Halloween party ideas 2015

gambar ilustrasi fasis. Sumber: Indoprogres


Kita bukan perampok dan pemberontakan
Kenapa kita harus di buru dan di aniaya
Kenapa kita di anggap hewan buruan
Barangkali kita dan mereka berbeda
Yang di bedakan warna baju dan alat penembak

Bagaimana negeri ini merdeka kalau keamanan kita masi warisan belanda dan fasisme jepang
Sementara kita rakyat juga bisa menentukan kemerdekaan
Sudah cukup darah harus di telan bumi
Sudah cukup bangkai manusia di kubur tanpa manusiawi di bumi ini

Seakan dunia dan negara ini milik mereka
Lalu kita lupa tragedi 48 Yang belum sepenuhnya merdeka negeri sudah bercucuran darah
Lalu kita lupa malapetaka 65 Yang berjuta bangkai manusia di tembak, di buru, di aniaya, dan di perkosa
Hingga detik-detik runtuhnya Singgasana orbais masi tetap bunyi tembakan di mana-mana di kumandangkan

98 Ada yang khilang, Yatim-piatu janda dan duda
Tragis negeri ini milik mereka, kita budak mereka karna kita tak punya senjata hanya karna berbekalan semangat dan berjuang
Kawan ku! Jika bendera sudah di bentang dan lonceng kemenangan sudah berbunyi
Kita harus kepalkan tinju memukul tubuh mereka hingga retak dan hancur lebur

Kawan ku! Kita tak boleh terus di hantui oleh mereka
Kita mesti kuat dan berani, apalah arti seorang pejuang jika keberania tidak kita uji
Janganlah surut, janganlah takut sebab ketakutan hanyalah bayang-bayang
Kawan ku! Kebenaran perlu di tegakkan
Kediktatoran  rakyat perlu di menangkan
Jika tidak kita akan selalu di gilas oleh sejarah
Sementara sejarah adalah milik kaum penguasa dan harus kita rebut!
                                        
Oleh: Rudy Pravda 

(Ternate, 5/10/2015 )



gambar tampilan depan cover buku


Buku ini pernah ditarik dari peredaran oleh Kejati pada tahun 2007.Isi buku dari karangan Sendius Wonda lebih banyak menyinggung pertentangan antara ras Melanesia dan Melayu yang ada di Papua dan Indonesia. Buku yang memuat 7 bagian dengan ketebalan 248 halaman itu mengungkapkan kemarahan penulisnya atas pemerintah Indonesia dan lemahnya masyarakat asli Papua terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk Papua.

Sendius Wonda mengelompokkan masyarakat asli Papua menjadi tiga golongan dalam menyikapi kebijakan pemekaran. Ia menulis, 3 golongan itu adalah masyarakat Papua asli yang tidak memiliki pendirian, masyarakat Papua asli yang tidak mau tahu serta masyarakat dan pejabat Papua yang ambisius dalam proses pemekaran.

Ia juga mengklaim dalam bukunya bahwa kebijakan otonomi khusus tanpa mempersiapkan terlebih dulu SDM asli Papua akan menyingkirkan orang asli Papua dari jabatan-jabatan kunci di pemerintahan.

Dalam bukunya Sendius mengkritisi masyarakat Papua yang lebih banyak menghambur-hamburkan uang saat jadi pejabat. Ia juga mengkritisi peredaran minuman keras yang telah mempengaruhi moralitas masyarakat asli Papua. Kritisi ini ia masukkan dalam bagian lima dari bukunya.

Mengenai HIV/AIDS, Sendius menulisnya di bagian empat. Ia mengkritisi tidak adanya kebijakan pemerintah untuk menutup lokalisasi-lokalisasi dan tempat-tempat hiburan seperti bar dan panti-panti pijat yang ia duga menjadi tempat prostitusi.

Di bagian akhir dari buku, Sendius mengeluarkan 3 rekomendasi. Dua diantaranya: perlunya pemerintah membuat perda untuk melindungi hak-hak orang Papua dan perlunya perda yang menutup ijin pasokan miras.

(Baca dan Lawan)
________________
Pengantar (tulisan) diatas diterbitkan ulang di web-blog ini atas izin pengelolah blog-web magtigi95.

Persipura Mania Saat Memberikan Dukungan Kepada Persipura. (Jubi/Arjuna)

Penulis: Wilyam Mayau*

Ketika ada sebuah pertandingan sepak bola di manapun, kita pasti memiliki sebuah tim favorit (buat pecinta sepak bola) entah itu tim dari daerah kita ataupun tim yang terkenal dari luar negeri.

Kalau kita berbicara tentang persipura tim kebanggaan dari Papua kadang luput dalam memahami ontology dari sejarah dan seni perlawanan, di tengah majunya bisnis sepak bola sejak Papua di aneksasi hingga kini Persipura adalah identitas rakyat Papua itu sendiri dan hal ini tak bisa di pungkiri. Mari kita berkaca kembali kepada sejarah Persipura.

Sejarah dan eksistensi Persipura
 
Persipura tidak hanya sebuah klub sepak bola saja tetapi Persipura juga merupakan simbol dari budaya dan karakter (identitas) rakyat Papua itu sendiri, Persipura muncul tidak terlepas dari keresahan Rakyat Papua di tengah situasi konflik  politik yang mencekam pada tahun  1961 (yang sering kita sebut Trikora), 1962 (New York Agreement & Roma Agreement disertai operasi militer di seluruh tanah Papua ),  sampai 1965 ( ketika Soekarno dikudeta oleh Soeharto).

Dalam situasi politik yang mencekam  pada saat itu, keinginan Rakyat Papua dalam menyatukan pemuda (Rakyat Papua) digagas bersama-sama dengan orang-orang yang dididik oleh Belanda. Mereka adalah mantan Anggota VBH (Voetball Bond Hollandia 1952-1955), mereka mencetuskan  ide untuk menolong dan mengorganisir Pemuda Papua lewat sepak bola maka tim Mutiara Hitam (Persipura) dideklarasikan pada 25 Mei 1965 di Aula GKI APO Kota Baru /Soekarnopurna (sekarang Jayapura).

Menurut Benny Jansenem, sepak bola di kenalkan oleh orang Belanda (di jaman Zendelling) pada tahun 1925 oleh guru-guru sekolah dan penginjil pada saat itu di asrama-asrama. Selanjutnya pada 1950-1963 didirikanlah berbagai kesebelasan yang berafiliasi dengan KNVB (Koninklijk Netderland Voetball Bond) atau PSSI-nya Belanda, yang waktu itu semua peraturan disesuaikan dengan KNVBdan setiap 30 april diadakan pertandingan final tournament dmemperebutkan piala / baker Koningen Juliana Verjaardag (HUR Ratu Juliana).

Sejak masuk ke era perserikatan hingga sekarang  persipura menjadi salah satu klub yang ditakuti, setelah sekian lama mengukir banyak prestasi di Indonesia. Persipura juga pernah memecahkan rekor sebagai klub pertama yang bisa ikut kompetisi hingga ke luar negeri di mana Persipura menembus semifinal di Piala AFC  2014 (yang gagal lantaran konflik yang dibuat-buat oleh PSSI dan Pemerintah)

Persipura dan kampanye Free West Papua

Setelah kejayaan Persipura di liga-liga bergengsi Indonesia, persipura mendapatkan angin segar untuk berlaga di kanca internasional pada piala AFC di tahun 2015, lalu. Pada saat itu sebenarnya Persipura memiliki kesempatan/ peluang untuk menjuarai piala AFC namun usahanya terhenti ketika pemerintah RI memainkan skenario teselubung untuk membungkam persipura di kanca internasional, mengapa?

1. Popularitas persipura mampu menjadi wadah perjuangan papua merdeka di kanca internasional.

2. Persipura mampu menumbuhkan nasionalisme Papua di dalam kehidupan masyarakat Papua sendiri.

3. Persipura akan menjadi ajang kampanye soal referendum seperti catalan.

4. Banyak dunia akan soroti soal pelanggaran HAM di Papua, yang tentunya menggangu jenderal-jenderal kebal hukum.

5. Bicara soal Papua merdeka akan semakin massif di kanca internasional.

Karena soal inilah persipura menjadi dadu yang di permainkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk atas stabilitas NKRI harga mati, namun masalah di atas ini sebaliknya menjadi bumerang  bagi pemerintah Indonesia itu sendiri, kenapa?

1.    kepercayaan persipura kepada pemerintah Indonesia dalam mengatur tim Mutiara Hitam semakin menurun drastis dengan adanya penekanan kepada  mereka yang semaking mengada-ada.

2.    tidak adanya kepercayaan rakyat papua kepada pemerintah Indonesia dalam melihat permasalahan di papua, sbb klub bola saja tidak bisa ditangani pemerintah apalagi rakyat papua seluruhnya.!

3.    suatu saat jika ada pertandingan serupa seperti AFC 2 tahun lalu, persipura akan punya kesempatan yang sama untuk berlaga di liga-liga bergengsi tersebut.  dan masih banyak lagi.

Nasionalisme Papua dalam jiwa pemain Persipura

Ketika melihat psikologis pemain Persipura secara keseluruhan dalam dinamika persepakbolaan di indonesia, mereka sungkan kalau disuruh untuk bermain di club lain, contoh saja seperti Boas beberapa kali mangkir di timnas sampai namanya di coret dari daftar pemain timnas Indonesia. bukan lagi hal baru, pemain-pemain Papua lebih mementingkan klub tercintanya daripada panggilan Negara. kenapa bisa?

1. Indonesia gagal merebut hati pemain orang asli Papua.

2. Pemain papua selalu dimarginalkan ketika bergabung dengan timnas.

3. Pemain Indonesia masih terlalu rasis terhadap pemain Papua.

4. Pemain Indonesia selalu menjaga jarak terhadap pemain papua ketika berada di luar lapangan

5. Kebanyakan orang papua mendapatkan streotip negative (rasisme).

Sejak tahun 1961 Papua terus dilanda permasalahan yang silih berganti dan terus bergejolak dari tahun ke tahun hingga sekarang daftar kematian rakyat Papua (yang dibunuh oleh impossible hand) tidak lagi bisa disamakan dengan menghitung berapa harga saham Freeport yang mainkan keluarga Mc’moran bersama Jokowi dan juga keluarga Cendana. Indonesia selalu melihat permasalahan Papua seperti arang yang tidak mungkin menjadi bara jika ditiup angin, namun mereka salah, permasalahan ini seperti sebuah kanker yang kalau sudah menyebar, sulit untuk diobati.

Ketika kita (pemain Persipura dan rakyat Papua seluruhnya) menganalogikan persipura itu seperti sebuah Bom dari Bangsa Tanpa Negara, tentu disanalah pemantapan nasionalisme bangsa papua itu akan tumbuh seiring dengan kekuatan persipura jika mampu memposisikan diri dalam kampanye Hak Menentukan Nasib Sendiri Bangsa West Papua dalam medium persepakbolaan.

Persipura Dan Arah Politik

Melihat realita sekarang dalam dinamika politik di West Papua, kadang saya berpikir kalau seandainya persipura memiliki arah politik yang jelas keberpihakannya entah itu buruk ataupun baik bagi rakyat West Papua, saya yakin lapangan hijau adalah ajang konsolidasi untuk membentuk strategi perlawanan Namun berkaca dari tahun 1965 hingga sekarang, Persipura hanyalah sebuah tontonan dan hiburan semata di negara yang menindas rakyat Papua itu sendiri. padahal melalui persipura, rakyat papua bisa menyalurkan perlawanannya secara legal atas keberadaan Indonesia di tanah apua sebagai penjajahan di mata rakyat Papua .

Jika kita (Persipura) berkaca dari  Barcelona yang sebenarnya adalah simbol perlawanan anti spanyol dari rakyat Catalan.

Hampir sama seperti Papua: Catalan memang merupakan bagian dari Spanyol. Namun demikian, rakyat Catalan hingga kini belum sepenuhnya merasa menjadi bagian dari Spanyol (seperti rakyat papua tidak pernah merasa sebagai bagian dari Indonesia). Hal tersebut tidak lepas dari rekam jejak masa lalu yang begitu kuat dan kelam dalam ingatan rakyat Catalan.

Gerakan perlawanan Catalan mungkin tak lagi sehebat dulu, ketika perlawanan rakyat Catalan tersimbolisi dalam organisasi  Euskadi Ta Askatasuna (ETA), yang dinyatakan Pemerintah Spanyol sebagai gerakan separatis dan terorisme. Namun perlawanan terhadap sisa duka peninggalan rezim Franco masih terus membekas dihati rakyat Catalan. Kemerdekaan merupakan harga mati bagi mereka. Merdeka sebagai pengakuan keberadaan Catalan, sekaligus kebebasan sejatinya untuk berpikir tanpa tekanan, tanpa diskriminasi serta merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri (self determination).

Dengan kegigihan rakyat Catalan untuk merdeka terus bertahan hingga kini dan syukur perlawanan mereka untuk menentukan nasib sendiri baru terlaksana bulan ini pada tanggal 1 oktober 2017 melalui mekanisme referendum yang penuh terror dan berdarah-darah.

Sejarah Lahirnya Barcelona

Lahirnya FC Barcelona berawal dari kedatangan seorang  kebangsawan Swiss yang datang ke Spanyol untuk urusan bisnis dengan sejumlah orang setempat dan Inggris. Dia adalah Joan Gamper yang kemudian menjadi pendiri FC Barcelona. Mereka ternyata sama-sama menyukai sepakbola. Akhirnya di kantor Sole Gym pada 29 November 1899 Gamper bertemu Gualteri Wild, Lluis d’Osso, Bartomeu Terrados, Otto Kunzle, Otto Maier, Enric Ducal, Pere Cabot, Carles Pujol, Josep Llobet, John Parsons, dan William Parsons. Duabelas orang tersebut berkumpul dengan maksud mendirikan klub sepakbola dan berdirilah Football Club Barcelona yang juga disebut Barca.

Nasionalisme Catalonia Dalam Jiwa Pemain Barcelona

Sebagai sebuah simbol perlawanan, kultur dan karakter Barcelona kemudian terbentuk dengan sendirinya. Siapapun pelatihnya, dan gaya apapun yang dipakai, karakternya hanya satu: Menyerang!. Sebagai penyerang, Barcelona bermaksud untuk mendobrak dominasi Real Madrid (dan bagi orang Catalonia, mendobrak dominasi Spanyol). Untuk itulah Barcelona pantang bermain bertahan, karena itu adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi simbol perlawanan.

Kisah Barcelona, yang menjadi senjata tiga juta penduduk Catalunya untuk menentang pemerintah Spanyol tentu bukan barang baru. Slogan "Catalonia is not Spain" melekat pada klub yang berdiri sejak 1899 ini.

Barcelonistas kerap melantunkan nyanyian dengan bahasa Catalan. Isinya sudah tentu mencaci keganasan Kerajaan Spanyol di masa lampau. Bak sekelompok paduan suara, mereka rutin menyanyikannya di stadion Camp Nou.

Tak terkecuali para pemain. Punggawa Barcelona di timnas Spanyol kerap mengidentifikasi diri sebagai Anti-Spanyol. Kejadian yang terjadi usai La Furia Roja memastikan diri sebagai juara dunia bisa jadi contoh. Kala itu, Xavi Hernandez dan Carles Puyol melakukan selebrasi juara dengan bendera Catalan.

Kesimpulan

ketika kita melihat lebih jauh, sebenarnya persipura dan Barcelona memiliki latar belakang yang hampir sama mulai dari sejarah masa lalu yang kelam dan juga persamaan Barcelona (Catalan) dan persipura (Papua) yang dianeksasi dan dijajah hingga sekarang, secara Geografispun Papua hampir sama dengan Catalan.

Sekarang catalan sudah referendum, bagaimana dengan Papua?

Jika kita belajar dari rakyat catalan yang selalu berjuang tanpa pamrih hingga sekarang dan telah menjalankan Referendum, tinggal bagaimana persipura mengambil posisi sebagai wadah konsolidasi dalam perjuangan seperti Barcelona, dan juga bisa mempersatukan rakyat Papua serta mengambil peran penting dalam membangun nasionalisme bangsa West Papua menuju Hak Menentukan Nasib Sendiri atau Self Determination.

Penulis adalah aktivis Self-Determinatin, Ketua AMP KK Bandung

ilustrasi militerisme di Indonesia

Kita bukan perampok dan pemberontakan
Kenapa kita harus di buru dan di aniaya
Kenapa kita di anggap hewan buruan
Barangkali kita dan mereka berbeda
Yang di bedakan warna baju dan alat penembak

Bagaimana negeri ini merdeka kalau keamanan kita masi warisan belanda dan fasisme jepang
Sementara kita rakyat juga bisa menentukan kemerdekaan
Sudah cukup darah harus di telan bumi
Sudah cukup bangkai manusia di kubur tanpa manusiawi di bumi ini

Seakan dunia dan negara ini milik mereka
Lalu kita lupa tragedi 48 Yang belum sepenuhnya merdeka negeri sudah bercucuran darah
Lalu kita lupa malapetaka 65 Yang berjuta bangkai manusia di tembak, di buru, di aniaya, dan di perkosa
Hingga detik-detik runtuhnya Singgasana orbais masi tetap bunyi tembakan di mana-mana di kumandangkan

98 ada yang khilang, Yatim-piatu janda dan duda
Tragis negeri ini milik mereka, kita budak mereka karna kita tak punya senjata hanya karna berbekalan semangat dan berjuang
Kawan ku! Jika bendera sudah di bentang dan lonceng kemenangan sudah berbunyi
Kita harus kepalkan tinju memukul tubuh mereka hingga retak dan hancur lebur

Kawan ku! Kita tak boleh terus di hantui oleh mereka
Kita mesti kuat dan berani, apalah arti seorang pejuang jika keberania tidak kita uji
Janganlah surut, janganlah takut sebab ketakutan hanyalah bayang-bayang
Kawan ku! Kebenaran perlu di tegakkan
Kediktatoran  rakyat perlu di menangkan
Jika tidak kita akan selalu di gilas oleh sejarah
Sementara sejarah adalah milik kaum penguasa dan harus kita rebut!

Oleh: Rudhy Pravda*
                                                                                                
(Ternate, 5/10/2015)

Nicolas Jouwe (1954). Sumber: papuaerfgoed

Penulis : Soleman Itlay*


Penyangkalan Orang Papua Barat

 “Jika mereka kehilangan Papua New Guinea (sekarang Papua Barat), jika Indonesia menyadari hak-hak orang Papua Barat sebagai ras Melanesia, maka Indonesia akan kehilangan Papua Barat. Mereka segalanya: Orang Papua Barat Bukan Ras Melanesia, mereka bagian dari kita. Itulah yang ditakutkan oleh Indonesia”, demikian tulis orang tua tercinta, Sir Nicolas Jouwe.

Dalam buku “Kisah-Kisah Hidup Orang Papua”, karya Charles Farhadian, Sir Jouwe mengatakan, Indonesia takut sekali dengan perjanjian tanggal 6 Februari 1947. Dimana enam negara yang memiliki wilayah bekas jajahan di Pasifik Selatan, yakni: Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Belanda, sepakat mengajarkan orang-orang Pasifik Selatan untuk kemerdekaannya..

Perjanjian itu benar-benar menganggu Soekarno yang sedang ancang-ancang memasukan wilayah dan manusia Papua Barat dengan dasar pemikiran Dutch East Indies, semua wilayah bekas jajahan Belanda masuk menjadi satu bagian dari Indonesia. Pernyataan Soekarno: Orang Papua Bukan Melanesia, kata Sir Jouwe, Soekarno singgung menjelang pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deeg Haag (1949. Menurut Sir, alasan Soekarno itu tidak mendasar.

Sebab kata-kata Soekarno hanya akibat dari perjanjian 7 negara tadi. Bukan dari segi kesamaan wilayah dan  kultur diantara Papua Barat dan Indonesia. Penyataan Soekarno ini, bukan sekedar pengklaiman wilayah semata, akan tetapi lebih dari itu, dia telah menyangkal orang Papua Barat sebagai ras Melanesia. Coba ingat sekali lagi: Orang Papua Bukan Ras Melanesia. Oh, kata-kata mati seperti filosofi suku Hugula, “kata-kata kering”.

Sungguh ini sangat keliru. Tetapi Soekarno tidak sadar, jika orang Papua adalah ciptaan dari Allah, sama seperti beliau dan bangsanya sendiri. Penyangkalan itu sebenarnya tidak perlu terjadi, kalaupun beliau mau rebut Papua Barat. Yesus saja berkata: “Barang siapa menyangkal Aku dihadapan orang, Aku juga akan menyangkal dia di hadapan Bapa-Ku di Sorga”. Hal ini ada kaitannya dengan Injil Matius 26:69-75. Soekarno sama persis dengan kisah murid-murid Yesus Kristus.

Seperti Petrus menyangkal Yesus. Ketika para imam-iman besar dan salah seorang perempuan bertanya kepada petrus: “apakah kau (petrus) juga termasuk orang yang sering ikut-ikut Dia, Yesus? Tetapi bedanya disini, Petrus menyangkal ketika imam besar dan perempuan itu bertanya kepadanya. Tetapi Soekarno menyangkal orang Papua Barat, karena takut Merdeka sendiri. Alasanya ini, Dutch East Indies.

Upaya Indonesia dan Operasi Militer di Papu Barat

Bukan tidak mungkin, untuk segera merai Papua Barat dari tangan Belanda. Pertemuan 7 negara membuat Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa. Jalan satu-satunya bagi Indonesia adalah mendekati US, Uni Soviet, Jepang dan China. Tujuannya, agar merebut Papua Barat dari tangan. Lobi alat perang dan membangun diplomasi ialah solusi saat bagi Indonesia. Karena Belanda sendiri, setelah mengakui Papua Barat, ditambah lagi dengan perjanjian dari 7 negara tadia, ia siap-siap mempersiapkan kemerdekaan bagi orang Papua Barat.

Pada awal 1960, Jenderal Nasution meminta peralatan perang modern kepada Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri As, Jhon Foster Dulles. Namun pemerintahan Dwight David Eisenhower (presiden US ke 34), menolak permintaan dari delegasi Indonesia tersebut. Kemudian Soekarno dan beberapa orang lainnya pada 20 Desember 1960 ke Moscow, Uni Soviet. Tujuannya, sama, yaitu meminta peralatan perang (senjata modern).

Disana, Nikita Sergeyevich Krushchev, menerima rombongannya Soekarno dengan penuh semangat. Uni Soviet memberikan kepada Indonesia segala peralatan senjata untuk Indonesia perang dengan Belanda di Papua Barat. Setelah pemerintah Eisenhower digantikan oleh Presiden Jhon F. Kennedy 1960, Soekarno langsung ke Amerika Serikat menemuinya. Saat itu, Kennedy mengalami sakit di punggung belakang.

Soekarno dimanfaatkan momen itu. Bung Karno bawah minyak dari Jawa ke Amerika, guna memijat Kennedy di rumah ayah, Bostom. Disana Soekarno ketemu Kennedy untuk meminta restu dari AS. Hal itu tepat, karena Kennedy juga termasuk orang yang mengkagumi Soekarno, karena sikapnya tidak mau kompromi dengan imperialism. Soekarno sering dengan jika Kennedy segan padanya.  Jadi hal itu pun dimanfaatkan oleh dia, Soekarno.

Tentu disini mereka bicara tentang Kontrak Karya I Freeport Shulpur ( sekarang Freeport Indonesia). Soekarno melakukan menawarkan situasi yang tidak masuk akal. Kata dia, Belanda jajah orang Papua Barat tidak manusiawi. Namun besar kemungkinan ada menyinggung untuk mempercepat proses, Papua Barat memasukan ke Indonesia. Tetapi semua ini, Indonesia meminta restu supaya US membatu kelancaran operasi militer di Papua Barat sampai proses PEPEREA 1969.

Menurut Sir Jouwe, Kennedy tidak mau restui dengan pertimbangan agama, dimana mayoritas di Papua Barat ialah Kristen. Kennedy menempatkan sikap tengah. Pertama, Kennedy tidak ingin Papua diislamisasikan. Karena dia tahu Indonesia mayoritas teman-teman Muslim. Namun sikap Kennedy berubah cepat, ketika Soekarno mendekati Uni Soviet, Jepang dan China pada beberapa bulan kemudian. Akhirnya, Kennedy mendukung full kepada Indonesia. Sepulang dari US, Soekarno mengeluarkan dekrit “Trikora” pada 19 Desember 1961.

Menurut Frederika Korain, baru-baru ini dalam sebuah diskusi, Sentani (2017), mengatakan Operasi militer sepanjang 1961-1969 adalah untuk menyongsong PEPERA 1969. Sementara 1969-2010, menekan dan mengantisipasi pergerakan OPM yang kembali bangkit dan melakukan perlawanan kepada Indonesia kembali. Sementara, sepanjang 2010 sampai sekarang, Indonesia rombak pendekatan. Mereka membangun pos-pos sebanyak-banayaknya. Korain menyebut ituistil militerisme, perang/operasi militer gaya baru. 

Kesepakatan Diantara Pencuri

Pertemuan Presiden Soekarno dan  Jhon F. Kenennedy pada Januari 1961, membuat Indonesia semakin optimis. Usai dipijat oleh Soekarno, sambil duduk,Presiden AS ke 35 itu, bertanya kepada presiden Indonesia ke pertama: “Pak Presiden, apa yang bisa kami bantu?” Soekarno menjawab: “Seluruh hidup saya serakan kepada Amerika Serikat. Saya menyerahkan satu hal: Irian (sekarang Papua Barat. Saya ingin mendapatkan Papua Barat”.

Presiden Kennedy mengatakan kepadanya: “Itu bisa diatur”. Pada hari itu juga masa depan Papua Barat diputuskan. Disitu, Soekarno benar-benar menghianati orang Papua Barat. Keduanya menentuhkan masa depan orang Papua Barat tanpa harus dilibatkan dalam semua rancangan kedua negara. Kedua presiden itu, telah menghianati orang Papua Barat. Siapa saja, mesti ingat jejak langkah ini baik. Sejarah yang penuh kebohongan.

Kedua orang ini cukup menyakiti orang Papua Barat. Padahal orang Papua Barat bukan ras Melayu atau orang Amerika Serikat. Sehingga seenaknya membuat keputusan sepihak. Dunia mesti ingat ini baik. Bahawa kesepakatan dilakukan jauh dari orang Papua Barat. Orang Papua Barat tidak tahu menahu banyak tentang kesepakatan mereka. Sungguh ini kesepakatan yang paling cacat dan berbahaya. Melanggar hak orang Papua Barat

Belanda mengakui orang Papua Barat sebelum proklamasi 1945 901898. mengapa Soekarno mengambil jalan tidak benar ini? Sudah tahu orang Papua Barat mempunyai suku, bahasa, budaya dan agama sendiri, mengapa Kennedy percaya dan mengiyakan Soekarno yang bukan pemilik tanah leluhur Papua Barat? Amerika Serikat juga mengiyakan sepihak. Artinya tanpa kompromi dengan orang Papua Barat.

Menurut Pdt. Ismail Silak dalam suatu kesempatan di Waena, Jayapura (2017) berpendapat begini: “kesepakatan kedua pihak, yakni Amerika Serikat dan Indonesia itu benar-benar suatu kesepakatan pencuri dengan pencuri”. Amerikat Serikat, menurut Silak “pengecut”. Karena pada 6 Februari 1947, ikut kesepakatan dengan 6 negara lain untuk memikirkan masa depan orang-orang di Pasifik Selatan, tetapi hanya gara-gara takut Papua Barat dikomuniskan dan demiki kepentingan Freeport Indonesia main di belakang layar, Indonesia.

Indonesia Langgar Hak Orang Papua Barat

Indonesia tidak menghargai hak kami, orang Papua Barat menentukan nasib sendiri. Indonesia tidak menganggap Deklarasi PBB mengenai Hak Asasi Manusia dan Piagam Pemberian Kemerdekaan Negara-Negara dan Orang-Orang Jajahan, yang mulai berlaku dari tanggal 14 Desember 1960 adalah tidak relevan. Soekarno langgar hak orang Papua Barat, sebab dia menentukan nasib orang Papua Barat pada 17 Agustus 1945.

Sir Nicolas Jouwe, membenarkan pelanggaran hak Indonesia (Soekarno) berkaitan dengan pernyataan seperti ini: Orang Papua Barat Bukan Ras Melanesia. Bukan hanya melanggar hak, mungkin orang Indonesia lain bangga akan perjuangan beliau untuk perebutan Papua Barat ini. Namun bagi orang Papua Barat, hal ini tidak bisa mengindahkan sedikit pun. Apa yang diucapkan Soekarno, tidak masalah bagi orang (Melayu), akan tetapi bagi orang Papua Barat sungguh menyakitkan.

Beliau tidak menghargai hak orang Papua Barat. Soekarno benar-benar mempersusah orang Papua Barat. Dalam bahasa kasar orang Papau Barat menyebut, Soekarno menghianati orang Papua Barat. Indonesia benar-benar memaksakan orang Papua Barat. Makanya sangat benar kalau Papua Barat ke Indonesia itu dengan cara penuh “Aneksasi”. Maaf kalau mendengar ini: Indonesia Adalah Neraka Bagi Orang Papua Barat.

Orang Papua Barat Bukan Indonesia

Pada tahun 1847 Pakistan berpisa dari India karena satu: perbedaan agama, yakni Hindu dan Muslim. Orang Papua Barat bukan satu perbedaan seperti itu. Orang Papua Barat mempunyai keunikan dan cirri khas sebagai bangsa yang amat sangat jelas, yaitu: suku, agama, ras, tanah, dan wilayahi. Orang Papua Barat mempunyai geografis dan khultur sendiri. Tidak ada hubungan sejarah apapun dengan Indonesia.

Kalau bicara dengan kawasan Pasifik (Melanesia) boleh, orang Papua Barat punya hubungan erat dari segi geografis, budaya dan DNA. Tirto.id menyebut, Stevan Lovgren telah membuktikan pada Agustus 2015. Bahwa orang Papua New Guinea dengan Aborigin memiliki rantai jejak DNA yang sama. Sampai saat ini mencapai usia 5.000 tahun. Prof Eske Willerslev, yang memimpin penelitian dari Univercity of Conpehagen pun ikut memastikan itu.

Penemuan itu, Willerslev ambil sampel dengan melibatkan 83 orang suku Australia dan 25 orang dari tanah Papua Barat. Menurut prof Willerslev, orang asli Australia dengan Papua Barat berpisah sekitar 4.000 tahun yang lalu. Beliau memastikan, DNA kedua bangsa ini masih kental. Ia memastikan bahwa dalam penelitian yang sama dilakukan di Indonesia 2013.

Willerslev, telah melibatkan 2.740 orang.Sebagian besar orang Indonesia, 70 komunitas di 12 pulau, seperti Sumatera, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Pantar, Timor, dan Alor, kata dia memiliki leluhur dari China. Hasil penelitiannya dipublikasikan Journal of Human Genetics pda 2013 lalu. Hal ini memastikan bahwa orang Papua Barat tidak mempunyai dasar apapun dan hubungan dengan Indonesia.  

Jangan berpikir karena negara hukum berkata: “Tidak ada hukum yang melarang Indonesia merebut Papua Barat. Tetapi ingat Soekarno telah “Bersaksi Dusta Alias Menipu”. Disini, sekalipun tidak ada di dalam hukum Indonesia, tetapi di dalam Kitab Suci, Ulangan pasal 5 ayat 20 ada. Bunyinya: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

Sebenarnya, pengakuan Soekarno: Orang Papua Barat Bukan Melanesia ini dasarnya apa? Tetapi tidak masalah lah. Orang Papua Barat bisa mengampuninya. Asal Indonesia hari ini berpikir bijak. Bukan kasih Otonomi Khusus, Pemekaran, UP4B dan lain sebagainya. Cukup Soekarno juga cap keringat dan darah orang Papua Barat: “Bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda”.

Indonesia berhenti memakai Frans Alberth Joku, Nokolas Messet, Lenis Kogoya, Ramses Ohee dan lain sebagainya. Mulut Tantowi Yahya di kawasan Pasifik perlu diigatkan biar jaga baik. Mereka adalah manusia dari pendidik dari buatan Belanda. Sangat penting untuk untuk mengutamakan budaya malu. Takutnya negara yang malu lagi.

Sekali-Kali Berbaik Hatilah

Tidak ada yang susah. Tidak ada yang berat. Tidak ada yang rugi. Tidak ada hancur. Tidak ada sakit. Tidak ada yang mati. Tidak ada yang buruk. Tidak ada sulit. Semua adalah Indah. Baik untuk maaf. Baik untuk akui. Baik jujur. Baik untuk hormat. Baik untuk segan. Baik untuk kagum. Baik untuk tanah. Baik untuk orang. Baik untuk manusia. Baik untuk hitam. Baik untuk putih. Baik untuk keriting. Baik untuk lurus. Baik untuk bangsa. Baik untuk negara Indonesia dan Papua Barat.

Tidak bisa pungkuri. Orang Papua Barat punya bendera sendiri: Bintang Kejora. Orang Papua Barat punya lambang tersendiri: Burung Mambruk. Orang Papua Barat memiliki nama kebangsaan dan wilayahnya: Papua Barat. Orang Papua Barat mempunyai lagu nasional: Hai Tanahku Papua. Buktinya orang Papua Barat punyai hari besar: 1 Desember 1961.  Orang Papua Barat mempunyai semua ini semenjak 1961. Sungguh ini hakekat sejarah Papua Barat.

Sir Jouwe mengatakan, pada tahun 1961 adalah tahun kedaulatan bagi bangsa Papua Barat. Semua orang mesti membaca dan memahami ini baik. Kedatipun Soekarno menyangkal orang Papua Barat tempo dulu. Tidak masalah Presiden Joko Widodo hari ini meminta maaf dan mengakui orang Papua Barat sebagai bangsa tersendiri. Pada hakekat memang begitu. Bahwa orang Papua Barat adalah orang Papua Barat. Bukan Papua Barat Ras Melayu. Tetapi Papua Barat Ras Melanesia.

Hal ini penting untuk Indonesia menjaga kehormatan sebagai bangsa yang ikut menandatangani konvenan Internasional tentang hak politik dan rakyat sipil serta penandatangan konvenan internasional di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Tentu ini saran untuk Indonesia, dan kontribusi sebagai warga negara yang mempunyai tanggung jawab moral di Indonesia.    Presiden Joko Widodo harus mengambil langkah yan tepat sasaran.

Hari ini Papua Barat berada pada tempat dengan kesadaran penuh. Sadar akan segala sesuatu tentang masa lalu, kemarin, hari ini, besok dan sepanjang masa. Bagaimana pun Indonesia tidak bisa memakai cara, pola, pendekatan, pencitraan dan lain yang baru. Semua akan terbaca oleh mata hari dan bulan serta bintang timur. Dunia hari ini tidak ada yang bisa menyangkal. Sekalipun kebabasan yang tidak terbatas membatasi.

Tetapi segala upaya, seperti Jawanisasi (transmingrasi), pendudukan (pemekaran), kolusi dan nepotisme (pasang badan untuk negara), janji penyelesaian kasus pelaanggaran HAM, membuka akses jurnalis, membangun Pasar Mama-Mama Papua dan Arus Kereta Api (pencintraan) dan segala macam akan terciup baunya. Mambruk tidak akan tidur selamanya. Cenderawasih akan berkicau diiringi kutipan penghotbah tentang  “Kesia-siaan”.

Cukup Menyangkal dan Mengakui Sekali

Cukup Soekarno menyangkal orang Papua Barat bukan Melanesia. Cukup Ali Mortopo dan Luhut Panjaitan mengusir orang Papua Barat dari atas tanah leluhur.  Cukup Mohamad Hatta mengakui orang Papua Barat. Cukup Gus Dur mengakui Irian Jaya menjadi Papua. Cukup hari ini Joko Widodo akan mengakui orang Papua Barat bangsanya yang berbeda. Tidak ada artinya, membentuk tim penyelesaian kasus pelanggaran HAM dan Dialog Jakarta-Papua.

Indonesia harus berani: meminta maaf kepada orang Papua Barat; mengakui orang Papua Barat kembali; menghormati Hak Hidup orang Papua Barat; menghargai tanah ada Papua Barat; kembali urus masing-masing; mengakui kegagalan Otsus, dan UP4B; menarik SK setiap pemekaran dan usaha illegal di Papua Barat dll.

Indonesia harus hentikan: upaya diplomasti yang menyesatka; menciptakan orang Papua Barat “Yudas Iskario Hitam”; Memutarbalikan fakta dan kebenaran; mengakui tidak ada pelanggarah HAM Rakyat Sipil Politik  dan EKOSOB di Papua Barat; Kontrak Karya Freeport II, III dan IV dlsb. Tidak perlu tunggu waktu siapa punya kepemimpinan.

Cukup Soekarno berkata: Orang Papua Bukan Orang Melanesia. Cukup bersabda: Bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda. Pak Presiden Joko Widodo, Orang Papua Barat (provinsi Papua) punya suara: 2 2.026.735 suara. Jangan tawar lain-lain yang tidak masuk akal. Orang Papua Barat Sudah Tidak Percaya lagi. Janji terlalu berhamburan di Papua Barat. Tidak ada tawaran lain. Cukup: Mengakui Orang Papua Barat Kembali.

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua 

sumber gambar: google
Penulis: Cinta Griapon*

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia panas membahas persoalan hak kepemilikan tanah, sehingga berdampak pada aktivitas sosial -ekonomi. Masyarakat Indonesia yang sebelum kemerdekaan (1945) hingga kini,  mayoritas bekerja  sebagai petani atau bekebun sekarang beralih pekerjaan karena kebanyakan lahan-lahan mereka digunakan untuk aktivitas Industri.

Aktivitas Industri ini berkaitan erat dengan Sistem kapitalisme global yang terus berproduksi program-program atau proyek-proyek untuk kepentingan kaum-kaum pemodal.

Indonesia merupakan salah satu wilayah yang luas dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Tanah yang luas dan SDA yang melimpah merupakan salah satu alasan besar pemodal terus melirik bahkan menginjakan kakinya di negara ini.

Ironisnya, kehadiran negara memiliki peran penting dalam mengamankan kepentingan pemodal asing, pemodal lokal maupun benih-benih pemodal lainnya. 

Indonesia telah hamil sangat tua, seakan janin dalam kandungan adalah gambaran dari kapitalis itu sendiri yang sekian lama sekian besar, karena mendapat asupan bergizi dari yang mengandung (negara).

Dalam pertumbuhan dan perkembangan janin dibutuhkan suatu wadah yang dapat mencegah segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan atau perkembangan janin tersebut maka, selaput pembukus janin, yaitu militer. Militer atau militerisme hadir sebagai pengaman kaum pemilik modal, bahkan dalam militer hampir semua jendral-jendral merupakan kapitalis-kapitalis lokal yang memanfaatkan kedudukannya.

Semakin parah adalah ketika Militer yang merupakan pengaman kaum pemodal merupakan pemodal itu sendiri juga menjadi pemimpin negara, maka yang terbentuk adalah sistem monopoli. Sehingga gerakan-gerakan rakyat untuk menolak bahkan melawan tanah-tanah dan hak-haknya akan dihadang oleh militer.

Hal ini terjadi di seluruh Indonesia. Kekuasaan militer di Indonesia dibenarkan oleh Greg poulgrain dalam buku bayang-bayang intervensi menjelaskan secara utuh bagaimana , pada tahun 1950-an ada perselingkuhan antara kubuh militer Indonesia dengan kapitalisme. perselingkuhan ini, juga bersemi pada saat politik global sedang bergejolak kencang, hal ini bedampak pada penjajahan atas wilayah Papua barat dan segala isinya. 

Konflik Agraria dan Papua

Ager berasal dari bahasa yunani yang ladang atau tanah[1]. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , agraria berarti urusan pertanian atau tanah pertanian , juga urusan pemilikian tanah.

Memandang kebelakang tentang situasi politik Indonesia akibat gejolak politik global yang dibelakangnya terjadi perselingkuhan antara militer Indonesia dan Kapitalis global telah terbentuk ‘aliansi gelap’ ditambah lagi potensi pegunungan ‘Nemangkawi’ Sekarang pegunungan Cartenz sebagai cadangan meneral terbesar di dunia telah didokumentasikan sebelum kemerdekaan politik Negara Indonesia (1945).

Sehingga papua menjadi perbincangan hangat oleh pemodal-pemodal. Hal ini berlanjut pada keadaan dimana Soekarno sebagai presinden Republik Indonesia (RI) mengumandangkan Tri Komando Rakyat untuk merebut wilayah Papua. 

katanya ‘atas dasar Nasionalisme, satu perjuangan maka perlu membebaskan Rakyat papua’ sedangkan saat itu rakyat papua pun secara utuh telah siap untuk kemerdekaannya sendiri, untuk menentukan Nasibnya sendiri. Dijadikanlah papua sebagai Daerah Operasi Militer, pembantaian manusia, pemerkosaan dimana-mana, hal itu terjadi sejak tahun 1961-1969. Seluruh rakyat Papua dibantai apalagi rakyat Papua yang menolak adanya integrasi, dibunuh hingga keluarganya.

Tercatat 500.000 ribu mati di tanahnya sendiri. Hal ini bukan rahasia lagi tapi inilah kenyataan bahwa ada kepentingan untuk mengusai lahan/tanah dari rakyat Papua. 

Setelah PEPERA atau Penentuan Pendapat rakyat 1969 yang mana rakyat papua yang dilibat, tidak secara keseluruhan juga rakyat papua yang tidak demokratis,bahkan dalam bayang-bayang intimidasi militer dipaksa untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam perjalan sejarah 1961 hingga 1969 Indonesia mengalami ancaman perpecahan akibat ancaman perang Ideologi sehingga lengsernya soekarno dan diganti oleh soeharto, yang mana soeharto merupakan salah satu selingkuhan dari kapitalis global yang hendak melancarkan kepentingan mereka. Soeharto justru memperkuat ‘aliansi gelap’ yang telah terbentuk antara kubuh militer indonesia dengan kapitalisme untuk mengisap dan mengekploitasi SDA dan SDM.

Hingga saat ini, masih banyak kematian terstruktur yang terjadi selama Bangsa papua masih berada dalam kekuasaan NKRI juga wilayah papua masih didominasi oleh sistem pemerintahan serta pola Indonesia.

Hal ini menyebabkan rakyat papua terpinggirkan, miskin dan terabaikan. Sistem pendidikan yang dilaksanakan dinilai rasial dan diskriminatif. Hal ini dikarenakan Penjajahan Indonesia di tanah Papua dibungkus dengan pemanis ‘Nasionalisme, satu bangsa atau satu bahasa’. Kenyataannya orang Papua memilki bangsa yang berbeda dan tidak memiliki satu nasionalisme dengan bangsa Indonesia, tinjauan sejarah. Bahkan Bangsa Indonesia tidak memperlakukan manusia papua sebagai manusia secara utuh.

Kekuatan pemodal semakin kuat disebabkan pola hidup atau aktivitas sosial masyarakat papua yang bergantung dengan alam maupun mamanfaatkan alam untuk kepentingan Ekonomi, sosial dan budaya.

Alam juga dimakna manusia papua sebagai bagian dari kehidupan yang tidak bisa terlepaskan, begitupula tanah. Semua orang papua menganggap tanah adalah mama, yang mana kepercayaan bahwa mama adalah sumber kehidupan.

Mama adalah Sumber segala sesuatu, namun bila tanah /mama direbut dan dieksploitasi maka, akan menganggu aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya Masyarakat papua.

Dan hal itulah yang menyebabkan adanya kesadaran politik dari masyarakat papua untuk menyelesaikan konflik agraria ini mengusir segala kepentingan-kepantingan pemodal dan negara sebagai agen kapitalis di Papua.

Hanya dengan ini, orang papua dapat hidup dengan aman tanpa adanya intimidasi, dan trauma yang mendalam dari militer maupun lainnya dengan kepentingan perebutan lahan.

Agraria dan Perempuan Papua

Orang papua mengakui bahwa Alam adalah kesatuan yang memberikan kehidupan , lalu tanah adalah mama, yang mana digambarkan sebagai sesuatu yang selalu mencukupi kebutuhan manusia papua.
Hal ini berkaitan dengan peran perempuan papua. Dalam tatanan masyarakat papua masih mengakui adat sebagai Indentitasnya. Masyarakat papua yang kental dengan adat memberikan ruang bagi kaum perempuan dan kaum laki-laki sesuai kapasitas dan kebutuhan.

Bahkan ada pendidikan khusus yang berbasis gender yang mana untuk melatih sebelum hidup ketahapan selanjutnya, biasanya pendidikan itu diikuti saat usia anak-remaja. Namun, ketika masyarakat adat papua, bersentuhan langsung dengan peradaban dunia, ada hal-hal yang dipaksakan masuk kedalam tatanan hidup manusia Papua.

Pola-pola pikir yang justru merusak tatanan yang sudah ada, membuat pola pikir yang berubah , pola pikir untuk saling kompetensi untuk monopoli bahkan saling membunuh.

Sehingga memanfaatkan kekuatan-kekuatan di adat untuk menindas yang lainnya.

Hal ini pun dirasakan oleh kaum perempuan papua, penindasan itu terasa berasal dari dalam, karena yang berinteraksi langsung adalah sesama orang papua padahal sebenarnya penidasan itu berasal dari luar, ketika ada sentuhan langsung dari peradaban luar.

Jika, dijabarkan aktivitas dulu bahwa kaum perempuan papua, bekerja keras di ladang, bekerja keras di tempat berlindung(rumah). Dalam sektor ekonomi, Perempuan papua yang bekerja di pasar, yang bekerja di kebun, yang bekerja di kantor dan berbagai tempat lainnya, meskipun dalam porsi pekerjaan dan honor dibedakan dengan kaum laki-laki.

Tanah digunakan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan ekonomi, sosial dan budaya, dan yang mengelola itu didominasi oleh kaum perempuan. Namun, ketika tanah tempat untuk produksi direbut oleh pemodal dan negara itulah saat dimana kaum perempuan lah yang akan dirugikan atas hal tersebut.

Kaum perempuan akan kesulitan dalam mendapatkan tempat untuk produski, apalagi kapitalisme global memberikan flatform baru melalui kriteria-kriteria jika ingin bekerja dengan pada tanah yang telah dialih fungsikan oleh mereka.

Kaum perempuan akan sangat dirugiakan karena tidak akan mendapatkan tempat tinggal dan tempat untuk produksi serta politik rasial yang direproduski kapitalisme menyebabkan akses untuk perempuan papua sangat susah.

Sehingga seharusnya PEMBERONTAKAN itu dilakukan oleh KAUM PEREMPUAN, karena KAUM PEREMPUAN yang sangat dirugikan, PEMBERONTAKAN itu seharusnya diinisiasi oleh banyak kaum PEREMPUAN PAPUA. PEMBERONTAKAN massa itu seharusnya dijalankan oleh kaum PEREMPUAN PAPUA. Perempuan Papua seharusnya mengambil bagian tanpa ragu dan malu.
Karena tanah melambangkan kesucian dan Perjuangan perempuan papua dalam memberi kehidupan bagi bangsa dan wilayah Papua.

Perjuangan pembebasan tanah papua seharusnya menjadi darah, daging, dan napas bagi kaum perempuan.
Hidup Perempuan Papua !
Hidup perempuan papua yang melawan !
Perjuangan sampai menang !

Penulis adalah anggota AMP, kuliah di kota Yogyakarta.


[1] H.Ali Achmad Chomzah ., Hukum Agraria ,Pertanahan Indonesia ,Jilid I., Jakarta : Prestasi Pustaka . 2004
Powered by Blogger.