Halloween party ideas 2015

Papoea Vrijwilligers Korps (PVK) di Markasnya di Manokwari

Oleh: Jhon Gobai

Kitorang hanya ingin merdeka saja. Bukan yang lain-lain. Merdeka saja. Kitorang tra butuh yang lain-lain” teriak salah satu masa aksi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Jayapura pada 14 November 2011 .[1]

(Bagian I: Pengantar)

Jauh sebelum evolusi nasionalisme bangkit, gerakan-gerakan masa (gerakan modern) yang di motori oleh kaum cendekiawan di Papua di dorong oleh sebuah kesamaan yang sama-sama merasakan penindasan paska kedatangan bangsa asing.

Kelompok masyarakat etnik yang secara kesamaan jasmani dari turun temurun secara hukum genetik dan nilai religiusnya diwariskan oleh moyang, mereka tergolong dalam masyarakat etnobiologi[2]yang memiliki ciri primordialismenya sangat kental dan kuat.

Sebelum kedatangan bangsa asing, pulau ini sudah dihuni oleh manusia yang terpisah-pisah dari kelompok kumpulan marga-marga (klan) dan lebih menyebar luas lagi suku-suku[3]dalam satu etnis satu etnis yaitu Melanesia.

Sistem kepemilikan tanah dan batas-batasnya masih mengikuti marga yang bersifat pribadi (dalam konteks kepemilikan) tetapi sangat kolektif dalam kehidupan mencari nafka: berburu atau meramu sangat tradisional. Dan  keharmonisan hidup rukun terlihat majemuk dalam menjaga kepemilikan setiap induvidu dan sangsi-sangsi terhadap nilai religius dan norma masyarakat adat yang diturunkan oleh moyang.

Di atas itu setiap suku atau kumpulan klan ini pun, struktur sosial adat dan batas kepemilikan tanahnya  sangat jelas. Patriarkinya terlihat teratur berdasar klan, suku, yang menjadi temurun ke pemilikan tanah.

Kesetaraan sosial masyarat adat pada hak-hak dasar manusia pun di junjung tinggi. Hal itu terlihat ketika terjadi persoalan dan permasalahan sosial masyarakatnya. Proses penyelesaian dan pengambilan keputusan, perempuandiperbolehkan untuk berbicara, mengungkapkan atau pun mengusulkan pikirannya yang tentu akan mengemukanan jalan keluar. Lalu secara bijak disimpulkan oleh seorang bijaksana atau kepala adat (kepala suku atau ondoafi).

Setiap suku dan marga punya cerita (mite) tentang asal-usul manusianya sendiri-sendiri dan kepercayaan manusia soal keberadaannya bahwa segala alam, tanah, hutan, air tempat dimana mereka berada adalah diberikan dan harta yang diwariskan oleh moyang (lelurur mereka). Akumulasi primitf (saat itu) tak hanya sebatas tanah adalah alat produksi. Lebih dari itu adalah inherensi manusia dan lingkungan alam sekitarnya sangat interaktif.

Prasangka-prangka keberadaan masyarakat ini beranggapan orang pendatang yang beda etnis adalah pengganggu bagi alam sekitar dan kelompok etnis tadi, maka musuh yang harus di lawan (bukan konteks rasis karena sebelum mengenal bangsa luar). Dan hal itu terjadi pasca kedatangan bangsa asing diPapua.

Kedatangan bangsa asing dengan semangat Tiga G: Emas (Gold), Kepercayaan (Glory) dan Kejayaan (Gospel) yang menimbulkan kontradiksi-kontradiksi yang bergejolak pada bangkitnya gerakan-gerakan perlawan yang di dorong oleh sebuah perasaan perbedaan etnis. Pertama kali terjadi aksi serangan terhadap Belanda di Teluk Triton pada tahun 1835.

Pergolakan perlawanan rakyat Papua terhadap bangsa asing bergejolak di berbagai daerah (tempat)[4]di seluruh dataran pulau Papua: Teluk Triton, Kepulauan Raja Ampat, Pulau Waigeo, Desa Kabilol, Batanta, Teluk Bintuni, Insubaki Biak, Kayu Hujau, Teluk Arguni, Gresi, Manokwari, Sausapor, Jayapura, Biak, dan Serui, Pam, Jayapura, serta gerakan Wegebagee di Paniai.

Pergolakan ini berlangsung dalam kurung waktu yang panjang dari tahun 1835 sampai 1943.

***
Gerakan perlawanan modern yang tidak lagi mengandalkan perjuangan kelompok etnis lebih kepada perjuangan bangsa/negara disebabkan oleh suatu penanaman kesadaran ideologi nasionalisme Papua oleh J. P. Van Eechoud, seorang Residen Belanda yang pernah mendirikan sebuah sekolah Pamong Pradja di Holandia (kini Jayapura)[5]. Dari sekolah inilah kemudian menghasilkan politisi-politisi Papua yang menjadi penentang bagi Belanda dan Indonesia. Dari politisi ini kemudian menyebarkan ideologi nasionalisme ke seluruh rakyat Papua, mulai dari Jayapura dan Manokwari. Dan pada 1 Desember 1961 ditetapkan sebagai hari kemerdekaan West Papua.[6]

Gejolak gerakan perlawanan di fase modern bermunculan sejak Papua dianeksasi ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik (NKRI) pada 1 Mei 1963 dan dilegalkan tindakan kolonisasi melalui proses Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969[7].

Muncul gerakan pro kemerdekaan yang kenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang bangkit dan bermunculan dari tahun 1965 adalah Proklamasi Kemerdekaan West Papua di Victoria pada 1 Juli 1971, gerakan tokak hasil Pepera 1969, gerakan Bintang 14 oleh Dr. Thomas Wanggai, Arnold Ap dan kawan-kawannya dalam group music Mambesak. Hingga pada masa transisi dan sesudah Orde Baru, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Garda-P, Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Parlemen Nasional West Papua (PNWP) hingga United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang mewadahi seluruh gerakan-gerakan pro kemerdekaan di Papua. Juga ada lebih dari 40 gerakan pro kemerdekaan Papua Barat yang tak disebutkan satu per satu. Sejatinya bahwa muncul dengan kesadaran akan perlawanan timbul karena sejarah 1 Desember 1961 yang digagalkan oleh peristiwa Trikora pada 19 Desember 1961 oleh Indonesia (baca: pemerintah).

***
Banyak cara dan upaya yang Indonesia telah lakukan untuk membujuk, melemahkan, bahkan mencoba mematikan gerakan pembebasan Papua Barat. Cara-cara itu dengan tipu daya hegemoni kolonial, namun mengalami kegagalan.

Sekarang pertanyaannya, mengapa gerakan rakyat Papua sulit dihentikan?

Gerakan-gerakan rakyat Papua saat ini tak lagi memikirkan kepentingan satu kelompok entis. Perjuangan yang merujuk pada sebuah bangsa/negara bertolak dari sejarah yang beranggapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang telah merdeka secara politik, budaya, serta bermartabat, telah di hancurkan dengan tipu daya Belanda, Amerika Serikat dan Indonesia atas kepentingan ekonomi politik pasca berakhirnya Perang Dunia ke-II.

Bagaimana kekecewaan orang Papua ketika tak dilibatkan dalam pembahasan Persetujuan New York (New York Agreement) dan persetujuan Roma (Roma Agreement) pada tahun 1962 yang pada akhirnya di sepakati sepihak secara mekanisme dan tak prosedural. Bagaimana kekecewaan orang Papua dengan perolehan suara Pepera yang diwakili oleh segelintir orang dan mendapatkan hasil perolehan manipulatif dibawah tekanan militeristik. Juga, disahkannya Undang-Undang Minerba dan disepakati masuknya perusahaan raksasa milik Amerika Serikat (AS), PT Freeport pada tahun 1967 sebelum dilaksanakan Pepera 1969.

Dalam benak orang Papua, sejak awal Indonesia sudah salah. Datang dengan wajah pencuri atau begal istilah orang Jawa.

Apa pun tindakan yang mengindonesiakan orang Papua, sepertinya itu sudah terlambat. Sebab sejarah terpenting yang sulit dilupakan orang Papua adalah kemerdekaan West Papua pada 1 Desember 1961, Trikora pada 19 Desember 1961, New York Agreement pada tahun 1962, Aneksasi Papua ke Indonesia pada 01 Mei 1963, dan Pepera pada tahun 1969. Bahwasannya kedatangan Indonesia dengan kepentingan, bukan untuk menyelamatkan manusia Papua. Seperti kata Ali Moertopo (kader Pater Joop Beek, SJ yang juga mempunyai hubungan dengan CIA) bahwa, “Indonesia tidak menginginkan orang Papua, Indonesia hanya menginginkan tanah dan sumber daya alam yang terdapat di dalam pulau Papua. Kalau orang Papua ingin merdeka, silahkan cari pulau lain di Pasifik untuk merdeka. Atau meminta orang Amerika untuk menyediakan tempat di bulan untuk orang-orang Papua menempati di sana,”.[8]Dan itu terbukti dengan tindakan kolonisasi yang terjadi sampai saat ini[9]. Sebut saja, monopoli, eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam, pendekatan militeristik, meningkatnya pelanggaran HAM, segalah macam rangkaian operasi militer yang terlihat dan tak terlihat, dan lainnya.

Maka, sampai kapan pun dan bagaimana pun tindakan Indonesia, nasionalisme orang Papua tetap akan sulit untuk dihentikan. Kecuali hak untuk menentukan nasib sendiri itu terwujud bagi rakyat Papua. 

***



[2]Etnobiologi berasal dari kata Etnologi yaitu pengetahuan tentang etnis, suku, atau masyarakat lokal serta budaya yang ada pada masyarakat tersebut, dan Biologi yaitu pengetahuan tentang hidup dan organisme hidup. Etnobiologi diartikan sebagai pengetahuan studi tentang bagaimana interaksi masyarakat tertentu (etnis) pada seluruh aspek lingkungan alami. 
[3] Lorimer. D, Pokok-pokok Materialisme Histori, Yogyakarta: Bintang Nusantara, 2006. Hal 299
[4]Natalius Pigai, Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik Rakyat Papua, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000, hal. 135-142
[6]Socratez Yoman, Pemusnahan Etnis Melanesia, Yogyakarta: Penerbit Galangpress, 2007, hal. 107.
[7]. Natalius Pigai, op. cit. hal. 285

[8] Socratez Yoman, op. cit. hal. 96.

Post a Comment

Powered by Blogger.