Halloween party ideas 2015

Ilustrasi Siswa SD di West Papua (foto. google)
Dimensi lain tentang mitos konsientitasi baik oleh kellompok yang lebih koopratif ataupun kelompok naïf adalah usah mereka untuk mengubah masalah pendidikan menjadi masalah metodologi semata, dengan menganggap metode sebagai suatu yang netral.ini akan mrnghilangkan atau pura-pura menghilangkan seluruh dimensia politik dalam pendidikan, sehingga istilah pendidikan untuk kebebasan menjadi tidak berarti apa-apa.

Sebenarnya, sepanjang pendidikan dibatasi hanya pada metode dan teknik pengajaran bagi anak didik, sedangkan guru dalam mencermati realitas social jika mereka benar-benar mau melakukannya tidak lebih dari sekedar dengan mengunakan proyektor dan kecanggihan sarana teknologi lainnya yang tawarkan sesuatau kepada perseta didik yang berasal dari latar belakang apapun.Namun, sebagai sebuah praksisi sosial, pendidikan berupaya memberikan bantukan untuk membebasakan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindas yang mencekikmereka. Oleh karenanya, ia merupakan pendidikan politik, sebagaimana pendidikan lain bahkan yang mengklaim diri bersifat netral, meski sebenarnya merupakan budak dari elit kekuasaan. Jadi pendidikan politik hanya bisa diterapkan secara sistematis, jika masyarakat sudah mengalami transpormasi atau perubahan yang radikal. Hanya orang yang tidak tahu yang mengira bahwa elit kekuasaan akan mendorong terlaksananya suatu jenis pendidikan yang mengejek mereka secara lebih jalas daripada segala kontradiksi yang ada dalamstruktur kekuasaan. Pandangan naïf semacam ini juga memunculkan sikap yang meremehkan kemampuan dan keberanian kaum elit yang justru sangat berbahaya. Pendidikan yang benar-benar membebaskan hanya bisa diterapkan di luar sistem kehidupan yang sekarang ada, dan dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati oleh mereka yang sanggup menghilangkan pandangan naifnya dan mempunyai komitmen untuk benar-benar melakukan pembebasan.

Orang Papua yang makin kurang di West Papua dalam berpendidikan  Pembebasan harus menetukan sikap : apakah mengubah pandangan naïf mereka lebih kooperatif dan dengan sadar bergabung dengan ideologi  yang dominan, atau bergabung dengan kaum tertindas dan dengan penuh dedikasi bersama mereka mencari kebebasan yang sesungguhnya.Seandainya mereka meninggalkan kepatuhan kepada kelompok yang dominan, metode belajar mereka yang baru beserta masyarakat sebagai peserta didik akan menimbulkan tantangan tersendiri; dalam usah ini mereka ketahui.

Selama belajar dengan metode yang baru ini, banyak orang Papua cepat menyadari bahwa dulunya ketika mereka melakukan aksi-aksi artifisial baik social maupun relijius (misalnya, memegan erat pepatah kuno yang mengatakan, “ Keluarga yang di dunia melakukan ibada secara bersama-sama, kelak juga akan tinggal bersama-sama di akhirat”) masih di hargai karna nilai Kristen mereka. Namun sekarang mereka mulai menyadari bahwa keluarga yang taat beribadah memerlukan rumah, pekerjaan, pangan, sandang, kesehatan juga kesehatan bagi anak-anak mereka, bahwa mereka perlu medis untuk mengekspresikan diri dan mereka perlu membangun dan melukis dunia, bahwa raga, jiwa dan harga diri mereka harus diharga, jika mereka mau hidup tanpa penderitaan dan duka. Ketika mereka mulai mengetahui semua ini, mereka akan menyadari bahwa keyakinan mereka dipertanyakan oleh orang-orang yang menginginkan kekuasaan politik, ekonomi dan kekuatan relijius untuk membangun kesadara manusia lain.

Karena metode belajar yang baru ini mulai bisa lebih menjelaskan situasi dramatis di mana mereka tinggal, dan menyebabkan mereka melakukan aksi-aksi yang tidak lagi paternalistik, akhrinya mereka terkesan kejam. Padahal sebelumnya mereka dicela, karena menjadi budak kekuatan jahan Internasional yang mengancam peradaban orang Papua, sebuah peradaban yang dalam kenyataan tidak dipedulikan oleh orang Papua itu sendiri.

Melalui praktik pendidikan yang baru ini, mereka menemukan bahwa kesucian yang mereka pertahankan selama ini,  tidak sedikit pun bentuk kejujuran. Namun, banyak orang yang merasa takut untuk mengakuinya; mereka kehilangan keberanian menghadapi resiko yang pasti ada,  ketika mereka patuh kepada suatu komitmen historis. Akhirnya mereka kembali kepada ilusi idealistik, tetapi dalam kapasitasnya sebagai anggota kelompok yang lebih kooperatif.

Mereka  perlu pengakuan atas semua itu. Oleh karena itu, mereka mengklaim bahwa massa, yang tak berpendidikan dan tidak berkemampuan, harus dilindungi arag tidak kehilangan kepercayaan mereka kepada Tuhan, yang sangat indah, nikmati dan membawa perbaikan; mereka harus dilindungi dari kejahatan subversife orang Kristen yang kagum terhadap Revolusi Kebudayaan di Cina dan Kuba. Mereka siap membelah tanah air mereka demi kepentingan anak-anak cucu mereka di kemudia hari. Demikian Budaya, Agama dan cinta tanah air menjadi no satu bagi mereka.

Kebanyakan kaum mudah di West Papua ini mayadari betul bahwa masalah yang mendasar di Wets Papua bukan terletak pada kemalasan masyarakatnya, atau inferioritas mereka,  atau tingkat pendidikan mereka yang rendah,  namun masalahnya adalah karna penjajah. Dan mereka tahu bahwa penjajah ini bukan sebua abstraksi ataupun slogan, tetapi sebuah realitas yang nyata, suatu keadaan yang menjajah dan merusak. Sebelum masalah ini dapat di pecahkan, West Papua dan Negara-negara ketiga di dunia tidak bisa berkembang. Mereka hanya bisa melakukan proses modernisasi, bukan pembebasan. Tanpa pembebasan, tidak akan ada pembangunan masyarakay West Papua yang sesungguhnya0.


Penulis adalah Wenas Kobogau Anggota AMP KK Bandung
-----------------------------------------

Pustaka:

Buku Paulo Freire Politik Pendidikan: Kebudayaan.Kekuasaan dan Pembebasan (hal.208-212)

Post a Comment

Powered by Blogger.