Halloween party ideas 2015

Gambar diambil dari koranpembebasan.org

Penulis: Jefry Wenda *

Sebuah pertanyaan dari seorang kawan (segaja tidak saya disebutkan namanya) sekaligus isi hati yang disampaikan, tentu masih banyak orang pendatang (non-Papua), yang bertanya-tanya, namun belum terjawab. Saya kira ini sekalian menjadi jawaban untuk orang pendatang yang lama hidup di Papua. Walaupun jawaban ini tidak berbasis kajian teorotik.

Beberapa bulan lalu, tepat di sebuah kedai kopi, pukul 19.00 WIB. Tak sengaja jumpa teman masa kecil lahir hingga besardi Wamena, Jayawijaya. Kawan ini orang non Papua. Berhubung lama tak perna jumpa, kami menghabiskan beberapa waktu untuk ngobrol sambil ngopi, panjang lebar kita bercerita tentang masa-masa kecil. Sedikit perkenalan tentang kawan saya, ayahnya adalah adalah guru, sudah 40 tahun orang tuanya hidup mengabdi di Papua dan tak perna pulang ke kampung halamnya. Alasannya singkat, hanya karena tanahnya telah hilang dirampas kepentingan (kaum borjuasi) Negara, dan hampir semua saudara kandungnya lahir di Papua, tapi sayang, semua telah meniggal dunia. Saat ini hanya tersisa kawan saya, pekerjaannya adalah PNS dan masih pengaguran bersama ayahnya yang masih aktif mengajar sebagai guru.

Saat jumpa, kami juga membahas sedikit situasi di Papua, terlebih khusus, terkait situasi politik, pertahanan keamanan dan berbagai macam pelanggaran HAM di Papua. Banyak hal dan informasi baru yang saya dapat berhubung kawan sehabis keluar dari Papua. Setelah panjang lebar kami bercerita, kawan saya degan nada yang rendah, penuh keraguan, mendesak, memintaku untuk menjawab pertanyaannya.

Berikut pertanyaanya. Pertama: kawan, apakah ketika Papua merdeka, saya orang pendatang akan dipulangkan kembali ke tempat asal saya atau bagimana?; kedua: melihat situasi Papua dari sejak kecil dulu hingga saya dewasa saat ini saya, kadang sakit hati, sedih, kecewa, juga sangat tidak senang dan benci, betapa kejamnya Negara ini dengan tindakan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan terhadap rakyat Papua. Tapi saya bingung kawan, apa yang bisa saya buat untuk rakyat Papua yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Saya hanya terkurung dalam ketakutan ketika saya mengambil sikap.

Dari pertanyaan tersebut, menurut saya, pertanyaan ini baru saja muncul (mendengar) di telinga saya. Awalnya, pertanyaan tersebut tidak pernah saya dengar dari setiap bibir manusia, namun, jauh sebelumnya pertanyaan-pertanyaan itu sudah ada dalam otak kiri saya. Tentu saja, dalam setiap pikiran orang pendatang yang telah berpuluhan tahun hidup di papua akan bertanya-tanya, apa yang akan terjadi dan bagimana nantinya, jika Papua itu merdeka? Dan bagaimana pendapat anda terkait nasib orang pendatang yang telah kawan silang dengan orang asli Papua?

Walaupun pertanyaan ini penting untuk kita jawab secara bersama, dengan mengkaji secara ilmia sesuasi situasi objektif hari ini di Papua, sehingga kedepannya tidak menimbulkan diskriminasi rasial antara sesama manusia.

Berikut jawaban yang saya sampaikan degan spontan bahwa, rakyat Papua hari ini masih dan sedang berjuang dari dulu hingga sekarang, walaupun secara historis, perjuagan rakyat Papua adalah menuntut pengakuan terhadap dunia dan penjajah baru kolonial Indonesia bahwa Papua adalah satu bangsa (Nation) yang telah dideklarasikan pada 1 Desember 1961, degan nama negara West Papua, semboyan One People One Soul, simbol negara Burung Mambruk, Lagu kebagsaan Hai Tanahku Papua dan teritori dari Sorong sampai Merauke.

Sekalipun dalam catatan sejarah perjuangan rakyat Papua mengatakan demikian, namum seiring berjalanya waktu perjuangan rakyat Papua hari sudah tentu akan ada perubahan-perubahan didalamnya, karena dalam perkembangannya kolonialisme dan imperialisme itu masih terus bercokol dan terus berkembang di Papua, tidak menutupi kemungkinan bahwa masyarakat papua dan masyarakat pendatang akan terus berkembang. Sehingga untuk perjuangan pembebasan nasional akan berubah tanpa ada batasan dengan mencari indentitas atau jati dirnya sebagai bangsa Papua, hal ini tentu akan disebut (nasionalis rasial). Perkembangan perjuangan rakyat Papua yang mendasar adalah tututan perjuangan rakyat Papua hari ini, dengan menuntut hak penentuan nasib sendiri Sebagai sebuah bangsa.

Berawal dari perubahan-perubahan tadi, sehingga perjuangan rakyat Papua bukan perjuangan hitam melawan sawo matang, bukan suatu perjuangan warna kulit atau ras, tetapi suatu perjuangan untuk melenyapkan sistem tua dan lama, digantikan suatu sistem yang baru, dan menghilangkan penghisapan dan dominasi sekelompok kecil orang terhadap sebagian besar rakyat Papua. Absah saja, bahwa kita memiliki perbedaan fisik, ras, budaya, agama dan yang lain-lain, tapi itu bukanlah hal yang mendasar bagi perjuangan pembebasan nasional Papua hari ini. Perrbedaan-perbedaan ini akan mudah menjadi legitimasi bagi kaum borjuasi komperador untuk mengadu domba antara sesama rakyat teritindas, di tamba lagi dengan semboyan yang selalu digunakan militer, NKRI Harga Mati, atau nasionalisme sempit yang terus melegalkan pembunuhan, pembantaian, penyiksaan. Dan yang paling nyata juga Organisasi Masyarakat (Ormas) reaksioner: Bara Merah putih Papua [BPM], Pemuda Pancasila dan yang dibentuk oleh aparatur Negara untuk membendung perjuangan demokratik rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri.

Sudah tentu, hari ini rakyat Papua berjuang mencari kebebasan yang sejati, bebas dari segala bentuk penindasan dan pengisapan manusia terhadap manusia, bebas dari penjajahan, bebas dari segala bentuk eksploitasi korporasi negara-negara imperialis. Jika memang rakyat pendatang merasa bahwa bagian dari bangsa atau bagian yang tak terpisahkan dari rakyat Papua, yang telah lama mengalami penindasan dan pegisapan yang sama, apa salahnya kita berjuang secara bersama? Dengan menentukan nasib sendiri sebagai sebuah bagsa Papua, apapun resikonya kita tangung secara bersama!

Dari perubahan-perubahan di atas, dengan perkembagan ditegah hegemoni kolonial dan militernya yang semakin kuat dipapua maka, kita yang merupakan bagian dari korban eksploitasi, klas tertindas, tidak punya satu alasan dengan mendegar argumentasi apapun yang hanya mengutungkan klas penguasa, untuk itu, perjuangan pembebasan nasional Papua tidak hanya di perjuangkan oleh orang asli papua toh. Kita harus memperjuangkan secara bersama, karena persatuan itu selativ dan perjuangn itu mutlak.

Salam Pembebasan.....!

Penulis adalah Pimpinan Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua [KP-AMP]

_____________________

Catatan ini diambil dari dinding Facebook pribadinya, 09 Oktober 2016.

Post a Comment

Powered by Blogger.