Halloween party ideas 2015

Photo Ilustrasi Koran Kejora
Oleh: Armand Axel

Pengantar

Massa adalah segolongan orang yang memiliki kepentingan dan tujuan  sama, inilah dasar ikatan bagi kerja-kerja mengorganisasikan kedalam sebuah organisasi massa. Massa merupakan tenaga produktif dimana selain memproduksi barang materiil juga memproduksi nilai-nilai sosial. Oleh karenanya, massa adalah sumber pengetahuan sekaligus pembentuk peradaban dan sejarah. Tetapi  selain menjadi sumber ide, massa juga pelaksana ide. Massa juga merupakan sumber bagi lahirnya pemimpin/pimpinan, maka antara massa dan pimpinan mempunyai saling hubungan yang erat. Disinilah letak strategis dari karya massa, dari massa ide revolusi lahir sekaligus sebagai pelaksana ide revolusi tersebut. Maka tidak akan ada revolusi tanpa kekuatan massa.

Oleh karena itu setiap golongan massa mempunyai karakter-karakter khusus tersendiri, disesuaikan dengan apa pekerjaan yang dilakukan oleh massa. Karakter massa massa masyarakat adat tentu berbeda dengan kelas buruh dan massa kaum tani tentunya berbeda begitu juga dengan golongan massa lainnya, seperti kaum miskin kota, pemuda, mahasiswa atau golongan massa lainnya.

Kerja massa merupakan satu langkah bagaimana kita menerapkan prinsip membangkitkan, mengorgnisasikan dan menggerakkan massa. setiap pekerjaan harus mampu kita rumuskan secara sistematis dan kita kerjakan dengan intensif dan berkelanjutan. Pekerjaan tanpa sistematika akan berjalan dengan alamiah atau spontanitas yang akan membawa hasil buruk bagi pekerjaan kita. Pekerjaan tanpa kita laksanakan dengan intensif dan berkelanjutan, adalah gaya amatiran yang tidak akan membuahkan kemajuan apa pun. Jelaslah bahwa Kerja Massa adalah sistematika untuk membangkitkan kesadaran massa dari yang terbelakang menjadi lebih maju dengan mengenal beragam hak-hak demokratisnya, mengorganisasikan massa dan menggerakkan massa agar terlibat dalam perjuangan massa. Maka menjadi penting bahwa organisasi harus mampu merumuskan ide-ide perjuangan yang didapatkan dari massa sekaligus didukung secara luas oleh massa. Dengan demikian organisasi  adalah milik massa dan massa akan terlibat secara aktif dalam mengembangkan organisasi serta perjuangan.

Dalam menjalankan Kerja Massa kita akan diperkenalkan pada prinsip-prinsip utama tentang Tujuan dan Garis dari Kerja Massa, Kerja Propaganda dan Pendidikan Massa, Pengorganisasian Massa, Tentang Menggerakan Massa, Tentang Konsolidasi dan Perluasan. Dan atas  keyakinan yang kita pegang teguh harus berlandaskan pada hal yang ilmiah, maka keyakinan tersebut harus bisa kita rumuskan dalam teori dan bisa dipraktekkan oleh kita semua. Pengertian teori bagi kita adalah pedoman untuk praktek. Keduanya memiliki hubungan dialektis dan tak terpisahkan. Tanpa panduan teori yang maju, gerakan kita akan terjebak dalam praktek yang asal-asalan, compang-camping dan tradisional. Gerakan tersebut tidak akan membawa banyak kemajuan dan tidak akan mencapai kemenangan. Pun sebaliknya, teori tanpa praktek adalah omong kosong. Keyakinan tanpa dilandasi oleh tindakan yang ilmiah juga suatu lamunan kosong (utopia). Dengan keyakinan dan tindakan ilmiah, akan memastikan bahwa kita semua bisa mempraktekkan kerja massa dan mencapai cita-cita mulia bersama.

A. Tujuan dan Garis dari Kerja Massa

1. Tujuan Kerja Massa

Massa adalah segolongan orang yang memiliki kepentingan dan tujuan  sama, inilah dasar ikatan bagi kerja-kerja mengorganisasikan kedalam sebuah organisasi massa. Massa merupakan tenaga produktif dimana selain memproduksi barang materiil juga memproduksi nilai-nilai sosial. Oleh karenanya, massa adalah sumber pengetahuan sekaligus pembentuk peradaban dan sejarah. Tetapi  selain menjadi sumber ide, massa juga pelaksana ide. Massa juga merupakan sumber bagi lahirnya pemimpin/pimpinan, maka antara massa dan pimpinan mempunyai saling hubungan yang erat. Disinilah letak strategis dari karya massa, dari massa ide revolusi lahir sekaligus sebagai pelaksana ide revolusi tersebut. Maka tidak akan ada revolusi tanpa kekuatan massa.

Oleh karena itu setiap golongan massa mempunyai karakter-karakter khusus tersendiri, disesuaikan dengan apa pekerjaan yang dilakukan oleh massa. Karakter massa massa masyarakat adat tentu berbeda dengan kelas buruh dan massa kaum tani tentunya berbeda begitu juga dengan golongan massa lainnya, seperti kaum miskin kota, pemuda, mahasiswa atau golongan massa lainnya.

Kekuatan massa perubahan adalah kekuatan massa yang terdidik, terpimpin dan terorganisir. Massa yang terdidik dalam artian memahami apa yang diperjuangkan, massa terpimpin artinya menjalankan tindakannya sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama, kemudian terorganisasi. Artinya tidak terpisah-pisah dalam kelompok-kelompok/individu.

Organisasi massa adalah alat perjuangan massa. Sebagai alat perjuangan tentunya upaya dari massa untuk memajukan organisasi, baik secara kuantitas massa dan juga secara kualitas. Menuju tumbuh dan kembangnya organisasi dibutuhkan kerja massa yang berkesinambungan, inilah pentingnya kerja massa menjadi pekerjaan harian dan berkelanjutan dari organisasi. Hal ini juga tak lebih dari bagaimana upaya kita semua di organisasi untuk semakin sering dan banyak memenangkan tuntutan massa.

Jadi Kerja Massa kita memiliki tiga tujuan utama. Pertama adalah membentuk, mengkonsolidasikan, dan memperluas serta memperkuat organisasi. Kedua membangun dan mengkonsolidasikan fondasi yang kuat dan luas perjuangan demokratis nasional di tengah-tengah massa. Perjuangan massa tidak akan memperoleh kemajuan dengan kokoh tanpa dukungan massa yang luas. Ketiga adalah membangun fondasi yang luas dan kokoh bagi badan-badan pimpinan tiap level organisasi.

2. Garis Massa

Organisasi Massa harus dapat memastikan bahwa seluruh anggota memiliki hubungan yang erat dengan massa. Dari hari ke hari kita harus terus belajar mencintai massa, mendengarkan aspirasinya, bersatu dengan mereka, dan terus berusaha keras meninggikan kesadaran politiknya setahap demi setahap dan menunjukkan cara agar massa dapat mengorganisasikan diri dan bertarung dengan musuh klasnya atas nama kepentingan diri mereka sendiri dan perjuangan DemNas. Inilah yang disebut garis massa, yang berhadap-hadapan secara diametral dengan komandoisme dan mengekorisme, dua penyakit yang senantiasa menganganggap massa bukan siapa-siapa dan tidak layak dipercaya.

Komandoisme adalah seakan-akan kita tahu massa, main perintah, duduk dibelakang meja dan ongkang-ongkang kaki. Inilah cara berfikir dan bertindak komandoisme. Tidak mengindahkan perlunya hidup ditengah-tengah massa dan bekerja bersama massa. Tetapi berdiri terpisah dan jauh dengan massa. Maka cara bertindak seperti ini bukanlah jalan massa. Dampak bagi massa ketika pimpinannya mengidap komandoisme adalah patronase atau timbulnya ketergantungan pada pimpinan tersebut. Karena massa tidak dilatih untuk memimpin dan mengembangkan ide dan prakteknya.

Mengekorisme adalah ketika kita hanya mengikuti massa, tidak berinisiatif untuk membangkitkan mereka. Berdiri di barisan paling belakang dari massa, dengan membiarkan kesalahan-kesalahan yang ada pada massa. Tidak berusaha membetulkannya apalagi mengarahkan dan memimpinnya. Berfikiran bahwa suara massa adalah suara tuhan, sehingga semuanya dianggap benar. Bahwa massa sudah memiliki tingkat kesadaran yang maju. Inilah bentuk mengekorisme yang akirnya akan merugikan massa itu sendiri dan menguntungkan musuh.

Kedua hal tersebut adalah yang akan merintangi kemajuan gerakan mahasiswa demokratis dalam memperjuangkan hak-haknya melawan imperialisme, Kolonialisme dan Militerisme. Agar kita dapat tepat menghindari kedua hal tersebut kita harus menjalankan garis massa dengan tepat, melalui: langgam kerja yang demokratis, selalu berada dekat dengan massa, menyelenggarakan diskusi kolektif dengan massa, melakukan investigasi sosial dan analisis kelas.

Garis massa dalah prinsip yang melandasi semua pekerjaan sehari-hari. Rumusanya adalah dari massa untuk massa. Segala sesuatunya datang dari massa, dilaksanakan oleh massa dan dikembalikan kepada massa. Apapun yang datang dari massa, sesuai dengan tingkat kesadarannya, akan terpisah-pisah dan tidak sistematis. Tugas kita adalah membuatnya menjadi sistematis, menganalisis berdasarkan cara berpikir yang benar, dan memberikan panduan dan keputusan untuk kita kembalikan pada massa. Demikian seterusnya.

Garis massa memegang ajaran yang menegaskan bahwa organisasi harus percaya dan bersandar sepenuhnya pada massa. Perjuangan hanya dapat dimenangkan apabila organisasi dapat benar-benar menyatu dengan massa dan menggerakkan massa dalam bentuk perjuangan taktis atau jangka panjang. Karena organisasi tidak dapat menggantikan kedudukan massa dalam perjuangan, demikian pula sebaliknya.

Selain hal tersebut diatas, beberapa prinsip garis massa yang harus digenggam secara teguh adalah: Mengerti kepentingan massa, Memperhatikan perasaan massa, Mendengar suara massa, Mempercayai dan menyimpulkan pikiran massa, Mengarahkan dan memimpin kehendak massa.

3. Arti Penting ISAK Dalam Kerja Massa

ISAK adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara mendalam tentang keadaan alam dan keadaan sosial (masyarakat) di suatu tempat, hal tersebut bisa jadi termasuk kampus, desa ataupun kota. Penyelidikan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kerja massa di manapun. ISAK Bukan hanya pekerjaan untuk memenuhi tugas belajar, bukan pula pekerjaan proyek yang orientasinya lebih pada keuntungan jangka pendek khususnya finansial. Penyelidikan sosial merupakan sebuah upaya yang sungguh-sungguh dan serius untuk meneliti keadaan kampus dan keadaan masyarakat, sehingga kita dapat memahami dan mengerti tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh rakyat sebab-sebabnya dan perjuangan apa yang mesti dilancarkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Sebagai bagian tidak terpisahkan dari kerja massa, maka prinsip penting dalam investigasi sosial bahwa tujuan investigasi sosial bukan semata-mata untuk mengetahui sehingga mampu menerangkan situasi konkret yang ada, tapi lebih penting dari itu adalah merubah keadaan atau situasi tersebut menjadi lebih baik. Karena mampu menerangkan situasi adalah penting, tetapi lebih penting lagi adalah mengubahnya. Jadi investigasi sosial merupakan pekerjaan aktif untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.

Maka di setiap tempat, kita harus mengetahui komposisi dari populasi, menentukan klas-klas yang progresif, kekuatan menengah dan kekuatan reaksioner. Berdasarkan hal di atas dalam menjalankan kerja massa kita menekankan pada klas utama dan berjumlah besar yang tersedia di tempat tertentu. Untuk itulah kita memakai ISAK sebagai nafas organisasi.

Sasaran studi ISAK adalah analisis keadaan masyarakat secara keseluruhan dan khususnya keadaan massa di tempat kita bekerja, sebab mereka adalah sumber data dan informasi yang kongkret keadaan mereka adalah obyek khusus dari studi dan analisis kita. Di sini kita menerapkan prinsip,analisis kongkret atas situasi kongkret. Karena dengan ISAK kita dapat memahami klas yang kongkret dalam masyarakat, keadaan klas-klas, dan hubungan ekonomi, politik dan kebudayaan antara satu klas dengan klas lainnya. Sehingga kita dapat meletakkan orientasi yang benar dalam pekerjaan massa kita. Kita juga dapat menentukan bentuk dan metode propaganda, pengorganisasian, dan mobilisasi massa yang tepat. Tanpa ISAK yang menyeluruh, seksama dan tepat, kerja massa tidak akan efektif. Juga tanpa ISAK kita tidak akan dapat memastikan kebenaran taktik dan tujuan dari gerakan massa. Makatidak ada hak bicara tanpa investigasi. Kita harus menjalankan dan menerapkan kerja massa dengan menjadikan ungkapan tersebut sebagai acuan.

ISAK akan menjelaskan masalah utama dan sekunder massa, masalah mendesak dan jangka panjang yang akan dihadapi massa. Menjelaskan hal ini adalah bagian dari orientasi dari gerakan massa di tempat tertentu, dan memastikan sasaran yang tepat dari gerakan massa. Misalnya, di perkotaan penghisapan setengah kolonial dan setengah feodal memiliki bentuk nyata di tangan rezim pemegang kebijakan yang memanifestasikan kedudukan klasnya sebagai Kapital Birokrat sekaligus Borjuasi Besar komprador dan Kapital birokrat. Karena itu kita harus memahami hal ini dengan benar untuk dapat memimpin gerakan perkotaan secara efektif.

Investigasi sosial bisa dilakukan oleh siapa pun; Buruh, Buruh Tani, Kaum Miskin Kota, Perempuan, Pemuda-Mahasiswa-Pelajar. Singkatnya yang menjalankan investigasi sosial adalah pihak yang menginginkan perubahan. Pemikiran dan pandangan tersebut berdasarkan bahwa semua orang harus mengubah nasibnya dan pekerjaan investigasi bukan melulu mengumpulkan data tapi mengumpulkan, menganalisa dan menyimpulkan. Investigasi sosial juga merupakan sebuah cara untuk tidak bekerja secara serampangan, asal-asalan atau sembarangan. Banyak orang malas untuk melakukan investigasi sosial, malas untuk meneliti secara mendalam kondisi di mana ia hidup, bekerja dan bertempat tinggal. Banyak orang juga berkata bahwa hanya dengan membaca buku, koran atau merenung di rumah, maka mereka akan mengerti tentang situasi konkret masyarakat. Adalah tidak benar bahwa tanpa melangkahkan kaki ke luar pintu rumah, maka kita dapat mengerti dan memahami banyak hal. Yang akan terjadi kemudian justru apa yang ada dalam pikiran kita yang kita anggap sebagai kebenaran dan kenyataan dan bukannya kenyataan dan kebenaran itu sendiri yang ada di luar diri kita, di tengah massa rakyat. Itu adalah kesalahan berpikir dan kesalahan di dalam memahami kenyataan dan situasi konkret.

Pekerjaan invenstigasi juga bagian dari pekerjaan menjaga kehidupan koletif organisasi. artinya dalam membangun kehidupan kolektif dibutuhkan saling memahami situasi kolektif, saling mengerti dan kemudian ada upaya untuk menyelesaikan problem yang dihadapi. Untuk mengetahui situasi objektif kolektif kita, dibutuhkan investigasi. Kegiatan ini bukan untuk mencari tahu kekurangan dan kelebihan individu-individu bagian dari kolektif saja, tapi mengetahui dan merumuskan langkah tepat untuk menyelesaikan beragam problem kolektif. Ini juga mengakkan aspek menjaga, melindungi dan mengingatkan dalam kehidupan kolektif organisasi.

B. Kerja Propaganda dan Pendidikan Massa

1. Arti Penting Propaganda

Propaganda adalah penyebarluasan pengetahuan tentang situasi kongkrit yang ada kepada individu, kelompok, maupun massa luas secara sistematis dan terus menerus guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka sehingga tergerak untuk bertindak mengubah keadaan. Kerja propaganda merupakan salah satu pekerjaan kebudayaan yang kita lakukan untuk meningkatkan taraf kebudayaan massa. Saat ini jika kita lihat secara umum masih banyak massa yang belum memiliki kesadaran maju, hal ini salah satunya adalah makin gencarnya imperialisme menanamkan nilai nilai budaya yang mereka inginkan seperti pola kehidupan yang liberal, individualistic, konsumtif, kurang peka sosial dan sebagainya yang mengakibatkan rendahnya tingkat kesadaran massa.

Dalam kondisi seperti ini, propaganda menjadi sangat penting sebab dengan propaganda kita dapat menjangkau massa luas baik yang telah terorganisasi maupun belum untuk menyampaikan, menjelaskan, dan menggelorakan hasil ISAK serta tujuan dan tugas perjuangan massa di setiap periode, tingkatan dan tempatnya. Propaganda harus dijalankan oleh seluruh anggota dan organisasi di setiap kesempatan untuk mendekatkan organisasi dengan massa dan massa dapat mengerti peranannya secara umum dan tugasnya secara khusus dalam perjuangan demokratis nasional.

Harus kita pahami bahwa massa merupakan tenaga produktif, karena selain memproduksi barang materiil juga memproduksi nilai-nilai sosial. Sehingga propaganda kita memiliki tiga tugas utama yang saling berhubungan satu sama lain: pertama, memblejeti musuh-musuh rakyat dan semua skema anti rakyat yang mereka telah, sedang dan akan mereka terapkan. Kedua, menjelaskan tentang garis, program dan kebijakan organisasi Ketiga, menganalisis dan menggambarkan kehidupan dan perjuangan massa.

Untuk itulah, propaganda massa memegang peranan penting dalam meningkatkan kesadaran massa dan membuatnya bergerak mengubah keadaan. Propaganda mempunyai peranan penting dalam membangkitkan, mengorganisasikan, dan menggerakkan massa. Propaganda yang kita lakukan adalah langsung ke tengah massa di pusaran lubuk hati dan pikirannya.

Dalam menjalankan propaganda kita mesti memegang teguh prinsip-prinsipnya yakni: Ilmiah; artinya sesuai dengan kenyataan yang ada, Belajar dari Massa; Propaganda yang kita jalankan harus didasarkan dari proses belajar kita dari massa, karena massa adalah sumber ide dan praktek, Jujur; Propaganda harus berdasarkan pada fakta akan data yang sesungguhnya dan panduan garis politik untuk bertindak yang tepat, Berkesinambungan; Propaganda tidak dapat dilakukan dengan hanya satu atau dua kali pekerjaan. Namun karena situasi massa di bawah penindasan imperialisme,Kolonialisme dan Militerisme yang telah mengakar, maka propaganda harus dilakukan terus menerus dan meningkat sedikit demi sedikit, Sesuai dengan Pikiran dan Perasaan Massa; Garis massa adalah yang melandasi prinsip ini. Kita menyebarkan bahan propaganda atas dasar pertalian erat kita dengan massa, medengarkan, memperhatikan, dan bersama massa menyelesaikan persoalan mereka.

2. Arti Penting Kerja Pendidikan

Pada dasarnya kerja pendidikan memiliki tujuan yang sama dengan propaganda yaitu untuk mempertinggi kesadaran massa agar bersedia ambil bagian aktif sepenuh hati dalam perjuangan massa. Dan mendapatkan pendidikan adalah hak massa semutlaknya.

Kerja pendidikan mengambil peranan penting untuk memberikan dasar teori yang kuat bagi massa untuk ambil bagian dalam gerakan demokratis. Pendidikan juga mengembangkan kemampuan dan keahlian massa agar dapat menjalankan pekerjaan massanya dengan efektif.

Kerja eduksi tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan membangun dan mengkonsolidasikan organisasi massa. Jika massa sudah mampu belajar secara sistematis dan rutin, bila pandangan ideologi dan politiknya telah berakar baik di tengah mereka sendiri maka hal tersebut akan menjadi pedoman yang terus berkembang dalam setiap perjuangan massa dalam waktu yang panjang. Juga demikian halnya dengan kemampuan dan keahliannya akan tumbuh dan berkembang semakin kaya dan komplit.

Adalah sangat vital bagi kita memiliki program untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan massa, aktivis massa setahap demi setahap. Kita harus memastikan sebesar-besarnya waktu bagi pekerjaan edukasi karena ini adalah pekerjaan massa yang sangat penting.

3. Bentuk dan Metode Pendidikan Massa

Pendidikan adalah studi tentang perjuangan massa dan perubahan sosial yang dilakukan oleh massa yang telah diorganisasikan yang bersifat formal, tersentral dan sistematis. Bentuk pendidikan massa ada dua yaitu kursus umum dan kursus khusus.

Kursus khusus adalah usaha untuk menjelaskan sejarah, sifat dan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh klas atau sektor yang kita organisir dan gerakkan. Kursus khusus bagi gerakan tani adalah mendiskusikan masalah feodalisme dan reforma agraria. Kursus khusus bagi klas buruh adalah mendiskusikan tentang gerakan serikat buruh dan gerakan pemogokan. Kursus khusus bagi gerakan perempuan adalah mendiskusikan problem perempuan dan pembebasannya. Dan kursus khusus bagi gerakan pemuda adalah mendiskusikan tentang problem pemuda dan tujuan yang benar dari gerakan pemuda.

Sementara itu kursus umum adalah kursus yang membahas masalah studi tentang sejarah Papua, tiga masalah pokok rakyat Papua saat ini dan prinsip serta tugas utama dari perjuangan demokratis nasional.

Setelah kursus umum dan khusus kita sudah mulai mengenalkan tentang dasar-dasar teoritik. Seperti mendiskusikan tentang sikap aktivis massa dalam hubungannya dengan pelayanan terhadap massa, soal kritik dan oto-kritik, masalah rela berkorban, prinsip dasar sentralisme demokratis, masalah garis massa dan kepemimpinan kolektif, ISAK, dan beberapa prinsip tertentu dan terbatas tentang dialektika materialis dan dialektika historis. Bersamaan dengan itu, massa diberikan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan dan keahliannya dalam memimpin organisasi massa, kerja propaganda, mengembangkan produksi, kesehatan dan obat-obatan, kebudayaan dan kesusasteraan, dan lain sebagainya.

Karena posisinya yang vital dalam peningkatan kualitas massa dan bersifat formal, tersentral dan sistematis, maka metode pemerian pendidikan hari ini tak lagi mengenal istilah serapangan dan kurang persiapan atau dengan istilah lain sekadar melaksanakan program dengan peserta yang serabutan. Hal utama yang harus kita pastikan dalam pelaksaksanaan pendidikan adalah, peserta memahami arti pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitasnya dalam menjalankan dan meluaskan pengaruh organisasi dan perjuangan demokratis nasional. Dengan demikian metode pendidikan bisa diatur secara sistematis dengan kategori regular dan khusus.

Pemerian pendidikan secara regular dilakukan mingguan, dua mingguan, atau bulanan dengan materi-materi umum yang mengarah pada skill umum dan skill keorganisasian. Pendidikan regular ini bersifat luas dan terbuka untuk massa dengan tujuan bukan untuk meningkatkan kemampuan individual semata, tetapi juga dibarengi dengan perspektif untuk dikembangkan menuju perjuangan bersama dengan organisasi.

Pemerian pendidikan secara khusus digelar dengan waktu, ruang, dan serangakaian materi khusus yang tujuan dan targetnya mengarah pada kurikulum pendidikan organisasi.

C. Pengorganisasian Massa

1. Arti Penting Kerja Pengorganisasian

Pengorganisasian massa adalah kegiatan membangun, mengorganisasikan dan menggerakkan massa. Kegiatan Rekruitment anggota merupakan salah satu poros pekerjaan organisasi. Pekerjaan yang mempunyai andil bagi penambahan anggota dalam organisasi. Bagaimana menjangkau massa mahasiswa luas, meningkatkan kesadarannya, dan mendorong keterlibatan massa dalam organisasi sebagai alat perjuangan. Prinsip rekruitment luas dan terbuka, luas dalam artian menjangkau massa secara luas berdasarkan wilayah teritori kerja massa kita. Prinsip luas mensyaratkan kita untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat diketahui oleh massa mahasiswa luas. Sedangkan terbuka bahwa kegiatan recruitment yang dijalankan membuka seluas-luasnya kepada massa untuk mendaftarkan menjadi anggota organisasi. Kita harus dapat mengorganisasikan massa secara luas, mempersatukan mereka dengan kuat dalam sebuah kolektivitas Grup Anggota dan mempersiapkan mereka untuk melawan musuh klasnya secara keseluruhan. Bila massa tidak solid mereka hanya akan melawan musuh klasnya secara terbatas dan dalam waktu serta keadaan tertentu saja. Tujuan kita adalah menjadikan massa sebagai benteng perjuangan yang kokoh.

2. Prinsip Kerja Pengorganisasian

Dalam mengorganisasikan massa harus memegang dua prinsip penting yaitu: percaya dan menyandarkan diri sepenuhnya pada massa. Kedua, melakukan pengorganisasian luas untuk perjuangan massa.

Prinsip bersandar dan sepenuhnya percaya pada massa dalam prakteknya diwujudkan dengan memberikan keleluasan kepada massa untuk belajar menjalankan aksi berdasarkan inisiatif dan kehendaknya sendiri dalam menjalankan tugas. Ini sangat penting dalam rangka memunculkan sebanyak-banyaknya massa yang siap untuk menjalankan tugas-tugas organisasi. Kita harus senantiasa memahami bahwa ketika massa mengerti dan memegang tujuan perjuangan dan membangun kekuatannya sendiri maka mereka akan menjadi kreatif dan gigih dalam menjalankan pekerjaannya sendiri. Maka pimpinan dan aktivis massa akan lahir dari lapisan-lapisan massa sendiri.

Maka kepemimpinan dalam organisasi massa haruslah tersusun atas pimpinan yang dapat dipercaya, bersemangat, dan dihormati. Singkatnya mereka berasal dari klas pokok, memiliki cacatan kemanusiaan yang luar biasa, siapa yang dapat dipercaya dan memiliki perhatian luar biasa pada masalah umat manusia. Kepemimpinan harus dibentuk, dididik, ditempa untuk bekerja dan berjuang bersama-sama. Suasana dalam kolektif harus sehat dan bila ada yang terbelakang dan sulit untuk dikembangkan maka harus diganti dengan yang baru dan segar.

3. Sistematika Kerja Pengorganisasian

Ada dua metode pengorganisasian yang diantaranya tidak saling menegasikan melainkan dilaksanakan secara bersamaan, yakni: personal approach (pendekatan perseorangan) dan kolektif approach (pendekatan kolektif).

Untuk mendapatkan kontak, kita bisa memulai dengan pendekatan personal terhadap orang-orang terdekat untuk menggelar kegiatan luas dan terbuka di kampus seperti diskusi terbuka seminar/ edukasi massa dengan mengundang lembaga kampus dan menempel poster di seluruh titik strategis kampus yang dikerjakan secara kolektif. Dari peserta diskusi yang hadir kita bisa mempromosikan organisasi dan garis politik organisasi. Atau membuka open recruitment secara terbuka dan luas dengan memasang poster open recruitment. Bisa juga dalam setiap kegiatan organisasi kita undang massa secara luas untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi.

Setelah kita mendapatkan kontak yang positif dengan bentuk mengisi formulir keanggotaan, kemudian kita satukan mereka dalam Group Anggota untuk melaksanakan program organisasi.

D. Tentang Menggerakan Massa

Menggerakkan massa adalah upaya perjuangan massa secara kolektif untuk satu tujuan tertentu. Dan kemudian kita kenal dengan Kampanye Massa yang hakekatnya adalah aksi massa terencana, terorganisir digerakkan untuk serangkaian aksi massa dalam skup yang lebih luas untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus. Kampanye massa dibedakan dari tujuannya. Yaitu: KampanyePolitik, Kampanye Organisasi, Kampanye Edukasi, Kampanye Ekonomi. Menentukan tujuan dari kampanye massa amat vital untuk menentukan sukses dan tidaknya kampanye massa.

Dalam aksi kita harus mempersiapkan pekerjaan ini sebaik-baiknya agar massa mendapatkan pengalaman politik melawan musuh klasnya dan kesadaran politiknya bisa meningkat, persatuannya terus ditempa, dan mereka memiliki kepercayaan yang tinggi pada kemampuan dan kekuatannya sendiri untuk memecahkan masalah, dan mendapatkan hasil kongkret untuk perubahan kondisi ekonomi, politik dan kebudayaannya.

Dalam setiap kampanye massa kita membaginya dalam tiga periode besar yaitu: Fase Persiapan Kampanye Massa dengan kegiatan utamanya propaganda, pendidikan dan pembangunan organisasi; fase kedua, pelaksanaan; dan fase ketiga evaluasi dan tindakan berikutnya. Fase pertama dalam kampanye massa adalah fase terpanjang dan amat menentukan agar supaya kampanye berjalan optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

E. Konsolidasi dan Perluasan

1. Pengertian dan Arti Penting Konsolidasi dan Perluasan

Di tengah situasi perkembangan organisasi, pekerjaan menata dan membangun menjadi bagian tidak terelakkan. Menata adalah membetulkan yang salah, mempertahankan dan mengembangkan yang benar serta menegakkan langgam kerja organisasi. Sedangkan pekerjaan mengembangkan adalah pekerjaan memperbesar organisasi dan meluaskan garis politik organisasi. Dengan besarnya pekerjaan demikian dibutuhkan keterlibatan seluruh anggota dalam setiap rangkaian pekerjaan organisasi. Untuk menumbuhkan keterlibatan anggota dalam organisasi, kegiatan-kegiatan massa yang pada hakekatnya memberikan kemajuan dan pelayanan kepada anggota harus terus di gencarkan. Prinsip pekerjaan konsolidasi adalah jadikan segala kegiatan sebagai media konsolidasi anggota. Demikian gambaran singkat pentingnya pekerjaan konsolidasi bagi ormass. Dengan konsolidasi yang mantap, harapan besar tumbuh dan kembangnya organisasi baik secara kualitas maupun kuantitas dapat dengan cepat tercapai.

Konsolidasi berarti mengembangkan kesadaran dan organisasi serta menggerakkan massa dalam setiap tingkatannya. Di perkotaan, konsolidasi berarti memajukan gerakan demokratis klas buruh, miskin kota lainnya, dan borjuasi kecil lapisan terbawah (khususnya mahasiswa dan guru/dosen) di pabrik-pabrik, kampus dan kampung.

Perluasan berarti menambah area yang menjadi cakupan kerja massa. Ini berarti membuka daerah, sektor, dan grup-grup baru yang dapat dijangkau dan digerakkan. Di perkotaan kita memperbanyak pabrik, kampus dan kampung yang dapat dijangkau dan memulai kerja massa di tempat-tempat tersebut. Yang pertama dan terpenting, kita melakukan perluasan dengan membangun grup-grup pengorganisasian di tengah massa di mana kita memulai kerja massa.

Hubungan Antara Konsolidasi dan Perluasan. Berarti kita melakukan perluasan berdasarkan konsolidasi dan kita melakukan konsolidasi sembari melakukan perluasan. Perluasan dengan konsolidasi adalah jalan yang efektif agar gerakan Demnas berakar kuat dalam daerah yang luas. Meskipun begitu, sekalipun kita sudah bergerak ke tempat yang baru, kita harus memastikan bahwa di tempat kerja massa terdahulu terus berkembang maju.

Kita harus hati-hati terhadap bahaya terseret oleh konsolidasi semata dan mengabaikan perluasan. Kita harus berusaha agar gerakan dapat berkembang ke daerah lain seluas mungkin. Adalah keliru bila merasa cukup dan berpuas diri dengan daerah yang sempit atau terbatas. Sangat penting untuk menjangkau massa luas secara terus-menerus untuk memberikan kesempatan kepada mereka ambil bagian dalam perjuangan politik, utamanya perjuangan anti imperialis dan anti Kabir. Kita harus dapat membangun aliansi seluas mungkin di perkotaan.

2. Prinsip Konsolidasi dan Perluasan

Dalam rangka mengkombinasikan konsolidasi dan perluasan dengan tepat, kita perlu membuat rencana untuk seluruh pekerjaan, memperhitungkan kebutuhan, target dan kemampuan. Dalam waktu tertentu kita harus menentukan perhatian utama di antara banyak hal lainnya tanpa harus mengabaikan lainnya. Prinsip dasar yang harus senantiasa diingat dalam kepala adalah perluasan berdasarkan konsolidasi, dan menjalankan konsolidasi sembari melakukan kerja perluasan.

Panduan umum kerja konsolidasi dan perluasan kita adalah maju secara bergelombang sesuai dengan garis mengobarkan secara intensif dan ekstensif dengan terus melebarkan dan memperkuat basis massa. Karena dalam mengorganisasikan massa kita harus mencegah vertikalisasi yang bersifat prematur, dengan menekankan perluasan dan penguatan organisasi. Kita juga dapat memajukan organisasi tradisional yang luas, organisasi yang sedang rusak atau basis massa yang penting akan tetapi mengalami kerusakan karena ditinggal untuk mendukung kerja perluasan. Bagaimana pun kerja konsolidasi dan pengorganisasian tidak boleh melupakan kerja perluasan. Melalui organisasi-organisasi massa kita dapat menggerakkan massa dalam jumlah besar, dan melancarkan seluruh tipe aksi demokratis di tempat kerja, kampus, kampung, jalan, dan bahkan di halaman belakang pemerintah reaksioner.

3. Sistematika Kerja Ekspansi

Bagaimana cara membentuk dan membangun organisasi yang kuat? Beberapa kesimpulam praktek berbicara bahwa pembangunan organisasi harus dilandasi dengan dasar-dasar yang tepat untuk mensistematiskan kerja, sehingga Cara kerja/ metode kerja perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Hal pokok yang perlu kita letakkan adalah cara kerja pengorganisasian yang berbasis kelompok atau group, maka dalam membangun organisasi mulai dari awal atau yang sudah berjalan, cara kerja ini harus segera diperkaya prakteknya. Panduan ini memberi petunjuk jalannya membangun organisasi dari awal yang tentu saja berbasis group.

1. Menentukan  Sasaran Pengembangan

Yang harus kita lakukan sebelum membangun organisasi adalah investigasi untuk menentukan kampus  atau sektor lainnya  yang harus kita pilih menjadi sasaran pembangunan organisasi dalam sebuah kota.

2. Mencari Kontak

Setelah kita menentukan kampus atau sektor yang menjadi sasaran pembangunan, maka petugas kemudian melakukan pencarian kontak di kampus atau sektor tersebut. Kontak adalah mahasiswa yang kita kenal yang akan menjadi penghubung kita dengan mahasiswa lainnya. Kontak bisa didapatkan melalui berkenalan secara langsung, dikenalkan teman, saudara dan lain-lain. Dalam mencari kontak ada dua metode yang bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

1). Personal Approach:

Personal approach adalah pengorganisasian massa yang bertumpu pada propaganda personal. Dilakukan dengan melakukan proses membangkitkan kesadaran seseorang secara personal dengan media tulisan, lisan, maupun elektronika. Contoh kita berkenalan dengan kontak di sebuah kampus kemudian kita mendatangi kos-kosan dan mengajak dia untuk mendiskusikan soal kongkrit yang sedang dihadapinya di kampus. Propaganda yang intensif dan continue, seperti memberi bacaan, mengajak diskusi hasil bacaan, dsb dan mengarah pada pembentukan agenda secara kolektif dengan kawan-kawannya yang lain.

2). Kolektif Approach:

Pengorganisasian luas adalah pengorganisasian massa yang bertumpu pada propaganda luas dan terbuka, Sedangkan propaganda luas bisa dilakukan dengan cara : menyebar famplet, aksi grafiti, formulir, profile, seminar, diskusi dan kegiatan-kegiatan publik lainnya. Dalam melakukan propaganda jenis ini, kita perlu memastikan berapa orang yang menerima selebaran kita? siapa namanya? nomer kontak? dan identitas lainya. Sehingga setelah kita melakukan propaganda luas, kita bisa lanjutkan ke metode personal approach lagi yang lebih intens.

Kedua metode ini dilakukan dengan saling berkesinambungan. Personal approach menuju kolektif approach untuk menuju personal approach pada target berikutnya dengan membentuk grup-grup kontak.

3. Membentuk Group Kontak

Setelah kita mendapatkan kontak maka yang harus kita lakukan adalah menggruping kontak dalam grup kontak. Grup kontak adalah kumpulan massa dari kontak-kontak yang kita kumpulkan untuk diedukasi dan dilibatkan dalam kerja-kerja yang dirumuskan bersama dengan mereka. Grup kontak maksimal terdiri dari 7 orang. Cara kerja grup kontak adalah:

1). Kerja Massa Dengan Memaksimalkan Propaganda dan Edukasi

Setelah kita mendapatkan kontak maka tugas kita adalah berpropaganda sesuai dengan tingkat kesadarannya. Buatlah janji untuk bertemu lagi dengan kontak tersebut. Usahakan dalam pertemuan berikutnya, kontak pertama bisa membawa kawannya/kontak lain. Jadikan kontak tersebut sebagai pintu masuk kita untuk mendapatkan kontak yang lain, sembari juga petugas harus berusaha mencari kontak lain.

2). Propaganda tentang pentingnya berorganisasi dan merumuskan kegiatan bersama dengan kontak-kontak.

Dari kontak-kontak yang kita dapat tadi, harus terus kita propagandakan tentang pentingnya berorganisasi. Bersama kontak-kontak tersebut, petugas juga merumuskan kegiatan yang akan dikerjakan secara bersama. Kegiatan yang dirumuskan adalah kegiatan-kegiatan sederhana yang mampu menarik massa lain untuk terlibat, seperti diskusi tentang persoalan-persoalan kampus. dalam menjalankan kegiatan tersebut petugas terus mendorong agar kontak-kontak ini mendapat kontak kontak lain hingga berjumlah 7 orang.

3). Propaganda tentang organisasi yang maju: meneruskan kegiatan yang sudah diprogramkan (kerja massa)

Setelah kegiatan tersebut dijalankan bersama-sama dan mampu menarik kontak lain, secara bersama pula petugas dan seluruh kontak merumuskan dan meneruskan kegiatan. Kontak-kontak yang terlibat dalam kerja massa yang dilakukan bersama-sama inilah yang kemudian kita sebut sebagai grup kontak. Petugas juga semakin mengintensifkan propaganda tentang organisasi yang maju kepada seluruh kontak, baik melalui diskusi maupun propaganda solid. Di sini kontak-kontak sudah mulai dikenalkan dengan organisasi kita.

4). Rekrutmen anggota

Dari seluruh rangkaian kegiatan yang dijalankan grup ini, edukasi dan propaganda yang petugas lakukan dalam grup ini, akan terlihat kontak mana saja yang akan siap direkrut untuk menjadi anggota. Tetapi kita harus tahu bahwa petugas tidak hanya akan membangun satu grup kontak, karena bisa jadi dalam satu grup kontak, tidak menghasilkan anggota atau grup kontak tersebut hancur. Selain itu bisa jadi tidak semua kontak akan jadi anggota, tapi kontak-kontak yang terlibat dalam kerja-kerja yang telah dirumuskan bersama itulah yang akan menjadi sasaran pokok rekruitmen. Catatan lainnya adalah, petugas harus terus memantau perkembangan setiap anggota grup sebagai landasan untuk menetapkan sasaran recruitment.

Setelah kontak di tempat ekspan mengisi formulir keanggotaan, maka operasional berikutnya melalui mekanisme Grup Anggota menuju RUA.

Penutup

Tidak ada dalam sejarah sejauh ini, sistem dan kekuasaan yang berada di bawah dominasi imperialisme dan rejim boneka akan dengan cuma-cuma memberikan begitu saja hak-hak rakyat. Sebab perjuangan adalah hukum objektif, karena untuk mengubah nasib suatu kaum adalah dengan perjuangan kaum itu sendiri. Banyak cara perjuangan yang bisa dilakukan, namun hanya perjuangan massa yang akan sanggup merubah keadaan. Hanya perjuangan massa yang sanggup mendobrak tembok politik yang menindas.

Untuk mengobarkan perjuangan massa tersebut butuh alat perjuangannya yaitu organisasi massa. Hanya organisasi massa yang demokratis, solid dan militan, akan mampu mengobarkan perjuangan massa tersebut dengan sambutan yang gegap gempita dari massa rakyat. Organisasi yang secara intens membongkar fakta-fakta objektif tentang situasi penindasan, melancarkan propaganda-propaganda massa untuk membangkitkan kesadaran massa, organisasi yang mampu menghimpun kekuatan massa yang luas, besar dan solid, serta secara konkret memecahkan persoalan massa rakyat dengan pelayanan-pelayanan terhadap massa dan mengobarkan perjuangan massa secara gencar di seluruh sektor, tentu akan menuai buah yang positif bagi kemajuan gerakan massa di tengah rakyat.

Photo saat aksi protes menolak RCEP di Nusa Dua Bali, 27 Feb 2019
Persoalan golobalisasi dan penguasaan kolonialisme sangat erat menguasai seluruh pelosok tanah Papua Barat terutama merampas tanah air suku bangsa minoritas melalui kolonialistik yang sangat mengarap melalui eksploitasi kapital dalam program-program yang tidak asumsi kepada kelas suku bangsa minoritas. Kondisi kekuasaan, oleh globalisasi tidak terlepas dari imperialisme yang terus menguras dan mencakupi lingkungan masyarakat melalui membuka sektor-sektor kekuasaan yang tidak ada keuntungan, kesejahteraan, keutuhan system. Imperialisme bekerja sama dengan kolonialisme di mana daerah yang di jajah secara terstruktur dan mangakibatkan yang namanya “Genocide”  terhadap suku bangsa minoritas yang menentang persoalan hak Penentuan nasib sendiri secara demokratis dasar dari perjuangan kelas masyarakat.

Pengaruh golobalisasi dari peninjauhan eksploitasi kapital; dapat terlihat melalui system kolonalisme yang  mencengkram pada daerah yang di jajah dengan kekuatan militersime dan kekuatan system kolonial yang masih tidak menghargai system suku bangsa minoritas di Papua Barat. Dari Adengan tersebut, golobalisasi masih bekerja sebagai kekuatan negara untuk melakukan eksploitasi dengan program-program internasional sesuai kesepakatan dari forum-forum regional atau kawasan kesepakatan antar mitra negara yang kolonialistik. Penguasaan dan pengaruh itulah, imperialisme sangat ketat untuk melakukan penguasaan beragam kondisi gerakan sosial invansi rakyat untuk menjalankan agenda eksploitasi melalui kapitalis-kapitalis monopoli atau kolonial menuju kepentingan kekuasaan eksploitasi atas dasar beragam sumber daya yang ada di wilayah-wilayah tersebut.  Pandangan suku bangsa minoritas dan sebuah hak untuk menentukan nasib sendiri adalah sesuatu kewajiban dari sejarah suku bangsa minoritas, telah membentuk hakikat yang seutuh-nya memperjuangkan hak demokratis yang sejati-nya dalam peradaban kehidupan seapanjang masa; sebab  perjuangan kelas dalam suku bangsa minoritas di Papua Barat; sangat meyakini bahwa sebuah perjuangan hak penentuan nasib sendiri akan menyelamatkan dan memberikan kebebasan ekspresi ketika kemerdekaan yang di rebut secara demokratis menjadi kelegahan antara suku bangsa minoritas yang ada di Papua Barat.

Golobalisasi menguasai suku bangsa minoritas di Papua Barat adalah kekuasaan yang sangat tidak dipungkiri lagi dari kekuasan-kekuasan Imperialisme, Kapitalisme monopoli dan kolonial yang mengklaim setiap sejarah suku bangsa minoritas di Papua Barat; kekuasan-kekuasan itulah rakyat masih memperjuangkan untuk merebut hari revolusi kemerdekaan yang pernah di rebut sejak 01 Desember 1961, pada hal secara konstituasional di bawa hukum internsional secara de jure dan de facto telah menyatakan kemerdekan sebuah negara yang merdeka sama dengan kemerdekaan di negara-negara lain.  Maka, kefokusan yang dapat di lihat secra suku bangsa minoritas adalah keyakinan memperjuangkan hak demokratis dan menuntut untuk mengembalikan hak demokratis kemerdekaan tersebut; itulah kodisi realitas yang dapat di lihat antara suku bangsa minoritas tersebut;

Kekuasaan system kolonialisme di Papua Barat dapat di petakan dan problematikan bahwa, suku bangsa minoritas atas tanah dan airnya dikuasai oleh kolonial seperti, system pendidikan di kuasai oleh transmigrasi, system pemerintahan sendiri di kuasai oleh para transmigran, militersime masih menguasai suku bangsa minoritas; apa lagi militer telah moyoritas atas tanah Papua Barat, kolonialisme telah mempetak-petakan lahan bisnis (membangun jalan trans Papua, pemekaran pronvinsi-provinsi kabupaten-kabupaten dll), melakukan eksploitasi (batu, kayu, air, pasir, emas, nikel, minyak, tembaga) dan beragam unsur ara tanah, mendatangkan barang-barang yang kadarluarsa di Papua Barat (mie, beras, obat-obatan yang termasuk semua makanan instan) yang kadarluarsa, apa lagi rumah kesehatan yang di bangun oleh kolonial tidak ada fasilitas yang menguntungkan, menguasai tanah Papua Barat untutk mengistigam bahwa Papua Barat dalah bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Replublik Indonesia) Pada hal secara sejarah gerakan rakyat Papua Barat belum pada proses penyelesaian; malah negara dengan kepentingannya membohonggi secara internasional mengenia sejarah gerakan rakyat Papua Barat; apa lagi bagi suku bangsa minoritas yang ada saat ini dalam memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri untuk menentukan masa depan anak cucu.

Dari situasi, Golobalisasi yang terus menguasaan pandangan suku bangsa minoritas di Papua dan masih saja menghalanggi kondisi realitas Hak Penentuan Nasib Sendiri; kekuasaan secara Privatisasi, Deregulasi, dan liberalisasi setiap sektor kehidupan di tengah rakyat Papua Barat. Globalisasi secara privatisasi adalah kekuasan kolonial dan kapitalis monopoli mempunyai kepentingan dalam melakukan eksploitasi dan setiap eksploitasi digunakan untuk jadikan milik seseorang secara privat, kebanyakan kekuasaan sumber daya yang ada di Papua Barat adalah privat. Dalam kepemilikan tersebut di liberalisasikan secara Internasional untuk mengeksploitasikan dalam perdagangan bebas maupun melakukan deregulasi menghapus kepemilikan tanah dan air  suku bangsa minoritas di Papua.

Menyikapi ini RCEP yang berdampak buruk khusus pada pergerakan perjuangan Hak Penentuan Nasib Sendiri untuk West Papua dan suku bangsa minoritas. RCEP (Regional Cemprehensive Ekonomi Partnership) adalah kita ketahui bahwa membahas tentang  perdagangan bebas antara lain perdagangan barang, Perdagangan jasa, Investasi, Kerja sama Ekonomi dan teknis, kekayaan Intelektual, persaingan, penyelesaian sangketa, E-commerce, Usaha Kecil dan menengah (UKM) dan masalah lainnya, yang di atur dalam 16 Negara, yakni 10 negara (Burnei, Kamboja, Indonesia, Loas, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Tahiland) sebagi ASEAN, dan 6 negara dari Asia-Fasifik yang mempunyai perdagangan bebas (Australia, Cina, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandian Baru. Beberapa tahun belakang ini, pertemuan RCEP pernah di lakukan di beberapa negara regional seperti, Kamboja, Burnei, Australia, Malaysia, Cina, India, Tahiland, Jepang, Myanmar, Selandia Baru, Vietnam, filipina, Singapura dan Indonesai yang kedua kalinya dari tanggal 2-9 Febluary 2018 di Yogyakarta dan 18 Feb 2019 di Nusa Dua Bali yang sedang berlangsung. RCEP di lakukan dalam setiap tahun dan agenda para pemodal mendorong  Agenda RCEP untuk menguasai dan mengeksploitasi seluruh kehiduapan rakyat. Kepentingan-kepentingan negara-negara akan menjalankan esensi kelayakannya untuk menguasai seluruh tanah airnya secara batas wilayah yang di batasinya melalui UUD untuk sebagai implementasi eksploitasi oleh negara yang mempunyai kepentingan dalam RCEP itu sendiri; Maka dengan tegas, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] menolak setiap perampasan hak milik suku bangsa minoritas dan di mana monolak juga RCEP yang melakukan privatisasi, deregulasi, liberalisasi di Papua Barat dalam rangka mengeksploitasi sumber kekayaan alam maupuan kekuasaan system kolonialistik. Dan penolakan itu, sebagai memperjuangan Hak Penentuan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis untuk bebas dari beragam kekuasaan Imperalis, Kapitalis, dan kolonial yang bersifat golobalisasi di Papua Barat.

ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]

Ilst.Gambar Koran Kejora Aliansi Mahasiswa Papua 
Oleh: Natalis Bukega***

Persoalan kebangsaan untuk penentuan nasib sendiri merupakan kebutuhan untuk mengagas pergerakan rakyat secara bersama mempersatukan wadah, idealis, Material dan merunjuk pada Praxis resolusioner “ Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Bangsa Papua Barat”. dan tidak terlepas dari aspek historis setiap kelas-kelas penindasan rakyat dengan sejati-nya memperjuangkan jati diri untuk pembebasan Nasional secara manifesto reolusioner.  Gagasan, Mengenai sebuah proses awal mula kebangsaan juga terlihat pada negara-negara yang telah merdeka dan memperjuangkan sebagai negara yang berdaulat secara konstitusional  dari ideologis kebangsaannya masing-masing; sama hal juga bahwa kemerdekaan perjuangan bangsa Papua Barat adalah Hak Penentuan nasib sendiri tanpa intervensi  eksplotasi tertentu di tanah air Papua Barat dan kepentingan kapitalisme, Imperialisme, kolonialisme dalam  merebut demokratis kemerdekaan rakyat bangsa Papua Barat.

Persoalan kebangsaan di kategorikan dengan beberapa pandangan yang perlu di dorong bersama yakni mulai dengan persatuan nasional dari rakyat yang ingin bebas serta pendukung (solidaritas) untuk mendorong persoalan kebangsaan dalam perstauan nasional. Dari pandangan Rakyat dan Pendukung menjadi satu untuk mendorong berbagai persoalan kebangsaan dalam prekpektif rakyat yang ingin bebas merdeka. Yang mana, dalam proses kebangsaan mengagas Idelogi dan alat pergerakan yang mengarah pada satu prinsip untuk kebangsaan yakni persatuan Nasional dan merebut kelas-kelas perjuangan pada wilayah yang terisolir untuk penentuan nasib sendiri.  Sehingga, terciptanya Persatuan Nasional sebagai alat gerak untuk rakyat dan massa luas merajut apa itu kemrdekaan bagi Rakyat Papua Barat.

Peranan penting  dalam Persatuan Nasional di Papua Barat, adalah mempersatukan berbagai kalangan mulai dari Individu-Individu, Kelompok-kelompok, Orgnisasi-organisasi, Fraksi-fraksi, kaum mudah/mudi, suku-suku, agama-agama, lembaga-lembaga, kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, kaum pedagang, kaum nelayan, kaum anak-anak jalanan serta beragama kelas-kelas penindasan di tanah Papua Barat; dan dengan itu, mewujudkan gagasan kebangsaan bersamaan yakni bertujuan pada satu tujuan dalam satu tugu ataupun satu ideologi rakyat memperjuangkan melalui konsep dasar “Persatuan Nasional”, dan terlepas dari kepentingan-kepentingan garis perjuangan yang ideal-lainnya pada Individu-individu, sekelompok-sekelompok, atau organiasi-organiasi tertentu. Melainkan, mampu mempunyai pandangan yang nasionalis mengerakan elemen  gerakan-nya untuk menyatu dalam persatuan nasional rakyat yang ingin bebas merdeka memimpin garis terdepan menuntut hak penentuan nasib sendiri di Papua barat dan di dorong dengan jalur-jalur diplomasi dalam satu wadah “Persatuan Nasional” yang absolut dan mendorogn perjuangan ke arah nasionalisme. 

Dari Konsep Persatuan Nasional untuk sebuah kebangsaan membutuhkan para pejaung-pejuang yang mempunyai satu perjuangan yang mampu mengarahkan berbagai elemen gerakan, bertujuan menujuh untuk membentuk dan mendorong dalam Persatuan Nasional dari semua prekpektif yang berbeda ke  Prekpektif rakyat yang bersatu dan daulat. Dari pergerakan Persatuan Nasional juga,  membutuhkan beberapa tingkatan yang memajukan Ideologi perjuangan yaitu Idealisme (pandangan tentang Ide Kebangsaan) dan Materialisme ( Materi pembelajaran untuk kebangsaan ) serta Praxis ( Praktek, cara-cara keraja pejuang, atau memimpin aksi jalan dan lain-lain) konsep tersebut menuju pada tingkatan dasar perjuangan dan peregerakan persatuan nasional untuk kebangsaan. Dari landasan itu, Rakyat dalam persatuan Nasional akan merevolusikan perjuangan sejati atas dasar sejarah bangsa untuk kebangsaan bersama dari revolusi dalam penentuan nasib sendiri. Konsep ini pernah di gunakan oleh Lenin dalam menjalankan organisasi yang mempersatuakn seluruh uni soviet seperti yang di tulias oleh Ernest Mandel soal “Teori Organisasi Leninis” yang menjelaskan bahwa ada massa, massa yang maju, ada massa inti, dalam proses perjuangan kelas dan teori ini pun bagian dari praxisnya Rakyat Papua Barat dalam penentuan nasib sendiri.  Subjek yang terpenting juga adalah tulisan lenin mengenai Revolusi Sosialis dan Hak Sebuah Bangsa untuk Menentukan nasib sendiri”mengagas mengenai Kemenangan sosialisme harus mencapai demokrasi yang sepenuhnya, dan sebagai akibatnya tidak hanya membawa kesetaraan sepenuh-penuhnya di antara bangsa-bangsa, tetapi juga hak kepada bangsa-bangsa yang tertindas untuk menentuakan nasibnya sendiri, yaitu hak untuk bebas memisahkan diri secara politik”. Realitas untuk persatuan nasional di Papua Barat  merupakan konsep perjuangan melibatkan juga Gerylia persenjataan merebut demokratis dari penjajahan yang terus menjajah rakyat, seperti  yang di tulis oleh T.W.Utomo menganai Revolusi Che Guevara “Sisi-sisi Kehidupan Sang Nasionalisme Sejati” dan dalam konteks ini menuju suatu pembebasan nasional untuk penentuan nasib sediri juga harus mempunyai Gerylia sebagai bagian dari diplomasi dan pertahanan untuk merebut kemerdekaan di tangan rakyat.  Selain dari itu, juga adalah mogok sipil Nasional untuk tuntutan hak rakyat menentukan nasib sendiri. Kondisi seperti ini, perlu di mulai melalui dan membangun “Perstauan Nasional Papua Barat secara Konsistensi bersama dan bertanggunggjawab bersama untuk menuju pada satu nasionalisme yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Papua Barat di negri sendiri sama seperti kemerdekaan negara-negara lain di muka bumi.

     Dari sudut pandang Papua Barat, Sejarah bangsa Papua Barat mempunyai perjuangan yang panjang mulai dari pelayaran-pelayaran bangsa-bangsa asing (Eropa) masuk di Tanah Papua Barat hingga kekuasaan bangsa Belanda atas  Papua Barat selama 64 Tahun; Sertakan Belanda telah memupuk embrio kemerdekaan bangsa Papua  Barat sejak, 01 Desember 1961 bersama para pelopor sejarahwan/wati  pergerakan rakyat West Papua dalam satu wadah yaitu “Komite Nasional Papua” . Namun, kemerdekaan itu hanya berumur hingga 19 hari saat “trikora” di cetuskan oleh Ir.Soekarno di Alun-Alun Kota Yogya Utara pada 19 Desember 1961  untuk membatalkan Negara Papua Barat yang telah merdeka sama seperti kemerdekaan bangsa lain di dunia ini. Dan mengarah pada proses tahapan Bangsa Papua Barat di aneksasi atau di paksa oleh Indonesai untuk menjadi bagian dari wilayah Indonesia karena mempunyai kepentingan ekonomi dan politik imperialisme, kapitalisme, kolonialisme di Papua Barat, dan melalui aneksasi  01 Mei 1963 secara sepihak Amerika serikat, PBB, Belanda, Indonesia  tanpa mempertanyakan satu pun rakyat Asli Papua Barat untuk bergabung atau tidak Ke NKRI tetapi tidak pernah sama sekali di tanyakan soal itu;  itulah lahir-nya kolonialisme atau pun penjajahan atas Papua barat secara hukum yang ilegal konstitusional Indonesia atas Papua Barat dan PBB yang tidak bertanggung jawab.

Sehingga, catatan sejarah bangsa Papua  Barat membutuhan pelurusan dalam satu wadah yang nasionalis yaitu “Persatuan nasional Papua Barat”. Maka dari beberapa kondis sejarah yang bisa kita perhatikan bersama adalah mulai dari sejak 1 Desember 1961 sebagai kemerdekaan bangsa Papua Barat dan di mana, telah mengagas  persoalan kebangsaaan melalui kongres Nasional Papua yang pertama oleh para pelopor sejarah dan Kedua, merupakan catatan hari Tri Komdo Rakyat (TRIKORA)  di Alun-Alun Kota Yokyakarta Utara, tanggal 19 Desember 1961 yang di komdangkan oleh Ir. Soekarno dengan tiga point utama yakni, bubarkan negara boneka Papua Barat buatan belanda, Kibarkan bendera merah putih di seluruh Irian Barat/Papua Barat, dan Bersiaplah untuk mobilisai umum. Ketiga, Catatan hari The New York Agreement pada 15 Agustus 1962 merupakan hasil dari bangsa kolonial Indonesia tidak ingin bangsa  Papua Barat merdeka secara demokratik melainkan Indonesia menggugat terhadap Belanda, dan Amerika Serikat sebagai penengah membicarakan persoalan kebangsaan bangsa Papua Barat melalui The New York Agreement dengan beberapa point isi dari tuntutan tersebut tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat yakni, pertama,Apabila badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) telah membenarkan persetujuan atau perjanjian itu melalui Rapat Umum, maka Belanda segera menyerahkan kekuasaan atas Irian Jaya (Papua Barat) kepada UNTEA, Kedua, Terhitung sejak tanggal 1 Mei 1963 UNTEA yang memikul tanggung jawab Administrasi Pemerintah di Irian Jaya (Papua Barat) selama 6-8 bulan dan menyerahkannya kepada Indonesia, Ketiga, Pada akhir tahun 1969, dibawah pengawasan Sekretaris Jenderal PBB dilakukan Act of Free Choice, orang Irian Jaya (Papua Barat) dapat menentukan penggabungan pasti tanah mereka dengan Indonesia atau menentukan status atau kedudukan yang lain (Merdeka Sendiri), Ke empat Indonesia dalam tenggang waktu tersebut diharuskan mengembangkan dan membangun kebersamaan orang Irian Jaya (Papua Barat) untuk hingga akhir 1969, Papua Barat menentukan pilihannya sendiri. Keempat, The Secret Memmorandum of roma (30 September 1961) dan The Roma Joint Statement (20-21 Mei 1969) berisi mengenai, Pertama menunda atau membatalkan Pepera 1969 sesuai Perjanjian New York, Kedua Indonesia akan menduduki  Papua Barat selama 25 tahun mulai dari 1 Mei 1963. Ketiga pelaksana Pepera 1969 akan di jalankan berdasarkan cara indonesia musyawarah, Keempat laporan akhir PBB atas Impementasi Pepera ke SU PBB harus di terima tanpa perdebatan terbuka, Kelima Amerika Serikat Membuat Investasi melalui BUMN Indonesia untuk eksplotasi sumber daya alam di Papua Barat, Keenam Amerika Serikat menjamin lewat Bank Pembangunan Asia dana sebesar US$20 Juta kepada UNDP untuk pembangunan di Papua Barat selama 25 Tahun mulai dari 1 Mei 1963, Ketuju Amerika Serikat menjamain rencana Bank Dunia dan menerapkan Transmigrasi orang Indonesia ke Papua Barat. KeLima penyerahan Papua Barat dari UNTEA kepada NKRI (1 Mesi 1963) atau aneksasi oleh pihak asing dan Indonesia atas Papua Barat.  Keenam Pepera dari 14 Juli hingga 2 Agustus 1969. KeTujuh Resolusi SU PBB No. 2504 (XXIV) pada November 1969, Ke Delapan konggres Nasonal II Rakyat dan Bangsa West Papua Jayapura, 26 Mei-4 juni 2000. Kesembilan organisasi-organisasi Papua Barat yang terbentuk bagian dari wadah konsolidasi bersama mulai dari 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga pada tahun 2000-an.

     Dari rangkaian sejarah, tidak terlepas juga, dengan kekerasan militerisme Indonesia di Papua Barat, terutama seketika TRIKORA di cetuskan beragam operasi yang dilakukan di Papua Barat seperti, Operasi operasi Militer Indonesia  di Papua Barat dengan satuan militer yang diturunkan operasi lewat udara dan jalur darat dalam fase infiltrasi seperti Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala, Operasi Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, Operasi Jatayu, Operasi Sadar. Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi Cakra, dan Operasi Lumba-lumba. Sedangkan pada fase eksploitasi dilakukan Operasi Jayawijaya dan Operasi Khusus (Opsus), Operasi Wisnumurti, Operasi Brathayudha, Operasi Wibawa, Operasi Mapiduma, Operasi Khusus Penenganan Pepera, Operasi Tumpas, Operasi Koteka, Operasi Senyum, Operasi Gagak, Operasi Kasuari, Operasi Rajawali, operasi maleo.  Melalui operasi ini wilayah Papua Barat diduduki, dan banyak rakyat  Papua barat yang telah dibantai dan beragam operasi lainnya masih berlanjut hingga rakyat Papua Barat menjadi minoritas di tanah sendiri dan juga dari ‘Slow System Genocide’ yang di lakukan oleh kolonialisme Indonesia melalui makanan, tabrak lari liar, pembunuhan, serta beragam cara licik. Ini adalah kekuasaan kolonial Indonesia di Papua Barat yang terus menerus memusnahkan rakyat asli Papua Barat dari progress system Indonesia yang sangat tidak konstititusional.

Perjalanan peradaban sejarah rakyat dalam prekpektif persoalan kebebasan atau untuk merdeka merupakan bagian dari konstitusi melanjutkan perjuangan serta mampun menyikapi  persoalan secara terstruktur bahwa di tingkatan Lokal, Nasional dan Internasional menyikapi dalam satu wadah bersama dan mendorong terus dari generasi ke-generasi menciptakan kemauan untuk menentukan nasib sendiri di tanah air Papua Barat.  Melihat realitas sejarah bangsa dan mendorong dalam pandangan bersama, membutukan peranan dari berbagai wadah mulai dari organiasi-organiasi yang bersifat non-organisasi hingga organisasi legal yang mempunyai kuasa hukum serta mengorganisir kaum yang belum terorganisir. Jelas, bahwa Kebutuhan bersama adalah” Persatuan Nasional Papua Barat” yang melahirkan embrio dan revolusi demokratik dari rakyat dan untuk rakyat serta untuk kebutuhan bangsa atas dasar ideologis Nasional Papua Barat. Dan Kemudian, mendorong cacatatan -catatan sejarah rakyat dalam perstauan nasional serta juga, menuntut ekspresi aksi demontarasi dan gerylia untuk menutup berbagai eksploitasi-eksploitasi liar, mengembalikan kedudukan  Papua barat sebagai teritory Hak Penentuan Nasib Sendiri yang secara demokratik.

Secara realitas kehidupan rakyat Papua Barat; kolonial Indonesia di Tanah Papua Barat, mempunyai persoalan yang ketidak-setaraan antara rakyat Papua Barat dan Rakyat Indonesia mulai dari sejarah hingga teritory Papua Barat bahkan juga secara konstisional negara Indonesia atas Papua Barat tidak sama sekali merata secara ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-nya. Persoalan tersebut adalah Indonesia bagi rakyat Papua Barat adalah sementara di  Papua Barat (Indonesia Ilgal kontitution on West Papua). Dan melihat juga, keburukan Indonesia bahwa melakukan berbagai Eksploitasi-ekploitasi, Pemusnahan Etnis rakyat Papua Barat (Genocide), Penguasaan militer seluruh tanah Papua Barat, Birokrasi Indonesia di Kuasai oleh Rakyat Indonesia sendiri bukan Rakyat Asli Papua Barat, Indonesia Mampu membohonggi PBB tentang situasi realita Papua Barat, Hak persoalan Rakyat bangsa Papua Barat Indonesia selalu melakukan mengklaim dan mengintimidasi serta  berbagai persoalan yang terjadi atas Papua Barat berangapan sebagai permainan.  Ini merupakan keburukan Indonesia dan wacana buruk yang di lakukan selam 57 tahun bangsa West papua di Aneksasi; sesungguhnya bahwa gagasan persoalan kebangsaan  dan sebagai catatan sejarah bangsa  Papua Barat untuk melihat, berfikir, menganalisis sehingga dasar kehidupan ideologi rakyat Papua Barat adalah konteks pembebasan nasional memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis dan terlepas dari namanya ekploitasi kapitalisme, Imperialisme, kolonialisme. Kebutuhan kita bangsa Papua Barat adalah kebutuhan mendesak mempersatukan dalam sebuah wadah yang berbentuk persatuan nasional Papua Barat menuju pada embrio baru dalam satu honai.

Dan dalam Persatuan Nasional itulah, gagasan akan sebuah kebangsaan akan terjadi embrio baru dan revolusi rakyat akan memajukan perjuangan dasar Ideologi dari Teori hingga Praxis, yang mana mengorganisir berbagai basis kelas-kelas penindasan rakyat yang ada di tanah air Papua Barat serta menjunjung tinggi persatuan yang menjadi gagasan utama atas dorongan bersama dari rakyat hingga tingkatan pendukung demokratik pembebasan nasional. Persoalan Perkpektif Pembebasan akan menjadi terorganisir untuk Nasionalisasikan dan Internasionalisasikan sesuai perjuangan dalam persatuan bersama dari absurd perjuangan realistis.

Maka, melihat dari kondisi ini perlu di pertanyakan kepada rakyat dan organisai-organisasi pembebasan nasional Papua Barat bahwa apa kah kita perlu Persatuan Nasional? Apakah Kita bangsa Papua Barat pantaskah merdeka atas tanah sendiri? dan Bagaiman kita mengorganisir dalam persatuan nasional? Bisa kah kita bersatu?. Dan Bagimanakah kita harus meninggalkan egoisme dan Patronisme?  Inilah merupakan gagasan yang harus rakyat dan organiasi-organisasi pembebasan memikirkan sejauh-nya untuk persatuan bersama sehingga persoalan kebangsaan jatuh di tangan kita rakyat Papua Barat dari kalangan-kalangan yang ada di tanah Papua Barat. Sehingga revolusi demokratis tahapan kemerdekaan tercapai sesuai sejarah dan keadaan situasi untuk gagasan kebangsaan yang menuju pada persatuan nasional yang demokratis dalam Hak Penentuan Nasib Sendiri.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua

Refrensi:

[1]. Teori Oragnisasi Leninis Ernest Mandel
[2]. Haluk, Markus. 2015 4 seri “Seri Pendidikan Politik ULMWP”
[3]. Utomo, W.T. 2017 “Revolusi Che Guevara sisi-sisi kehidupan Sang Nasionalis Sejati”
[4]. Rachmawati, Iva. 2013 “ Papua, Sampul Jamrud Khatulistiwa
[5] Giay, Benny 2011 “ Hidup dan Karya Jhon Rumbiak”
[6] VL. Lenin. 1916 Revolusi Sosialis dan Hk Sebuah Bangsa untuk Menentukan Nasib sendiri
[7.]Agus A . Alu. 2006 [catatan kedua]. Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan

Ils. Gambar Koran Kejora Aliansi Mahasiswa Papua
Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua)
dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)
_______________________________________________________

PERNYATAAN SIKAP

“Pesta Demokrasi Sejati adalah Pelaksanaan Hak Menentukan Nasib Sendiri”

Salam Pembebasan Nasional Bangsa West Papua!

Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak
Wa…wa…wa…wa…wa…wa..wa..wa..wa..wa!

Wilayah yang terbentang dari Numbai sampai Merauke, Raja Ampat hingga Baliem, Pulau Biak sampai Pulau Adi, adalah wilayah West Papua. Dan West Papua bukanlah Indonesia. Indonesia adalah negara yang melakukan kegiatan politik secara ilegal di atas wilayah itu, sejak pasca deklarasi operasi Trikora 19 Desember 1961. Saat itu juga, demokrasi ala kolonial Indonesia hadir di sana. Demokrasi yang tak pernah benar-benar mencoba, apalagi menjamin, kebebasan rakyat West Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Negara Indonesia tidak pernah peduli pada hak berdemokrasi rakyat West Papua. Cara-cara represif dan manipulatif sudah pernah dilakukan Indonesia sejak pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 di West Papua. Praktik seperti itu yang juga masih bertahan sampai saat ini di West Papua.

Sejarah memperlihatkan pada rakyat West Papua, juga rakyat Indonesia, bahwa Indonesia hampir selalu gagal menjawab berbagai permasalahan yang terjadi di West Papua. Mulai dari soal pelanggaran kesepakatan New York Agreement 15 Agustus 1962, ketika Indonesia diwajibkan menyelenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat secara one person one vote; genosida perlahan setelahnya selama kurun 50-an tahun; perusakan hutan yang begitu masif; gizi buruk; eksploitasi begitu masif terhadap bahan-bahan tambang (emas, tembaga, uranium, minyak, gas dsb)—yang berakibat peningkatan jumlah ton tailing yang merusak alam West Papua; ketimpangan sosial antara penduduk asal dan pendatang; extra judicial killing terhadap warga sipil termasuk aktivis; perlakuan rasis terhadap rakyat West Papua; hingga pengekangan kebebasan berkumpul dan berpendapat.

Kontestasi pemilu tahun ini sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Masing-masing partai, beserta calon-calon legislatifnya dan calon presiden serta wakil presiden, berebut suara dari rakyat West Papua. Tapi mari kita perhatikan, apakah mereka bersedia mendengarkan suara rakyat Papua yang paling mendasar, “hak menentukan nasib sendiri”? Atau bicara soal mengurangi mobilisasi militer dan mengadili para pelaku pelanggar HAM? Atau menjamin kebebasan berkumpul dan berpendapat bagi semua kelompok sipil?

Meski suara dukungan rakyat West Papua jadi rebutan, ironisnya dalam debat Pilpres pertama, soal West Papua sama sekali tidak diperbincangkan baik oleh Jokowi maupun Prabowo. Prabowo sendiri memiliki track record buruk di Papua dalam kasus Mapenduma. Namun, bukan berarti Jokowi lebih baik. Jokowi sebagai incumbent, telah membiarkan pelanggaran hak asasi manusia berulang kali terjadi. Misalnya, kasus Paniai Berdarah yang tak rampung, kasus Deiyai dan Dogiyai yang juga tak selesai, belum lagi kasus-kasus penangkapan massal terhadap para aktivis West Papua yang belakangan makin sering terjadi.

Jokowi memiliki kekuasaan. Namun, kekuasaannya tidak digunakan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM dan membiarkan pelanggaran terus terjadi. Pembiaran itu artinya, mengiyakan dan jadi bagian perbuatan pelanggaran HAM.

Ditambah lagi, sampai sekarang masih dilakukan operasi militer di Nduga (Distrik Dal, Distrik Yigi, Distrik Mbua, Distrik Mikuri, Distrik Enikngal, Distrik Yal, Distrik Mam dan Distrik Mugi). Sebagaimana operasi-operasi militer sebelumnya di West Papua, operasi militer itu memakan banyak korban sipil. Puluhan rakyat termasuk anak-anak meninggal, terjadi penahanan dan pembakaran rumah. Ada setidaknya 20 ribu orang yang terpaksa mengungsi keluar dari daerah tersebut.
Akibatnya, pendidikan, kegiatan ekonomi, dan keagamaan, tak berjalan dengan normal. Akses pemerintahan sipil, wakil rakyat, jurnalis, pekerja kemanusiaan, sangat sulit. Kehadiran aparat TNI/Polri di sana justru menyebabkan rakyat trauma.

Dalam kenyataan sejarah dan keadaan seperti itu, wajar jika rakyat West Papua tak berpusing soal Pemilu maupun Pilpres 2019. Gelaran tersebut hampir mustahil menjadi hal yang penting bagi rakyat West Papua. Sebab, 1) keberadaan Indonesia di wilayah West Papua ilegal, 2) tak ada partai politik yang menyuarakan permasalahan nasional West Papua, dan 3) pelaksanaan Pemilu itu sendiri tak lain hanya untuk melanggengkan praktek-praktek kolonialisme: menjadi alat bagi pemerintahan kolonial untuk menempatkan penguasa-penguasa lokal dalam mengamankan kepentingannya.

Kami dari Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua, seperti halnya rakyat West Papua, mustahil membayangkan adanya demokrasi, kesejahteraan, bagi rakyat West Papua jika masih berada dalam cengkeraman kolonialisme Indonesia. Tak ada pesta demokrasi jika rakyat tak memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Untuk itu kami mengambil sikap dan menyatakan bahwa:

1. Tidak mengikuti Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum 2019
2. Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi rakyat West Papua
3. Tarik militer organik dan non-organik dari West Papua
4. Buka akses jurnalis dan informasi untuk West Papua

Salam solidaritas!

Medan Juang, 12 Februari 2019

Ilst.Gambar Koran Kejora Aliansi Mahasiswa Papua
 Oleh: Gilo Logo***

Belajar sejarah perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat sejak tahun 1940-an sampai dengan saat ini, dengan berbagai macam cara perjuangan yang dilakukan untuk merebut hak politik rakyat Papua Barat untuk menentukan Nasib Sendiri yang selalu memperlambat oleh Kolonial Indonesia, dan juga dengan belajar dari wilayah Papua Barat yang terbentang dari Sorong sampai Samarai dengan berbagai macam budaya, adat isti adat, bahasa, kebiasaan kepercayaan/agama dengan berbagai kelas penindasan yang disebabkan oleh penjajahan kolonial dan imperialisme di Papua Barat; maka dalam upaya untuk mengerakan masa rakyat Papua Barat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang-nya tersebut,  dari Sorong sampai Samarai untuk keluar dari hegemoni/penjajahan system colonial dan imperialisme tersebut di butuhkan satu Front Persatuan Nasional untuk mempersatukan semua elemen rakyat Papua dari Sorong sampai Samarai.

 Namun untuk memenangkan gerakan rakyat untuk keluar dari penjajahan Kolonial dan imperialisme ini dibutuhkan dan harus diusahakan secepat-cepat-nya adalah Persatuan Nasional, dan Front Persatuan Nasional harus berdiri secara demokratis dan terdiri dari perwakilan semua elemen rakyat Papua Barat yang mengalami  penindasan dari Kolonial dan Imperialisme, agar Front tersebut untuk menggerakan perjuangan rakyat sebagai penyadaran akan penindasan dan mengorganisir kelas-kelas rakyat yang mengalami penindasan di Papua Barat mulai dari kaum tani, kaum buruh, kaum nelayan, kaum mama-mama pasar dan lain-lain,  dan memperhatikan gerakan rakyat sebagai dari semua sektor penindasan dan mengontrol maju-mundur-nya kesadaran sektor-sektor rakyat dari penindasan yang di alami dengan pendidikan-pendidikan politik dan lain-lain.  Penting-nya Front Persatuan Nasional di dalam mempersatukan seluruh gerakan Rakyat Papua Barat yang mengalami penindasan untuk memikirkan penting-nya Persatuan Nasional dalam menuju pada Pembebasan Nasional Papua Barat dan mengukur sebab akibat dari penindasan yang dialami oleh seluruh rakyat Papua Barat dari Sorong sampai Samarai, Front Persatuan Nasional tersebut harus mempunyai platform perjuangan yang berlandaskan pada Anti Kolonial, Anti Militerisme dan Anti Imperialisme dan Front juga, mempunyai peranan penting dalam menyiapkan gerakan rakyat yang sadar akan mepunyai persatuan yang kuat dan demokratis sehingga mempunyai garis perlawanan yang jelas untuk melawan system Kolonial dan Imperialisme di tanah Papua Barat dan juga menghapus segala perjuangan/Perlawanan yang dilakukan secara  kelompok-kelompok atau individu, tetapi semua yang tergabung dalam wadah Front Persatuan Nasional merupakan menyatukan pandangan untuk menghadapi musuh bersama rakyat Papua Barat Hari ini, yaitu kolonialisme,Militerisme dan Imperialisme.

 Tugas-tugas utama dari Gerakan rakyat dalam Front Persatuan, dan sebagai kewajiban bagi para kaum Nasionalis/gerakan pro kemerdekaan yang tergabung dalam Front adalah  agar mengedepankan/mengutamakan rasa persatuan tanpa memandang latar belakang masing-masing, persatuan yang di bangun harus demokratis yang terdiri semua elemen gerakan rakyat Papua Barat yang mengalami penindasan dan ingin keluar dari belenggu penindasan tersebut dan menghapus system perjuangan secara kelompok,individu dan sikap egoisme yang dapat mengotak-kotakan gerakan perjuangan. Tugas pokok untuk menghilangkan kepentingan dan sikap egoisme, kelompok-mengelompokan/individu-individu dan lain-lain adalah tugas utama dan amanat dari revolusi 1 Desember 1961 yang harus disadari oleh seluruh elemen gerakan rakyat dan kaum nasionalis Papua untuk lebih mendorong Persatuan Nasional untuk merebut kembali revolusi 1961 tersebut. Yang saat itu, direbut secara sepihak oleh pihak kolonial melalui militerisme untuk kepentingan imperialisme global.

 Dan Pembebasan Nasional Papua Barat dinyatakan sebagai hal  mutlak yang harus di dorong oleh semua elemen gerakan dalam Front Persatuan, harus menjadi bagian dari seluruh rakyat Papua Barat dengan tujuan- yang sama untuk merebut kembali revolusi 1 Desember 1961 dengan prinsip-prinsip bahwa Front harus  menjadi Front Persatuan yang Demokratis dan Front yang tidak mengotak-kotakan gerakan di tanah Papua Barat. Ini berarti bahwa tanpa ada suatu wadah Persatuan Nasional yang demokratis di tanah Papua Barat, Rakyat Papua Barat akan terus binggung dan berjuang secara sendiri-sendiri maka secara kuantitas gerakan, kita akan menjadi lemah dan  tidak mungkin bangsa Papua Barat bisa keluar bayang-bayang penindasan yang dilakukan oleh System kolonial dan imperialisme, karena-nya Semua elemen rakyat dan kaum nasionalis/organ-organ yang nanti-nya berada dalam Front tersebut harus mendorong sunguh-sunguh Persatuan Nasional yang utuh merangkul semua sektor rakyat tertindas dari sorong sampai samarai untuk menuju Pembebasan Nasional Papua Barat.

 Program umum yang harus di dorong oleh Front Persatuan antara lain harus menyatakan bahwa jika bangsa Papua Barat ingin bebas dan keluar dari penjajahan Kolonial dan Imperialisme dan merdeka secara demokratis dan makmur, maka soal pokok yang harus di dorong untuk merebut kembali revolusi Demokratik 1961 adalah Persatuan Nasional yang arti-nya dalam Front Persatuan tersebut bertujuan untuk menghapus penjajahan kolonial dan kekuasaan Imperialisme di Papua Barat.

 Dapat disimpulkan bahwa tugas pokok revolusi Papua Barat saat ini adalah Persatuan Nasional untuk membawa bangsa Papua Barat keluar dari belenggu penindasan kolonial dan imperialisme dan untuk mewujudkan Persatuan Nasional tersebut dibutuhkan sebuah Front Persatuan yang bersifat demokratis dan menghilangkan sifat perjuangan yang egoisme, sukuisme, agamaisme kelompok-mengelompokan/individu dan menghapus pemikiran yang seolah-olah hanya satu elemen gerakan atau satu individu menjadi pahlawan yang bisa membawa Bangsa Papua keluar belenggu penindasan pikiran-pikiran seperti ini yang harus di hapuskan di karena-kan wilayah Papua Barat yang terbentang dari Sorong sampai Samarai dengan berbagai macam kebiasaan, adat/istiadat bahasa keyakinan dan lain- lain, ini dibutuhkan suatu wadah yang bisa mempersatukan semua itu, guna menjadi satu kekuatan yang besar; kekuatan yang lahir dari kesadaran rakyat tertindas di seluruh Papua Barat untuk keluar dari belenggu penindasan Kolonial dan Imperialis dan ingin menentukan Nasib Sendiri sebagai solusi yang demokratis bagi rakyat Papua Barat itu sendiri.

 Dilihat dari sudut strategi perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat sudah sangat maju dewasa ini, namun yang menjadi soal utama adalah kurang-nya pemahaman rakyat Papua Barat dan organ gerakan mengenai penting-nya makna Persatuan Nasional.  Maka dari itu, untuk menpercepat perjuangan bangsa Papua Barat untuk keluar dari belenggu penindasan kolonial dan imperialisme ini berarti kita harus menggulingkan sikap-sikap egoisme, sukuisme, agamais dan lain lain, sampai ke akar-akar-nya dan menargetkan untuk Persatuan Nasional yang demokratis untuk menuju pembebasan Nasional Papua Barat.

 Pembebasan Nasional di Papua Barat sendiri bisa terjadi bila rakyat Papua yang mengalami penindasan tersebut bertekad untuk melepaskan diri dari system Kolonial dan imperialisme yang sedang menghisap dan menindas dari setiap kativitas rakyat.

 Ini menjadi pertanyaan yang menarik bagi elemen gerakan/organ-organ yang berbicara Papua Barat Merdeka perubahan di tanah Papua Barat (pembebasan nasional di Papua Barat) hanya bisa terlaksana atau terjadi apabila dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip bahwa “hanya Rakyat Papua Barat dari Sorong hingga Samarai yang sadar akan penindasan yang mampu mengeluarkan diri-nya dari belenggu penindasan” arti-nya tidak ada yang dapat membebaskan rakyat Papua Barat dari belenggu penindasan tersebut kecuali kekuatan dan persatuan rakyat Papua Barat itu sendiri menyatu. Hal ini sedikit bisa di benarkan karena dewasa ini banyak kaum Nasionalis Papua Barat dengan berbagai macam organ-nya yang memperjuangkan soal pembebasan Nasional Papua Barat, namun belum menemui titik temu dikarenakan gerakan-gerakan ini tidak megedepankan kepentingan rakyat Papua Barat yang sedang mengalami penindasan dan mengorganisir seluruh elemen rakyat Papua Barat yang ingn keluar dari belnggu penindasan dan mempersatukan-nya untuk menjadi kekuatan yang utuh untuk membawa rakyat Papua Barat keluar dari belenggu penindasan ini.

 Karena seluruh rakyat yang mengalami penindasan di Papua Barat pasti dapat mengetahui bentuk-bentuk penindasan yang menindas-nya dan bisa mengeluarkan dirinya dari belenggu penindasan tersebut apabila ada satu wadah Front yang bisa mempersatukan mereka dan konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat yang mengalami penindasan ini, untuk keluar dari belenggu penindasan tersebut dan menentukan nasib sendiri serta terlepas dari belenggu penindasan System kolonial dan dari  imperialisme serta juga mengimbangi tugas sejarah untuk merebut kembali revolusi 1961 yang karena-nya memikul tugas sejarah untuk memimpin revolusi, untuk mengimbaggi tugas tersebut Front Persatuan harus dibangun sehingga mampu merangkul seluruh sektor yang mengalami penindasan di Papua Barat dari Sorong sampai Samarai, Melalui membangun kesadaran yang kuat akan penindasan yang menindasnya, untuk menunaikan tugas sejarah tersebut melalui Front Persatuan tersebut, bahkan harus bersandar penuh pada kebutuhan gerakan seluruh rakyat Papua
Barat dari Sorong sampai Samarai yang mengalami penindasan dari kolonialisme dan imperialisme.

 Dengan Begitu akan memunculkan syarat Subjektif dan Objektif sandar-menyandar antara Front Persatuan yang dibangun dengan sektor-sektor yang mengalami penindasan di Papua Barat  mulai dari kaum Tani, Buruh, Anak Aibon, Mama-Mama Pasar dan Lain-Lain; untuk memenangkan revolusi Demokratik  menentukan Nasib Sendiri, dan sektor yang mengalami penindasan sandar pada Front persatuan membebaskan diri-nya dari penindasan yang di alami-nya.

 Front persatuan sendiri harus memperluas dan memperkuat persatuan gerakan rakyat Papua Barat serta mempertinggi taraf perjuangan ke tingkat perjuangan yang konsisten anti Kolonial, Militerisme dan Imperialisme dalam Front Persatuan sendiri akan benar-benar luas dan kuat apabila Front tersebut bekerja secara teguh mendorong kebutuhan rakyat yang ingin keluar dari berbagai belengu penindasan dan mendorong revolusi tahap pertama revoluisi demokratik untuk menentukan Nasib Sendiri.

 Front yang di bangun mencapai pada titik kemenangan untuk menghapus system Kolonial dan Imperialisme dan merebut kembali hak-hak politik rakyat Papua Barat untuk menentukan Nasib Sendiri sebagai solusi demokratis Bagi rakyat Papua Barat apabila Front Persatuan Nasional Papua Barat tersebut bersandar penuh pada kebutuhan rakyat Papua Barat yang mengalami penindasan.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat.

Penulis Adalah Biro Organisasi Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Ilust.Gambar Koran Kejora
Karya, Armand Axel**

Tanah dan tempatku dihancurkan oleh Perusahaan
Aku dijajah dari semua lini kehidupanku
Dengan aturan-aturan yang dibuat oleh penguasa
Aku dilarang membela dan mempertahankan hakku
Aku diburu dan di bunuh oleh Polisi dan Militer

Aku sendiri tak bisa hancurkan
Perusahaan yang sedang hancurkan tanah dan tempatku
Aku sendiri tak bisa hapuskan
Aturan yang sedang hancurkan kehidupanku
Aku sendiri tak bisa melawan
Polisi dan Militer yang sedang memburu dan membunuhku

Kawan mari kita berkumpul jadi satu
Kita melangkah bersama kebenaran sejarah
Sang bintang kejora kita belajar dan berjuang
Bersama rakyat tertindas
Kita angkat suara kebebasan terhadap penindasan
Karena kita bersatu tak bisa dikalahkan

Ilust. Gambar Koran Kejora
Karya, Armand Axel***

Gunung gresbegku,
Aku rindu sosokmu yang dulu
Tatkala aku yang masih kecil sering menjamahmu
Aku rindu rimbun pepohanan
Air mengalir menjadikanmu sumber penghidupan
Aku rindu burung-burung menyanyi
Sedangkan gemercik air bagai melodi

Di kemarau ini,
Mata airmu tak lagi mengalir deras
Isak tangis warga membuat air mata menetas
Ketamakan, keserakahan membuatmu terancam
Perusahaan, akan mengorbankan banyak kehidupan

Gresbegku di sini kami berbaris
Air mata kerinduanku kan ku rubah,
Menjadi suara lantang perlawanan:
Pada mereka yang ingin memperkosamu

Alamku, alam kita
Kehidupanku, kehidupan kita bersama
Keutuhanmu menjadi surga bagi kita

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Powered by Blogger.