Halloween party ideas 2015

Photo oleh AMP KK Bali, saat usai Aksi demo Damai
di Parkiran Timur Renon, Kamis 19 April 2018
"AMP KK BALI AKSI DEMO : Militer Indonesia di Atas Tanah West Papua dan Kekerasanya"
Militer Indonesia di Tanah West Papua adalah Pembunuh, Pemerkosa, Perampasan  Kekayaan ALam West Papua. oleh Kamrad Berto

Denpasar-Bali, Pada hari Kamis, 19 April 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, melakukan aksi demo damai di Bundaran Renon Jalan Hayam Wuruk, mulai dari pukul10:00 pagi hingga selesai pukul 13:30 WITA dengan massa aksi 31 orang. Melalui itu, tuntutan tema umum: Imperialisme, Kolonialisme, dan Militerisme Adalah Akar Penindasan di Atas Tanah West Papua, Khususnya di Dogiyai. Dan menyikapi secara bersama berbagai persoalan di West Papua atas kejamnya militer Indonesia terhadap rakyat West Papua dalam pembungkaman Pembebasan Nasional dan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi bangsa West Papua.  Aksi demontrasi di lakukan secara serentak di enam (6) kota, Bogor, Bali, Jakarta, Semarang, Malang dan Yogyakarta.

Kronologis Persiapan aksi
AMP KK BALI, saat pemaparan materi untuk aksi kamis 19 April 2018
dan saat uasi diskusi

Hari Rabu, 18 April 2018 Aliansi Mahasiswa Komite Kota Bali melakukan pemaparan materi dan diskusi bebas serta memutar cuplikan video-video kekerasan kolonial militer Indonesia atas rakyat West Papua. Dalam wacana pemaparan materi berkonteks pada Kemerdekaan bangsa Papua Barat 1 Desember 1961, Operasi-opersasi kolonial militer Indonesia di Tanah West Papua dari tahun 1960-an hingga 2018, serta mengagas tentang penembakan yang di lakukan di Dogiyai. Yang berkonteks pada operasi-operasi kolonial militer di seluruh Tanah West Papua. Rangkuman, yang menjadi catatan penting ketika diskusi berlanjut adalah Tarik TNI PORLI dari seluruh Tanah Bangsa Papua dan merebut pembebasan Nasional dalam penentuan nasib sendiri bangsa bangsa Papua secara demokratis.

Aksi Demo Damai 19 April 2018

Massa aksi berkumpul di titik kumpul pada pukul 09:00 Pagi WITA di Parkiran Timur Renon dan Pada pukul 10:00 WITA massa aksi melakukan Long March dari titik kumpul Parkiran Timur renon ke titik aksi demo, Bundaran Renon Jalan Hayam Wuruk; selama perjalan menuju Bundaran Renon, ada pun yel-yel, orasi, lagu-lagu yang di organisir oleh Kordinator Lapangan Kamrad Berto serta Kamrad Enis.

Ketika tiba di titik aksi, massa aksi berbaris dan memeperlihatkan Spanduk tutuntan Umum AMP mengarah ke jalan raya "Hak Menentukan Nasib Sendiri Solusi Demokratis Bagi Rakyat Bangsa Papua Barat". Saat aksi demo berlangsung Kamrad Berto mengatakan bahwa "Militer Indonesia di Tanah Papua adalah pembunuh rakyat bangsa Papua, Pemerkosa Rakyat bangsa Papua, perampasan sumber daya alam bangsa Papua", dan di tegaskan lagi oleh Kamrad Enis bahwa "Bangsa Papua Barat bukan Merah Putih tetapi bangsa Papua adalah bintang fajar karena itulah bangsa Papua Barat adalah bangsa yang telah merdeka sejak 1 Desember 1961 dengan itu, menolak militer Indonesia sebagai kedok pembunuh Rakyat Bangsa Papua Barat".

Serta beberapa massa aksi mengutarakan menyampaikan aspirasi terutama oleh Kamrad Monda bahwa "Kita ada disni karena untuk menyampaikan Hak-Hak rakyat bangsa Papua dan Tuntut untuk penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis karena selain dari itu tidak ada jalan; pasti yang akan ada adalah tindakan kekersan militer Indonesia atas rakyat West Papua, seperti yang terjadi di seluruh West Papua militer adalah aktor utama penyeb kekerasan West Papua bahkan terjadi di dogiyai kemarin militer Indonesia menembak dua orang pemunah tanpa sebab akibat, maka menolak negara Indonesia atas West Papua dan kembalikan hak kemerdekaan West Papua", orasi kedua oleh Kamrad Minius bahwa" Negara Ini negara yang tidak mempunyai hukum dan aturan, apalagi negara mengunakan militer beribu-ribu dan krim keseluruh pelosok tanah Papua dengan melakukan kekersan-kekerasan tertentu, terutama alat negara yang sebenarnya tidak boleh melawan rakyat malah mengunakan alat negara militer mampu menembak, menyikasa rakyat West Papua secara semaunya", Ketiga oleh Kamrada Brigida bahwa "Kami di bunuh eperti hewan buruan dan se- enak mereka mereka membunuh dengan senjata mereka, tanpa melihat sebab akibat yang kuat; sehingga rakyat West Papua merasa terancam mulai dari West Papua di Aneksasi kedalam Indonesia dengan kekuatan militer, maka kawan-kawan mari kita lawan dan lawan".

Kemudian di lanjutkan dengan  orasi-orasi  aspirasi di sampaikan oleh kawan-kawan hingga pada pukul 13:15 WITA waktu setempat. setelah disampaiakan orasi aspirasi di lanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Korlap kamrad Berto dan Kamrad Enis, kemudian setelah membacakan pernyataan sikap, massa aksi di arah kembali ke titik kumpul yang di kawali oleh Polisi dan Keamanan AMP KK BALI Kamrad Ino hingga tiba di titik kumpul Parkiran Timur Renon dengan aman dan damai. Dan dari titik Kumpul melakukan Photo bersama serta massa aksi berpulang ke aktivitas masing-masing.

Catatan:

Kita Bersatu merebut perjuangan sejati dalam pembebasan nasional untuk bangsa Papua barat serta memupuk nasionalisme rakyat bangsa Papua barat dari sejarah menuju suatu pembebasan yang penentuan ansib sendiri bagi bangsa Papua Barat. Maju dan Lawan adalah kekuatan dalam membuka lembaran sejarah untuk Mati dan Hidup demi Tanah Air bangsa Papua Barat.

Jabat Erat.

Salam Pembebasan Nasional West Papua


Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Saat kawan Heni Lani (alm) membakar semangat masa aksi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) pada 01 Desember 2014 di Jakarta - Foto: AMP
Sebuah Prosa

Aku Dedikasikan Tulisan Ini Untuk Kamerad Henny Lanny -- Tenanglah Kau di Alam Sana Sayang!

I

Aku Bahagia Saat Berjabat Tangan Dengan Hidup!

Hati Kau Tersakiti

Sudah kau belajar mengorbankan hati yang bersinar itu
Namun, ada yang menutupinya dengan gelapan, mematikan lakon jejak langkah kau
Pancaran Sinaran hati mu memberi kasisayang sesama manusia
Kau mala tersakiti akibat di cegah

II

Hidup kau memberi jernihan air penolong kehausan
Pengetahuan kau berikan untuk saling berbaik hati: juga turut membahagiakan
Mala kau di sakiti,  hati kau, dan semua yang sudah kau susah--payah membangunnya dengan penuh menyayat jiwa-ragawi, karena martabat manusia bahagia

Sendu, hati kau sudah tersakiti--padahal kau punya karya yang begitu suci dari luapan kata hati yang tulus
Sedang ada yang coba membakarnya dengan api kedengkian dan kemurkaan

III

Jemari kau mencetak banyak karya di tempat kau bersuka cita mengabdi
Mengorbankan segala ketulusan, yang diselimuti pengorbanan; bahkan beban orang tua, (patuah-patuah pejuang Bangsa West-Papua yang takzim sembari mengukir jalan kemerdekaan), dan sudahi kau berikan ditempat mana kau memilih (pengetahuan yang berbakti sembari rengsa)

Sekarang sekujur tubuh kau, tersungkur dipojokan kamar sempit
Dan gilarannya banyak juga hati teman-teman kau ikut tersiksa
Mengalir kesedihan tak terhingga membuncah terpingkal-pingkal

Dedaunan kering sekali di tiup angin kencang berhamburan di jalanan kesunyian
Remuk hidup kau, dan teman-teman kau, berdiri tegak diatas panji kemanusiaan--sebab hati dan pikiran yang mulia

IV

Sekarang tinggal kenangan: banyak catatan kau limpahkan di laci tempat kau mengabdi
Karena itu kau dan teman-teman kau butuh Kasisayang dari sebagian kami
Dari keluhuran hati yang bergumam meniti berat perkasa ibu demokrasi
Agar kau--teman-teman kau, dan kami juga tak harus di sakiti hatinya

Kau, aku, dan semua yang berjabat dengan hidup
Berkehendak berbenah tanpa sejumput pun diam kepasifan
Menguncur kejujuran dalam hidup yang tak ada kebahagiaan sepenuhnya
Lakoni lah, sebab dari ilmu pengetahuan yang kita miliki: tak harus membuat hidup menjadi remuk, sendu, tapi bergelembung--membahagiakan aku, kau, dan semua bintang-gemintang di ujung jalan mengerubung membebaskan.!

Ditulis oleh Rudhy Pravda, Jakarta, 17 April 2018

Catatan:
Buat kau, aku, dan semua bintang-gemintang Bangsa West-Papua: dalam berjuang berdesakan membebaskan, takzim perlawanan mu, hingga menjadi bara api Bangsa West-Papua, dan kau [Lanny] telah berjuang--melawan dengan gagah-berani segala penindasan, pembunuhan, pemenjaraan, perampokan, pengrusakan, pemusnahan, pemerkosaan, secara sistematis dan terstruktur penuh hikmat kesungguhan, tugas mulya, ulet, penuh dedikasi, berani, tangguh menjalankan kedisplinan hendak MERDEKA Bangsa Mu. Di hadapan kolonialisme, imperialisme, militerisme, kau hadir sebagai manusia yang memilih di antara minoritas tersisa  "MERDEKA" hingga pergi dengan penuh harapan dan pula bahagia.


Ilustrasi Photo oleh Bima Waine saat aksi 07 April 2018 di Semarang
"FRI-WP dan AMP SEMARANG-SALAHTIGA dan SOLO: Kronologis Aksi Demo
Freeport 56 Tahun Ilegal di Tanah Papua"
Pada hari Sabtu, 7 April 2018 Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] melaksanakan aksi demo serentak di  beberapa kota, bertepatan dengan dilakukannya Kontrak Karya I PT. Freeport pada tahun 1967 antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan asal Amerika tersebut. Di Semarang Aliansi Mahasiswa Semarang-Salatiga dan Solo menggelar aksi demo bersama. dengan thema umum; Tutup PT.Freeport dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa Papua Barat.  Berikut kronologis selengkapnya:

Kronologi

Aksi demo gabungan AMP Semarang-Salatiga dan Solo dimulai pada Pukul 09:00 WIB dari depan Patung Kuda Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang. Saat massa aksi hendak memulai aksi, di titik aksi sudah didatangi oleh Aparat Kepolisian (Brimob) dengan persenjataan lengkap, massa aksi dibawah pimpinan Sagintak Wasiangge, Merry Nawipa dan Bima Waine langsung menyampaikan orasi-orasi politik.

Selanjutnya massa aksi bergerak menuju Seputaran Simpang Lima. Dalam menyampaikan orasi-orasi politik setiap masa mahasiswa intinya megutuk penandatangan kontrak karya Pertama PT. Freeport secara sepihak atara pemerintah Indonesia dan Freeport McMoran pada tahun 1967 yang mengorbankan hak politik dan masa depan bangsa Papua tersebut. Dan mendesak pemerintah Indonesia dan dunia internasional untuk memberikan hak kebebasan kepada rakyat bangsa Papua Barat agar menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis sesuai prinsip-prinsip hukum Internasional.

Selain itu, mengutuk tindakan brutal Aparat Indonesia terhadap masyarakat Sipil di Area Tambang PT. Freeport, dimana beberapa hari yang lalu terjadi penyerangan terhadap dengan sasaran TPNPB namun masyarakat sipil dikorbankan.

Sekitar Pukul 11 : 20 massa aksi kembali ke titik kumpul (Patung Kuda Undip), kemudian dilanjutkan dengan penyampaian orasi-orasi politik. Dalam penghujung aksi, tiba-tiba dari arah Universitas Diponegoro Pleburan massa aksi tandingan datang sambil menyampaikan orasi-orasi dan lagu-lagu nasional Indonesia.

Massa aksi tandingan tersebut, langsung dihadang pihak kepolisian yang sudah lebih duluh berjaga-jaga di sekitar lokasi. Selanjutnya, pada pukul 11 : 50 dibacakan pernyataan sikap oleh koordinator lapangan aksi dan massa aksi kembali ke tempat persiapan dan selanjutya bubar.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat

Gambar Ilustrasi oleh AMP KK Bali saat usai aksi Demo di Konsulat Amerika
"AMP KK Bali: Freeport Ilegal di Tanah Papua dan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Bangsa Papua"
Ruang Demokrasi Papua di Tutup, tetapi Kawan-Kawan Mari Kita Lawan 
hingga Pembebasan itu datang. Oleh Kamrada Ika

Pada hari, Sabtu 07 April 2018 Aliansi Mahasiswa Komite Kota Bali melakukan aksi demo damai di Depan Konsulat Amerika. Mulai aksi dari pukul 10:00 hingga 12:00 siang Waktu Indonesia Tengara. Dengan thema umum "Tutup Freeport dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Demokratsi Bagi Bangsa Papua Barat". Massa aksi yang hadir 51 Orang dan menyuarkan aspirasi pembebasan nasional Papua Barat.

Simulasi

Berhubungan kontrak karya pertama, 07 April 1967 Amerika dan Indonesia telah menandatangani perusahan Freeport untuk beroperasi di Tanah Papua Barat secara ilegal tanpa memperhatikan hak demokratis rakyat Papua yang telah merdeka sejak, 01 Desember 1961. Bahkan, mempersiapkan dokumen-dokumen untuk PT  Freeport beroperasi  sebelum Indonesia Merdeka sejak 1923 hingga 1943 dan ekspedisi sejak tahun 1520 hingga 1834 untuk pengurasan dan eksploitasi setiap sumber daya alam seluruh dunia, terutama di Tanah Bangsa Papua PT FREEPORT Indonesia yang masih ilegal dari hukum Internasional dan hukum Nasional maupun hukum rakyat bangsa Papua Barat.

Kronologis Aksi

Massa Aksi berkumpul di parkiran Timur Renon pada pukul 09:30 pagi hingga 10:00 pagi  dan melanjutkan dengan long march dari perkiran Timur Renon hingga ke Depan Kontor Konsulat Amerika jarak sekitar 25 Meter. Selama long march ada pun orasi, nyayian dan yel-yel yang di isi oleh Kordinator Lapangan Kamrad  Ardy dan Kamrada Ika.

Ketika mendekati Kantor Konsulat Amerika Serikat sekitar jarak 5 Meter adapun polisi melakukan penghadangan dan menutup jalan menuju ke depan kantor konsulat Amerika Serikat serta ada intruksi dari polisi bahwa dilarang untuk menyampaikan hak aspirasi depan kantor konsulat.

Hadangan tersebut polisi melakukan pemalangan secara bertahap mulai dari depan kantor konsulat hingga bundaran Hayam Wuruk. Depan Kantor konsulat Polisi memarkirkan kendaran militer sejarak 2 Meter, setelah itu,  polisi-polisi berjejer mengahadapi massa demo dengan peralatan lengkap, dan antara jejeran polisi-polisi dan massa aksi ada  pagar kawat memalangi ketat.

Ketika setiba di tempat penghadangan tersebut  ada pun, Negosiator Sances dari Aliansi Mahasiawa Papua Komite Kota Bali, menegosiasikan kepada kepala polisi untuk membuka jalan ke Kantor Konsulat karena tidak sesuai prosedur. bahwa" kenapa bapak menghadang kami, kami kan sudah antar surat pemberitahuan kepada pihak bapak bahwa tempat titik aksinya di depan kantor konsulat, ini sangat tidak adil. Sama saja bapak membungkam ruang demokratis bebas ekspresinya kami" Ungkapnya. Kemudian di lanjutkan juga oleh Polisi tersebut" Kami akan melakukan sesuai prosedur kami dan prosedur itu sesuai aturannya kami" tegasnya.

Kemudian ada beberapa perdebatan antara polisi dan negosiator Aliansi Mahasiswa Komite Kota Bali selam 15 menit,. Namun, Ketegasan polisi pun semakin kuat hingga polisi mempunyai represif yang kuat terhadap massa aksi, yakni mendesak untuk membacakan tuntutan tersebut dan harus pulang jam 12. Seperti tegasnya oleh Gantra polisi bahwa "kalo waktunya terus berlanjut maka kami pihak polisi akan mengambil tindak tertentu hingga membubarkan massa aksi".

Di sela-sela itu, ada orasi oleh beberapa massa aksi terutama oleh Kamrad Jeeno bahwa" tidak ada ruang demokratis bagi rakyat Papua, pada hal negara kolonial ini di katakan negara demokratis, tetapi pembunuhan, penindasan terjadi di mana seluruh tanah Papua bahkan hadirnya PT. FREEPORT" tegasnya. Kedua oleh  kamrada Orlince bahwa "Kehadiran PT Freeport adalah akar dari persoalan Papua, terutama pembebasan nasional rakyat Papua dan we want freedom and please close PT Freeport Forever" unagkapnya. Ketiga oleh kamrad Marten bahwa "kehadiran Freeport juga mengakibatkan banyak pejuang bangsa Papua Barat dapat terbunuh seperti Theys yang dibunuh oleh militer, karena militer ingin mempertahankan PT Freeport sebagai lahan bisnis negara Kolonial Indonesia" serta beberapa orasi yang di sampaikan oleh massa aksi secara terbuka sesuai pembebasan Nasional Rakyat Papua Barat dan hadirnya PT Freeport sebagai biang pemusnahan rakyat Papua serta pembungkaman ruang demokratis yang sedang kritis.

Ketika orasi dari massa aksi di sampaikan adapun tuntutan dibacakan oleh Kamrad Ika, Tutuntutan tersebut adalah Tuntutan Umum Aliansi Mahasiawa Papua, yang berisi 9 point yakni, pertama Usir dan Tutup Freeport, kedua Audit kekayaan Freeport serta berikan pesagon untuk buruh, ketiga Audit cadangan tambang dan kerusakan lingkungan, keempat Tarik TNI/Polri organik dan non-organik dari tanah West Papua, Kelima Hentikan rekayasa konflik di Timika. Keenam Berikan hak menentukan nasib sendiri solusi demokratik bagi bangsa West Papua, ketuju Usut, tangkap, adili dan penjarakan pelanggaran ham selama keberadaan Freeport di West Papua, kedelapan Biarkan rakyat dan bangsa West Papua menentukan masa depan pertambangan Freeport di Tanah West Papua, kesembilan Freeport wajib merehabilitasi lingkungan akibat eksploitasi tambang. Tuntutan tersebut adalah bagian tak bisa dipisahkan dari proses penentuan nasib sendiri bagi rakyat dan bangsa West Papua.

Setelah di bacakan tuntutan umum massa aksi diarahkan menuju kembali ke titik kumpul semula Parkiran Timur Renon, selam menuju ke titik kumpul massa aksi di pimpin oleh Korlap dengan yel-yel dan nyayian bangsa Papua hingga tiba di titik kumpul . Setelah di titik kumpul massa aksi photo bersama kemudian melanjutkan dengan aktivtas masing-masing.

Salam Pembasan Nasional Papua Barat


Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Gambar Ilustrasi oleh AMP KK Yogyakarta Setelah usai
"Diskusi dan Bedah Film ALKINEMOKIYE"
Liputator: Julia Opki***

Yogyakarta, 27 Maret 2018 bertempat di Asrama Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP-KK Yogyakarta) mengadakan diskusi dan bedah film “Alkinemokiye” yang dihadiri oleh 48 orang mahasiswa/i.  Kegiatan dimulai pada pukul 19.10 WIB sampai pukul 23.30 WIB dan diakhiri dengan foto bersama para peserta diskusi dalam  pemutaran film “Alkinemokiye”.

Film dokumenter “Alkinemokiye” yang berdurasi kurang lebih satu (1) jam, yang menceritakan tentang kondisi buruh PT.Freeport yang tidak mendapatkan upah minim serta tidak setara dengan keselamatan kerja (nyawa) mereka dalam bekerja pada tahun 2011, dan juga perbandingan upah yang bagai langit dan bumi antara, para petinggi penguasa PT. Freeport yang hanya berpangku tangan dan menerima hasil yang begitu tinggi. Hal ini juga yang menjadi penyebab para buruh PT. Freeport melakukan demostrasi dan mogok kerja yang kemudian juga dibalas dengan represifitas militer yang diturunkan oleh perusahaan PT. Freeport untuk menghentikan demonstrasi yang berujung pada tewasnya beberapa buruh PT. Freeport.

Film tersebut juga menceritakan tentang perjuangan TPN/OPM yang kesadaran penuh akan PT. Freeport yang menjadi akar penindasan, pembantaian, pemerkosaan dan penyiksaan berjutaan orang Papua, serta secara langsung memenjarakan ideologi politik ‘Papua Merdeka’ dengan menyetir negara Indonesia untuk melakukan kolonisasi yang diawali  dengan operasi militer yang dilakukan diseluruh wilayah Papua.

Setelah film selesai dilanjutkan oleh moderator, Bingga, yang kemudian dijelaskan oleh pemantik, Aworo salah satu kader AMP, tentang sejarah sistem ekonomi-politik yang dimonopoli Individu/kelompok tertentu, Kapitalis, yang dahulunya sudah ada di Papua.

Ulasan  dari Pemateri

Sekitar tahun1920-an terdapat perusahaan minyak yang dipegang oleh Amerika Serikat, Jepang serta beberapa negara kapitalis yang memiliki saham mencapai 60% ,serta Belanda namun memiliki saham lebih kecil. Penemuan mineral emas awalnya ditemukan oleh 3 orang pendaki dari Belanda setelah itu Belanda melakukan pendekatan ke Amerika Serikat untuk bekerja sama, tetapi Amerika Serikat menolak karena Amerika Serikat membaca bahwa akan sangat menguntungkan jika memanfaatkan Indonesia untuk merebut Papua dan dengan leluasa menguasai mineral emas yang terkandung di Papua.

Didalam pihak Amerika Serikat sendiri juga terdapat dua kubu yaitu John F Kennedy yang baru dilantik sebagai presiden Amerika Serikat yang memandang bahwa presiden Indonesia, Ir. Soekarno merupakan seorang nasionalis yang patut dijadikan presiden seumur hidup, tetapi di pihak Allan Dulles, agen terbaik CIA pada masa itu, menganggap bahwa Ir. Soekarno sebagai seorang komunis yang akan menghambat kepentingan ekonomi kapitalis untuk menguasai perekonomian di Indonesia, terlebih khusus pertambangan emas yang akan dibangun di Papua. Sehingga pada saat setelah pertemuan John F Kennedy dan Ir. Soekarno bertemu lalu Kennedy kembali ke Amerika kemudian setelah mau balik kembali, ia dibunuh dan sampai sekarang belum diketahui pelaku penembakannya. Di sisi lain Allan Dulles memainkan politiknya dengan memakai para petinggi militer di Indonesia untuk melakukan pembantaian terhadap kaum PKI (Partai Komunis Indonesia) yang menelan jutaan korban, hal ini juga dapat dilihat sebagai stimulus untuk melancarkan kepentingan ekonomi kapitalis di Indonesia, termasuk juga di Papua sendiri.

Ini adalah sejarah dan pembacaan yang dipaparkan oleh pemantik, kemudian diskusi mengalir begitu saja, ada seorang kawan simpatisan dari Indonesia yang mengajukan beberapa pertanyaan yang juga ditanggapi antusias oleh kawan-kawan AMP KK Yogyakarta, terkait dengan dampak yang sudah diberikan oleh PT. Freeport kepada orang Papua khususnya di bagian kabupaten Timika. Pertanyaan tersebut kemudian dijelaskan oleh salah seorang kawan dari Papua yang memang hidup langsung di daerah sekitar Kokonau (dekat pembuangan limbah PT. Freeport)  menurutnya dampak PT. Freeport ini sangat berpengaruh sekali terhadap kesehatan masyarakat di sana serta juga pola berpikir masyarakat setempat yang juga agak lambat. Di lain sisi memang ada dana bantuan yang diberikan oleh PT. Freeport tetapi hal ini tak lain hanya memanjakan dan membuat masyarakat di sekitar semakin ketergantungan terhadap PT. Freeport dan ia juga menjelaskan bahwa hal ini merupakan sebuah sistem kapitalis yang juga merampas kekayaan secara liar dan menyisihkan sedikit terhadap orang Papua itu sendiri.

Ada juga adegan cuplikan dalam film tentang dimana tentara orang Papua menyiksa orang Papua sendiri yang menjadi pertanyaannya, seorang kawan dari AMP, Jo menjelaskan bahwa sejak 1 Desember 1961 Papua telah mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara yang berdaulat tetapi selang 18 hari kemudian TRIKORA dikumandangkan oleh Ir. Soekarno melalui agresi militer yang terus digencarkan dari 1961-1990an yang dimana terjadi penyiksaan, pembantaian, pembunuhan, pemerkosaan besar-besar yang merupakna pelanggaran HAM berat yang tidak pernah diselesaikan dari hal-hal ini juga yang menjadi trauma besar para orang tua untuk berbicara tentang ideologi politik Papua serta sebagian orang tua juga ada yang melarang anaknya berbicara atau menyinggung tentang masalah Papua, hal ini juga yang menjadi penyebab kenapa generasi muda Papua menjadi acuh tak acuh dalam perjuangan politik Papua sehingga mereka juga menganggap bahwa perjuangan politik rakyat Papua lainnya adalah perjuangan separatis, sehingga ia bisa melakukan kekerasan terhadap sesama orang Papua yang berbeda ideologi politiknya, karena sistem kolonialisasi tidak hanya merampas suatu daerah tetapi juga dengan menyetir pemikiran manusianya. Ungkapnya.

Beberapa kawan-kawan dari Indonesia, khususnya dari organisasi Pembebasan yang juga tergabung dalam PPRI dan FRI-WP mendukung jelas-jelas sikap politik terhadap bangsa Papua untuk merebut kembali kemerdekaan yang telah mereka raih, dan juga mereka berharap bahwa bangsa Papua harus berjuang bersama untuk melawan salah satu akar permasalahan terbesar di Papua yaitu dengan memberhentikan kontrak kerja Freeport yang merupakan dalang dari kolonialisasi Indonesia di tanah Papua, yang juga dibarengi dengan agresi militer yang juga untuk kepentingan para kapitalis yang  ingin menanamkan modal di sana sehingga berdampak pada pemenjaraan Ideologi politik Papua merdeka. Ditambahkan lagi oleh seorang kawan yang mengatakan bahwa Papua merupakan Surga sekaligus neraka yang ada di dunia ini, karena ia menyimpan begitu banyak kekayaan alam yang sangat melimpah tetapi hal ini juga merupakan sumber bagi penindasan rakyat Papua sendiri dimana para kapitalis dengan rakusnya semakin mengguritakan saham-sahamnya di Papua.

Penulis adalah Kader Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta

Ilustrasi Gambar oleh AMP
"Pernyataan Sikap: FRI-West Papua Dan
 AMP Hari Perempuan Internasional 2018"
Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak

Waa… waa… waa… waa… waa… waa… waa… waa… waa… waa!

Selamat Hari Perempuan Internasional 2018!
Salam Solidaritas!

Hari Perempuan Internasional merupakan momen bersejarah bagi perjuangan kaum perempuan di seluruh dunia dalam hal ekonomi, politik dan sosial-budaya. Sejarah telah memastikan bahwa peran perempuan merupakan salah satu elemen penting dalam keseluruhan perjuangan manusia untuk menjadikan hidupnya lebih mulia. Kesetaraan—dalam hal ekonomi, politik dan sosial budaya—selamanya tak akan dapat dinikmati tanpa adanya peran perempuan. 

Akan tetapi, meski Hari Perempuan Internasional telah diperingati sejak seabad lalu, perempuan saat ini masih saja mengalami beragam bentuk penindasan: kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Perjuangan perempuan untuk meraih kehidupan yang lebih baik belumlah mencapai kemenangan.

Perempuan West Papua berdiri tegak!

Di tengah bentangan panjang sejarah bangsa West Papua dalam menentukan nasibnya sendiri, perempuan-perempuan West Papua berdiri sambil menderitakan bermacam penindasan. Baik ketika di bawah pemerintahan kolonial Belanda, pun di bawah pemerintahan Indonesia. Penderitaan bukanlah kosakata baru dalam hidup perempuan West Papua.

Pada masa Perang Dunia II, tanah Papua menjadi medan pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu. Rakyat, khususnya perempuan West Papua, menjadi korban. Sampai Perang Dunia II berakhir, Papua masih berada di bawah kuasa Belanda (yang menjanjikan dekolonialisasi), setidaknya hingga Indonesia melakukan upaya-upaya “pembebasan” tanah Papua. Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora dengan tujuan “membebaskan” Papua dari cengkeraman Belanda. Trikora kemudian mengejawantah menjadi serangkaian operasi militer. Rakyat, khususnya perempuan West Papua, menjadi korban. Sejak dikumandangkannya Trikora hingga saat ini, ada setidaknya 30 (tiga puluh) operasi militer yang terjadi di tanah Papua. Sebanyak, selama, seperih, sesakit, itulah yang harus dihadapi rakyat, khususnya perempuan West Papua dalam menanggung hidup.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Pokja perempuan Majelis Rakyat Papua dan International Center for Transitional Justice (ICTJ) Indonesia telah mendokumentasikan fakta kekerasan terhadap perempuan West Papua sepanjang tahun 1963 sampai 2009. Dari dokumen tersebut tercatat ada 138 kasus kekerasan negara dan 98 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan negara berarti tiap bentuk kekerasan terhadap perempuan, baik itu fisik, seksual dan psikologis, yang dilakukan atau didukung oleh aparat keamanan dan aparat pemerintahan. Penelitian terbaru dari Papuan Women’s Group (PWG) mencatat ada 60 perempuan dari 170 yang terlibat dalam penelitian pernah mengalami kekerasan, dan 48 di antaranya adalah korban kekerasan negara atau pelanggaran HAM.

Tentara menjadi aparat negara yang paling banyak menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan West Papua, hal yang masuk akal mengingat luar biasa banyaknya operasi militer yang digelar di Papua. Yang sulit diterima oleh akal manusia yang sehat adalah, bagaimana tentara dan/atau polisi Indonesia memperlakukan perempuan West Papua. Perempuan West Papua menderitakan kekerasan berupa pembunuhan (femicide), penghilangan, penembakan, percobaan pembunuhan, penahanan, penganiayaan, penyiksaan, penyiksaan seksual, pemerkosaan, percobaan perkosaan, perbudakan seksual, eksploitasi seksual, aborsi paksa, rasisme dan pengungsian paksa.

Belum lagi permasalahan seperti tidak adanya hak perempuan untuk terlibat dalam mekanisme pengambilan keputusan, tak bisa ambil bagian dari kompensasi, juga tak bisa mengakses kesempatan kerja baru karena industri lebih banyak memperkerjakan orang-orang pendatang. Juga tak boleh dilupa, perempuan West Papua terkena dampak atas kerusakan ekologis dan masalah-masalah sosial yang timbul akibat maraknya industri seperti perkebunan sawit, pertambangan, dan lain-lain.

Dalam ranah rumah tangga, perempuan West Papua juga kerap mengalami tindak kekerasan berupa poligami, menjadi korban perselingkuhan, penelantaran ekonomi, penganiayaan, kekerasan psikis, pemerkosaan dalam perkawinan, perkosaan anak, pembunuhan anak, kawin paksa, hingga tertular HIV/AIDS. Sepanjang 2016-2017, jumlah kekerasan rumah tangga bahkan mencapai angka 2000-an.

Juga yang masih cukup segar di ingatan kita orang-orang Indonesia, sebagai bagian dari bangsa yang pelupa, bagaimana puluhan balita meninggal di Papua karena masalah gizi buruk, meski penelitian masalah gizi buruk di Papua sudah terbit sejak tahun 2005. 

Pemujaan terhadap konsep kecantikan kulit putih di Indonesia telah meminggirkan perempuan-perempuan Papua yang berkulit hitam. Dalam produk budaya, terutama televisi dan film, menjadikan orang Papua sebagai bahan olok-olok. Perempuan Papua menjadi kelompok yang paling menderita karena dihegemoni untuk mengikuti standar kecantikan negeri jajahan yang patriarkis dan rasis. Standar kecantikan yang juga bahkan bisa diamini oleh laki-laki Papua. Dalam penjajahan budaya ini yang dihancurkan adalah kepercayaan diri perempuan Papua atas warna kulit dan ciri biologisnya untuk menciptakan ketidakberdayaan, menyerah dan kekalahan. 

Sekali lagi, di tengah bentangan panjang sejarah bangsa West Papua dalam menentukan nasibnya sendiri, perempuan-perempuan West Papua berdiri sambil menderitakan bermacam penindasan. Angka-angka tersebut bukanlah sekadar bilangan belaka. da manusia-manusia, perempuan-perempuan, yang tegak, tegar, berdiri, dipaksa menderita, berani, dan melawan. Angka-angka itu adalah perempuan-perempuan yang benar-benar hadir di dunia, di tanah West Papua, hadir dalam sejarah perjuangan bangsanya.

Kami menilai, realitas kekerasan yang dialami oleh perempuan West Papua tak dapat dipisahkan dari problem kolonialisme dan kepentingan modal internasional. Banyaknya aparat bersenjata Indonesia yang dikirim ke tanah Papua, baik dalam upaya operasi militer, pembangunan komando teritorial, pun untuk tenaga penjagaan industri—yang kesemuanya dilakukan demi kepentingan modal, tanpa berupaya memanusiakan perempuan West Papua, juga bangsa West Papua secara keseluruhan. 

Akar permasalahan di Papua adalah penjajahan, dan oleh karena itu pembebasan Perempuan Papua hanya bisa diraih dengan pemenuhan atas hak menentukan nasib sendiri (self-determination) bagi bangsa Papua. Sebab, perkembangan bangsa Papua tak bisa lebih maju lagi di bawah kolonialisasi, bahkan bangsa Papua terancam musnah karena kematian akibat pembunuhan dan penyakit, serta pengusiran. 

Oleh sebab persoalan-persoalan tersebut, kami Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua, dalam momentum Hari Perempuan Internasional 2018, menuntut:

1. Jaminan pemenuhan pendidikan dan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi bagi Perempuan      Papua.
2. Tangkap dan penjarakan pelaku pelecehan seksual, perkosaan dan pembunuhan terhadap    Perempuan Papua. 
3. Bongkar berbagai tragedi di Papua yang mengakibatkan terjadinya kekerasan seksual dan non    seksual terhadap Perempuan Papua.
4. Tarik militer organik dan non organik dari tanah Papua.
5. Adili Jenderal pelaku pelanggaran HAM dan adili tentara dan polisi yang melakukan kekerasan seksual dan non seksual kepada perempuan Papua melalui pengadilan publik.
6. Jaminan kebebasan berorganisasi seluas-luasanya bagi Perempuan Papua baik itu untuk bergabung ke organisasi-organisasi gerakan rakyat maupun mendirikan organisasi perempuan itu sendiri. 
7. Hapuskan diskriminasi terhadap perempuan Papua di lapangan kebudayaan.
8. Tolak Poligami

Tuntutan darurat tersebut adalah bagian tak bisa dipisahkan dari proses penentuan nasib sendiri bagi rakyat dan bangsa West Papua.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, atas dukungan, pastisipasi dan kerjasama semua pihak, kami ucapkan banyak terima kasih.

Salam Solidaritas!

Medan Juang, 7 Maret 2018




Aksi rakyat dan gerakan Sukoharjo menuntut penghentian aktivitas PT RUM yang limbahnya mencemarkan lingkungan - Sumber: jurnalislam.com

Salam Pembebasan Nasional West Papua!

Amologo, Nimao, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainyambe, Nayaklak

Wa.. wa.. wa.. wa..wa..

PERNYATAAN SIKAP ALIANSI MAHASISWA PAPUA (AMP) MENGECAM PENANGKAPAN SEWENANG-WENANG PEJUANG LINGKUNGAN HIDUP, MUHAMMAD HISBUN PAYU, OLEH POLDA JAWA TENGAH DI JAKARTA

Penculikan dan penahanan Muhammad Hisbun Payu (biasa disapa Is) salah satu aktivis Lingkungan di Sukoharjo pada tanggal 4 Maret 2018, jam 23:15 WIB oleh sekitar sepuluh orang yang mengaku dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) di depan pintu masuk Alfamidi, Lenteng Agung, Jakarta Selatan adalah tidakan aparat yang sangat membabibuta terhadap gerakan dan rakyat di Indonesia.

Kami menilai tindakan Polda Jateng soal penangkapan ini sudah salah dan tidak sesuai dengan jalur hukum yang ada tanpa mengirim surat berita penangkapan oleh kawan Is.

Kami juga menilai bahwa tindakan penculikan ini adalah bukti Polisi telah bersekongkol dengan PT. RUM di Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo untuk menghancurkan masyarakat setempat yang pada akhirnya pun telah membawa malapetaka bagi lingkungan dan warga sekitar.

Hingga dikabarkan, lebih dari empat bulan terakhir warga diresahkan oleh bau busuk, menyerupai bau tinja, yang bersumber dari limbah produksi PT RUM. Limbah tersebut berakibat pada terganggunya kesehatan warga. Bahkan anak-anak di sekitar sana terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Sebagai gerakan mahasiswa yang juga anti terhadap kapitalisme dan praktek-praktek militerisme, apa yang dialami kawan Is dan rakyat di Sukoharjo adalah bagian dari penindasan yang kami rakyat Papua juga rasakan.

Kami melihat bahwa, tindakan Polda tidak jauh berbeda dengan pembungkaman-pembungkaman dan penculikan terhadap rakyat Papua dari dulu hingga kini.

Hutan-hutan Papua dibabat habis oleh para kapital-kapital yang bersekongkol dengan aparat militer yang sedang erus-menerus mengorbankan rakyat Papua.
Tak hanya itu, bahkan dalam menangani aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa Papua di Jawa dan Bali, rakyat dan gerakan-gerakan pembebasan nasional Papua, petani-petani, buruh, dan rakyat tertindas lainnya pun Polisi kerap kali melakukan tindakan represi yang membabibuta. AMP sendiri sudah banyak mengalami penangkapan, pemenjaraan, teror intimidasi dan berbagai macam kejahatan lainnya.

Melihat kondisi, kami merasakan hal yang senasib atas tindakan yang dilakukan oleh Polda Jateng dan PT. RUM terhadap rakyat Sukoharjo. 

Maka, AMP menyatakan sikap tegas:

1. Menolak dan melawan segala bentuk penindasan dan penghisapan terhadap manusia di dunia. Terutama yang dilakukan oleh PT. RUM, Polisi, dan TNI di Sukoharjo

2. Hentikan kriminalisasi pejuang lingkungan hidup

3. Cabut izin PT Rayon Utama Makmur (PT RUM)

4. Usut tuntas aparat pelaku penculikan, penyekapan, dan pemukulan terhadap massa aksi

Demikian pernyataan sikap kami. Salam solidaritas tanpa batas.

#StopKriminalisasiAktivis

#BukaRuangDemokrasiSeluasnya

Ketua Umum AMP

Jhon Gobai
Powered by Blogger.