Halloween party ideas 2015

Nicolas Jouwe (1954). Sumber: papuaerfgoed

Penulis : Soleman Itlay*


Penyangkalan Orang Papua Barat

 “Jika mereka kehilangan Papua New Guinea (sekarang Papua Barat), jika Indonesia menyadari hak-hak orang Papua Barat sebagai ras Melanesia, maka Indonesia akan kehilangan Papua Barat. Mereka segalanya: Orang Papua Barat Bukan Ras Melanesia, mereka bagian dari kita. Itulah yang ditakutkan oleh Indonesia”, demikian tulis orang tua tercinta, Sir Nicolas Jouwe.

Dalam buku “Kisah-Kisah Hidup Orang Papua”, karya Charles Farhadian, Sir Jouwe mengatakan, Indonesia takut sekali dengan perjanjian tanggal 6 Februari 1947. Dimana enam negara yang memiliki wilayah bekas jajahan di Pasifik Selatan, yakni: Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Belanda, sepakat mengajarkan orang-orang Pasifik Selatan untuk kemerdekaannya..

Perjanjian itu benar-benar menganggu Soekarno yang sedang ancang-ancang memasukan wilayah dan manusia Papua Barat dengan dasar pemikiran Dutch East Indies, semua wilayah bekas jajahan Belanda masuk menjadi satu bagian dari Indonesia. Pernyataan Soekarno: Orang Papua Bukan Melanesia, kata Sir Jouwe, Soekarno singgung menjelang pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deeg Haag (1949. Menurut Sir, alasan Soekarno itu tidak mendasar.

Sebab kata-kata Soekarno hanya akibat dari perjanjian 7 negara tadi. Bukan dari segi kesamaan wilayah dan  kultur diantara Papua Barat dan Indonesia. Penyataan Soekarno ini, bukan sekedar pengklaiman wilayah semata, akan tetapi lebih dari itu, dia telah menyangkal orang Papua Barat sebagai ras Melanesia. Coba ingat sekali lagi: Orang Papua Bukan Ras Melanesia. Oh, kata-kata mati seperti filosofi suku Hugula, “kata-kata kering”.

Sungguh ini sangat keliru. Tetapi Soekarno tidak sadar, jika orang Papua adalah ciptaan dari Allah, sama seperti beliau dan bangsanya sendiri. Penyangkalan itu sebenarnya tidak perlu terjadi, kalaupun beliau mau rebut Papua Barat. Yesus saja berkata: “Barang siapa menyangkal Aku dihadapan orang, Aku juga akan menyangkal dia di hadapan Bapa-Ku di Sorga”. Hal ini ada kaitannya dengan Injil Matius 26:69-75. Soekarno sama persis dengan kisah murid-murid Yesus Kristus.

Seperti Petrus menyangkal Yesus. Ketika para imam-iman besar dan salah seorang perempuan bertanya kepada petrus: “apakah kau (petrus) juga termasuk orang yang sering ikut-ikut Dia, Yesus? Tetapi bedanya disini, Petrus menyangkal ketika imam besar dan perempuan itu bertanya kepadanya. Tetapi Soekarno menyangkal orang Papua Barat, karena takut Merdeka sendiri. Alasanya ini, Dutch East Indies.

Upaya Indonesia dan Operasi Militer di Papu Barat

Bukan tidak mungkin, untuk segera merai Papua Barat dari tangan Belanda. Pertemuan 7 negara membuat Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa. Jalan satu-satunya bagi Indonesia adalah mendekati US, Uni Soviet, Jepang dan China. Tujuannya, agar merebut Papua Barat dari tangan. Lobi alat perang dan membangun diplomasi ialah solusi saat bagi Indonesia. Karena Belanda sendiri, setelah mengakui Papua Barat, ditambah lagi dengan perjanjian dari 7 negara tadia, ia siap-siap mempersiapkan kemerdekaan bagi orang Papua Barat.

Pada awal 1960, Jenderal Nasution meminta peralatan perang modern kepada Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri As, Jhon Foster Dulles. Namun pemerintahan Dwight David Eisenhower (presiden US ke 34), menolak permintaan dari delegasi Indonesia tersebut. Kemudian Soekarno dan beberapa orang lainnya pada 20 Desember 1960 ke Moscow, Uni Soviet. Tujuannya, sama, yaitu meminta peralatan perang (senjata modern).

Disana, Nikita Sergeyevich Krushchev, menerima rombongannya Soekarno dengan penuh semangat. Uni Soviet memberikan kepada Indonesia segala peralatan senjata untuk Indonesia perang dengan Belanda di Papua Barat. Setelah pemerintah Eisenhower digantikan oleh Presiden Jhon F. Kennedy 1960, Soekarno langsung ke Amerika Serikat menemuinya. Saat itu, Kennedy mengalami sakit di punggung belakang.

Soekarno dimanfaatkan momen itu. Bung Karno bawah minyak dari Jawa ke Amerika, guna memijat Kennedy di rumah ayah, Bostom. Disana Soekarno ketemu Kennedy untuk meminta restu dari AS. Hal itu tepat, karena Kennedy juga termasuk orang yang mengkagumi Soekarno, karena sikapnya tidak mau kompromi dengan imperialism. Soekarno sering dengan jika Kennedy segan padanya.  Jadi hal itu pun dimanfaatkan oleh dia, Soekarno.

Tentu disini mereka bicara tentang Kontrak Karya I Freeport Shulpur ( sekarang Freeport Indonesia). Soekarno melakukan menawarkan situasi yang tidak masuk akal. Kata dia, Belanda jajah orang Papua Barat tidak manusiawi. Namun besar kemungkinan ada menyinggung untuk mempercepat proses, Papua Barat memasukan ke Indonesia. Tetapi semua ini, Indonesia meminta restu supaya US membatu kelancaran operasi militer di Papua Barat sampai proses PEPEREA 1969.

Menurut Sir Jouwe, Kennedy tidak mau restui dengan pertimbangan agama, dimana mayoritas di Papua Barat ialah Kristen. Kennedy menempatkan sikap tengah. Pertama, Kennedy tidak ingin Papua diislamisasikan. Karena dia tahu Indonesia mayoritas teman-teman Muslim. Namun sikap Kennedy berubah cepat, ketika Soekarno mendekati Uni Soviet, Jepang dan China pada beberapa bulan kemudian. Akhirnya, Kennedy mendukung full kepada Indonesia. Sepulang dari US, Soekarno mengeluarkan dekrit “Trikora” pada 19 Desember 1961.

Menurut Frederika Korain, baru-baru ini dalam sebuah diskusi, Sentani (2017), mengatakan Operasi militer sepanjang 1961-1969 adalah untuk menyongsong PEPERA 1969. Sementara 1969-2010, menekan dan mengantisipasi pergerakan OPM yang kembali bangkit dan melakukan perlawanan kepada Indonesia kembali. Sementara, sepanjang 2010 sampai sekarang, Indonesia rombak pendekatan. Mereka membangun pos-pos sebanyak-banayaknya. Korain menyebut ituistil militerisme, perang/operasi militer gaya baru. 

Kesepakatan Diantara Pencuri

Pertemuan Presiden Soekarno dan  Jhon F. Kenennedy pada Januari 1961, membuat Indonesia semakin optimis. Usai dipijat oleh Soekarno, sambil duduk,Presiden AS ke 35 itu, bertanya kepada presiden Indonesia ke pertama: “Pak Presiden, apa yang bisa kami bantu?” Soekarno menjawab: “Seluruh hidup saya serakan kepada Amerika Serikat. Saya menyerahkan satu hal: Irian (sekarang Papua Barat. Saya ingin mendapatkan Papua Barat”.

Presiden Kennedy mengatakan kepadanya: “Itu bisa diatur”. Pada hari itu juga masa depan Papua Barat diputuskan. Disitu, Soekarno benar-benar menghianati orang Papua Barat. Keduanya menentuhkan masa depan orang Papua Barat tanpa harus dilibatkan dalam semua rancangan kedua negara. Kedua presiden itu, telah menghianati orang Papua Barat. Siapa saja, mesti ingat jejak langkah ini baik. Sejarah yang penuh kebohongan.

Kedua orang ini cukup menyakiti orang Papua Barat. Padahal orang Papua Barat bukan ras Melayu atau orang Amerika Serikat. Sehingga seenaknya membuat keputusan sepihak. Dunia mesti ingat ini baik. Bahawa kesepakatan dilakukan jauh dari orang Papua Barat. Orang Papua Barat tidak tahu menahu banyak tentang kesepakatan mereka. Sungguh ini kesepakatan yang paling cacat dan berbahaya. Melanggar hak orang Papua Barat

Belanda mengakui orang Papua Barat sebelum proklamasi 1945 901898. mengapa Soekarno mengambil jalan tidak benar ini? Sudah tahu orang Papua Barat mempunyai suku, bahasa, budaya dan agama sendiri, mengapa Kennedy percaya dan mengiyakan Soekarno yang bukan pemilik tanah leluhur Papua Barat? Amerika Serikat juga mengiyakan sepihak. Artinya tanpa kompromi dengan orang Papua Barat.

Menurut Pdt. Ismail Silak dalam suatu kesempatan di Waena, Jayapura (2017) berpendapat begini: “kesepakatan kedua pihak, yakni Amerika Serikat dan Indonesia itu benar-benar suatu kesepakatan pencuri dengan pencuri”. Amerikat Serikat, menurut Silak “pengecut”. Karena pada 6 Februari 1947, ikut kesepakatan dengan 6 negara lain untuk memikirkan masa depan orang-orang di Pasifik Selatan, tetapi hanya gara-gara takut Papua Barat dikomuniskan dan demiki kepentingan Freeport Indonesia main di belakang layar, Indonesia.

Indonesia Langgar Hak Orang Papua Barat

Indonesia tidak menghargai hak kami, orang Papua Barat menentukan nasib sendiri. Indonesia tidak menganggap Deklarasi PBB mengenai Hak Asasi Manusia dan Piagam Pemberian Kemerdekaan Negara-Negara dan Orang-Orang Jajahan, yang mulai berlaku dari tanggal 14 Desember 1960 adalah tidak relevan. Soekarno langgar hak orang Papua Barat, sebab dia menentukan nasib orang Papua Barat pada 17 Agustus 1945.

Sir Nicolas Jouwe, membenarkan pelanggaran hak Indonesia (Soekarno) berkaitan dengan pernyataan seperti ini: Orang Papua Barat Bukan Ras Melanesia. Bukan hanya melanggar hak, mungkin orang Indonesia lain bangga akan perjuangan beliau untuk perebutan Papua Barat ini. Namun bagi orang Papua Barat, hal ini tidak bisa mengindahkan sedikit pun. Apa yang diucapkan Soekarno, tidak masalah bagi orang (Melayu), akan tetapi bagi orang Papua Barat sungguh menyakitkan.

Beliau tidak menghargai hak orang Papua Barat. Soekarno benar-benar mempersusah orang Papua Barat. Dalam bahasa kasar orang Papau Barat menyebut, Soekarno menghianati orang Papua Barat. Indonesia benar-benar memaksakan orang Papua Barat. Makanya sangat benar kalau Papua Barat ke Indonesia itu dengan cara penuh “Aneksasi”. Maaf kalau mendengar ini: Indonesia Adalah Neraka Bagi Orang Papua Barat.

Orang Papua Barat Bukan Indonesia

Pada tahun 1847 Pakistan berpisa dari India karena satu: perbedaan agama, yakni Hindu dan Muslim. Orang Papua Barat bukan satu perbedaan seperti itu. Orang Papua Barat mempunyai keunikan dan cirri khas sebagai bangsa yang amat sangat jelas, yaitu: suku, agama, ras, tanah, dan wilayahi. Orang Papua Barat mempunyai geografis dan khultur sendiri. Tidak ada hubungan sejarah apapun dengan Indonesia.

Kalau bicara dengan kawasan Pasifik (Melanesia) boleh, orang Papua Barat punya hubungan erat dari segi geografis, budaya dan DNA. Tirto.id menyebut, Stevan Lovgren telah membuktikan pada Agustus 2015. Bahwa orang Papua New Guinea dengan Aborigin memiliki rantai jejak DNA yang sama. Sampai saat ini mencapai usia 5.000 tahun. Prof Eske Willerslev, yang memimpin penelitian dari Univercity of Conpehagen pun ikut memastikan itu.

Penemuan itu, Willerslev ambil sampel dengan melibatkan 83 orang suku Australia dan 25 orang dari tanah Papua Barat. Menurut prof Willerslev, orang asli Australia dengan Papua Barat berpisah sekitar 4.000 tahun yang lalu. Beliau memastikan, DNA kedua bangsa ini masih kental. Ia memastikan bahwa dalam penelitian yang sama dilakukan di Indonesia 2013.

Willerslev, telah melibatkan 2.740 orang.Sebagian besar orang Indonesia, 70 komunitas di 12 pulau, seperti Sumatera, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Pantar, Timor, dan Alor, kata dia memiliki leluhur dari China. Hasil penelitiannya dipublikasikan Journal of Human Genetics pda 2013 lalu. Hal ini memastikan bahwa orang Papua Barat tidak mempunyai dasar apapun dan hubungan dengan Indonesia.  

Jangan berpikir karena negara hukum berkata: “Tidak ada hukum yang melarang Indonesia merebut Papua Barat. Tetapi ingat Soekarno telah “Bersaksi Dusta Alias Menipu”. Disini, sekalipun tidak ada di dalam hukum Indonesia, tetapi di dalam Kitab Suci, Ulangan pasal 5 ayat 20 ada. Bunyinya: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

Sebenarnya, pengakuan Soekarno: Orang Papua Barat Bukan Melanesia ini dasarnya apa? Tetapi tidak masalah lah. Orang Papua Barat bisa mengampuninya. Asal Indonesia hari ini berpikir bijak. Bukan kasih Otonomi Khusus, Pemekaran, UP4B dan lain sebagainya. Cukup Soekarno juga cap keringat dan darah orang Papua Barat: “Bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda”.

Indonesia berhenti memakai Frans Alberth Joku, Nokolas Messet, Lenis Kogoya, Ramses Ohee dan lain sebagainya. Mulut Tantowi Yahya di kawasan Pasifik perlu diigatkan biar jaga baik. Mereka adalah manusia dari pendidik dari buatan Belanda. Sangat penting untuk untuk mengutamakan budaya malu. Takutnya negara yang malu lagi.

Sekali-Kali Berbaik Hatilah

Tidak ada yang susah. Tidak ada yang berat. Tidak ada yang rugi. Tidak ada hancur. Tidak ada sakit. Tidak ada yang mati. Tidak ada yang buruk. Tidak ada sulit. Semua adalah Indah. Baik untuk maaf. Baik untuk akui. Baik jujur. Baik untuk hormat. Baik untuk segan. Baik untuk kagum. Baik untuk tanah. Baik untuk orang. Baik untuk manusia. Baik untuk hitam. Baik untuk putih. Baik untuk keriting. Baik untuk lurus. Baik untuk bangsa. Baik untuk negara Indonesia dan Papua Barat.

Tidak bisa pungkuri. Orang Papua Barat punya bendera sendiri: Bintang Kejora. Orang Papua Barat punya lambang tersendiri: Burung Mambruk. Orang Papua Barat memiliki nama kebangsaan dan wilayahnya: Papua Barat. Orang Papua Barat mempunyai lagu nasional: Hai Tanahku Papua. Buktinya orang Papua Barat punyai hari besar: 1 Desember 1961.  Orang Papua Barat mempunyai semua ini semenjak 1961. Sungguh ini hakekat sejarah Papua Barat.

Sir Jouwe mengatakan, pada tahun 1961 adalah tahun kedaulatan bagi bangsa Papua Barat. Semua orang mesti membaca dan memahami ini baik. Kedatipun Soekarno menyangkal orang Papua Barat tempo dulu. Tidak masalah Presiden Joko Widodo hari ini meminta maaf dan mengakui orang Papua Barat sebagai bangsa tersendiri. Pada hakekat memang begitu. Bahwa orang Papua Barat adalah orang Papua Barat. Bukan Papua Barat Ras Melayu. Tetapi Papua Barat Ras Melanesia.

Hal ini penting untuk Indonesia menjaga kehormatan sebagai bangsa yang ikut menandatangani konvenan Internasional tentang hak politik dan rakyat sipil serta penandatangan konvenan internasional di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Tentu ini saran untuk Indonesia, dan kontribusi sebagai warga negara yang mempunyai tanggung jawab moral di Indonesia.    Presiden Joko Widodo harus mengambil langkah yan tepat sasaran.

Hari ini Papua Barat berada pada tempat dengan kesadaran penuh. Sadar akan segala sesuatu tentang masa lalu, kemarin, hari ini, besok dan sepanjang masa. Bagaimana pun Indonesia tidak bisa memakai cara, pola, pendekatan, pencitraan dan lain yang baru. Semua akan terbaca oleh mata hari dan bulan serta bintang timur. Dunia hari ini tidak ada yang bisa menyangkal. Sekalipun kebabasan yang tidak terbatas membatasi.

Tetapi segala upaya, seperti Jawanisasi (transmingrasi), pendudukan (pemekaran), kolusi dan nepotisme (pasang badan untuk negara), janji penyelesaian kasus pelaanggaran HAM, membuka akses jurnalis, membangun Pasar Mama-Mama Papua dan Arus Kereta Api (pencintraan) dan segala macam akan terciup baunya. Mambruk tidak akan tidur selamanya. Cenderawasih akan berkicau diiringi kutipan penghotbah tentang  “Kesia-siaan”.

Cukup Menyangkal dan Mengakui Sekali

Cukup Soekarno menyangkal orang Papua Barat bukan Melanesia. Cukup Ali Mortopo dan Luhut Panjaitan mengusir orang Papua Barat dari atas tanah leluhur.  Cukup Mohamad Hatta mengakui orang Papua Barat. Cukup Gus Dur mengakui Irian Jaya menjadi Papua. Cukup hari ini Joko Widodo akan mengakui orang Papua Barat bangsanya yang berbeda. Tidak ada artinya, membentuk tim penyelesaian kasus pelanggaran HAM dan Dialog Jakarta-Papua.

Indonesia harus berani: meminta maaf kepada orang Papua Barat; mengakui orang Papua Barat kembali; menghormati Hak Hidup orang Papua Barat; menghargai tanah ada Papua Barat; kembali urus masing-masing; mengakui kegagalan Otsus, dan UP4B; menarik SK setiap pemekaran dan usaha illegal di Papua Barat dll.

Indonesia harus hentikan: upaya diplomasti yang menyesatka; menciptakan orang Papua Barat “Yudas Iskario Hitam”; Memutarbalikan fakta dan kebenaran; mengakui tidak ada pelanggarah HAM Rakyat Sipil Politik  dan EKOSOB di Papua Barat; Kontrak Karya Freeport II, III dan IV dlsb. Tidak perlu tunggu waktu siapa punya kepemimpinan.

Cukup Soekarno berkata: Orang Papua Bukan Orang Melanesia. Cukup bersabda: Bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda. Pak Presiden Joko Widodo, Orang Papua Barat (provinsi Papua) punya suara: 2 2.026.735 suara. Jangan tawar lain-lain yang tidak masuk akal. Orang Papua Barat Sudah Tidak Percaya lagi. Janji terlalu berhamburan di Papua Barat. Tidak ada tawaran lain. Cukup: Mengakui Orang Papua Barat Kembali.

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua 

Post a Comment

Powered by Blogger.