Halloween party ideas 2015


Photo oleh Revolusi Mental Papua Saat di Konsulat Amerika Serikat Denpasar
"Kronologi Aksi Bali: Roma Agreement 56 Tahun Ilegal
dan Berikan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua Barat"
"kita tidak akan pernah menyerah sampai Papua Merdeka
dan kita akan tetap ada disini untuk rebut hak kami bangsa Papua Barat" Oleh Gilo

Denpasar Bali-Perjuangan mahasiswa dan rakyat Papua Barat akan tetap menuntut hak dasar yaitu penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi bangsa Papua Barat dan akan terus membuktikan "Perjanjian Roma" yang ilegal 56 Tahun, di tanah bangsa Papua Barat tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat; serta akan terus membuktikan ruang demokrasi perjuangan sejati mahasiswa dan rakyat sebagai bagian dari ideologi perjuangan dasar kemurnian dalam taktik kekuatan untuk mempertahankan integrasi perjuangan pembebasan Papua Barat.

Pada kesempatan ini, Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali peringatan 56 Tahun "Roma Agreemnet" yang ilegal di tanah bangsa Papua Barat dan tuntutan berikan hak penentuan nasib sendiri solusi demokratis bagi bangsa Papua Barat. Tepat pada hari Sabtu, 30 September 2017 memperingati melalui aksi demo damai (aksi Demontrasi) di Depan Kantor Konsulat Amerika Serikat (AS), Jl. Hayam Wuruk.

Sebelum melakukan Aksi demo damai, aksi Massa berkumpul di parkiran Timur Renon mulai dari pukul 09:00-10:00 WITA dengan masa aksi sekitar 45 Orang. Setelah terkumpulnya massa aksi di Parkiran Timur Renon, di arahkan oleh Korlap AMP-KK Bali menuju ke titik aksi depan kantor Konsulat Amerika Serikat (AS) berserta keamanan kepolisian.

Selama dalam perjalanan menuju ke titik aksi, adanya orasi dari Korlap, yel-yel dan ada pun massa aksi yang bergabung saat mulai menuju ke titik aksi sehingga jumlah massa aksi bertambah sekitar 50-an. Aksi demo damai Mulai dari pukul 10:00-12:30 WITA, secara resmi menyampaian sikap politik dengan Thema umum AMP: " Perjanjian Roma Ilegal, Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Sebagai solusi Demokrasi Bagi Rakyat Papua Barat" yang tepat memperigati hari ini 56 Tahun Ilegal di tanah Bangsa Papua Barat".

Selama berorasi oleh Korlap dan adapun kesempatan massa aksi mengisi waktu untuk tuntutan politik secara ekspresi di depan kantor konjen Amerika Serikat, dari salah satu massa aksi menyampaikan secara terbuka "Papua!!! Merdeka!! selama tiga kali. Kemudian di lanjutkan "Kita hidup di-sini, tapi kita akan mati di Papua, Maka berjuanglah sampai kemerdekaan kita tertuntut" ungkapnya Camrada Ika di sela aksi depan konjen Amerika Serikat (AS).

Dengan menyikapi sikap politik itu, ketika aksi demo damai di depan kantor konsulat Amerika Serikat (AS) secara paksa pihak kepolisian mengambil ahli,  memaksa untuk memindahkan massa aksi  ke titik massa lain (Bundaran Jln. Hayam Wuruk) dengan jenjang waktu massa aksi saat itu, hanya selama  se-jam, tepat pada  Pukul 10:00-11:14 WITA dan pada pukul 11:14 WITA, massa aksi di pindahkan secara kepaksaan, tarik menarik bersama polisi yang pada akhirnya akan menjadi teror secara kekrasaan. Pada hal, untuk secara resmi Humas AMP-KK Bali telah memberikan surat Pemberitahuan resmi  kepada Pihak kepolisian negara republik Indonesia Denpassar, bahwa titik aksi sebenarnya di depan Kantor Konsulat Jendral Amerika Serikat (AS) bukan titik aksinya di depan Bundaran Jl.Hayam Wuruk. itulah kesalahan kepolisian Indonesia Denpassar.

Tekanan terus dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memindahkan secara kepaksaan massa aksi, saling gonjang-ganjing sama polisi selama 30 Menit. Meskipun saat itu, Negosiator AMP Bali sudah menyampaikan bahwa surat pemberitahuan AMP-KK Bali titik aksi di depan kantor Konsulat Amerika Serikat (AS). Tanggapan secara resmi negosiator pun telah disampaikan dengan memberikan penjelasan kepada keamanan terkait tentang UUD "Kebebasan Ekspresi" No. 09 Tahun 1998  dan dipertanyakan mengapa dipindahkan secara luar dari prosedur hak dari aspirasi AMP-KK Bali sesuai surat pemberitahuan aksi yang telah di berikan.

Saat itu, kepolisian melakukan tindakan luar dari aksi, sehingga di pindahkan secara paksa ke Bundara Jl. Hayam Wuruk sekitar jarak 5 meter dari kantor Konsulat Amerika Serikat, alasan utama dari massa polisi yang ada adalah "tempat konsulat adalah alat vital Negara" sehingga hanya di berikan selama sejam untuk aksi di depan konsulat dan memberikan ruang hanya membacakan pernyataan sikap politik.

Setelah itu, karena massa Polisi yang sangat taktik kekerasan, diarahkan langsung ke bundaran Jl.Hayam Wuruk untuk menyampaikan aspirasi dan ekspresi di tempat titik aksi yang berbeda atau tidak sesuai surat pemberitahuan (prosedur). Ketika di arahkan ketempat titik aksi hanya selama kurung waktu dua Jam mulai dari pukul 11:25-12:40 WITA dapat berorasi atau menyampaikan aspirasi.

Selama aksi dilakukan di bundaran, adapun Korlap memberikan arahan kepada massa aksi untuk menyampaikan orasi dan adapun orasi dari massa aksi secara tiga dialektika bahasa, Bahasa Inggris, Bahasa Papua, Bahasa Indonesia, merupakan aspek prekpektif perjuangan sejati perjuangan sejati untuk bangsa Papua Barat dan dengan orasi msasa aksi yang sangat impertif nilai-nilai perjuangan pembebasan sangat terasa.

Kemudian massa aksi kembali ke titik kumpul "Parkiran Timur Renon" dengan orasi yang di sampaikan oleh korlap serta mengisi yel-yel bersamaan dan menyayikan lagu-lagu daerah Papua Barat.

Akhirnya, massa aksi kembali ke titik kumpul Parkiran Timur Renon dan massa aksi mulai bergegas ke tempat masing-masing secara keadaan demo damai.

Adapun  tuntutan aksi yang di sampaikan secara bersama, ketika keadaan aksi demo damai, dalam rangka peringatan 56 Tahun Perjanjian Roma/Roma Agreement yang Ilegal, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] menyatakan sikap politik kepada Rezim Jokowi-Jusuf Kala, Belanda, Amerika dan PBB untuk segera :

1. Memberikan Kebebasan dan Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis bagi Rakyat Papua. 

2. Tarik Militer (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari Seluruh Tanah Papua Sebagai Syarat Damai. 

3. Tutup Freeport, BP, LNG Tangguh, MNC, dan yang lainnya, yang Merupakan Dalang Kejahatan Kemanusiaan di atas Tanah Papua. 

4. PBB harus bertanggung jawab serta terlibat aktif secara adil dan demokratis dalam proses penentuan nasib sendiri, pelurusan sejarah, dan pelanggaran HAM yang terjadi terhadap bangsa West Papua.


Salam Pembebasan!
Salam Papua Merdeka!
Salam Revolusi bangsa Papua Barat!

Penulis Adalah Agitassi Dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Photo Revolusi Mental Papua
 saat massa aksi menuju Konjen Amerika Serikat 


Photo Revolusi Mental Papua
Masa Aksi Saat di Konjen Amerika Serikat







Post a Comment

Powered by Blogger.