Halloween party ideas 2015

(foto : aksi demonstrasi AMP mendukung ULMWP menjadi anggota penuh di MSG)
Penulis: Wilyam Mayau*

Mahasiswa dalam lintas sejarah Papua, memang tidak sekedar  menunjukan eksistensi dirinya sebagai  manusia yang elitis dan terpelajar, seperti mereka yang menjelmahkan dirinya menjadi mesin intelektual yang hanya bekerja dan terperangkap dalam dunia-nya yang individualis dan apatis.  Keluar dari hal itu sejarah perlawanan, dinamika pergolakan, gelombang protes, dan keterlibatan dalam gejolak pembaruan adalah semangat dan peristiwa yang tidak pernah sepi dan akan selalu ada dalam gerakan Mahasiswa Papua itu sendiri. sejarah telah banyak bercerita tentang hal ini, di mana Mahasiswa Papua secara terus – menerus mengambil bagian dalam perjuangan westpaua. mulai dari mengorganisir Mahasiswa Papua di setiap basis kota, membuka ruang solidaritas, turun mengorganisir rakyat, sampai ke gerilya di hutan.

Dalam pasang surutnya gelombang perlawanan Mahasiswa Mapua dapat kita petakan dalam tiga fase :
1.Gerakan Mahasiswa Papua sekitar tahun 1934-1960.

Di Biak segelintir Mahasiswa Papua yang pernah dididik oleh pemerintah Belanda (vangaal) resmi mendirikan kantor Gubernur perwakilan Belanda di Holandia (Jayapura) kemudian menetapkan Dewan NiewGuineaaRaad dalam rangka mempercepat dekolonisasi menuju pembebasan tanah Papua, gerakan kaum terpelajar pada fase pertama ini berhasil menanamkan jiwa nasionalisme dalam hati rakyat Papua. di bawah bimbingan dewan niewguinearaad mereka berhasil merancang lambang West Papua, lagu kebangsaan, dan bentuk pemerintahan West Papua.

2.Gerakan Mahasiswa Papua tahun 1970-1980-an

Kebangkitan perlawanan mahasiswa fase kedua ini sering di sebut sebagai gerakan kebangkitan seni dan budaya westpapua (mambesak), yang di pelopori oleh Arnol Ap, Sam Kapisa dan kawan-kawan, gerakan mambesak berhasil memberikan inspirasi dalam perjuangan melalui lagu-lagu yang diciptakan oleh mereka dari berbagai bahasa, mereka juga berhasil membangkitkan Nasionalisme Papua, hasilnya penguatan basis massa sampai ke seluruh daerah Papua. Pemerintah Indonesia melihat mambesak sebagai kelompok yang berbahaya bagi negara, maka pada 26 april 1984 Arnol Ap di bunuh oleh Kopasandha (kopasus) , sebagai bentuk protes dari rakyat Papua terhadap Pemerintah Indonesia, sekitar 800 Masyarakat Papua melakukan pelarian ke perbatasan PNG dan menetap di sana karena kebiadaban Indonesia yang tidak memandang kasih terhadap rakyat Papua.

3. Gerakan Mahasiswa Papua tahun 1990-sekarang.

Ketika tingkat represif dan pembungkaman demokrasi yang di lakukan oleh negara di bawah pimpinan Soeharto membuat pergolakan politik di Indonesia semakin memanas yang pada puncaknya mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran di seluruh Indonesia dan menduduki parlemen di Jakarta. disela-sela konflik yang terus berlangsung ini, Mahasiswa Papua memanfaatkan situasi untuk menyuarakan permasalahan di Papua. tepatnya di Jayapura Papua, mahasiswa melakukan demonstrasi atas kematian Thomas Wanggai yang tidak wajar, aksi ini dipimpin oleh Benny Wenda bersama Mahasisiwa Uncen, aksi ini berakhir ricuh, dalam insiden ini mobil, motor, toko-toko dan pasar raya Abepura di bakar. setelah itu tahun 1997 mahasiswa turun jalan lagi memprotes pembantaian yang di lakukan oleh TNI di Mapenduma, Jila, Bella dan Alama. aksi protes ini cukup dapat sorotan dari luar negeri dengan adanya surat dari senator Amerika Serikat kepada pemerintahan BJ Habibi untuk memberikan kesempatan kepada Timor-Timor dan Papua untuk menentukan nasib sendiri.

Di tengah situasi politik Indonesia yang semakin panas, Mahasiswa Papua yang ada di berbagai kota-kota di Indonesia bersatu kemudian membentuk sebuah organisasi politik yang akan mewadahi seluruh tuntutan-tuntutan politik Mahasiswa Papua terutama dalam membicarakan hak menentukan nasib sendiri. gerakan Mahasiswa Papua tahun 1998 ini kemudian melahirkan organisasi Mahasiswa Papua terbesar yang kemudian di beri nama “Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)”.

Perjuangan rakyat papua untuk membebaskan diri dari Kolonialisme Indonesia, Imperialisme, dan Militerisme, telah terbukti membangkitkan semangat perlawanan Mahasiswa Papua secara politis. Di tengah represifitas kolonialisme Indonesia di Nasional Papua, Nasional Indonesia dan Internasional, mahasiswa dituntut untuk tetap memupuk perlawanan yang sudah ada di tengah-tengah rakyat Papua dengan tuntutan “berikan hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa West Papua”.  dalam perjuangan ini tentunya Mahasiswa Papua terus membuka ruang solidaritas seluas-luasnya bagi sesame manusia yang di tindas oleh system Kapitalisme, Militerisme, Imperialism asing (yang sama-sama menindas rakyat kecil), dan juga untuk mereka yang peduli terhadap kemanusiaan di Papua, serta membangun basis mahasiswa yang kritis, ideologis, dan mau melawan bersama-sama menuju revolusi.

"Keberanian Yang Membuat Kalian Akan Tahan Dalam Situasi Apapun! Nyali Sama Harganya Dengan Nyawa. Jika Itu Hilang, Niscaya Tak Ada Gunanya Kau Hidup".
__Ernesto Che Guevara__

Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bandung

Post a Comment

Powered by Blogger.