang menyangkut dengan 12 Partai organisasi Papua merdeka yang di tunjukan itu, memang sebelum kemerdekaan  bangsa Papua Barat 1 Desember 1961 telah ada atau kah setelah bangsa Papua Barat merdeka? Menurut Natalis Bukega, bahwa "12 Partai  untuk kemerdekaan Papua Barat sudah ada sebelum bangsa Papua Barat Merdeka, Karena sebuah bangsa ingin merdeka harus mempunyai wadah atau organisasi maupun partai yang mendorogn untuk kemerdekaan sejatinya, maka ke 12 Partai itu untuk persaoalaan kebangsaan Indonesia. dan Perlu di telusuri juga mengenai 12 partai itu sendiri dan kita perlu menanggapai secara bersama menuju persatuannya kita yakni persatuan nasional”  dan di tambahkan lagi oleh Yesaya Gobai bahwa "Kemerdekaan dalam Rakyat Papua itu telah di rebut sejak 1944 hingga kemerdekaan bangsa Papua Barat sejak 1 desember 1961 terwujud melalui wadah-wadah perjuangan sejati dan terjadinya embrio perjuangan untuk rakyat West Papua tetapi konsisten mempertahankan perjuangan sejatinya. bahkan merebut kembali seusai hak demokratis Rakyat Papua Barat" .

Ke empat oleh, Joice Uropdana bahwa "sesuai sejarah bangsa Papua Barat, Indonesia dan Benlanda, amerika, dan PBB telah melakukan ingkar janji tentang perjanjian-perjanjian yang di buat secara sepihak tanpa tanggung jawab penuh, mulai dari perjanjian New York agreement,  Roma Agreement, dan perjanjian-perjanjian lain-nya hingga pada tahapan  perjanjian Otonomi khusus yang tidak demokratis bahkan akan adanya otonomi khusus plus-plus (tambahan) yang akan hadir. merupakan bagian yang perlu kita mengagas dan analisis ke dalam tahapan secara hak demokratis perjuangan bagi bangsa Papua Barat. Melalui otonomi khusus pun, akan menghancurkan pergerakan perjuangan kita bila kita tidak konsisten untuk selalu memperjuangkan hak bangsa Papua Barat dan mempertahankan hari-hari bersejarah bagi rakyat Papua sendiri seperti hari ini 01 July 2018 meruapakan hari proklamasi kemerdekaan bangsa Papua Barat". Ke Lima Oleh Jeeno Dogomo bahwa " bangsa Papua Barat telah Merdeka dan di deklararis sejak 1 Desember 1961 dan selama tahun, 1961-1971 merupakan bagian dari Intervensi militer yang sangat kuat, sehingga kemerdekaan bangsa Papua meredam atau tidak ada isu yang mengukit secara demokratis bahwa bangsa Papua Barat Merdeka, dan untuk meningkatkan isu tersebut, rakyat bangsa Papua Barat melakukan deklarasi yang ke dua pada 01 july 1971, agar memperjelas perjuangan bangsa Papua Barat menuju pada kemerdekaan sejati-nya yang telah di rebut sejak 1 Desember 1961 tersebut. Maka, momentum hari ini merupakan memperingati dan mempertahankan, memperjelas, mempertegas  semagat juang dari para leluhur dan kita yang meneruskan persoalan kebangsaan dalam tangan kita secara demokratis merebut kebangsaan. Dengan persoalan tersebut kenapaPapua itu telah di deklarasikan pertama 1961 dan di lanjutkan dengan deklarasi kedua 1971? itu telah di tegaskan di atas merupakan bagian dari catatan sejarah kita bersama. Perjalanan sejarah bangsa Papua Barat telah di klaim oleh Indonesia, Belanda, Amerika dan PBB untuk kepentingan ekonomi politik".

Ke enam oleh Marten Yoani bahwa "melihat dari sejarah pergerakan perjuangan rakyat Papua Barat yang telah merdeka sejak 1 Desember 1961 dan hal yang perlu kita perjuangkan dan mempertahankan ataupun mengemabalikan kemerdekaan itu adalah jangan ada sampai kekuasaan Indonesia atas Papua Barat menguasai kita dan mengideologisasikan rakyat Papua dengan Idoelogi Indonesia, ini merupakan catatan penting bagi kita untuk terus mengamati-nya.Persoalan kebangsaan itu pun di ukur untuk melihat pada pada proses perjuangan dan perlu kita menegtahui apa saja wadah, organisasi yang masih perjuangkan sendiri-sendiri perlu kita merebut bersama dan memperjuangakan bersama serta merayakan hari-hari momentum bangsa Papua Barat seperti hari ini, 01 july 2018 yang sudah ke 20 Tahun dari 01 july 1971 bagian dari catatan sejarah Rakyat West Papua". Ke Tujuh oleh Danus Asso bahwa "persoalan rakyat Papua Barat adalah belum ada yang sadar atas sejarah-nya sendiri, dalam tatanan bahwa melihat di mana titik-titk kejadian peristiwa, seperti di Baliem ketika selama Pepera yang di kuasai oleh militer Indonesia dan melakukan berbagai operasi di tengah masyarakat untuk membungkam hak rakyat dan perlu kita tinjauh kembali lagi mengenai hari proklamsi yang ke-20 tahun bahwa bagian dari dasar hari momentum  proklamasi".

 Ke delapan oleh Brigida Tebai bahwa Kenapa Pepera tidak di lakukan secara hukum Internasional "one man one vote" apakah itu Indonesia telah melanggar hukum Internasional? kesempatan yang di berikan untuk menjawab bersama dan itu pun juga harus perhatian untuk kita dan perlu di pertanyakan kembali kenapa Indonesia mengambil cara mereka sendiri yaitu "musyawarah" hanyamemilih rakyat Papua tertentu? dan dengan itu, perntanya yang di jawab oleh Natalis Bukega Bahwa 'ketetapan musyawarah Indonesia telah di tetapkan secara Roma Agreement yang berbunyi pada point ke tiga bahwa 'pelaksana Pepera 1969 akan di jalankan berdasarkan cara indonesia musyawarah', itulah kekuatan Indonesia untuk memanupulasi sejarah bangsa bangsa Papua Barat  bahkan kita juga mengetahui bahwa berbagai perjanjian yang di lakukan oleh Indonesia, belanda dan amerika dan PBB sangat  Ilegal di mata kita sebagai rakyat bangsa Papua Barat karena semua itu tanpa keterlibatan rakyat Papua. dan memang bahwa Internasional juga tidak mengambil proses untuk tahapan apa kebutuhan rakyat Papua untuk memilih secara hak mereka secara hukum standar Inernasional dan sebenarnya rakyat tidak membutuhkan cara nasional yang mengorbankan rakyat dari kolonialisme nasional indonesia itu sendiri. dan ingat juga, adalah meluruskan sejarah bangsa Papua Barat membutuhkan konsep perjuangan yang sejati dan memempertahankan perjuangan secara universal bahwa bangsa Papua Barat telah merdeka atas dasar perjuangan rakyat Papua Barat itu sendiri.  Kedua oleh Ika bahwa "memang perjanjian-perjanjian tersebut merupakan bagian dari kesepakatan meraka antara pihak-pihak tertentu untuk mengkalaim sejarah bangsa Papua Barat  yang telah merdeka, dan di lihat juga bahwa ada sebuah kepentingan agenda khusus di Papua yaitu kepentingan eksploitasi dan pemusnahan etnis, sehingga jalur Pepera itu Indonesia mengambil dengan cara Indonesia sendiri tanpa kontrol penuh oleh PBB dan Bahkan PBB telah melakukan kecurangan besar terhadap hak demokratis bangsa Papua Barat". Ke tiga oleh Gilo bahwa "bangsa luar datang ke Papua untuk kepentingan ekonomi dan politik sehingga dari Pepera itu saja di buat secara tidak konstitusional bahkan, mereka sampai saat ini masih mengklaim sejarahnya kita, untuk dengan itu. hal perlu kita perjuangkan dalah bersatu bersama dan melawan berbagai tindakan yang di bungkam atas sejarah rakyat Papua Barat".

Bagian dari pertanyaan dang tangapan di atas merupakan bagian dari pelurusan sejarah bangsa Papua Barat dan untuk tetap melihat bersama sejarah dan pergerakan perjuangan sejatinya perjuangan Rakyat Papua Barat dan tidak terlepas dari mengembalikan bangsa Papua itu sendiri.

Setelah hasil diskusi, di lanjutkan dengan DOA HADIR yang di pimpin oleh Jeeno Dogomo dan dibacakan Teks Proklamasi oleh IKa sambil mendengar kan Instrumen lagu "HAI TANAH KU PAPUA" dan kemdian di tutup dengan doa dan di lanjtkan lagu "HAI TANAH KU PAPUA" akhir dari itu salam kebersamaan "PAPUA MERDEKA 3 Kali". Kemudian di lanjutkan dengan membacakan pernyataan sikap yang di bacakan oleh Jeeno Dogomo serta photo bersama dan selesai kegiatan tepat pada pukul 16:15 WITA dan massa diskusi melakukan aktivitas masing-masing.

Perjuangan bangsa Papua Barat akan terwujud bila kita tetap satu dan tetap memperjuangkan butir-butir nilai perjuangan yang sejati akan kemerdekaan sejati, untuk rakya bangsa Papua barat terlepas dari kaum kapitalis dan kedok Imprelasi dan dari tanggan para aparatus negara kolonial.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali 







Photo Gambar ilustrasi oleh Aliansi Mahasiswa Papua
"Penerobosan dan Pendobrakan Pada minggu, 01 July 2018, Aparatus Gabungan Saat Diskusi Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Surabaya "
Pada hari, minggu, 01 Juli 2018, Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Surabaya melakukan diskusi bersama di Asrama Papua surabaya, dengan TOPIK Nasional Sejawa-Bali yaitu “Momentum Proklamasi Kemerdekaan 47 Tahun West Papua sebagai Hak Dasar Bangsa Papua Barat dari 1 Juli 1971-2018”.

Kronologis  diskusi:

Sekitar pukul 15.20 Wib, beberapa orang aparat gabungan Intelkam Polrestabes  dan TNI Surabaya, yang mengenakan pakaian sipil, sudah mulai terlihat berada di sekitar luar halaman asrama Papua.
Pada pukul 17.15 Wib, kurang lebih berjumlah 15 orang tanpa permisi menerobos masuk pintu gerbang utama asrama Papua.

Pada pukul 17.17 Aparat gabungan tersebut mendobrak masuk pintu aula asrama, yang mana kegiatan diskusi baru akan di mulai.

Secara  membabibuta, pihak aparatus menerobos masuk ruang aula tempat berlangsungnya diskusi, dan kemudian salah satu anggota Intelkam tersebut  mengeluarkan kalimat “periksa-periskas” kepada kawan-kawan-nya. Dan salah satu dari anggota Intelkam polrestabes surabaya, mengambil Copyan materi diskusi dan melihat judul dari materi yang telah disiapkan oleh Pemantik (Step Pigai).

Setelah membaca isi topik diskusi kami, salah satu dari anggota Intelkam tersebut mulai menegaskan dengan kata bahwa “kami melarang Diskusi maupun Aksi yang bersifat menentang negara, dan diskusi ini sudah menentang negara, maka secara tegas kami membubarkan diskusi ini dan tidak usah ada lagi untuk melanjutkan, karena kalian berada didalam negara kesatuan NKRI” tutur anggota intel tersebut.

Spontan adu mulut pun terjadi antara oknum intel tersebut dengan salah satu mahasiswa Papua peserta diskusi hingga situasinya mulai memanas. Yang mana turut terpancing emosi peserta diskusi lainnya sebab intel tersebut mengeluarkan kata-kata kasar berupa cacian dan makian.

Peserta diskusi yang hadir dalam kegiatan juga mendapatkan tekanan oleh gabungan aparat Intelkam Surabaya, untuk tidak melanjutkan diskusi. Ketika ditanyai apa alasan pelarangan tesebut oleh salah satu perseta diskusi, oknum tersebut menjawab bahwa; “Topik diskusi berbau politik perjuangan Papua merdeka”. Tidak hanya itu, oknum dari pihak intelkam juga mengarahkan kami untuk mengantikan topik diskusi yang tidak bersifat menentang negara, katanya. Jika tidak atau masih di ada diskusi-diskusi serupa, maka tidak segan-segan mereka kembali dan membubarkan paksa.
Kurang lebih 15 menit, mereka berada dalam ruangan aula asrama mahasiswa Papua, tempat diskusi berlangsung. Setelah itu, rombongan / kelompok Intelkam polrestabes keluar ke halaman asrama.

Di halaman asrama pun adu mulut masih terjadi, sekitar 8 menit, sebab salah satu anggota AMP atas nama (Step Pigai) Mempertanyakan lagi surat Perintah opersi yang dikeluarkan dari kesatuan kepolisian polrestabes, namun jawaban dari salah satu oknum aparat intelkam tersebut, katanya “Kami (intel) bertindak sudah sesuai prosedur, yaitu : Pertama Penggeledahan, Kedua Penangkapan dan yang ketiga pemeriksaan”, pada hal  tanpa menunjukan surat perintah seperti yang kami minta atau pertanyakan. Sebelum  akhirnya mereka keluar dari halaman asrama Papua,

Pada pukul jam 17.40 Wib akhirnya rombongan atau kelompok aparat Intelkam Surabaya keluar dari halaman asrama Papua.

Kurang Lebih 4 jam, kelompok / rombongan gabungan aparat intelkam Polrestabes surabaya dan TNI, masih memantau dari luar halaman asrama Papua. hingga sekitar 20.40 kondisi luar akhirnya mulai stabil kembali.

Lampiran Photo:


Photo ilustrasi gambar oleh Aliansi Mahasiswa Papua
"Kronologis Represif BIN.Ormas, TNI, dan Polisi dalam Kegiatan Nobar dan Diskusi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Malang"
1 juli 1971 adalah hari bersejarah bagi bangsa Papua Barat, di mana hari itu ialah hari proklamsi bangsa West Papua yang di kumandangkan oleh brigidir Zet rumkorem  bertempat di Victoria yang di hadiri 61 satu orang Rakyat Papua Barat . Dan pada  tanggal dan bulan yang sama Kami Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang  memperingati hari besar kami . Dan tetapi Dengan melihat tindakan agresif dari pihak TNI/Polri dan Ormas reaksioner pada hari minggu,01 juli 2018  sekitar pukul  18.30 Wib, bertempat di kontrakan Ipmapapara  jl.Mt Haryono gang 8C No. 291. Dengan alasan yang dapat di lihat bahwa Kejadian kekerasan oleh Militer dan represif karena di propokasi secara sistematis oleh beberapa Aktor-aktor yang menginginkan situasi tidak kondusif dan membuat situasi  diskusi ilmiah mahasiswa Papua yang sedang berlangsung menjadi ricuh. Adanya beberapa hal represif yang dilakukan secara brutal dengan beberapa tindakan  rasisme , diskriminasi,menutup ruang demokrasi dan pembungkaman yang di lakukan oleh oknum-oknum tersebut maka itu, kronologis kejadian dan  tuntutan AMP Komite Kota Malang di uraikan di bawa ini:

Kronologis Kejadian massa

Hari Jumat, 30 Juni 2018

15:00 : Untuk memeringati 47 Tahun Proklamasi Negara Papua Barat, 01 Juli 1971 hingga 2018 yang ke 47 tahun, Aliansi Mahasiwa Papua Mengeluarkan Seruan Nonto Bareng dan Diskusi FILM Sejarah Papua (PDP) dan Mempertegas Proklamasi West Papua 01 Juli 1971 di Victoria. Kegiatan ini dilaksanakan di Kontrakan Sekret IPMAPAPARA (Jl.MT.Haryono Gang 8C, No.986B Dinoyo Malang), Peserta diskusi, Mahasiswa Papua dan Organisasi Prodemokrasi di Malang, Jadwal diskusi 18:00 – Selesai.

Hari Minggu, 01 Juli 2018 AMP KK Malang memperingati HUT Proklamasi Negara West papua yang  KE- 47 Di sekertariat IPMAPAPARA Malang.

Jam : 16:00 : Penghuni Kontrakan IPMAPAPARA di datangi oleh pihak RT dan Intel berpakaian premen, mereka membawa himbauan (terlampir) yang intinya melarang dilaksanakannya kegiatan Nobar dan Diskusi sesuai seruan yang dipublis di Media Sosial Facabook dan What's up, Penghuni menerima himauan tersebut dan selanjutnya diserahkan kepada kawan-Kawan AMP, atas nama Musa Pekei dan Ferry Takimai.

Jam 18:00 : Peserta diskusi sudah banyak dan semakin banyak, dan pada 18:30 diskusi AMP dimulai dengan menonton bersam FILM Sejarah Papua sebagai pengatar menuju diskusi, yang dipandu oleh Musa Pekei dan Yustus Yekusamon.

19:30 : Rombongan Ormas reaksioner (bukan warga setempat) hanya Ketua RT saja yang dilibatkan, mereka mencob memasuki pintu pagar kontrakan dan dihadang oleh panitia keamanan (Yohanes dan Felle), terjadi adu mulut, dan proses negosiasi namun ormas dan intel berpakaian preman,TNI dan Polisi mendobrak masuk secara brutal dan meminta untuk semua peserta diskusi segera keluar dan pulang ke kontrakan masing-masing, kami masih tersus melakukan negosiasi.

19:35 : Sementara kami bernegosiasi dengan ormas dan intel berpakaian preman dengan 2 TNI masuk kedalam kontrakan di susul preman serta intel  dan memaksa kawan-kawan untuk keluar dan tinggalkan tempat diskusi, namun massa diskusi  masih bertahan. Sementara negosiasi Kamrad Yohanes dan Felle di pukul dan Yohanes diludahi dimuka, dicaci maki namun.  Bahkan kelaukan itu terjadi, kami  tidak membalas-nya, sementara itu aparat kemanan hanya menonton dan malakukan proses pembiaran.

19:40 : Ormas reaksioner, preman, TNI, dan Polisi, mulai membanting pintu dan jendela kontrakan, secara brutal, dan memaksa membubarkan, serta memulangkan peserta diskusi.

19:50 : Mereka mulai menggiring kami keluar kontrakan, kamar-kamar kami digrebek dan barang kami disita, beberapa barang kami yang disita, Laptop 8 unit, 2 Hp Opo, 2 Hp Samsung, 1 Proyektor, dan Barang-barang lainnya yang masih di kontrakan yang dikunci dan diamankan oleh warga. Beberapa barang didalam kontrakan di rusaki oleh ormas : pintu didobrak, alat-alat masak,makan dan minum pun di tendang dan dihancurkan. Dan kunjungi video ini, yang menjelaskan tentang kejadian yang terjadi tentang diskusi dan nonton film pada 1 July 2018, Ini Video-Nya

20:00 : kawan Yustus dan Yohanes di ijinkan masuk kedalam kontrakan dan melakukan negosiasi ulang dengan Intel, preman, ketua RT dan TNI. Kami disuruh tinggalkan kontrakan, dan pindah secara paksa dengan alasan karena mengadakan diskusi Sejarah Perjuangan Papua. Kami menolak dan akan tetap menetap di Kontrakan ini. Tampak Jelas ormas dan preman yang terlibat bukan warga di kompleks tetapi  didatangkan dari tempat lain. Kami terus di paksa mengikuti permintaan mereka dan meminta agar kami pindah namun kami terus menolak, kami katakan bahwa kami akan tetap menempati tempat ini dan akan tidur disini karena ini kontrakan kami, namun saya dan yustus di seret dan dipukuli keluar dari kontrakan, sembarang didorong mereka serta  memerikasa HP dan Laptop dan akhirnya kami bergabung dengan kawan-kawan yang berada diluar.

21:00 : Kami bergabung dengan kawan-kawan dan melakukan konsolidasi baik namun kami terus didorong keluar dari kompleks gang 8c dan 10 meter sebelum tiba di jalan raya Mt.Haryono. beberapa dari kami kena pukul, dan salah satu anggota kami Kepalanya Pecah berdarah akibat pukulan benda tumpul (besi) oleh Intel, TNI, Polisi dan Ormas, hal ini memancing kemarahan kawan-kawan yang lainnya, akhirnya terjadi saling dorong dan setelah tiba dijalan raya Mt.Haryono Ricuh antara Aparat Kemanan dan Masa AMP

21:15 : Letak Kantor Polisi Sektor Lowokwaru  dari tempat kegiatan Kontrakan IPMAPAPARA berjarak sekitar 100 m dan jarak dari tempat kericuhan adalah 30 meter. Selama kejadian ada beberapa polisi dan TNI  berpakaian dinas namun mereka biarkan, seakan ada proses pembiaraan dan penciptaan konflik horisontal.

21,20 : Akibat dari jebakan yang dimain oleh TNI dan POLISI , beberapa cacian verbal yang lontarkan sangat rasis dan ruang demokrasi kami dibungkaam, serta mendapat perlakuan sangat intimidatif dan rasis oleh karena itu kami memutuskan untuk melakukan longmarch dari Dinoyo Lowokwaru ke Mapolresta Malang Klojen  sejauh 5 km

22,15: ; Kami tiba di Mpolresta Malang, kami melanjutkan aksi spontan kami didepan Mapolresta dan menuntuk agar pihak kepolisian, berhenti melakukan aksi-aksi intervensi dan intimidasi di kontrakan mahasiswa Papua dan menuntut dikembalika-nya barang-barang kami yang disitas, serta segerah lakukan pemulihan nama mahasiswa Papua di daerah Lowokwaru dan kami juga menuntut tidak boleh ada berita2 yang dipublis untuk mendiskreditkan mahasiswa Papua di Malang, jika ada berita bias dan tidak berimbang yang dimuat oleh media maka kami akam meminta pertanggung jawaban narasumber dan pembuat berita dan juga perusahaan media tersebut.

22:30 kami meminta agar kami dapat menemui  Kepala Polresta Kota Malang, untuk kemudian bisa ada hearing antara DPRD Malang, Kapolresta Malang, untuk tidak boleh lagi memata-matai dan mengganggu aktivitas Mahasiswa Papua di Malang.

23:15: kami melakukan hearing dan Polresta Malang bersedia memfasilitasi untuk ada ruang demokratis antara mahasiswa, DPRD, Polresta dan Ormas Rekasioner (bukan warga asi kompleks itu) dan tidak boleh lagi ada intervensi ruang-ruang demokrasi mahasiswa Papua di Malang, apalagi sampai masuk ke kamar-kamar  mahasiswa papua seperti yang terjadi malam itu.

00:00 kami meminta kepastian kepada polresta agar besok bisa pasti untuk kegiatan hearing (kami sudah merekam audio pengkuan Kapolresta) bahwa semua barang besok jam 14:00 akan diberikan sekaligus diadakan heraing antara DPRD, Polresta, Mahasiswa Papua dan harus ada keputusan agar kedepan tidak boleh ada lagi intervensi militer ke ranah sosial mahasiswa Papua dan Pembungkaman Ruang demokrasi.

00:30 : Kami kembali ke masing-masing kontrakan dengan catatan Bahwa jam 14:00 kami akan kembali menduduki Kantor POLRESTA Malang dan meminta untuk segerah Copot Kapolsek Lowokwaru; Kembalikan semua barang-barang kami yang disita; buka ruang demokrasi untuk mahasiswa Papua di Kota Malang dan Kami Mahasiswa Papua akan Bersama mengklarifikasi kejadian yang direkayasa oleh BIN kepada warga sekitar yang selama 8 tahun telah bersama hidup rukun.

01:00 kami semua tiba di tempat tinggal dengan selamat

Dengan represif yang sangat kuat dari aparatus negara dengan sengkongkolannya, sehingga Kami dari Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang menyataan sikap secara spontanitas bahwa:

1.Akomodasi kehadiran DPRD ,Pemda,tokoh-tokoh masyarakat di kel.lowokwaru malang . Tujuannya untuk    kenyamanan mahasiswa Papua dan hak mahasiswa Papua untuk berkumpul , berpendapat, membuka ruang demokrasi seluas- luasnya kepada mahasiswa Papua dan tidak melakukan tindakan pembungkaman. 

2. Melakukan silahturahmi dan penyelesaian masalah secara baik  dan mengembalikan nama baik mahasiswa Papua yang sudah tercoreng di mata warga Dinoyo. 

3.Segera tangkap dan adili pelaku pemukulan dan pengusiran secara paksa terhadap mahasiswa Papua. 

4.Segera bertanggung jawab segala perlakuan penyitaan barang,diskriminasi,terror,  rasisme yang di lakukan oleh Ormas reaksioner  dan TNI/Polri. 
Salam Pembebasan Nasional Papua Barat.

Lampiran-Lampiran

A. Data Mahasiswa Yang terlibat dalam Nobar dan Diskus

1. Yustus yekusamon 
2. Errio gwijangge 
3. Robert nua
4. Fery takimai
5. Maikel takimai 
6. Timus gwijangge
7. Yilonggen gwijangge
8. Landi k
9. Yohanis giay
10. Yusni iyowau
11. Musa pekey
12. Rudi wonda
13. Neson elabi
14. Tengki k
15. Memi krb
16. Awi
17. Tanggenus gwijangge
18. Dus gwijangge
19. Sena gwijangge
20. Melky huby
21. Yarson gombo
22. Korry hubby
23. Piter marian
24. Merani
25. Yance mabel
26. Ronald huby
27. Anita wanimbo
28. Ida hubby
29. Robert  mariam alua   
30. Agus daby
31. Marius mariam
32. Otis kosay
33. Mira tebay
34. Yuke huby
35. Ima pelle
36. Musa siep
37. Erdi kenelak
38. Benny kilungga
39. Gerry
40. Emilson tabuni
41. Matius sobolim
42. Arminus
43. Teniron gire
44. Yibinggeu suhugum
45. Yanison telenggen
46. Wemi karoba
47. Nikson wonda
48. Teki karoba
49. Freddy gobay
50. Rikard takimai
51. Andi waine
52. Musa pekey
53. Niko
54. Melly daby
55. Rully simbiak
56. Arfeli kafiar

B. Data Korban Kekerasan Oleh Intel,Preman, TNI,Polisi dan Ormas Reaksioner

1. Yohanes Giyai : diludahi dan dipukul menggunakan galon dikepala, ditarik, dan dipukul dimuka beberapa kali.
2. Timenius Gwijangge : Sembari di usir keluar dari kontrakan, kena pukul beberapa kali dan akhirnya kepalanya pecah dan berdarah akibat di pukul dari belakang dengan benda tumpul (besi).
3. Maikel Takimai : dipukul dimata kiri.
4. Yustus Yekusamon : dipukuli beberapa kali dan kaki luka kena batu,bengkak dan keram.
5. Ferry Takimai : sempat diseret dan dipukul 2 kali dengan besi dikepala, kepalanya aman karena dia menggunakan helem.
6. Musa Pekei : Di pukul dikepala 2 kali menggunakan benda tumpul.
7. Felle Ima : Sempat diseret dan dipukul dikepala dan dibadan.

C. Data Barang-Barang yang disita

1. Yustus : Hp. Oppo A37 dan motor supra satu buah dan memdapatkan tindakan kekerasan (pemukulan) dari pihak TNI/polri du bagian kaki kiri (Tulang Kering )
2. Timinus : Mendapatkan tindakan kekerasan (pemukulan di kepala menggunakan batu ) oleh TNI/Polri,Intel dan ormas . merampas hp oppo A37 dan satu buah tas berisi alkitab.
3. Tenion : motor onda satu buah.
4. Lendi K : laptop asus satu buah.
5. Isos : satu buah motor mio biet.
6. Beni : satu buah tas berisi buku,KTM,KTP,ATM,Dompet.
7. Musa : satu buah motor happy
8. Maikel : satu buah motor bladex.
9. Yohanes : 1 Buah laptop dan diludahi dimuka dan kena pukul oleh intel dan ormas reaksioner
10. Yelle : satu buah motor beat merah,cas HP.
11. Maria : satu bauh laptop acer,cas hp aser dan satu buah tas.
12. Barang- barang milik penghuni kontrakan dan mahasiswa papua . seperti (barang-barang elektronik,buku-buku,alat dapur, alat tidur ,  dll ) masih disita di kontrakan dan sebagian dirumahnya RT.
13. Beberapa data barang-barang : ( laptop 8 buah , motor 17 buah,tv 1 buah,speaker 1 pasang, hp 4 buah, dll)masih disita di kontrakan dan sebagian dirumahnya RT.

D. Photo-Photo



Photo oleh Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali,
usai Nonto Film bersama
"AMP KK BALI: Diskusi dan Nonton Film Dokumenter Sejarah Perjuangan Rakyat Papua (PDP)"
kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagimana harus kita melawan. Oleh Nelson Murib

Denpassar- Pada tanggal, 05 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, menyelenggarakan diskusi dan nonton film dokumenter mengenai "Sejarah Perjuangan Rakyat Papua: Presidium Dewan Papua (PDP). Tempat di Asrama Puncak Bali, dengan peserta sekitar 31 orang, mulai kegaiatan dari pukul 19:00 hingga selesai WITA. Pematik oleh Nelson Murib (Biro Pendidikan Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali).

Hasil Diskusi:

Pertemuan pemutaran film dokumenter di mulai dari pukul 19:00 sampai selesai WITA. dengan pembukaan oleh Pematik Nelson Murib. Video dokumenter tersebut berdurasi 56 Menit.  Setelah film dokumenter berakhir, memulai pada tahapan menyikapi isi dari video dokumter tersebut. dan di arahkan oleh Nelson Murib serta meminta kepada peserta untuk menyikapi video dokumneter Presidum Dewan Papua (PDP) tersebut bahwa pertama apa yang kita dapat dari video dokumneter PDP? dan juga boleh bertanya tentang perjalanan Sejarah bangsa Papua Barat?  dan Juga, bisa di tambahkan mengenai film dokumenter tersebut juga. Dengan itu, Pertanyaan-pertanyaan ini saya berikan secara formal untuk kawan-kawan menyikapai sesuai apa yang kawan-kawan lihat secara forum.

Pertama oleh Nelson Murib sebagai kata pengantar bahwa " kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagiaman harus kita melawan".

Dan yang kedua oleh Gilo mengatakan bahwa "saya tertarik dengan video dokumenter tersebut karena ada pertanyaan besar bahwa "MENGAPA PAPUA INGIN MERDEKA? dengan itu, apakah kita bangsa Papua sudah menjadi bagian dari Indonesia atau tidak. maka secara garis perjuangan, kita bisa renungkan lagi dari sejarah-sejarah yang kita nonton bersama itu. dan Apakah kita ini memang benar-benar untuk memperjuangkan dan memanusiakan rakyat Papua  atau tidak, karena apa yang kita perjuangkan adalah hal kemerdekaan". 

  Dokumenter video tersebut menerangkan bahwa adanya kepentingan ekonomi,  politik dan kekuasaan.  bahkan Papua itu tidak sama sekali bagian dari Indonesia. Dengan catatan itu juga, kemerdekaan Indonesia mempunyai batasan wilayah dari Sabang Hingga Ambo tidak termasuk dengan Papua. serta ada juga, yang menggatakan dalam film dokumenter  Papua itu, Papua masih primitif,  Papua Masih latarbelakang, Papua Masih Bodoh, maka perlu kita sikapi bahwa mengapa Papua Ingin Merdeka atas pertanyaan-pertanayaan di atas? dan perlu di sikapi juga kenapa bangsa Indonesia bisa katakan seperti demikian.  dan Kenapa sekarang bangsa Papua masih berjuang terus atas dasar-dasar sejarah yang telah kita tonton, itu yang pembelajaran untuk kita yang  generasi-generasi sekarang.

Bangsa Papua masuk dalam Indonesia itu? atas kepakasaan oleh Indonesai, Amarika dan Belanda untuk kepentingan ekonomi, politik, kekauasaan. Maka kita perlu pertanyakan dengan Indonesia sejarah kita sudah final atau sudah sah? itu yang pelajaran untuk kita semua generasi Papua yang sekarang. bahkan, kita tidak akan berjuang hanya sekedar namun, atas dasar sejarah bangsa Papua.  Dan meurut saya Indonesia memasukan Papua itu secara Aneksasi sehingga kita membutuhkan untuk merenungkan kembali dan apa yang harus kita buat untuk pembebasan nasional Papua Barat?. Seperi dalam film dokumenter bahwa  ada puisi yang mengutip, Biar Rohnya Theys pergi,tetapi perjuangannya itu tetap mendasari ke kita punya generasi.  Apakah  jika  kebutuhan sekarang kita perjuangakan hanya tentang ekonomi, politik, kesejahteraan dalam bingkai Indonesia maka secara spontan tidak akan pernah bisa kita merebut perjuangan kebebasan nasional Papua Barat untuk mencapai kemerdekaan sejatinya. 

  Dari itu juga, situasi Indonesia semakin buruk karena Indonesia sekarang cenderung mementingkan Pemodal, di mana setiap Pulau-pulau yang ada di Indonesia telah di gadaikan kepada para Inverstor dan para saham bahkan di tingakat IMF, yang kini terlihat jelas adanya, hotel-hotel, pabrik-pabrik, perusahan-perusahan, reklamasi dan lain-lain. sehigga terjadinya keterpinggiran terhadap rakyat, itu pun terasa terhadap rakyat Papua sendiri pada era ini.

 Dan dari kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan merupakan ideologi Indonesia yang sangat mempengaruhi pada perjuanagn sejati orang Papua merebut kemerdekaan. Serta Kepintaran Indonesia dalam membunuh nasionalisme orang Papua melalui Nasionalisme Indonesia sendiri seperti adanya Bela Negara, Pancasila, Merah Putih, dan lain-lainnya. dengan itu, perlu memepertahankan perjuangan sejati bangsa Papua Barat kembali pada pernyataan dokumenter video tersebut "Megapa Papua Ingin Merdeka?. Biar nasionalisme Papua Barat tetap tumbuh dan hidup dalam rakyat Papua dan pada genersai sekarang.  Ada dua pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama, Pertama apa kah bangsa Papua dengan Indonesia itu telah sah atau tidak sah? kedua perjuagan Papua jangan atas dasar sakit hati, kepentingan atau pun cara atau model-model tertentu dalam perjuangan Papua untuk merdeka? karena itu akan mendatangkan malah petaka dalam perjuangan rakyat Papua Barat." 

Ketiga Oleh Hanewa bahwa" Kemerdekaan kita telah merdeka sejak 1 Desember 1961, dan sekarang adalah kita perlu merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua melalui genersai kita. Keberadaan rakyat Papua untuk masa kini ada di bawa penekanan Indonesia sehingga mengerakan perjuangan membutuhkan kekauatan bersama". 

Keempat oleh Ika bahwa "sejarah perjuangan bangsa Papua barat telah buktikan bahwa kemerdekaan bangsa Papua Barat itu ada, yang mana para leluhur bangsa Papua Barat telah mencatat sehingga untuk emosional perjuangan menjadi kekuatan bersama pada generasi ini untuk mempertahankan garis perjuangan bangsa Papua Barat. Dan serta, kita bangsa Papua barat terus jaga persatuan nasional dalam memperjuangkan hak politik bangsa Papua Barat hingga merebut kemerdekaan sejati dari genersai ke generasi melalui semagat sampai membara".  dan moral pemerintahan Indonesia di tanah Papua tidak berlaku sama sekali sesuai akar persoalan tanah Papua Barat; apa lagi rakyat Papua yang masih memepertahanakn ideologi Indonesia di tanah Papua  yang ahirnya tidak bisa banggakan dalam nasionalisme bangsa Papua Barat malah menambahkan penindasan dalam berbagai Intimidasi yang berlebihan pada pemusnahan etnis bangsa Papua barat".
   
 Kelima oleh Abet Bahwa " Setiap sejarah yang telah di dokumenterkan, dokumnetasikan merupakan kewajiban kita untuk mencatat karean itu bagian dari kewajiban bagi mahaisiswa dan rakyat bangsa Papua Barat  sebagai landasan dasar. dan sebelum kemerdekaan bangsa Papua Barat, gejolak pergerakan kemerdekaan bangsa Papua itu telah ada. Indonesia mengklaim tanah bangsa Papua Barat atau perebutan tanah bangsa Papua barat pada tahun 1949 untuk kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan atas tanah West Papua. hasil klaim itu bagi saya tidak adil karena katika mereka klaim suatu negara itu membutuhkan proses dan kontitusi PBB itu sendiri. tetapi Indonesia, Belanda, Amerika Serikat klaim sewenang-wenang mereka tanpa melibatkan orang Papua sendiri untuk membicarakan masalah klaim tersendiri. Untuk itu lebih tepatnya, genersai kita perlu memahami tentang sejarah di mana bangsa Eropa, Belanda, amerika, Indonesai atas Tanah Bangsa Papua barat mulai dari tahun 1500-an, 1900-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga tahun 2000-an merupakan tugas bagi kita generasi penerus meluruskan sejarah bangsa Papua Barat dalam persatauan nasionalisme Papua barat".

Ke enam oleh Enis bahwa " Sejarah merupakan bagian dari generasi kita; tidak ada selain dari genersai kita dan perlu  akan mempelajari sejarah bangsa Papua sendiri, bahkan waktunya untuk kita mempelajari sejarah bangsa Papua itu sendiri dari setiap Individu. Melihat secara kedalam, perlu membicarakan sejarah bangsa Papua dan membuat sejarah bagian dari kehidupan sebagai pedoman di Papua dalam membagun persatuan ideologi rayat Papua Barat. dalam posisi dari bergerlya di hutan hingga pada tahapan sipil kota. Karena dasar perjuangan sekarang ada pada tahapan genersai kita bagian dari meluruskan sejarah bangsa Papua Barat. melalui dokumenter video sendiri rakyat bangsa Papua telah membangkitkan nasionalisme bangsa Papua Barat melalui kawan-kawan Theys tahun 1990-an- 2000 hingga pada tahapan Mako Tabuni 2008 yang memiliki kharismatis perjuangan menghidupkan kembali perjuangan sejati. Dasar dari Mahasiswa dan Rakyat Papua adalah ada pertanyaan apa yang perlu dilakukan? apa yang perlu di tuntaskan? agar perjuangan menjadi terarah dan tersampaikan secara luas".

Ketuju oleh Yesaya bahwa " Indonesia, Amerika, belanda memaksa rakyat Papua masuk ke dalam Indonesia pada tahaun 1963 melalui UNTEA yang tidak demokratsi tanpa keterlibatan rakyat West Papua. sehingga antara tahun 1965, 1966 rakyat transmigran menguasai tanah Papua Barat tanpa atas dasar hukum rakyat Papua Barat. Ketika Rakyat Transmigran Indonesia atas Papua; rakyat Papua di jadikan terbelakang, menjadi objek atas tanah sendiri (orang kedua atas tanah sendiri),  pemberian gula-gula manis dari jakarta ( seperti pemekaran-pemekaran provinsi, kabupaten-kabupaten, kota-kota dll), OTSUS dan program-program yang membunuh nasionalisme rakyat Papua bahkan perjuangan pembebasan. Kehadiran itulah, tercipta gula-gula manis di atas tanah bangsa Papua Barat dalam rakyat Papua itu sendiri".

Kedelapan oleh Ardy bahwa "Rakyat Papua membutuhkan kesadaran yang akanya sejarahnya sendiri terlepas dari hegemoni, egois dan fakum atas perjuangan pembasan nasional melainkan memperjuangkan serta merebut kembali perjuangan secara universal untuk rakyat bangsa Papua barat. dengan itu, menyimak sejarah bagian dari kekuatan adalah bagian dari dasar perjungan dan pelaku utama atas dasar sejarah kita". Kesembilan oleh Wolker bahwa "Sejarah Rakyat Bangsa Papua Barat kita telah mengetahui, Rakyat Indonesia telah mengetahui, dan Rakyat Internasional telah mengetahui. maka perlu di pertanyakan sekarang yang menghambat perjuangan itu siapa? sebenarnya kita rakyat Papua tidak perlu  medapatkan penderitaan, penyiksaan dan berbagai intimidasi. tetapi kita rakyat Papua sendiri yang memperpanjangkan penderitaan, penyiksaan, dan berbagai intimidasi terlalu panjang. Padahal kita telah berjuang dari lama sekali, sampai sekarang ini. Kalo di lihat secara mendalam tingkatan pemerintahan di tanah Papua sampai rakyat itu sangat di sayangkan. Meskipun pemerintah sudah mengeriti tetapi permasalahan terjadi pada tingkatan masyarakat. seperti pememimpin sekarang selama dalam jabatan akan menikmati dengan jabatannya dan tidak ada suara kebenaran untuk rakyat Papua; malah ketika jabatannya berhenti dalam pemerintahan, para pejabat ini akan mencari sensasi bicara masalah Papua, sehingga memperlambat perjuangan adalah orang Papua yang ada dalam pemerintahan ini". 

Kesembilan Oleh Jeeno bahwa " dari pondasi sejarah kita membutuhkan persatuan nasional untuk menguatkan pondasi perjuangan pembebasan nasional dan memang perjuangan tidak dapat di lakukan sendiri-sendiri, perjuangan itu bukan satu suku dua suku atau satu orang dua orang yang ingin merdeka tetapi untuk seluruh tanah Papua dari sorong hingga Samarai. Jika memang Papua Ingin Merdeka harus dari Sorong sampai Samarai angkat suara untuk merdeka. dan melihat dari latar belakang perjuangan-perjuangan yang sudah ada".

Kemudian sejarah menjadikan sebagai alat evalusai bagi kita dengan tahapan perjuangan itu sendiri untuk masa kini dan masa yang akan datang. Ketika rakyat Bersatu dan suarakan apa yang rakyat inginkan maka disistulah kemenangan akan mutlak didapatkan karena persatuan nasional punya kekuatan yang sangat kuat. sehingga kemerdekaan itu akan datang di tanggan rakyat Papua. Melihat kedalam, dahulu Indonesia dapat dapat di jajah oleh bangsa luar seperti jepang, Belanda yang 350 tahun jajah indonesia; cara jajah jepang, Belanda itulah Indonesia juga membuktikan jajah atas rakyat dan tanah bangsa Papua. catatan untuk itu adalah meskipun Indonesia menjajah Papua dengan caranya mereka;Rakyat Papua harus terus mempunyai rasa persatuan dalam nasionalisme Papua tetap hidup dari genari ke generasi mencapai hak kemerdekaan".

Kesepuluh Oleh Darson bahwa " Setiap ego dalam perjuangan Papua merupakan hambatan dalam perjuangan Papua Barat yang di lahirkan oleh pemimpin-pemimpin tertentu. Dengan itu, bagi generasi kita tetap konsisten untuk memperjuangkan pembebasan nasional dalam persatuan  dan dasar-dasar sejarah yang ada, fakta-fakta yang ada, kita memperjuangak secara bersama".

Kesebelas oleh Natalis bahwa " perjuangan bangsa Papua saat era ini sangat berbeda dengan perjuangan masa silam. perjuangan masa silam, saat PDP (Presidium Dewan Papua) dapat menyatukan berbagai wadah organ di Papua mulai dari dewan adat, ketua wialayah, LSM, YLBH, ELEMA dan lain-lainnya kecuai saat itu TPN-PB tidak di libatkan; tetapi perjuangan masa kini, genersai kita berhadapan dengan berbagai klas atau wadah, klas anak-anak aibon, klas mama-mama Papua, Klas Tani, Klas Buruh, Klas Nelayan, Klas Kaum Miskin Kota, Klas AMBER (Pendatang di Papua), Klas Pmemerintah dan tambah lagi dengan berbagai wadah organ yang waktu silam itu; sehingga kita membuthkan persatuan nasional untuk merebut klas-klas itu dan memperjuangkan perjuangan sejati atas tanah bangsa Papua Barat sendiri menuju pembebsan bersama".
"
Kesimpulan

Dari setiap Gagasan yang di bahas, rakyat Bangsa Papua Barat membutuhkan persatuan nasional untuk merebut perjuangan sejati bangsa Papua Barat atas filosofi dasar sejarah Papua dan Perlu mempelajari dan mempraktekan sebagai merebut hak kemerdekaan atas bangsa Papua Barat. Dari itulah, bangsa Papua akan tetap memepertahankan harga diri, martabat,  kebangsaan. Perjuangan dasar bangsa Papua adalah ada pada genersai era-modern ini; untuk merebut pembebasan nasional dalam revolusi bangsa Papua Barat .

Jabat Erat!!
Salam Pembebasan nasional Papua Barat


Penulis Adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahaiswa Papua Komite Kota Bali

Photo oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta, Ketika Usai
 Nonto dokumenter Film
AMP KK Jakarta: Dokumenter Film Sejarah Perjuangan Rakyat West Papua di LBH Jakarta
Modertor: Helena Kobogau**

Jakarta- Pada hari Kamis, 31 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta. Menyelenggarakan Diskusi  dan Pemutaran Film dokumenter mengenai Sejarah Perjuangan Rakyat Papua Barat : Presidium Dewan Papua (PDP).  Mulai Pemutaran Dokumenter Film dari Pukul 17:30-20:00 WIB. dengan anggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta  dan partisipan sekitar 30-an Orang. Lokasi tempat di LBH Jakarta, dengan Pematik: Mukael Kudiai dan Moderator: Helena Kobogau.

Ini kronologis singkatnya:

Sejak sore sekitar pukul 16:30 waktu setempat, sebelum kegiatan dimulai puluhan aparat kepolisian lengkap dengan atribut keamanan.  Telah menjaga di depan pintu masuk kantor LBH Jakarta sebelum kegiatan pemutaran film dokumenter di mulai. Dan aparat kepolisian melakukan persiagaan di depan kantor LBH Jakarat. Setelah satu Jam kemudian tepat Pukul 17:50 WIB aparat meninggalkan kawasan kantor LBH.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa papua Komite Kota Jakarta,
saat Aparat Militer Kepolisian di Depan Kantor LBH Jakarta


Pemutaran Film dan Diskusi dimulai tepat pukul 17:60 setelah parah militer aparat keoplisian meninggalkan tempat LBH Jakarta. Setelah Aparat Kepolisian meninggalkan tempat ada pun, Intel Kepolisian mengikuti diskusi sebanyak Tiga (3) Orang Intel Kepolisaian dan satu (1) orang intel dari satuan Militer Kopasus yang juga masuk dan ikut diskusi Tersebut.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta,
 selama pemutaran Film Berlanjut di LBH Jakarta

Sekitar sejam nonton bersama dan selesai Nonton tepat Pukul 19:00 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh  Mikael Kudiai hingga pukul 20:00 WIB selesai sesuai waktu yang telah di tentuan.

Berikut hasil diskusinya:

Beberapa argument atau pendapat menarik muncul di dalam hasil diskusi seperti, proses instruksi tidak tegas saat dimana pengalihan kekuasaan militer Hindia-Belanda dalam proses melakukan dekolonisasi di Papua yang di samapaikan oleh Kawan (Roy). Dan juga, sangat keliru ketika Papua dijadikan bagian dari Indonesia, dan dalam hal ini yang saya amati dalam film yang kita nonton memberikan gambaran bahwa kepentingan ekonomi dan politik sajahlah sehingga Indonesia mengklaim Papua Barat sebagai bagian wilayah dari Indonesia. Kemudian Oleh Kawan (Gideon) mengapa kami masih berjuang dan orang tua kami telah mendahului kami sampai kami disini hanya kami ingin DIAKUI SEBAGAI SEBUAH NEGARA YANG BERDAULAT DAN MERDEKA  Ungkapnya.

Lanjutdari kawan (Roy) perjanjian antara Indonesia dan Belanda tidak memasukkan Papua karena administrasi dari Holandia, yang harus diamati adalah kesimpulan bahwa Indonesia hanya dari Sabang sampai Amboina saja dan tidak termasuk Papua namun yang perlu dilihat adalah mengapa Soekarno berubah pikirannya lagi inginkan klaim Papua. dan di tegaskan lagi Juga,  sisi lain perlu untuk dilihat lagi, apakah perna negara lain juga melakukan Pepera atau tidak?

Persoalan Papua sangat kompleks, oleh sebab itu Belanda harus buka diri karena sebagai wilayah jajahannya, maka Belanda harus berterus terang saat proses persiapan menuju sebuah negara sampai terbentuknya negara Papua itu sendiri 01 Desember 1961.

Belajar juga dari perjuangan Presidium Dewan Papua (PDP) tahun 2000 terutama soal persatuan yang pernah dibangun sangatlah penting. Terutama soal persatuan nasional yang mengakar hingga ke seluruh rakyat Papua.

Perjalanan perjuangan PDP yang diketuai oleh Theys Eluai menjadi pelajaran penting juga buat kebutuhan mendesak gerakan kita saat ini, terutama situasi internal Papua hari ini dalam mendorong bersama agenda perjuangan pembebasan nasional Papua.

Disksusi dan Nonton Film dokumnter berjalan dengan lancar dan catatan sejarah  merupakan bagian dari untuk memeperjuangan pembebsanan nasional bagi rakyat Papua Barat dalam melihat prekpektif Papua menuju pada kembalinya kemerdekaan bangsa Papua Barat.

Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta





Powered by Blogger.