Halloween party ideas 2015




Aktivis Mahasiswa GrmpaR


Himbauan Demontrasi  Amnesti Internasional Pada tanggal 2 april 2014, Amnesti Internasional di Kerajaan Inggris akan melakukan  demonstrasi di depan kantor Duta besar indonesia di inggris. Oleh sebab itu mereka (amnesty Internasional) akan menuntut kepada Indonesia untuk membebaskan tahanan politik di papua barat tanpa syarat. Seluruh penduduk teritorial Paua Barat disubjekan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang ada, maka dituntut untuk menyelesaikan dan membebaskan Masyarakat Pribumi Papua barat yang masih di Tahanan Politik di seluruh Tanah Papua. 

Masyarakat Pribumi Papua Barat dibunuh secara kriminal dan sampai ditahan Aktivis Pejuang Damai hanya karena mengibarkan Bendera Bintang Kejora, dilarang  mengunakan motif  atribut Bendera Bintang Kejora, Demontrasi Rakyat Papua di bubarkan paksa dan mediasi publik. Sering Indonesia tidak pernah mengijinkan organisasi internasional atau wartawan asing dilarang masuk ke Papua.

Amnesti Internasional bukan untuk ambisi Indonesia untuk mengambil posisi status di Papua Barat, tetapi kami berpikir ke hubungan Masyarakat Papua yang sedang berjuang sebagai bagian dari perjuangan politik tanpa kekerasan dan aktivitas budaya tanpa resiko kekerasan hak asasi manusia (HAM).

Massa aksi yang tergabung dalam solidaritas mahasiwa peduli tapol/napol (SMPTN) dibubarkan paksa oleh kepolisian saat akan melakukan unjuk rasa di sekitar gapura kampus Universitas cendrawasih (uncen) waena  jayapura papua rabu 2 april 2014

Peristiwa membubarkan ini terjadi saat peserta demo damai baru berjalan kaki sekitar 20 meter dari titik kumpul didalam pintu pagar kampus uncen waena, aparat Kepolisian yang sedang siaga di persimpangan sdang terlihat memalang jalan dengan tujuan memberhentikan massa yang hendak bergabung dengan massa aksi. 

Aparat Kepolisian yang berjumlah puluhan itu sebagian bersenjata lengkap dan member kode jalan. 

Polisi ungkapkan kata �Monyet� pada nassa aksi

Dari dalam berikode terdengar seorang anggota polisi mengatakan kata �Monyet� sebanyak tiga kaliyang di tujukan pada nassa aksi.

Upaya negosiasi untuk melanjutkan aksi yang di lakukan oleh salah satu kordinator Demontrasi tidak di indahkan sama sekali oleh Pimpinan Aparat Kepolisian bahkan terdengar kalimat tegas yang menegaskan �pokoknya tidak dan terus maju kami tangkkap�.

Tidak lama kemudian kordinator aksi demontrasi di tangkap polisi dan lansung di amankan di sebuah kendaraan yang sudah di siapkan, melihat kordinator aksi demo ditangkap Polisi seara spontang masa Demo pelemparan kea rah aparat keamanan akibatnya terjadi aksi balasan dari Kepolisian mengeluarkan beberapa kali tembakan. (Tabloidjubi.com)

 Kepolisian resort kota (poresta)  Jayapura menagkap  dua mahasiswa Papua Alfares Kapisa dan (25) dan yal Wenda (20) dalam sebuah demontrasi damai yang digelar oleh Solidaritas Mahasiswa Peduli Tahanan Politik (TAPOL) Papua didepan gapura Uncen waena Jayapura.

Demontrasi di gelar Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota jayapura dalam rangka meminta pembebasan 76 tapol papua yang mendekam di sejumlah lembaga pemasyarakatan di tanah papua.

Alfares kapisa, mahasiswa kedokteran di uncen dan rekanya yali wenda ditangkap dalam pembubaran paksaoleh polisi yang lengkap di depan gapura uncen sekitar pukul 10:30 waktu setempat. Selanjutnya dua mahasiswa papua ini di bawa ke polresta jayapura untuk diinterogasi.

�Kami sedang berada di polresta. Mereka (Alfares kapisa dan yali wenda) sedang di interogasi. Alfares mendapat intimidasi sampai lika-lika di pupu kiri, kucuran darah membuat jas almamaternya penuh dengan darah. Demikian juga yali wenda luka-luka di kepala.� kata aktifis HAM di papua Elias Petege kepada media ini melalui telepon selulernya.

Tidak ada akses untuk Bertemu

Kordinator Komisi Orang Hilang dan tindak kekerasan (KONTRAS) Papua, Olga Helena Hamadi dan pendeta Dora Balubun telah berada di polresta sekitar pukul 18:30 waktu setempat atas permintaan rekan-rekan dan orang dua mahasiswa itu. Tetapi kedatangan mereka sia-sia mereka tidak mendapatkan akses untuk menemui dua mahasiswa itu.

Kepada media ini melalui pesan singkat Olga mengatakan �katanya kasat tidak ada di tempat. Lalu saya telepon kapolres tetapi katanya mereka lagi periksa jad belum bias ketemu. Saya jadi heran juga. Pada hal mereka ini tidak di rutan ada kemungkinan dua mahasiswa ini dapat pukul�

Kepada majalahselangkah.com, melalui pesan singkatnya, Olga mengatakan, "Katanya Kasat tidak ada di tempat. Lalu, saya telepon Kapolres, tapi katanya mereka lagi periksa jadi belum bisa ketemu. Saya jadi heran juga, padahal mereka dua ini tidak di rutan, ada kemungkinan 2 mahasiswa ini dapat pukul."

"Kami tidak dberi akses bertemu, jadi kami pulang. Padahal, kami datang ke sini atas permintaan teman-temannya dan orang tua 2 mahasiswa ini," kata Olga.

Terkait penangkapan dan pembatasan akses ini, majalahselangkah.commenghubungi  Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Drs Sulistyo Pudjo, tetapi telepon tidak aktif. Terpaksa, majalalahselangkah.commengirimkan pesan singkat untuk konfirmasi, tetapi hingga berita ini ditulis belum ada balasan.

Hingga berita ini ditulis, Alfares Kapisa dan Yali Wenda masih ditahan di Polresta Jayapura. majalalahselangkah.com

Jayapura, 3/4 (Jubi) � Dua mahasiswa yang ditangkap polisi sejak Rabu (2/4) kemarin karena memimpin demonstrasi pembebasan Tahanan Politik Papua luka berat karena disiksa polisi.

�Kami dipukul tidak seperti manusia. Tubuh kami penuh dengan darah. Tengah malam baru dokter dari kepolisian masuk kasih mandi, membersihkan darah dan luka.�  kata Alfares Kapisa, salah satu dari dua mahasiswa yang ditangkap polisi kemarin, kepada Jubi, Kamis (3/4) malam saat memeriksakan lukanya di Rumah Sakit Dian Harapan, Waena.

Alfares bersama Yali Wenda dilepaskan oleh polisi di Polresta Jayapura sekitar pukul 14.00 WP. Keduanya ditahan polisi karena dianggap melanggar kesepakatan dengan polisi dalam melakukan aksi demonstrasi kemarin.

�Kami tidak keluarkan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) karena saat ini sedang masa kampanye, Kami izinkan mereka lakukan aksi karena sebelumnya minta izin lakukan mimbar damai saja bukan longmarch,� kata Kapolres Jayapura Kota, Ajun Komisaris Besar (Pol) Alfred Papare, Rabu (2/4) petang.

Menurut dia, kedua korlap itu ditahan untuk diperiksa karena massa aksi hendak melakukan aksi long march di depan auditorium Universitas Cendrawasih (Uncen), Abepura. Polisi punya waktu memeriksa keduanya selama 1 x 24 jam sejak ditangkap.

Namun bukannya diperiksa, kedua aktivis mahasiswa ini malah disiksa oleh polisi selama masa penahanan mereka yang cuma 1 x 24 jam itu. Keduanya dipukul dengan popor senjata, rotan dan ditendang menggunakan sepatu.

Seorang warga yang secara kebetulan berada di Polresta Jayapura, kemarin, mengaku melihat kedua mahasiswa itu diturunkan dari truck polisi yang membawa keduanya sudah dalam keadaan tubuh penuh bekas pukulan.

�Kasihan, muka mereka sudah hancur, berdarah, waktu diturunkan dari truck polisi. Saya juga sempat lihat seorang polisi di ruang tahanan bertanya kepada rekannya sambil menunjukkan popor senjata yang dipegangnya. Mungkin itu kode mereka untuk bertanya, dipukul pakai senjata atau tidak.� kata warga Distrik Jayapura Selatan ini.

Wajah Alfares, saat dijumpai di RS Dian Harapan terlihat lebam karena bekas pukulan. Bagian bawah matanya bengkak. Di pelipis matanya tampak bekas darah yang sudah mengering.
�Dokter paksa kami ganti baju untuk hilangkan barang bukti. Kami dipukul dari kaki sampai kepala. Semua badan kami dipukuli. Kepala saya bocor. Saya rasa tulang rusuk saya patah.� kata Alfares sambil menunjukkan luka dan bekas darah di kepalanya.

Markus Haluk, aktivis HAM Papua yang menjenguk Alfares menambahkan telinga Yali Wenda yang ditangkap bersama Alfares harus dijahit sebanyak tiga jahitan.
�Sekarang mereka setengah mati untuk duduk. Makan juga masih sulit. Tubuh mereka masih gemetaran.� tambah Haluk. (Jubi)

Besok, Jumat (4/4/2014) pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cendrawasih akan bertemu dengan Kapolda Papua terkait penangkapan dua mahasiswa Uncen, kemarin, Rabu (2/4/2014) oleh aparat Kepolisian Resort Kota (Kapolresta) Jayapura di depan Kampus Uncen, Perumnas III, Abepura, Papua.

Ketua BEM Uncen, Yoan Wanbipman ketika dihubungi suarapapua.com mengatakan akan ada pertemuan pihak mahasiswa, dosen, dan aparat kepolisian terkait aksi dan penangkapan dua mahasiswa Uncen yang berlangsung di depan gapura Uncen.

�Kami telah berinisiatif mengirimkan surat ke Polda Papua untuk meminta dilangsungkan pertemuaan besok terkait aksi dan penangkapan dua mahasiswa kemarin. Kami tinggal tunggu informasi dari mereka, termasuk jam dilangsungkannya pertemuaan,� kata Yaon, kepada suarapapua.com, Kamis (3/4/2014).

Dikatakan, pertemuaan sangat penting, mengingat perlu ada diskusi bersama antara pihak kampus, mahasiswa, dan pihak aparat keamanan yang biasa mengamankan jalannya aksi di kampus Uncen.
Yason Ngelia, Ketua GempaR juga mengaku mendapat kabar akan ada pertemuaan antara BEM Uncen dan pihak aparat kepolisian, serta pihak kampus.

Dibebaskan

�Kami tetap tunggu apa hasil pertemuaan dan pembicaraan besok. Kami mendukung teman-teman pengurus BEM Uncen yang mengambil inisiatif ini,� kata Ngelia.
Ngelia berharap, dalam pembicaraan nanti, kedua mahasiswa Uncen, Yali Wenda (19) Mahasiswa Fisip, dan Alvarez Kapisa (26) mahasiswa Kedokteraan yang masih berada dalam tahanan Polresta Jayapura dapat dibebaskan.

Sekedar diketahui, keduanya ditangkap saat sedang memimpin puluhan mahasiswa dalam aksi demo damai dan orasi-orasi politik, terkait  dukungan kampanye atas pembebebasan 73 tahanan politik Papua yang ditahan pada berbagai penjara kolononial di seluruh tanah Papua.

Informasi yang didapatkan media ini, kedua mahasiswa Uncen yang ditahan saat ini sedang di dampingi  oleh para pengacara yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Penegakan Hukum dan HAM Papua.

Mat mlm, info Papua. 1. Alfaes Kapisa dan Yali Wenda yg telah ditahan oleh Polisi kemarin dalam aksi pembebasan TAPOL PAPUA telah dibebaskan dari Polresta pukul 14.00 Waktu Papua. 2. Mereka telah mengalami penyiksaat berat dan serius, dipukul dgn Popor senjata, rotan, ditendang sepatu. Menurut Alfares kami "kami dipukul tdk seperti manusia. Tubuh kami penuh dgn darah. Jadi Ditengah mlm dokter dr kepolisian masuk kasi mandi, membersihkan darah dan luka. Dokter paksa kami ganti pakain baru utk hilangkan barang bukti. Kami dipukul dari kaki sampai kepala. Semua badan dipukul. Kepala kami bocor. Saya (Alfares kapisa) rasa tulang rusuk patah dan kawan Yali Wenda telinganya sobek dengan 3 jahitan. Sekarang kami stenga mati duduk. Makan juga agak susah. Badan saya masih gementar." inilah testimoni Alfares Kapisa. 5 menit lalu. Mhn advokasi. 

Mlm rekan's: Dua mahasiswa Uncen yng ditangkap kemarin sudah bebas. Skrng sdng di rawat di RS. Dian Harapan. Teman2 wartawan yng mau ambil foto atau wawancara bisa segera merapat. Teruskan. suarapapua.com, (AN)

Post a Comment

Powered by Blogger.