Halloween party ideas 2015


Advento E. Tebai (kiri), Alexander Y. Togodly ( kanan)
Atas nama Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) kami menyampaikan simpati dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada Keluarga besar Togodly dan Tebai, sahabat-sahabat yang ditinggalkan oleh mereka, dan Bangsa West Papua atas wafat Aleksander Yanto Togodly dan Advento Emanuel Tebai, pejuang revolusioner yang tidak mengenal lelah, sabar, tekun, berani, memiliki semangat juang yang kobar membara yang, telah berada dalam perjuangan Pembebasan Nasional Bangsa West Papua melawan kolonialisme Indonesia, eksploitasian kapitalisme-imperialisme, dan militerisme di West Papua.

Mengenal Yanto Togodly dan Advento Tebai


Aleksander Yanto Togodly adalah aktivis Hak Penentuan Nasip Sendiri. Tahun 2011, Togodi berangkat dari Papua ke Pulau Jawa, kota Surabaya untuk melanjutkan Pendidikan tinggi di salah satu Universitas. Ditengah aktivitas perkuliahaannya, Togodly juga aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh AMP. Semakin Ia terlibat dalam diskusi, aksi-aksi massa yang dilaksanakan oleh AMP, semangat revolusionernya semakin terasah memuncak.

Tahun 2013. Togodly Secara utuh Ia menyerahkan jiwa dan raga dalam Perjuangan Pembebasan Bangsa West Papua, melalui Pendidikan-pendidikan Progresif yang dilaksanakan oleh AMP. Sejak itu, Ia menjabat sebagai Sekertaris AMP Komite Kota Surabaya. Ia bersama Kamerad Sayur Bingga (sebagai ketua) memimpin gerakan AMP di Kota Surabaya sejak 2013—2015.

Pimpinan yang baru dikukuhkan itu, sekaligus Ia memobilisasi massa dan mempersiapkan segalah taknisi dan Perlengkapan aksi Peringati 1 Desember—Saat itu ratusan massa aksi, mahasiswa Papua dari se-Jawa dan Bali datangi kota Surabaya—tahun 2013 di Surabaya. Sejak itu kerja-kerja kamerad Yanto Togodly, singkat kata, Ia adalah sosok manusia yang tak kenal lelah. Dan hal itu merupakan penghormatan Yanto kepada Tanah, Air dan Bangsa West Papua.

Setelah masa kepemimpinannya berakhir juga (di tahun 2015) beliau banyak memberikan kontibusi dan aktif dalam kerja-kerja penyadaran, aksi massa, dan pengorganisiran Mahasiswa. Hingga awal Bulan November 2016, Ia diberangkatkan ke West Papua karena Sakit.

Kabarnya, Ia mengalami sakit pada Ginjal. Kemudian, awal Bulan November 2016 Ia diberangkatkan ke West Papua, Wamena, karena daya tahan tubuh yang semakin melemah. Disana, Ia dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena. Kendati Ia dirawat, Yanto menginggal dunia dari RSUD pada pada 02 Januari 2017.

Begitu Juga dengan Advento Emmanuel Tebai. Ia tiba di Yogyakarta sejak tahun 2010. Sejak itu, Ia pun banyak menghabiskan waktu dalam setiap aktifitas, kegiatan-kegiatan yang AMP laksanakan. Semakin kesini-kesini, Ia mengenal  siapa Penjajah dan siapa Kawan. Tahun 2013 pula Ia, secara jiwa dan raga, telah memutuskan batas antara yang sejatih dan tidak. Sejak itu pula di benar-benar berada dalam arena Perjuangan tanpa lelah, tak mengenal kompromi terhadap setiap persoalan yang (menurutnya) mengganggu aktivitas perjuangannya, juga terhadap musuh kita: sisitem yang dedang mengkoloni West Papua.

Namun, sejak tahun 2015 awal, Ia mulai mengalami sakit. Daya tahan tubuhnya semakin melemah, dan lebih banyak habiskan waktu di asrama Dogiai, Kelebengan, Sleman, D.I Yogyakarta. Dalam kondisi yang semakin menurun itu, Ia pun masih mengordinir kawannya se-asrama Dogiai-Yogyakarta. Hingga di Bulan Desember 2016, Ia harus kembali ke West Papua untuk berobat. Namun Kondisi tubuh tak mampu bertahan lamah, akhirnya pada 26 Desember 2016, Advento Tebai menutup matanya (wafat) dari kota Timika.

AMP sangat, sangat, dan sangat berduka atas Wafatnya Kamerad Berdua. Mereka adalah sosok aktivis yang tegas, sabar, dan suka senyum. Keperibadian itu juga yang membentuk cara berpikir dan tindakan mereka berdua lewat aksi-aksi masa, diskusi, dan kegiatan-kegiatan yang sering dilaksanakan AMP dalam berjuang demi hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua.

Pengabdian Total

Pengabdian total kepada tanah, air, dan Bangsa West Papua, mengutip kata Kamerad Rinto Kogoya (mantan Ketua AMP Pusat):

“Mati dan hidupnya seorang pejuang sangat berharga bagi rakyat Papua, karena itu mereka akan senantiasa hidup dalam kenyataannya. Berbeda halnya dengan penindas dan penghisap, kehidupan dan kehidupannya dibenci rakyat, kematiannya disyukuri. Hidup dan matinya selalu mendatangkan penderitaan.

Menjadi bagian dari rakyat Papua dan merasakan sungguh penderitaan rakyat Papua, terus mengabdi kepada rakyat Papua dari waktu ke waktu, maka keberanian akan lahir dengan sendirinya. Kita tidak perlu takut dan bertanya dalam hati, seperti:“seperti apa saya akan mati?” atau “apakah saya akan dilupakan begitu saja setelah mati?”. Tidak akan ada kesia-sian atau dilupakan arti pengorbanan dan kematian seseorang jika hal itu terjadi dalam tugas atau mengabdi total pada rakyat Papua. Tentunya, kita selalu menghindari tindakan gegabah yang akan menyebabkan pengorbanan yang tidak perlu atau merugikan. Tindakan yang salah bisa disebabkan oleh kurangnya analisis yang tepat berdasarkan situasi yang kongkret, sikap petualanganisme, kepanikan, dll. Di samping itu kita harus menghormati seorang martir dalam perjuangan sejati dan belajar dari pengalamannya untuk dapat meneruskan cita-citanya, siapapun dia. Tidak penting bagaimana seorang pejuang mati karena yang terpenting adalah “untuk siapa dia gugur?”. Untuk rakyat Papua ataukah untuk klas yang berkuasa. Untuk siapa dia menderita untuk rakyat Papua ataukah untuk borjuasi. Ini menjadi soal penting bagi seorang pejuang sejati rakyat Papua sampai kapanpun hingga kemenangan akhir.

Ujian dalam gerakan sejati rakyat Papua sesungguhnya adalah ketika ia menghadap kesukaran hidup, penderitaan, dan kematian. Godaan pikiran dan jalan keluar ala borjuasi dalam kerap kali datang pada saat seorang pejuang menghadapi keadaan semacam itu. Hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa, sebab kita hidup di tengah godaan, ide dan pikiran semacam itu. Akan tetapi “keluar-biasaan” seorang pejuang letaknya adalah apabila dia bisa bersatu dengan rakyat Papua karena ada kepentingan dan penderitaan rakyat Papua dalam hatinya, serta menampik seluruh pikiran dan ide borjuasi ketika menghadapi segala macam penderitaan karena alasan-alasan tersebut.”


Untuk Kita yang tersisah.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, juga atas kepergian kamerad berdua telah mengajari perjuangan pembebasan (revolusi) berkonsekwensi Kematian, kehilangan, sedih dan air mata. Kamerad-kamerad meninggal dengan damai dalam hangatnya pelukan darah Pembebasan yang hakiki. Darah Pembertontak yang masih segar. Semangat yang membara yang mereka tinggalkan, Itu yang kami punya. Dan itu yang kamerad-kamerad telah mengalirkan kepada kami yang tersisah dan akan terus mendidih pada puncaknya: Revolusi.

Sejarah Revolusi belahan dunia telah memberikan pandangan Revolusi bahwa Perjuangan butuh pengorbanan, juga perjuangan pula membutuhkan kaum revolusioner. Bila tak ada dua hal ini, Revolusi hanya ilusi. Sebab orang (dialek) Papua bilang Manusia ada, Barang Ada. 

Maka beberapa Catatan untuk kamerad-kamerad yang tersisah, Pertama, Menutip Kata Sony Dogopia (aktivis self Determination), "Hanya tak mau bersalah pada anak, cucu. Tra mau kasih tinggal beban ke yang tersisah sudah sedikit. Dan kalau memang tidak hari ini, maka setidaknya ada jalan yang kitong ukir, terus disiplin di dalam-nya, di sana ada tulang punggung yang akan sempurnahkan bersama jiwa pemberontak kita."

Kedua, Kita tidak sendiri, kini telah ada kawan kita: orang Indonesia yang telah dan sedang bersama-sama kita dalam medan perjuangan pembebasan Bangsa West Papua. Maka mari! Bebaskan diri dari nasionalisme sempit, Hegemoni kolonialisme, imperialisme, sebab hal yang paling penting dari perjuangan kita adalah kemanusiaan.

Hal ketiga, mengutip kata Kamerad Mikael Kudiai (Sekjen AMP Jogja), "Saya usulkan untuk semua mahasiswa dan aktivis Papua untuk belajar lagi dari nol. Terutama soal ilmu pengetahuan dan pematangan ideologi. ... Saya yakin seratus persen, kalau kedua senjata ini tidak ada, kita akan masuk ke lubang buaya, keluar pun juga di lubang singa."



Post a Comment

Powered by Blogger.