Halloween party ideas 2015

Gambar Ilustrasi Revolusi Mental Papua aksi OBR (One Billion Rising) Bali, Kekerasan terhadap Kaum Perempuan dan Kaum Anak saat Hari "VALENTINE DAY"

Sukacita yang sesungguhnya bagi manusia adalah saling berperilaku ramah kepada sesama, sehingga masing-masing mendapatkan kemurahan hati
By Aurelius

Hari Selasa 14 Febluary diperingati sebagai hari kasih sayang atau valentine day oleh berbagai kalangna manusia yang ada di belahan bumi, terutama untuk genersai muda sebagai hari suka cita (percitaan) dan merayakan hari ulang tahun yang lahir pada saatnya, menonton film percintaan dibioskop dan berbagai kegiatan yang menghadirkan hari suka cita untuk pandangan romtisan. Namun dalam itu, banyak saja hal-hal permasalahan yang hadir terutama terhadap kaum perempuan dan kaum anak yang mana mendapatkan deskriminasi secara brutal oleh para intimidasi atau orang yang melakukan kekerasan dari luar lingkup hidup maupun dalam lingkup kehidupan. Sehingga hadirnya OBR Bali berperan untuk menyampaikan aspirasi tentang kekerasan yang di lakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab atas dasar hukum dan aturan yang berlaku di negeri ini, terutama di Tanah West Papua, dan serta pandangan  ini di ambil secara universal merupakan hal kekerasan yang dilakukan oleh berbagai pihak yang mengintimidasikan terhadap manusia. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 16:00 hingga selelsai, di tempat Lapangan Renon Denpasar, Bali. Bersama berbagai wadah organisasi yang ada di Bali ikut mereyakan kegiatan OBR Bali yang bertanggungjawab penuh oleh LBH Bali pada Tanggal 14 Febluary 2017.

Kekerasan atas kaum perempuan dan kaum anak masih saja terjadi di tanah West Papua tanpa hukum Internasional dan Hukum Negara sebagai sebatas pandang apa yang harus dasar untuk memperhatikan secara adil dan bertanggung jawab atas tujuan melalui dasar Undang-Undang yang berlaku menjalankan system hukum yang benar, tetapi hanya membawa objek kekerasan dalam jumlah yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, seperti telah dinyatakan dalam pernyaataan sikap oleh OBR (One Bilion Rising) Bali bersama gabungan solidaritas bahwa sebanyak 2.000 Rakyat West Papua dalam tahun 2016 masih saja terjadi kekerasan, dan untuk itu, pemerintah belum pernah meperhatikan atau memecahkan persoalan yang terjadi di West Papua dimana di lakukan secara kekerasan kriminalitas tanpa memperhatikan aturan atau hukum.

Populasi manusia West Papua semakin kurang atau habis (genocide) karena kekerasan tersebut melaju terhadap kaum perempuan dan kaum anak merupakan kekerasan yang sangat pilar, artinya kekerasan tersebut datang dari berbagai aspek kehidupan mulai dari System yang mensistemkan manusia menjadi tahapan problematika yang terstruktur dalam para peguasa menguasai ruang tempat secara kekerasan tidak terhenti demi membumihanguskan manusia dari lingkup kehidupan terutama terhadap Kaum Perempuan dan Kaum Anak di West Papua. Sebenarnya kekerasan seperti begini telah terjadi ketika West Papua di aneksasi atau di paksa oleh militer Negara Indonesia untuk bergabung, mulai dari tahun 1969 yang menewaskan banyak jumlah orang West Papua telah terjadi secara brutal dan kekerasan yang kriminalistas oleh militer dan sampai saat ini masih berlaku atau terjadi.

Ada beberapa kasus yang selalu di lakukan terhadap kaum perempuan dan kaum anak oleh pihak-pihak tertentu di West Papua, terutama Kekerasan dari militer, Kekerasan oleh para penguasa-penguasa (Imprealis, capitalist), Kekerasan oleh pihak-pihak yang mempermainkan permainan uang demi melakukan kekerasan yang sangat sungguh pasif  secara keterpaksaan dalam rezim yang tidak ada kebenaran, yakni secara disiksa, diperkosa, ditusuk alat  kelamin kaum perempuan dan kaum anak, dibakar, dipikuli oleh militer, tabrak lari liar oleh roda dua dan roda empat dan lain-lain.
Dengan pandangan seperti beginilah OBR Bali yang bertanggung jawab LBH BALI, mempunyai ruang demokrasi untuk Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali dan untuk bangsa West Papua bersuara demi menyampaikan aspirasi apa yang sebenarnya terjadi di West Papua dan bagimana nasib bangsa West Papua ke depannya yang semakin habis manusia West Papua atau (genocide) melanda dalam kehidupan masyarakat yang tidak bersalah serta hanya darah manusia mengalir di atas tanah West Papua itu sendiri. Alasan kegiatan OBR yang dilakukan saat hari “Valentine Day” ini adalah bahwa di balik hari yang bahagia banyak saja, kaum perempuan dan kaum anak terjadi kekerasan yang mendatangkan kematian, kesiksaan, keaniyaiyaan dan lain-lain; dan merefleksi kembali apa yang telah terjadi kekerasan rezim di waktu yang zilam entah itu dalam suatu ras, suku, budaya, religius dan serta membatasi untuk menguranggi dan menghapuskan kekerasan tersebut dari kriminalitas yang di lakukan.

Kekerasan terhadap perempuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 didefinisikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempua, yang berakibat timbulnya kesensaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sedangkan kekerasan terhadap anak dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Meskipun pemerintah telah mengatur Undang-Undang menjadi dasar pondasi, bagi rakyat West Papua itu bukan sebagai dari kehidupan Rakyat West Papua karena kekerasan secara kriminalitas telah berjalan sejak West Papua di katakana sebagai bangsa dan Negara dalam tahun 1961 yang kini telah diklaim oleh Negara Indonesia dan Internasional (PBB atau UN) melalui New Agreement New York yang tidak keadilan dan kebenaran. Perjalanan bangsa West Papua berjalan dengan Ideology dan sejarah menjadikan kehidupan setiap individu, sebab Ideology dan Sejarah tidak akan pernah terpadam dalam rakyat West Papua yang kian hari terus berjuang sebagai membuka kebenaran secara sejarah yang tercatat.

Undang-Undang atau hukum semata sepandang dalam kehidupan, menjadikan persoalan yang terpengaruh secara negatif dan meluas, sehingga dengan adanya kegiatan OBR Bali, Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali menindaklanjuti kegiatan dengan para solidaitas yang ada di Pulau Bali,dengan beberapa konten acara yang diisi secara bersama Orasi, Puisi, tarian adat West Papua, dence OBR, pernyataan sikap.

Tarian adat West Papua


Orasi



Dance OBR


Puisi

Break The Chain 

(Orince Uropdana Activist Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali)

Women....
God's beautiful creature
life called Us adorable creation
Society tend us as wonder of creation
But, criminals treat us as an object of fantasy

We are indeed lovely
People say: "as a women, u should talk nicely"
Tendrly Speak, they say:"that is the way behave in community"
Violence towards us, consider as usually matter of woen lives

Women...
It is time to speak up,
It is time to speak up,
It is time to speak up,
To break the chain of violation
No more violation upon women and children.

Now it is the time to end
Violation,
Sexual abuse,
Human trafficking,
Mistreat and every violance towards
women and children.
No more violation upon women and children

Women are beatiful creation our body and soul is temple
Mothers of children
Teachers of children 
Never, abuse us like we are  worthless.

Women...
I is the time to speak up,
It is the time to speak up,
It is the time to speak up,
To break the chain of violation 
No more violation upon women and children

OBR 14TH Feb.2017



Lampiran Pernyataan Sikap untuk Tahun 2017 sebagai anti Kekerasan pada Kaum Perempuan dan Kaum Anak:

PERNYATAANNSIKAP

One Billion Rising Bali
“Rise, Disrupt, Connect”

Solidarity Against The Exploitation of Women


Di Indonesia, krisis ekonomi dalam Negara yang melanda Indonesia saat ini akibat laju krisis ekonomi global yang diakibatkan oleh kapitalis monopoli yang makin kronis, dipicu oleh tiga factor utama sehingga memilki dampak buruk terhadap masyarakat yaitu “Monopoi sumber daya alam yang makin lusa oleh seglintir individu atau kelompok, kemudian ketergantungan atas import dan plolitik upah murah bagi pekerja. Berdasarkan angka Badan Pusat Statistik September 2016 angka kemiskinan di Indonesia mencapai 27,76 juta orang. Pada Mei 2016 Utang Indonesia mencapai Rp 3.323,36 Triliun atau setara US$ 244,10 Miliar berasal dari pinjaman senilai Rp 760,06 Triliun atau US$ 55,83 Miliar dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 2.563,29 Triliun atau setara US$ 188,27 Miliar1. Tingkat pengguran terbuka pada Febluary 2016 mencapai 7,02 juta orang atau  5,5 persen2, yang mana 320 ribu pengangguran berasal dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Terdapat 1,163 juta anak putus sekolah, yang mana didominasi siswa perempuan dikarenakan faktor Ekonomi, dan faktor Budaya dimana anak perempuan harus bekerja melayani suami anak dan menjadi ibu rumah Tangga saja.

Investasi gencar dilakukan oleh pemerintah dimana-mana, namun hak masyarakat sipil diregut dengan melakukan penggusuran paksa, Sumber Daya Alam dirusak untuk pembangunan pulau-pulau buatan, suara masyarakat dibungkam paksa dengan mengunakan militer dan kriminalis, nilai-nilai lokal genius yang telah tumbuh dan berkembang disampingkan, semakin gencar-gencarnya Politik Upah Murah dan perekrutan Buruh Outsorching dilakukan dan pemberangusan serikat pekerja.

Kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016 masih marak terjadi, sebanyak 321,752 perempuan mengalami kekerasan yang manasebanyak 2.000 kasus kekerasan fisik dan seksual terjadi terhadap anak-anak di Provinsi Papua dan Papua Barat sepanjang tahun 2016. Hal itu cukup mencengangkan, dimana orang terdekat sendiri yang seharusnya menjaga dan melindungi mereka malah menjadi momok menakutkan, Buday Patriaki yang melekat steriotip bahwa Perempuan adalah makhluk kelas dua yang menganggap Perempuan dapat dimilki bukan sebagai jiwa yang bebas yang juga memilki Hak Asasi Manusia. Namun, angka yang tersebut di atas masih sebagain kecil yang terungkap karena kekerasan terhadap anak dan perempuan merupakan fenomena gunung es hanya terlihat kecil, Perkawinan dini yang marak terjadi menyebabkan Anak dan Perempuan rentan mendapatkan kekerasan dalam Rumah Tangga, pola asuh yang salah serta pemberitaan yang tidak mendidik mengakibatkan anak retan terlibat dalam tindakan criminal.

One Billian Rising (OBR) merupakan kampanye melalui gerekan global untuk mengajak seluruh dunia mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang berbentuk tarian Flash Mob, kegiatan ini telah berlangsung di 202 Negara dengan mengajak seluruh masyarakat sipil untuk ikut terlibat pada kegiatan yang umumnya dilakukan pada 24 Febluary. Di dunia rentan mengalami kekerasan setiap harinya baik pemukulan dan pemerkosaan dan belum termasuk kekerasan verbal yang diterima. Untuk itu, kami dari seluruh masyarakat sipil yang ikut dapat kegiatan OBR menyatakan sikap untuk:

1. Menolak Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
2. Menolak Pernikahan Usia Anak Dini
3. Menolak Buruh Outsorhing dan Politik Upah Murah
4. Menolak Kriminalisasi Aktifis HAM
5. Mendorong KPI untuk bertindak tegas terhadap Pemberian yang tidak mendidik
6. Mendorong Pemerintah untuk bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan Militer terhadap       Masyarakat Sipil.

Sumber:
1http://bisnis.liputan6.com/read/2536315/10-negara-pemberi-utang-terbesar-ke-indonesia
2http://m.tempo.co/read/2016/05/04/173768481/bps-penggangguran-terbuka-di-indonesia-capai-7-02-juta-orang

Hidup Perempuan 
Hidup Perempuan Melanesia West Papua
Hidup Peremuan yang ada di seluruh penjuru bumi
Hidup Kaum Perempuan dan Kaum Anak
Jayalah Kaum Perempuan dan Kaum Anak

Salam Revolusi!

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali 

















Post a Comment

Powered by Blogger.