Halloween party ideas 2015

Ilustrasi Gambar, AMP Kibarkan Bintang Kejora di  0 km, Yogyakarta

Catatan Jejak Aliansi Mahasiswa Papua

“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri,” oleh Pdt. I.S. Kijne, Wasior-Manokwari, 25 Oktober 1925". 


Ketika informasi tentang pengibaran Bendera Bintang Kejora beredar di media sosial, tidak hanya satu dua orang yang menanggapi soal ini, tetapi diseluruh penjuru dunia pengguna media sosial, memberikan respon positif yang sama tentang bagaimana semangat kawan-kawan Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] yang mampu mengibarkan Bendera Jati Diri Bangsa West Papua. Ini menjadi alasan menarik menggugah batin bangsa West Papua.

Pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan tiga kali dalam rentetan sejarah bangsa, AMP menjadi representasi semangat mahasiswa dan masyarakat West Papua untuk menyuarakan dan menggemahkan tanah West Papua yang dikibarkan di negeri orang.

Pengibaran pertama, pada tanggal 01 Mei 2015. Pada peringatan Hari Aneksasi West Papua yang dilakukan oleh Negara kolonial Indonesia pada tanggal 01 Mei 1963. Semangat perjuangan untuk peringatan hari itu selalu dilakukan oleh AMP sebagai bentuk untuk menuntut dan mengutuk Negara Indonesia yang mengklaim sebagai hari Integrai. Tetapi yang perlu untuk ditekankan bagi rakyat Indonesia, 01 Mei adalah hari dimana Negara Indonesia dan Amerika Serikat  memainkan peran politik untuk menguasai bumi Papua yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) demi kepentingan mereka. Ini merupakan sejarah awal kelam bangsa West Papua.

Pada peringatan Hari Aneksasi tersebut, AMP Komite Kota Yogyakarta dan Solo melakukan aksi damai di Yogyakarta dengan rute akisi dari Asrama Kamasan I Yogyakarta hingga Titik Nol KM Yogyakarta. Setelah balik dari aksi tersebut, dengan semangat mahasiswa dan pelajar West Papua, dengan riang, dengan denyut dan persatuan perlawanan, Bendera Bintang Kejora pun dikibarkan hampir sekitar 10 Menit di Jalan Kusumanegara Yogyakarta. Kondisi hari itu benar-benar kondusif, ketika para Polisi tidak mengawal ketat aksi tersebut.

Kedua pengibaran Bendera pada Rabu, 20 Mei 2015. Aksi ini dilakukan tiga hari berturut-turut mulai dari tanggal 19 hingga tanggal 21 Mei dengan tuntutan utama yaitu, “West Papua Back to Family, Melanesia Spearhead Group (MSG)”. Aksi dilakukan dengan rute dari Asrama Kamasan I Yogyakarta menuju Titik Nol KM Yogyakarta.

Bendera Bintang Kejora Berkibar selama 10 menit pada saat masa aksi diarahkan untuk balik ke Asrama sambil berorasi-orasi politik. Pengibaran dilakukan tepat sama dengan pengibaran yang dilakukan pada 01 Mei 2015. Bintang Kejora dengan ukuran 1x2 meter, berkibar dengan lantang yang diiringi dengan tarian-tarian bangsa West Papua. Setelah pengibaran, masa langsung melakukan Waita (tari Mee dari Mee-pago) dan Sapusa (tari Dani dari Lapago) dengan begitu meriah.

Dan ketiga, pengibaran Bendera Bintang Kejora pada 21 Mei 2015. Aksi ini merupakan aksi tiga hari berturut-turut, yang berlanjut dari tanggal 19 Mei hingga 21 Mei 2015. aksi  ini adalah aksi yang paling menggemparkan kota Yogyakarta yang dilakukan oleh AMP Se-Jawa Tengah (Komite Kota Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Salahtiga).

Aksi dilakukan sama, dengan rute aksi Asrama Kamasan I Yogyakarta hingga Titik Nol KM. Orasi-orasi politik pun dilakukan dengan dalil-dalil semangat perlawanan mahasiswa dan pelajar melalui AMP. Masa yang hadir pada aksi tersebut tak tersendung jumlahnya, hingga masa mampu membuat jalan utama Kusumanegara hingga tempat rute aksi macet. Ribuan masa dengan berbagai suku di Papua yang terdiri dari tujuh wilayah adat besar bangsa West Papua.

Situasi hari itu benar-benar sedikit mencekam dengan ketatnya penjagaa yang dilakukan oleh Polisi, BIN, dan milter lainnya, mulai dari awal aksi hingga tempat tujuan. Setelah itu, sebelum pembacaan pernyataan sikap dimulai, masa diarahkan untuk semua bergandengan tangan, dan yang memegang poster dan spanduk diarahkan untuk berbaris dalam lingkarang masa. Beberapa menit kedepan setelah masa diarahkan untuk siap pada teriakan ‘Papua Merdeka’, Bintang Kejora pun berkibar di tengah-tengah pusat kota Yogyakarta.

Bintang Kejora berkibar mengelilingi masa aksi. Suasana hening. Merinding, tangis, terharu, menghiasi lingkaran masa aksi pada itu. Sekitar 15 Menit Bendera berkibar dengan ukuran 1x2 Meter mengelilingi masa aksi tanpa tekanan dari pihak apa pun, seakan semua yang ada pada pengibaran bendera tersebut terhipnotis untuk tidak melalukan apa-apa di titik pusat kota Yogyakarta. Setelah itu, bendera dikasih turun dan dihilangkan jejaknya.

Setelah itu masa aksi melakukan waita besar-besaran, tepat perampatan Titik Nol KM Yogyakarta, pertigaan jalan Trikora. Setelah waita, masa aksi diarahkan kembali ke asrama.

Catatan Putih Sejarah Bangsa

Sejarah baru AMP, melegitimasikan semangat perlawanan sipil mahasiswa Papua dalam merebut  Hak Penentuan Nasib Sendiri Bangsa West Papua pada periode Mei 2015. Catatan putih penting ini menjadi sejarah AMP mencatat sejarah bangsa. Dengan melihat kondisi rill saat ini di West Papua, bagaimana ruang-ruang demokrasi itu dibungkam habis-habisan dengan berbagai macam cara yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Militer Indonesia, semangat tak terelakan itu pun berakir dengan pengibaran.

Situasi yang memukau dalam kondisi tertekan, hal menarik yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana kita bisa belajar dari para tokoh-tokoh West Papua yang dengan rela mengibarkan Bendera Bintang Kejora di West Papua hingga yang berakhir dengan penangkapan hingga pembunuhan. Misal, Bapak Fillep Karma yang mengibarkan bendera Bintang Kejora di Lapangan Trikora Jayapura hingga harus dipenjara 20 tahun lamanya.

Bagi kami bangsa West Papua, sesuatu yang berarti dan yang benar-benar berarti ketika semua menatap dalam rana perjuangan, harga diri bangsa West Papua adalah ketika Sang Sampari itu berkibar.

Soal ideologi dan nasionalisme menjadi tuntutan kita ketika Bintang Kejora adalah tujuan hidup kita bangsa West Papua yang diinjak-injak oleh Negara kolonial Indonesia sampai saat ini. Dengan menutupi semua kekejaman masa lalu yang dilakukan oleh militer Indonesia.

Merenung kembali lagi, tragedi-tragedi sebelum dan sesudah Reformasi Indonesia. Rekam jejak masa lalu bangsa West Papua, bagaimana Bendera berukuran 3x6 meter dengan panjang tiang dikibarkan dengan megah di Nabire ketika zaman kejayaannya Presidium Dewan Papua (PDP), hingga berakhir dengan penembakan yang menewaaskan 3 orang asli Papua yang hanya memperjuangkan kebenaran bangsanya.

Menyimak lagi, pada tahun 1999 ketika Presiden Indonesia, Gusdur memberikan izin kepada bangsa West Papua melalui PDP untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora di Jayapura, tepat di Gedung Kesenian Jayapura. Ribuan rakyat yang hadir pada saat itu, dengan gemah yang terhanyut dalam keheningan, semua riang tangis yang bersedu-sedu, ketika melihat Bendera itu berkibar dengan lantang.

Memang benar, Bendera Bintang Kejora bukan saja soal lambang Negara kita bangsa West Papua, tetapi Bintang Kejora adalah awal dan akhir dari hidup kita, Bintang Kejora adalah kehidupan asli kita orang West Papua, dan Bintang Kejora adalah budaya, adat istiadat, filosofi, karakter, watak, dan sebagainya bagi kita bangsa West Papua rumpun Melanesia yang mendiami bumi West Papua.

Ketika simak pengibaran pertama pada 01 Mei dan 20 Mei dan 21 Mei 2015 kemarin, walau Sang Sampari itu berkibar berkisar hanya hampir beberapa menit, tetapi darah yang membekas ketika Bendera itu berkibar, semangat itu bangkit seketika. Masa yang hadir pada saat itu, tersedu-sedu dan tangis di tengah semangatnya aksi, walau merinding itu seketika muncul dari tubuh pada saat itu.
Semangat Sang Sampari adalah semangat perlawanan kita dan kejayaan kita. Catatan putih bangsa West Papua menjadi sebuah representasi utama kita bangsa West Papua untuk terus melawan Kolonialisme, Militerisme, dan Imperialisme yang berakar di Papua melalui semangat juang menuju Hak Menentukan Nasib Sendiri bangsa West Papua Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa West Papua.

Salam Pembebasan

Post a Comment

Powered by Blogger.