Halloween party ideas 2015

gambar kamerad alm. Wilson Nawipa, saat berorasi di aksi longmarch 15 Agustus  
2015:  New York  Agreement, di kota Surabaya

Penulis: Rudy Pravda*

Duka bagi mereka yang pernah bersama Wilson Nawipa, berjuang karena melawan kelaliman, dan keserakahan, yang dialami bangsa yang sudah seharusnya bahagia sejak lahir. Namun, dianeksasi (dipaksakan) dengan intervensi politik senapan dan pembantaian. Duka itu tidak saja melahirkan ingatan tangisan terseduh-seduh, bagi yang tersisa (sisa-sisa) yang hidup, tak seperti banyaknya bintang-bintang di langit, tapi sedikit bintang itu masih menyediakan cahaya bagi segenap (sisa-sisa) untuk bertahan, dan harus melanjutkan tugas yang mulia.

Kata Gobai: Kalau kau pergi meninggalkan pekerjaan ini, siapa lagi yang akan kerja, kau bangsat! Penipu! Artinya kau menanam benih kerinduan yang tak terbatas sayap mulianya. Bagi aku, mereka, dan siapa saja yang dalam memoar perjuangan konsisten menyerahkan secara sukarela hidupnya untuk kemanusiaan/merdeka, hingga kau tamat duluan, dan episode bintang-bintang terang itu kami lanjutkan.

Begitulah, kau hadir menanam benih tanpa restu kau selalu mencari jalan untuk tetap subur bermekaran bungan-bungan, indah dan tak takut mati. Kau sendiri, kami, dihadang ancaman, teror, bermimpi bebas, dari rantai kebinatangan, sampah manusia-manusia jahat. Kau sendiri, kami, terus melewati berbagai macam superioritas kekuatan bersenjata, rezim antek binatang berkaki dua. kau sendiri, kami, berhadap-hadapan dengan kemauan sejati, tapi kemauan itu selalu ada tantangan, hingga kami akan tetap selalu menyampaikan kebenaran diatas pertimbangan kenyamanan, karena hidup adalah tanggung jawab terhadap pikiran.

Sampai-sampai, aku sedang melihat kau dikadoi duka, oleh kebanyakan yang mendekam dalam kerinduan. Aku tertawa Wilson Nawipa, meski tangisan dan kesedihan telah terkumpul menumpukan menjadi kerinduan, aku tertawa Wilson Nawipa, saat kabar duka dilayangkan, aku tertawa Wilson Nawipa, saat tak pernah aku ketemu kau, tapi bisa ku dengar nama mu. Sampai-sampai tertawa tak bisa ku bendung, karena aku ingat kata itu, bahwa siapapun dia rakyat Papua, jika dipanggil Tuhan dalam pangkuannya, akan bahagia. Dan kebebasan telah Tuhan berikan kepada kau, tempat mana berminat kau pilih. Untuk rumah kau kenang dalam abadi, roh yang tak akan lagi dijahati, sebab kau diberi pelukan indahnya surga, bagi hidupmu yang kau pedomankan syarat permmintaan surga. Aku yakin kau akan marah, bila mendengar ada tangisan dan kerinduan, sebab sejatinya bangsa mu tidak diajari menangis dan berduka dalam derita dan kelaparan.

Satu bintang yang khilang

Bagaimana kau tak marah, melihat tangisan, sebab bangsa mu sudah menangis sejak 64 tahun, juga 54 tahun dilingkungan pagar besi-besi baja, mensyaratkan penjajahan. kau tampar wajah mu untuk tak buta sejarah, buta politik, buta pembunuhan bangsa mu didepan mata tanpa henti. Air mata tak cukup, membayar luka lama, luka kini, dan luka akan datang, bukan itu sejatinya sejarah rakyat mu. Para perempuan meratap, anak-anak menangis, meratap saudara-saudaranya berlumuran darah disekujur tubuh, meratap pembunuhan, dan disana sini orang-orang berjalan bagaikan berada didalam mimpi buruk. Ah, aku masih tetap tertawa, Wilson Nawipa. Sebab kata-kata itu tak dapat mengubah wajah tertawa menjadi sedih, untuk apa aku sedih, bangsat! Sebab aku di lahirlah tidak harus sedih, tokh kesedihan itu sudah sejak aku alami sepanjang 118 tahun oleh Belanda dan Indonesia. Untuk apa ku sedih, aku masih harus tertawa Wilson Nawipa. Kenapa, karena disurga nanti kau ketemu sama orang Indonesia, kau akan melatih ingatan subur sejarah, kau marah, juga bisa kau habisi, sebelum kau akan dijajah juga didalam surga.

Untuk apa aku sedih, aku harus tertawa, karena benih itu sudah kau tanam, menjadi bintang yang tersisa memberi cahaya dengan cinta dan sayang untuk berjuang sampai menang!
(Ku tulis catatan untuk Wilson Nawipa)

Penulis adalah Anggota Pembebasan Kolektif Kota Ternate, juga anggota Front Rakyat Indonesia Untuk West Papua (FRI-WP)

Catatan:
-Mengambil kata-kata dari tulisan Jhon Gobai
-Mengambil kalimat dari tulisan Danial Indrakusuma

-Mengambil kalimat dari istilah Noam Chomsky, dalam sejarah Geneosida rakyat Yahudi dan Palestina. Dan juga istilah Binatang Berkaki Dua

Post a Comment

Powered by Blogger.