Halloween party ideas 2015

foto bersama seusai diskusi
Semarang-- Sesuai seruan aksi nasional AMP terkait pelaksanaan pepera yang tidak demokratis, Putri-putri Papua di semarang gelar diskusi bersama, dengan temah “Pepera 1969 Tidak Demokratis!!! Hak Menentukan Nasib Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua Barat”, bertempat di Kontrakan Putri Mogee,  minggu 09/08/2015.

Diskusi dibuka dengan nyanyian lagu Disana Pulauku, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan bersama, di koordinir oleh Merry Butu. Menurut mereka, pepera 1969 tidak sesuai dengan prosedur.

“PEPERA yang dilakukan pada 14 Juli-2 Agustus 1969 dinyatakan bahwa tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Maka NKRI adalah Negara yang munafik dan tidak adil.” Dituliskan dalam press release yang di kirim melalui media social AMP.

Mereka menyatakan juga dalam prakteknya Indonesia telah memobilisasi Militer secara besar-besaran ke Papua untuk meredam gerakan pro merdeka Rakyat Papua.

Lanjut Idha Kedeikoto dan kawan-kawannya, “Katanya NKRI itu Negara Hukum. Nyatanya, Negara pemusnaan bangsa Papua, Melanesia. NKRI sangat kejam dan tidak punya perasaan kemanusiaan.”

Hak memilih dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat telah di bungkam dengan berbagai cara di seluruh tanah papua. “Sebenarya Kau (NKRI) tidak mempunyai hak untuk mengijinkan Negara Imperialis masuk beroperasi di atas tanah papua dan terus membunuh orang Papua.” Lanjutnya.

Penarikan kesimpulan dari diskusi tersebut, perempuan papua harus berada di garis terdepan dalam perlawanan pembebasan Papua Barat.

“Memperkuat persatuan dan kekompakan suara Perempuan Papua dalam berjuang melawan penjajah sampai freedom West.” Dalam kesimpulannya.

Aksi tersebut dilaksanakan pada pukul 10:40 waktu kolonial dan di akhiri dengan doa penutup pada pukul 12:47 wc. (Jhe-G)

Post a Comment

Powered by Blogger.