Halloween party ideas 2015

foto Google; ilustrasi penindasan sistem Kapitalis.list

Oleh : Wilson Nawipa

Pandangan era globalisasi ini telah merangkul keberpihakan akan teritori sumber daya alam yang selayaknya tidak dipandang sebelah mata oleh penguasa nusantara maupun internasional terhadap  hak kepemilikan dan kepuasan di atas teritori masyarakat adat Papua. Setelah sebelunya mulai berteguh pada demokrasi perekonomian di tangan kanan masyarakat adat Papua, namun setelah Papua dianeksasi kedalam bingkai Kolonial Indonesia  sehingga kepentingan sepihak mulai bertumbuh hingga sampai saat ini. Dalam hal ini dengan kehadiran perusahaan-perusahaan kapitalis yang membumi hanguskan hingga OAP mati di atas lumpuran SDA.

 Penarikan keidealisan perangkat perekonomian masyarakat dilema dengan keahlian perekonomian milik kapital yang bernuansa ekonomi politik dimana berkesinambungan dengan perkembangan era klasik ke era modern. Dengan adanya kepentingan ekonomi politik di atas teritori West Papua, kolonial (Indonesia) dan Imperialis (Amerika) menjadi dalang kejahatan terbesar  terhadap manusia di atas Bumi Papua melalui TNI/PORLI material maupun nonmaterial.

Pengadaan implikasi kolonial secara sistematik melalui penyaluran yang sedang terjadi seperti dana Otsus, Respek, UP4B, dan sebagainya dengan tujuan utama pada esensinya mematikan karakter perekonomian masyarakat adat Papua. Bila melihat kembali realistis hidup rakyat Papua yang dahulunya bisa mengatur perekonomiannya dengan cara bercocok tanam, Namun setelah tercipta ketegantungan, dapat menarik kesimpulan bahwa pergeseran terhadap perekonomian masyarakat adat  sedang terjadi.

Untuk mengatasi implikasi Kolonial maupun Imperialisme dapat kita menarik beberapa poin, sebagai berikut:

1.    Nilai Kesadaran Masyarakat Adat Papua

Setiap orang mempunyai dua sifat diantaranya keinginan untuk maju dan menahan diri. Sifat mana yang kita tanamkan dan konsentrasikan dan menentukan keinginan kita nanti. Kedua sifat itu bersaing untuk memegang kendali. Hanya kemauan dan komitmen yang menjawab masalah ini, seseorang dengan kemauan keras akan mengubah semua perjuangannya dan mengalami keajaiban. kita bisa menjadi orang yang berarti untuk orang lain jika punya kemauan untuk menkonsentari pada sifat apa yang kita tentukan, karena kemauan itu punya solusi untuk mencari jalan untuk mewujudkannya.

Kebiasaan adalah masalah mempelajari.  Kita pernah mendengarkan orang mengatakan, orang ini ikut gaya orang tuanya, orang ini begini begitu, namun tidak ada bukti atas hal itu, faktanya seseorang bisa mengubah kebiasaannya setelah kita mengetahui dan menyadari perkembangan politik yang sedang dimainkan oleh kaki tangan dengan implikasi Kolonialis dan Imprealis terhadap masyarakat adat hingga sampai saat ini, karena masyarakat dalam kehidupan keseharian yang tidak berguna karena terpesona dengan penyaluran dana  kolonial (Indonesia) yang dimainkan oleh kaum kapitalis.

2.    Mengambil Tindakan Melawan Implikasi Kolonialis dan Imperialis
Belakangan ini banyak masalah yang harus kita akhiri, masyarakat adat Papua telah diperhadapkan dengan kaum kolonialis dan imprealis yang sedang berekploitasi dengan kepentingannya masing-masing dengan satu tujuannya yang sama yaitu menjadi dalang kejahatan sekaligus memeras perekonomian yang ada diatas tanah papua, sebagaimana bermula pada tahun 1967 sampai saat ini  (2015).

Pada prinsipnya kita tdak dapat menolak penindasan, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya yang mana jadi tujuan utamanya. Sebab semua itu telah mewarnai kehidupan orang Papua. Karena hal-hal tersebut diatas adalah aksi nyata demi meloloskan kepentingan yang esensial kaum kalitalis dan penguasa, melalui kaki tangannya kaum kapitalis yaitu TNI/PORLI. Yang mana sering dilakukan secara tak manusiawi terhadap masyarakat adat hingga nyawa orang papua tidak ada nilainya di mata mereka.

 Melihat situasi seperti itu kita harus melakoni semuanya itu membuat aksi-aksi nyata dengan menolak segala bentuk implikasi yang dilakukan oleh kaum kapitalis seperti menjadikan segala bentuk penyaluran dari negara ke masyarakat adat papua sebagai suatu kebutuhan sekunder bukan menjadikan kebutuhan primer karena  semuanya yang dilakukan oleh kaum kapitalis adalah tindakan-tindakan nyata yang hal mengalikan perhatian rakyat.

Penulis adalah Mahasiswa tinggal di kota Malang, Ketua AMP Komite Kota Malang

Post a Comment

Powered by Blogger.