Halloween party ideas 2015


Penulis: Maikel Pigai*

“Mengapa orang asli papua hidupnya bergantung dan terus bergantung?” Begitu pertanyaan seorang kawan saya ketika berjumpa di suatu kesempatan.

“Hhmmmm,” 

“Semua tersistem yang dikendalikan oleh penguasa kapitalis.” Hanya itu jawaban saya.

Ketergantungan

Pertanyaan ini memang sulit sekali untuk kita jawab secara kasat mata. Apa lagi sebagai pemula, ketika menganalisis persoalan yang ada. Tetapi setidaknya saya akan memberikan sedikit pandangan tentang dampak ketergantungan ekonomi borjuis di Papua.

Lingkungan masyarakat Papua, secara khusus terkait dengan dampak dan akibat dari ketegantungan oleh ekonomi kapitalis yang bergulir secara transparan dan dinamis. Memang tak semudah itu kita menganalisanya. Setelah mempelajari sedikit demi sedikit, salah satu masalah utama kita orang Papua akibat terciptanya ketetantungan adalah adanya Otonomi Kusus (Otsus) bagi Papua.

Dengan masuknya Otsus sesudah reformasi 1998 di Indonesia, masyarakat kita semakin hari dimanjakan oleh penguasaan kapitalis di Indonesia.
Bagaimana tidak?

Salah satu dampak dan akibat yang sedang terjadi adalah mulai tersingkirnya cara hidup dan pandangan hidup kita yang lama (budaya), yang dahulunya dipraktekan dan dilakukan oleh orang tua-tua kita dulu menjadi kehidupan dimana kita diperhadapkan dengan sistem yang begitu luar biasa hebat (membunuh).

Orang tua kita dulu, untuk menghasilkan sistem ekonomi dalam sistem kesukuan, pastinya membuat sebuah usaha dalam masyarakat. Misal, kebun, pelihara ternak, dan lain-lainnya yang mampu membangkitkan ekonomi dalam masyarakat itu.

Tetapi paska masuknya Otsus di Papua, semakin hari semakin banyak uang yang beredar dalam masyarakat kita. Diperparah dalam tubuh pemerintah daerah kita sendiri.

Akibat paling fatal adalah orang asli Papua menjadi konsumerisme tertinggi di Indonesia (apa lagi di Papua?).

Disamping itu, pada tubuh pemerintah daerah kita sendiri atau sistem borjuis-borjuis lokal, malah membenarkan siasat itu terjadi.

Ketergantungan itu pun mengerucut juga pada tingkatatan kita mahasiswa. Setidaknya kita mahasiswa Papua se- Jawa dan Bali.

Yang rillnya adalah ketika bantuan-bantuan dana dari pemerintah yang hampir setiap tahunnya di salurkan. Semakin berjalannya waktu, kita yang intelektual sendiri diciptakan ketergantungan yang begitu fatal. Akibatnya penguasaan dan kesadaran akan persoalan, kesadaran akan ekonomi bersama, yang juga pernah dilakukan oleh orang tuah kita dulu semua luntur ditelan sistem kapitalis ini.

Alternatif dan Tawaran Pemikiran!


Saya sebenarnya masih awam. Tidak begitu pahami secara mendalam. Tetapi tawaran pemikiran ini mudah-mudahan bisa diterima oleh kita orang Papua, terlebihnya mahasiswa Papua.

Pertama, membuat sebuah planing yang mampu merangkul semua golongan mahasiswa Papua. Entah dari gunung hingga pantai dan bagaimana kita membicarakan dan mendiskusikan sistem kapitalisme yan sedang menghancurkan Papua.

Kedua, dengan melihat persoalan yang kompleks di masyarakat kita, kita sebagai generasi muda penting untuk memahami, bagaimana membentuk seseorang atau kelompok yang revolusioner dan progresif. Minimal mampu menanggal sistem-sistem tersebut.

Ketiga, Sitem feodal dan sistem komunal yang terbawa hingga tingkatan mahasiswa kita, penting untuk membuka ruang, bagaimana memikirkan langkah menuju masyarakat yang sosialisme. Sosialisme dalam hal ini adalah menciptakan sistem kekerabatan dan penguasaan ekonomi yang berputar hanya di lingkungan mahasiswa Papua saja, minimal. 

Keempat, dari berbagai suku yang ada di Papua, lebih khusus di tingkatan mahasiswa, penting untuk didiskusikan lagi, bagaimana mengkritisi sistem kinerja para borjuis lokal yang menyalurkan dana kepada mahasiswa, dan mencari alternatif untuk membangun sebuah pemahaman baru tentang pembagian dana tersebut. Karena ini kita sudah melampaui batas-batas perbudakan yang sedang digantungkan nasib kita kepada pusat dalam hal ini Jakarta.

Kelima, untuk menghancurkan sistem ini memang tidaklah mudah, penting sekali untuk kita mendiskusikan terus-menerus bagaimana membongkar para borjuis-borjuis kecil di tingkatan mahasiswa. Minimal lewat diskusi terbuka dan biasa.

Penulis adalah  aktivis AMP Komite Kota Yogyakarta

Post a Comment

Powered by Blogger.